TERORIS : EVIL and HERO

Zimbardo Peneliti Penjara dan Teroris.jpg

Philip Zimbardo : Teroris Evil And Hero

17 Tahap Manusia Menjadi Radikal/Ekstrem dan Teroris.

Bagaimana anak-anak yang awalnya ramah, baik, cerdas dan biasa-biasa saja. Dalam perkembangan waktu mereka menjadi radikal, ektrem bahkan melakukan aksi-aksi kekerasan “Bom Bunuh Diri” dan Teriorisme.

Banyak penelitian-penelitian yang membicarakan itu, mulai dari pendekatan sosial, Psikologis juga Psiko-Sosial dan Neurosain. Penelitian-penelitian menyangkut rekayasa otak, perilaku dan bagaimana membuat orang-orang menjadi patuh total dan dapat digerakkan menjadi apapun yang diinginkan, sudah banyak dilakukan bahkan dieksperimenkan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Belajar Analisa Tentang Perilaku Terorisme 

laskar mawar 1

Perilaku Teroris

Siapa yang patut dipersalahkan?

Beberapa waktu lalu dan mungkin sampai hari ini, negeri kita digoncangkan oleh teror Bom Bunuh Diri. Dan menariknya di Surabaya kemarin beberapa pelakunya adalah keluarga, ibu-ibu dengan membawa anaknya untuk mati bersama. Mengapa wanita? Apakah itu pekerjaan wanita?

Dalam buku Amry of Rose, karya Barbara Viktor yang diterjemahkan oleh peneribit Mizan dengan “Laskar Mawar”, juga menceritakan hal yang mirip. Buku novel itu menceritakan bagaimana kepribadian, pola hidup, pekerjaan dan lingkungan yang melingkupinya sehingga dia terpilih untuk meledakkan diri dan menjadi Martyr di Palestina (2002, Saat Yasser Arafat).

(Disini kita tidak membedakan antara Teroris, Bom Bunuh Diri atau Bom Syahid, sebab itu tergantung wacana, tempat dan penilaiannya masing-masing).

Dalam melihat Perilaku Terorisme maka ada 3 Komponen yang perlu dilihat yaitu PELAKU (Teroris), TEROR (Tindakan-nya) dan SASARAN TEROR.

Menganalisa Terorisme bisa dilakukan dengan 2 Pendekatan.

Baca : Terorisme : Ciri Agama Sudah Terkorupsi dan Busuk

1) Pendekatan Kultural
Dimana intinya bahwa memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai penjelmaan nilai, sistem kepercayaan, atau ideologl (Berger, 1995; Ross, 1999). Inti kerangka ini adalah interpretasi nilai terhadap aksi.

2) Pendekatan Rasional
Pendekatan ini memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai fungsi pilihan-pilihan dari pelaku teror/aktor (North, 1981; Olson, 1965). Aktor ini bisa berupa individu ataupun kelompok. Kerangka ini memandang tindakan teror sebagai bentuk interaksi dan kontlik antara teroris dan sasaran teror.

Baca : PISAHKAN AGAMA DENGAN ILMU PENGETAHUAN (Nalar Agama dan Pendidikan Kita)

Pendekatan ini tidak populer sebab, bisa jadi a) Barat lebih senang melihat Ideologi terorislah (Islam) penyebab perilaku itu. b) Pendekatan rasional ini tidak memandang sasaran teror semata-mata sebagai korban, tetapi sebagai aktor.

ISIS Makasar.jpg

ISIS Makasar :  Perilaku Terorisme

Dalam Pendekatan Kulturan dikatakan : Karena Radikal, ideologi Wahabi, ikut Halaqah, HTI, mudah mengkafirkan (Takfiri), Pemerintah Thogut dll….Lalu mereka melakukan Perilaku Teror.

Tetapi pertanyaan yang sulit dijawab dengan pendekatan ini adalah;
(1) mengapa sekelompok orang memilih teror, yang lain tidak?, (2) mengapa teroris menjadikan pihak tertentu sebagai sasaran teror? Mengapa Polsek, Mengapa Polisi bukan TNI, Mengapa Gereja bukan Masjid, Wihara dll, dan
(3) mengapa tindakan teror muncul pada waktu-waktu tertentu padahal variabel-variabel kultural (kelompok radikal) sudah eksis sejak lama sekali?

Untuk menjawab ini, memerlukan analisis tentang korelasi antara teroris dan sasaran teror. (Pendekatan Rasional diperlukan).

Baca : GARIS BELAH DAN DEFINISI : APA & SIAPA ‘RADIKAL’

Dalam Pendekatan Rasional maka teroris dan sasaran teror dipandang sebagai aktor rasional dan strategis. Mereka strategis dalam arti bahwa mereka melakukan pilihan-pilihan dalam tindakan mereka (1) dipengaruhi oleh langkah yang sudah dan yang akan dilakukan aktor lainnnya (lawannya) dan (2) dibatasi oleh kendala (constrain) yang dimilikinya.

SEDERHANANYA : Kerangka KULTURAN berasumsi bahwa nilai-nilai menghasilkan teror, sedangkan Kerangka RASIONAL berasumsi bahwa kalkulasi strategis antar aktor menghasilkan teror.

Kasus Terorisme di Eropa 1960 -1980-an, juga Bom Bunuh diri di Lebanon (banyak dilakukan oleh kelompok Kristen) (Pape, 2004). Mereka mendekati dengan pendekatan Rasional, bukn Kulturan sehingga penilaiannya lebih komprehenship dan lengkap (‘selesai’).

Sayangnya dan repotnya : Pendekatan ini ‘seakan’ membela teroris, sebab mereka bisa tidak disalahkan, atau dengan kata lain kita mengkritisi sasaran teror, padahal mereka adalah ‘korban’.

Baca : Wahabi-Salafi dan Takfiri : Landasn Ideologi Ekstrimisme Radikalisme.

SINGKATNYA : Mana diantara kedua pendekatan itu yang perlu diamabil? Jawabnya adalah keduanya. Pelaku memiliki Personality, Kepribadian, Ideologi, tetapi kerangka dan tindakan sasaran teror juga mesti dilihat juga.

___________________

Memang melihat sesuatu harus perspektif dan tahu siapa, dimana, kapan serta mengapa, dst.
# Kasus di Palestina (yang berhadapan dengan Israel), yang diceritakan dibuku diatas mungkin beda dengan
# Kasus WTC 9/11 yang berhadapan dengan AS. Mungkin beda dengan
# Kasus Pengeboman Masjid Sufi di Syuria atau Yaman serta Iraq. Dan juga berbeda lagi dengan
# Kasus Pengeboman Gereja Surabaya kemarin.
# Juga kasus-kasus lainnya.
_______________

Menurut saya, walaupun evaluasi dan variable lain perlu dilihat ada hal yang mencolok bahwa:

Orang yang suka marah-marah dan berkelahi cenderung marah-marah dan berkelahi, tetapi kemarahan itu juga menghitung lawan, kondisi serta kecendrungan itu akan menurun bila sasaran bertindak lemah-lembut dan baik serta tidak membuat gara-gara.

TETAPI Bagaimana di Indonesia?
Didikan dan lingkungan RADIKAL yang sudah disiapkan lama dan meluas oleh mereka, ITU KASAT MATA. Memang mereka tidak mesti menjadi TERORIS, tetapi Radikalisme adalah tanah subur untuk tumbuhnya sikap-sikap dan perilaku Radikal, Bila daun itu sudah merekah, maka mereka tinggal menunggu siapa yang akan mempersuntingnya menjadikan mereka PENGANTIN (Aksi Jihad, Bom Bunuh Diri, Pengeboman dll).

Selamat berjuang para pihak yang bertanggungjawab.
SaveNKRI mudah-mudahan kedepan kita menjadi lebih baik…dan itu Pasti. Insya Allah.

Lihat Juga :
Engkau yang membunuh Engkau pula yang Menta’zia-i
https://www.facebook.com/muhammad.alwi.311/posts/10211017440022453

Bagaimana menurut anda?
Muhammad Alwi Pendidikan Positif

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Filsafat dan Agama, Uncategorized | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Generasi Gorengan, Politik dan Strata Masyarakat

Gorengan

Generasi Gorengan

Dalam perdebatan dunia, maka konsep Demokrasi walaupun bukan tanpa ‘cacat’ memenangkan pentas. Negara Agama dan Komunis harus terjungkal walaupun tetap mengintip diangan-angan. Modifikasi Teokrasi-Demokrasi Islam seperti di Iran dengan konsep Wilayah Faqih yang itu dicita-citakan mungkin oleh Islamis dan aktivis Sunny lainnya (secara konsep pernah dielabosari dengan baik oleh Abul A’la al Maudhudi) tidak kunjung mendapatkan prototipe-nya. Saudi jauh dari konsep juga praktek ideal Islam (hanya simbol Haramain yang dimilikinya), karenanya tidak ada Islamis dan aktivis Islam yang bercita-cita mendirikan negara seperti Saudi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , | Meninggalkan komentar

10 Kebodohan Ummat Islam (Dibodohi AS dan Rusia)…Mengapa?

Senjata Anti Rudal AS THAAD (Terminal High Altitude Area Defense).jpg

Senjata Anti Rudal AS THAAD (Terminal High Altitude Area Defense)

Saya bukan pengamat politik, dan sebenarnya tidak terlalu suka politik, tetapi akhir-akhir ini melihat gejala-gejala tidak beres dalam “masalah keagamaan” di indonesia dan itu ada hubungannya dengan Suriah, maka saya banyak mencari tahu dan browsing….lumayan membuka wawasan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Awas Bahaya Kurang Piknik…….

Selamatkan Generasi Mudah dari Kurang PIKNIK?

Piknik.jpg

Selamatkan Generasi Muda dari Kurang Piknik

Menarik saat saya melihat tulisan di belakang Bis Pariwisata : “Selamatkan Generasi Muda dari Kurang Piknik”.

Tulisan ini seakan sederhana…tetapi banyak makna yang dikandungnya. Salah satunya adalah dengan Piknik minimal, Bis-Bis Pariwisata itu akan laku, dan perekonomian akan lebih baik…..dapur tetap mengepul.

Tetapi dalam tulisan ini saya melihat inspirasi lain tentang PIKINIK.

Dengan Piknik berarti kita punya waktu luang
Dengan Piknik berarti kita punya sedikit/banyak sisa uang
Dengan Piknik kita berarti tidak selalu murung
Dengan Piknik kita tahu dunia lain
Dengan Piknik kita melakukan hal yang tidak rutin, bisa refleksi…. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Politik di Masjid dan Politisi Masjid

“Kalian yang membunuh kalian yang menta’ziahi”

Politik Islam.jpg

Partai-Partai Politik Islam

Masjid adalah tempat Ibadah, tempat menghilangkan semua hubungan-hubungan Selain-Allah dan diharapkan Menuju Allah. Lalu banyak yang bertanya apakah Masjid tidak boleh digunakan untuk politik?

Islam adalah Agama yang mengajarkan semua hal termasuk didalamnya adalah politik dan kesadaran politik. Hubungan dengan Allah itu termasuk didalamnya adalah politik. Tetapi kita mesti ingat bahwa “Politik di Masjid” berbeda dengan “Politisasi Masjid”. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , | Meninggalkan komentar

Aku dan Kamu

 Interpretasi dan Penafsiran dalam Agama dan Praktek Politik.

Perbedaan persepsi.jpg

Perbedaan Persepsi 

Agama apapun tidak ada yang mengajarkan ummatnya brutal, ummatnya membunuh, memperkosa dan lain sebagainya. Tetapi realitanya agama, seakan memberikan legitimasi ummatnya untuk melakukan kengerian-kengerian yang tanpa legitimasi keyakinan-keyakinan tertentu sesuatu itu sulit untuk dilakukan….

Jelas kita tidak akan menyalahkan Agamanya tetapi…oknum dan pelakunya. Tapi INGAT banyak pelaku itu yang JELAS membunuh dengan atas nama Tuhan…..meyakini itu pahala, surga dll. Mereka dijejali oleh konsepsi-konsepsi agama yang ‘rusak’ sehingga kebrutalan-kebrutalan atas nama agama itu terjadi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , | Meninggalkan komentar