SUBJEKTIVITAS, OBJEKTIVITAS, SUBJEKTIVISME

MENENGOK, PERTEMPURAN IDEOLOGI SUNNAH & SYIAH

Perang Dinasti Seljuk TurkiMenarik melihat pertanyaan ahli ilmu sosial Robert K Merton, dia menanyakan, mengapa Inggris pada abad 17 menjadi negara yang sangat subur bagi pertumbuhan dan perkembangan Ilmu pengetahuan? Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan dalam negeri Islam, mengapa pada saat Dinasti Buwaihi (934–1055 M), yang hidup di pemerintahan Abbasiyah, hiduplah manusia-manusia seperti al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), al-Farghani, Abdurrahman al-Shufi (w. 986 M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-‘Ala al-Ma’arri (973-1057 M), dan kelompok Ikhwan al-Shafa, dll? Kata Merton, Inggris pada masa itu Inggris cocok bagi terbentuknya ETOS, yang terdiri dari 4 prinsip yaitu Komunalitas, Universalisme, Ketakpamrihan dan skeptisme teratur. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama, Psikologi dan Pendidikan | Tag , , | Meninggalkan komentar

KELUAR DARI JERATAN…Mungkinkah?

Foto GoogleDalam buku “One Dimensional Man”, Herbet Marcuse, mengktirik dengan sangat tajam bagaimana dunia dijadikan satu standart, satu style dan satu tujuan dan itu tergerakkan oleh Kapitalisme dan Modernisme (ala Barat). Padahal dari banyak diskusi, kritik dan narasi lainnya, seperti sekolah Frankfurt Max Khorkheimer, Habermas, Adorno dll, menunjukkan bahwa arah ini, rel yang dipasang akan mengarah pada tujuan yang pada akhirnya masuk kepada “neraka” atau jurang kehancuran.

“Kapitalisme Lanjut” yang diramalkan oleh Karl Marx tidak kunjung datang, bahkan kapitalisme selalu merevisi dirinya sendiri sehingga live-time-nya akan terus bertambah dan bertambah. Jangan heran bila Francis-Fukuyama dan Sebelumnya Peter Berger meramalkan bahwa Kapitalisme yang akan menang melawan Sosialisme apalagi Komunisme. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Lain-lain, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Sekolah Efektif

Foto Rekreasi JKT OkePembahasan dan diskusi tentang sekolah efektif terjadi bukan secara tiba-tiba. Pada awalnya penelitian Coleman (1966, dalam Downwr, 1991), menghasilkan kesimpulan bahwa latar belakang keluarga dan sosial ekonomi adalah penentu utama pencapaian dan prestasi siswa disekolah. Demikian juga Christopher Jencks (1972, Raptis & Flemin, 2003), menunjukkan bahwa “kualitas sekolah tidak banyak berpengaruh pada prestasi. Kepercayaan dan penerimaan akan hal ini menyebabkan kebijakan yang berbeda. Kebijakan bukan membkan kebijakan yang berbeda. Kebijakan bukan memperbaiki sekolah tetapi memperbaiki sosial-ekonomi siswa, seperti pemberian susu, tunjangan ekonomi dan seterusnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , | Meninggalkan komentar

10 Prinsip Guru Ideal dan Efektif

Foto Ana Jakarta OkeDalam Sekolah dan Lembaga Pendidikan,  2 dua faktor utama keberhasilannya yaitu bagaimana Gurun-ya dan bagaimana Siswa-nya.

  1. Guru memahami konsep inti dari pendidikan, bahan dan alat pembelajaran, disiplin serta mampu menciptakan pengalaman belajar yang menjadikan materi pelajaran menjadi bermakna bagi siswa.
  2. Guru memahami bagaimana anak-anak belajar dan berkembang dan dapat memberikan kesempatan belajar yang mendukung perkembangan intelektual, sosial, dan pribadi mereka.
  3. Guru memahami bagaimana siswa berbeda dalam pendekatan mereka untuk belajar dan menciptakan peluang pengajaran yang disesuaikan dengan beragam pelajar.
  4. Guru memahami dan menggunakan berbagai strategi pengajaran untuk mendorong pengembangan pemikiran kritis, pemecahan masalah, dan keterampilan kinerja siswa.
  5. Guru menggunakan pemahaman tentang motivasi dan perilaku individu dan kelompok untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendorong interaksi sosial yang positif, keterlibatan aktif dalam pembelajaran, dan motivasi diri.
  6. Guru menggunakan pengetahuan tentang teknik komunikasi verbal, nonverbal, dan media yang efektif untuk mendorong eksplorasi aktif, kolaborasi, dan interaksi yang mendukung di kelas.
  7. Guru merencanakan pengajaran berdasarkan pengetahuan materi pelajaran, siswa, masyarakat, dan tujuan kurikulum.
  8. Guru memahami dan menggunakan strategi penilaian formal dan informal untuk mengevaluasi dan memastikan perkembangan intelektual dan sosial yang berkelanjutan dari pelajar.
  9. Guru adalah praktisi reflektif yang terus-menerus mengevaluasi efek dari pilihan dan tindakannya terhadap orang lain (siswa, orang tua, dan profesional lain di komunitas pembelajaran) dan yang secara aktif mencari peluang untuk tumbuh secara profesional
  10. Guru membina hubungan dengan kolega sekolah, orang tua, dan lembaga di komunitas yang lebih besar untuk mendukung pembelajaran dan kesejahteraan siswa.

Lihat yang lain tentang Guru : Fungsi GuruKafir dalam Pendidikan Sebuah Refleksi

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , | Meninggalkan komentar

“KAFIR” DALAM PENDIDIKAN?

Foto GoogleKau guru, orang tua serta lainnya….
Kau Yakin Bahwa makna kafir adalah mengingkari apa yang kau yakini sendiri bahwa itu benar, baik tetapi kau tolak, lawan, kau abaikan, dan kau biarkan.

Bukankah kau banyak melakukan kekafiran kalau seperti itu?

Kau Yakin Pendidikan Karakter itu penting dibandingkan yang lainnya, tetapi kau kafiri sebab kau tetap kosentrasi dalam pendidikan umumnya, klasikal dan reguler biasa-biasa saja. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Psikologi dan Pendidikan | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kafir, Hubungan Antar Agama dan negara, Menurut NU dan Muhammadiyah?

KafirSebelum membahas tentang KAFIR, kita mesti sadar hubungan antara Agama dan Negara di NKRI. Sebab tanpa itu, maka akan sulit memahami usulan dari kiayi-kiayi NU tentang “tidak menyebut kata kafir” untuk Non-Muslim.

Apa itu makna kata Kafir dalam perbincangan Teologi Islam? Kafir itu bermakna menutupi, menolak hal-hal yang diyakini oleh dirinya sendiri sebagai benar/baik. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Ulama ‘Cemen’, 4D dan Ateisme Yang Berpendar?

Ateisme ArabSaya selalu percaya dan mengatakan, tidak ada orang yang Ateis, yang ada adalah gagah-gagahan atau mereka tidak percaya Agama dan Tuhan versi agama-agama. Banyak orang konon seperti, fisikawan Einstein, John Higs, Stephen Hawking, Immanuel Kant, itu adalah orang-orang ber-Tuhan tetapi Tuhannya tidak seperti Tuhan-Tuhan Agama-agama yang ADA.

Bagaimana Tuhan awal mula menciptakan?Apakah Tuhan pernah tidak menjadi Khalik (Pencipta)? Karena saat tertentu (t-detik) Dia ‘sempat’ sendirian sebelum mencipta apapun?Apakah ciptaan Awal itu dari Diri-Nya, dari kekosongan (creation ex Nihilo) atau…atau? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama, Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar