Misteri, Tuhan dan Piala Dunia

Foto Ana

Muhammad Alwi

Dalam kejadian dan peristiwa serta proses apapun mesti ada MISTERI.

Tuhan walaupun sebagiannya bisa diketahui tetapi sebagiannya misteri, Agama walaupun harus rasional tetapi sebagiannya mesti di-Imani yang sulit dinalar dan itu misteri.

Bahkan sebuah kejadian tabrakan apa penyebabnya bagamana prosesnya itu adalah misteri, tidak mampu diungkap secara sempurna….hanya dugaan kuat dan mengindikasikan sehingga disimpulkan atau dapat disimpulkan dengan meyakinkan bahwa kejadian tersebut adalah…. ini dan itu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Pendidikan : Anak “Nakal”, “Bandel” dan “Kurang Ajar” Bagi Seorang Guru….

Pendidikan antara Anak Nakal Bandel dan Kurang Ajar.jpg

Pendidikan antara Anak Nakal, Bandel dan Kurang Ajar

Perbedaan antara anak Nakal, Bandel dan Kurang Ajar

Kasus pemukulan Ahmad Budi Cahyono, guru honorer di SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, hingga mengakibatkan meninggal dunia, dan dilakukan oleh siswanya sendiri dalam kelas sungguh sesuatu yang sangat tragis dan mengharukan dan mencoreng dunia pendidikan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Aku Menjadi Radikal di Kampus

Muhammad Alwi

Aku Menjadi Radikal di Kampus

Dalam banyak penelitian (bisa di googling) dikatakan bahwa Kampus dan Lembaga Pendidikan sudah sangat ter-radikalisasi. Termasuk diantaranya adalah PNS dan yang lain Masjid BUMN dan dana-dana CSR BUMN. Bagaimana ini terjadi?

Sebelum membaca tulisan ini, maka perlu disampikan bahwa Ide Negara Islam, Syariatisasi Negara, Khllafah dan sejenisnya, saya anggap jadi satu corpus sebagai kelompok radikal. Bisa jadi mereka tidak radikal jika itu hanya konsep dan lainnya. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu dan sulit dipisahkan secara jelas diantara mereka. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Muhammadiyah and radicalism: Relationships and intersections

The Jakarta Post,
Pradana Boy ZTF, Singapore | Opinion | Tue, November 20 2012, 11:40 AM

Boy

Pradana Boy ZTF P.hD

In commemorating its centennial anniversary November this year, Muhammadiyah, the second largest Islamic organization in Indonesia, is organizing an International Research Conference on Muhammadiyah, or IRCM, at Muhammadiyah University of Malang, East Java, from Nov. 29-Dec. 3. More than a dozen internationally reputable experts in Muhammadiyah studies will discuss, scrutinize, asses and analyze many aspects of Muhammadiyah’s movements, ranging from its religious stance, social achievements, education, to political dynamics. Among so many topics that are highly debated will be Muhammadiyah and radicalism. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , | Meninggalkan komentar

ISLAM DAN EGO KEKUASAAN (2)

Islam dan Perilaku Ummat Islam?

Foto AnaApa itu Islam? Pertanyaan ini cukup sulit bila ingin dijawab secara sosiologis, empiris dan antropologis. Islam  secara sederhana adalah agama yang dianut oleh orang-orang Muslim. Lalu apa seorang Muslim itu? Seorang Muslim semata-mata adalah orang yang menyebut dirinya sendiri Muslim. Secara konsepsional dibuktikan dengan syahadat (walaupun disini tetap saja tidak memberikan artian apa-apa kalau dia Munafik). Munafik adalah terminologi bahwa secara lahiriyah dia Islam padahal sejatinya tidak. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

17 Tahap Menjadi Teroris : EVIL and HERO

Zimbardo Peneliti Penjara dan Teroris.jpg

Philip Zimbardo : Teroris Evil And Hero

17 Tahap Manusia Menjadi Radikal/Ekstrem dan Teroris.

Bagaimana anak-anak yang awalnya ramah, baik, cerdas dan biasa-biasa saja. Dalam perkembangan waktu mereka menjadi radikal, ektrem bahkan melakukan aksi-aksi kekerasan “Bom Bunuh Diri” dan Teriorisme.

Banyak penelitian-penelitian yang membicarakan itu, mulai dari pendekatan sosial, Psikologis juga Psiko-Sosial dan Neurosain. Penelitian-penelitian menyangkut rekayasa otak, perilaku dan bagaimana membuat orang-orang menjadi patuh total dan dapat digerakkan menjadi apapun yang diinginkan, sudah banyak dilakukan bahkan dieksperimenkan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Belajar Analisa Tentang Perilaku Terorisme 

laskar mawar 1

Perilaku Teroris

Siapa yang patut dipersalahkan?

Beberapa waktu lalu dan mungkin sampai hari ini, negeri kita digoncangkan oleh teror Bom Bunuh Diri. Dan menariknya di Surabaya kemarin beberapa pelakunya adalah keluarga, ibu-ibu dengan membawa anaknya untuk mati bersama. Mengapa wanita? Apakah itu pekerjaan wanita?

Dalam buku Amry of Rose, karya Barbara Viktor yang diterjemahkan oleh peneribit Mizan dengan “Laskar Mawar”, juga menceritakan hal yang mirip. Buku novel itu menceritakan bagaimana kepribadian, pola hidup, pekerjaan dan lingkungan yang melingkupinya sehingga dia terpilih untuk meledakkan diri dan menjadi Martyr di Palestina (2002, Saat Yasser Arafat).

(Disini kita tidak membedakan antara Teroris, Bom Bunuh Diri atau Bom Syahid, sebab itu tergantung wacana, tempat dan penilaiannya masing-masing).

Dalam melihat Perilaku Terorisme maka ada 3 Komponen yang perlu dilihat yaitu PELAKU (Teroris), TEROR (Tindakan-nya) dan SASARAN TEROR.

Menganalisa Terorisme bisa dilakukan dengan 2 Pendekatan.

Baca : Terorisme : Ciri Agama Sudah Terkorupsi dan Busuk

1) Pendekatan Kultural
Dimana intinya bahwa memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai penjelmaan nilai, sistem kepercayaan, atau ideologl (Berger, 1995; Ross, 1999). Inti kerangka ini adalah interpretasi nilai terhadap aksi.

2) Pendekatan Rasional
Pendekatan ini memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai fungsi pilihan-pilihan dari pelaku teror/aktor (North, 1981; Olson, 1965). Aktor ini bisa berupa individu ataupun kelompok. Kerangka ini memandang tindakan teror sebagai bentuk interaksi dan kontlik antara teroris dan sasaran teror.

Baca : PISAHKAN AGAMA DENGAN ILMU PENGETAHUAN (Nalar Agama dan Pendidikan Kita)

Pendekatan ini tidak populer sebab, bisa jadi a) Barat lebih senang melihat Ideologi terorislah (Islam) penyebab perilaku itu. b) Pendekatan rasional ini tidak memandang sasaran teror semata-mata sebagai korban, tetapi sebagai aktor.

ISIS Makasar.jpg

ISIS Makasar :  Perilaku Terorisme

Dalam Pendekatan Kulturan dikatakan : Karena Radikal, ideologi Wahabi, ikut Halaqah, HTI, mudah mengkafirkan (Takfiri), Pemerintah Thogut dll….Lalu mereka melakukan Perilaku Teror.

Tetapi pertanyaan yang sulit dijawab dengan pendekatan ini adalah;
(1) mengapa sekelompok orang memilih teror, yang lain tidak?, (2) mengapa teroris menjadikan pihak tertentu sebagai sasaran teror? Mengapa Polsek, Mengapa Polisi bukan TNI, Mengapa Gereja bukan Masjid, Wihara dll, dan
(3) mengapa tindakan teror muncul pada waktu-waktu tertentu padahal variabel-variabel kultural (kelompok radikal) sudah eksis sejak lama sekali?

Untuk menjawab ini, memerlukan analisis tentang korelasi antara teroris dan sasaran teror. (Pendekatan Rasional diperlukan).

Baca : GARIS BELAH DAN DEFINISI : APA & SIAPA ‘RADIKAL’

Dalam Pendekatan Rasional maka teroris dan sasaran teror dipandang sebagai aktor rasional dan strategis. Mereka strategis dalam arti bahwa mereka melakukan pilihan-pilihan dalam tindakan mereka (1) dipengaruhi oleh langkah yang sudah dan yang akan dilakukan aktor lainnnya (lawannya) dan (2) dibatasi oleh kendala (constrain) yang dimilikinya.

SEDERHANANYA : Kerangka KULTURAN berasumsi bahwa nilai-nilai menghasilkan teror, sedangkan Kerangka RASIONAL berasumsi bahwa kalkulasi strategis antar aktor menghasilkan teror.

Kasus Terorisme di Eropa 1960 -1980-an, juga Bom Bunuh diri di Lebanon (banyak dilakukan oleh kelompok Kristen) (Pape, 2004). Mereka mendekati dengan pendekatan Rasional, bukn Kulturan sehingga penilaiannya lebih komprehenship dan lengkap (‘selesai’).

Sayangnya dan repotnya : Pendekatan ini ‘seakan’ membela teroris, sebab mereka bisa tidak disalahkan, atau dengan kata lain kita mengkritisi sasaran teror, padahal mereka adalah ‘korban’.

Baca : Wahabi-Salafi dan Takfiri : Landasn Ideologi Ekstrimisme Radikalisme.

SINGKATNYA : Mana diantara kedua pendekatan itu yang perlu diamabil? Jawabnya adalah keduanya. Pelaku memiliki Personality, Kepribadian, Ideologi, tetapi kerangka dan tindakan sasaran teror juga mesti dilihat juga.

___________________

Memang melihat sesuatu harus perspektif dan tahu siapa, dimana, kapan serta mengapa, dst.
# Kasus di Palestina (yang berhadapan dengan Israel), yang diceritakan dibuku diatas mungkin beda dengan
# Kasus WTC 9/11 yang berhadapan dengan AS. Mungkin beda dengan
# Kasus Pengeboman Masjid Sufi di Syuria atau Yaman serta Iraq. Dan juga berbeda lagi dengan
# Kasus Pengeboman Gereja Surabaya kemarin.
# Juga kasus-kasus lainnya.
_______________

Menurut saya, walaupun evaluasi dan variable lain perlu dilihat ada hal yang mencolok bahwa:

Orang yang suka marah-marah dan berkelahi cenderung marah-marah dan berkelahi, tetapi kemarahan itu juga menghitung lawan, kondisi serta kecendrungan itu akan menurun bila sasaran bertindak lemah-lembut dan baik serta tidak membuat gara-gara.

TETAPI Bagaimana di Indonesia?
Didikan dan lingkungan RADIKAL yang sudah disiapkan lama dan meluas oleh mereka, ITU KASAT MATA. Memang mereka tidak mesti menjadi TERORIS, tetapi Radikalisme adalah tanah subur untuk tumbuhnya sikap-sikap dan perilaku Radikal, Bila daun itu sudah merekah, maka mereka tinggal menunggu siapa yang akan mempersuntingnya menjadikan mereka PENGANTIN (Aksi Jihad, Bom Bunuh Diri, Pengeboman dll).

Selamat berjuang para pihak yang bertanggungjawab.
SaveNKRI mudah-mudahan kedepan kita menjadi lebih baik…dan itu Pasti. Insya Allah.

Lihat Juga :
Engkau yang membunuh Engkau pula yang Menta’zia-i
https://www.facebook.com/muhammad.alwi.311/posts/10211017440022453

Bagaimana menurut anda?
Muhammad Alwi Pendidikan Positif

 

 

Dipublikasi di Filsafat dan Agama, Uncategorized | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar