Filsafat “Sengketa”, Pak “Ojol” dan Covid19

Foto Seminar MI OkeMerebaknya virus Covid19 membuat hampir seluruh dunia sibuk mempersiapkan diri, mengawasi diri serta melakukan tindakan-tindakan yang dianggap perlu. Cina dimana tempat awal merebaknya virus ini sudah berangsung-angsur memulih dengan kebijakn yang super ketat dan cepat. Mungkin kepemimpinan yang efektif dan sedikit-banyak otoriter cukup membantu penyelesaian ini. Berbeda dengan kasus di Italia, dimana negara itu, sampai sekarang jumlah yang meninggal melebihi Cina, dan tertinggi didunia. Dahlan Iskan, wartawan senir Jawa Pos, bekas Mentri, pernah menulis, dengan mengatakan, “Lock Down, Opo Tumon”. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kepala Sekolah dan Kemerdekaan Pendidikan dan Belajar

Merdeka belajarBeberapa waktu yang lalu mentri pendidikan kita menginisiasi istilah MERDEKA BELAJAR. Apa itu merdeka belajar? Dikatakan agar guru, murid, orang tua dan stakeholder lainnya melakukan proses belajar-mengajar dan pendidikan dengan bahagia. Ada istilah merdeka yang didalamnya menyangkut kebebasan dalam mengimprovisasi proses belajar-mengajar dan pendidikan disekolah. Merdeka Belajar pasti didalamnya juga Merdeka dalam lembaga pendidikan. Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan disini tentang hal diatas yaitu  1) Apa itu Kemerdekaan Belajar?  2) Apa itu pendidikan yang membahagiaakan? (untuk yang terakhir ini pernah saya tulis secara cukup detail dan lengkap disini, termasuk dua buku yang saya terbitkan):

https://pendidikanpositif.com/2014/04/30/anak-cerdas-bahagia-di-sekolah-yang-baik-di-sekolah-positif/ Juga
https://pendidikanpositif.com/2017/09/26/pendidikan-yang-membahagiaan/ Juga
https://pendidikanpositif.com/2018/11/24/sekolah-ilmu-kaya-sukses-dan-bahagia/ Juga
https://pendidikanpositif.com/2018/11/21/saya-berfikir-tahu-maka-saya-berbahagia/ dll

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

KEPEMIMPINAN FUNGSIONAL DAN KEPRIBADIAN KELOMPOK

Foto GoogleDalam sebuah organisasi, maka pasti ada orang-orang atau individu, kelompok dan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai. Karenanya dalam organisasi atau kelompok, walaupun tiap-tiap kelompok/organisasi akan berbeda-beda isinya, tetapi mereka pasti memiliki 3 kebutuhan yaitu; 1) Kebutuhan merampungkan tugas bersama, 2) kebutuhan mempertahankan kesatuan sosial yang kompak (disini biasa disebut kebutuhan pemeliharaan tim) dan 3) Kebutuhan Individu-individu. Katiga ini saling berinteraksi, bila kebutuhan individu terpuaskan, maka mereka akan termotivasi, dan kemungkinan berhubungan dengan kemampuan merampungkan tugas, dan semangat untuk kesatuan team. Bila tugas-tugas tercapai, team berprestasi itu akan mengangkat hargat individu-individu dan motivasi untuk mempertahankan team. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

SUBJEKTIVITAS, OBJEKTIVITAS, SUBJEKTIVISME

MENENGOK, PERTEMPURAN IDEOLOGI SUNNAH & SYIAH

Perang Dinasti Seljuk TurkiMenarik melihat pertanyaan ahli ilmu sosial Robert K Merton, dia menanyakan, mengapa Inggris pada abad 17 menjadi negara yang sangat subur bagi pertumbuhan dan perkembangan Ilmu pengetahuan? Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan dalam negeri Islam, mengapa pada saat Dinasti Buwaihi (934–1055 M), yang hidup di pemerintahan Abbasiyah, hiduplah manusia-manusia seperti al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), al-Farghani, Abdurrahman al-Shufi (w. 986 M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-‘Ala al-Ma’arri (973-1057 M), dan kelompok Ikhwan al-Shafa, dll? Kata Merton, Inggris pada masa itu Inggris cocok bagi terbentuknya ETOS, yang terdiri dari 4 prinsip yaitu Komunalitas, Universalisme, Ketakpamrihan dan skeptisme teratur. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama, Psikologi dan Pendidikan | Tag , , | Meninggalkan komentar

KELUAR DARI JERATAN…Mungkinkah?

Foto GoogleDalam buku “One Dimensional Man”, Herbet Marcuse, mengktirik dengan sangat tajam bagaimana dunia dijadikan satu standart, satu style dan satu tujuan dan itu tergerakkan oleh Kapitalisme dan Modernisme (ala Barat). Padahal dari banyak diskusi, kritik dan narasi lainnya, seperti sekolah Frankfurt Max Khorkheimer, Habermas, Adorno dll, menunjukkan bahwa arah ini, rel yang dipasang akan mengarah pada tujuan yang pada akhirnya masuk kepada “neraka” atau jurang kehancuran.

“Kapitalisme Lanjut” yang diramalkan oleh Karl Marx tidak kunjung datang, bahkan kapitalisme selalu merevisi dirinya sendiri sehingga live-time-nya akan terus bertambah dan bertambah. Jangan heran bila Francis-Fukuyama dan Sebelumnya Peter Berger meramalkan bahwa Kapitalisme yang akan menang melawan Sosialisme apalagi Komunisme. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Lain-lain, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Sekolah Efektif

Foto Rekreasi JKT OkePembahasan dan diskusi tentang sekolah efektif terjadi bukan secara tiba-tiba. Pada awalnya penelitian Coleman (1966, dalam Downwr, 1991), menghasilkan kesimpulan bahwa latar belakang keluarga dan sosial ekonomi adalah penentu utama pencapaian dan prestasi siswa disekolah. Demikian juga Christopher Jencks (1972, Raptis & Flemin, 2003), menunjukkan bahwa “kualitas sekolah tidak banyak berpengaruh pada prestasi. Kepercayaan dan penerimaan akan hal ini menyebabkan kebijakan yang berbeda. Kebijakan bukan membkan kebijakan yang berbeda. Kebijakan bukan memperbaiki sekolah tetapi memperbaiki sosial-ekonomi siswa, seperti pemberian susu, tunjangan ekonomi dan seterusnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , | Meninggalkan komentar

10 Prinsip Guru Ideal dan Efektif

Foto Ana Jakarta OkeDalam Sekolah dan Lembaga Pendidikan,  2 dua faktor utama keberhasilannya yaitu bagaimana Gurun-ya dan bagaimana Siswa-nya.

  1. Guru memahami konsep inti dari pendidikan, bahan dan alat pembelajaran, disiplin serta mampu menciptakan pengalaman belajar yang menjadikan materi pelajaran menjadi bermakna bagi siswa.
  2. Guru memahami bagaimana anak-anak belajar dan berkembang dan dapat memberikan kesempatan belajar yang mendukung perkembangan intelektual, sosial, dan pribadi mereka.
  3. Guru memahami bagaimana siswa berbeda dalam pendekatan mereka untuk belajar dan menciptakan peluang pengajaran yang disesuaikan dengan beragam pelajar.
  4. Guru memahami dan menggunakan berbagai strategi pengajaran untuk mendorong pengembangan pemikiran kritis, pemecahan masalah, dan keterampilan kinerja siswa.
  5. Guru menggunakan pemahaman tentang motivasi dan perilaku individu dan kelompok untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendorong interaksi sosial yang positif, keterlibatan aktif dalam pembelajaran, dan motivasi diri.
  6. Guru menggunakan pengetahuan tentang teknik komunikasi verbal, nonverbal, dan media yang efektif untuk mendorong eksplorasi aktif, kolaborasi, dan interaksi yang mendukung di kelas.
  7. Guru merencanakan pengajaran berdasarkan pengetahuan materi pelajaran, siswa, masyarakat, dan tujuan kurikulum.
  8. Guru memahami dan menggunakan strategi penilaian formal dan informal untuk mengevaluasi dan memastikan perkembangan intelektual dan sosial yang berkelanjutan dari pelajar.
  9. Guru adalah praktisi reflektif yang terus-menerus mengevaluasi efek dari pilihan dan tindakannya terhadap orang lain (siswa, orang tua, dan profesional lain di komunitas pembelajaran) dan yang secara aktif mencari peluang untuk tumbuh secara profesional
  10. Guru membina hubungan dengan kolega sekolah, orang tua, dan lembaga di komunitas yang lebih besar untuk mendukung pembelajaran dan kesejahteraan siswa.

Lihat yang lain tentang Guru : Fungsi GuruKafir dalam Pendidikan Sebuah Refleksi

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , | Meninggalkan komentar