Pendidikan Positif, Sukses dan Bahagia : PROGRAM KAMI

Siar Positive 1.jpg

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Workshop/Trining | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

KESADARAN DAN PENYADARAN KOMUNITAS

Foto di Guci TegalUntuk melangkah dengan baik dan benar maka kita sebagai manusia mesti SADAR. Sadar adalah melek, bangun dari tidur, siuman dan hidup. Tidak hanya hidup –sebab tumbuhan dan hewan juga hidup– tetapi  mengambil keputusan, tindakan. Tidak sekadar mengambil keputusan, tetapi menimbang-nimbang (accauntability) dan bertanggungjawab (respon + ability) atas keputusan yang diambil. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

RAWATLAH AKALMU BIAR TIDAK #nDESO

Team WorkAda seorang kiayi yang cukup arief nampaknya, pakaiannya santun, berpeci hitam, dengan baju koko yang indah. Dalam sebuah pengajian yang didalamnya ada peng-Kajian, saya mendengarkan dengan asyik, walaupun asalnya datang tidak dengan tujuan mendengarkan dan ikut acara itu.

Saat berdiskusi seperti biasa dengan teman-teman-nya, Sang Kiayi/Ust sering berkata. Agama itu Rasional dan selalu rasional. Maka gunakanlah akal-mu sehingga kalian beragama dengan baik (ucapan khas dari seorang yang merasa diri lebih dari pada yang diajak bicara, murid-muridnya dan santrinya).

Jangan hanya menggunakan Al Qur’an-Sunnah, karena itu sangat sulit kalian gapai dan Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , , | Meninggalkan komentar

KEINDONESIAAN-KU MENENTUKAN KEISLAMAN-KU ATAU SEBALIKNYA?

“Engkau mengimani apa yang kau makan.” Kata Rumi.

Foto di Guci Tegal

Muhammad Alwi

Keindosesian-ku adalah warisan, karena aku tiba-tiba lahir disini, Ke-Islaman-ku juga warisan, karena aku terlahir (tanpa hak pilih, dari ibu bapak-ku yang kebetulan beragama Islam). Apakah Ke-Indonesian-Ku menentukan Ke-Islaman-Ku atau sebaliknya?

Heritage (warisan) menurut kamus webster adalah
something transmitted by or acquired from a predecessor (sesuatu yang ditransmisikan oleh atau diperoleh dari pendahulu) atau sesuatu yang dimiliki sebagai akibat dari situasi alam atau kelahiran seseorang. Jadi warisan adalah sesuatu yang kita terima bukan dari hasil jerih payah kita, warisan sesungguhnya seperti pada proses mendapatkan kekayaan, bentuk wajah, hidung, kulit, logat, bahasa, kebiasaan bahkan pola berbudaya tertentu. Warisan itu sebenarnya bukan hanya secara genetika, tetapi warisan itu adalah terlemparnya kita kedalam dunia.
Heidegger mengatakan being-in-the-world. Kita tiba-tiba menjadi anak si fulan, bertetangga dengan fulan, punya status sosial (ningrat, habib, kaum borjuies atau malah rakyat jelata, wong cilik).

Kesemua ke-ada-an kita (Being), menetukan cara berfikir kita, menetukan pola respon, pola persepsi dan akhirnya pola berperilaku dan beragama. Dalam Psikologi Sosial, ada istilah konsepsi/kepribadian mempengaruhi pola persepsi/sikap/disposisi. Dan Sikap kita menentukan perilaku diri kita. Kita itu menyejarah, apa-apa yang kita miliki (sebagai warisan secara genetika-sosial juga budaya), menetukan ke-diri-an kita, bahkan menentukan bagaimana proses hitung-hitungan (hisab, baik-buruk) dimata Tuhan kelak. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Filsafat dan Agama | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

LOGIKA BERBAHAYA KAUM RADIKAL

Foto di Guci TegalSebenarnya mereka itu tidak banyak, tetapi pemikirannya mulai diikuti orang, setelah menemukan moment-moment tertentu. Mereka selalu mengatasnamakan ummat-Islam. padahal mereka minoritas dalam Islam. Lihat Kaum Khawarij, ISIS, Al Qaeda, HTI dan lainnya. Mereka sedikit dalam tubuh Islam karena mereka adalah kelompok Ektrim (kanan/kiri).

Mengapa mereka selalu mendapat pengikut? Tidak sulit membentuk kaum radikal, minimal itu dapat dilihat dari beberapa penelitian seperti : Dr. Elizabeth Lofthus, dalam Misinformation and Memory: The Creation of New Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Menariknya Tulisan AFI : WARISAN

foto muhammad AlwiSaya jujur baru beberapa hari lalu baca tulisan itu karena tergelitik dari tulisan orang dan lihat share yang sedemikian banyaknya.

“Engkau mengimani apa yang kau makan.” Kata Rumi.

Warisan itu sebenarnya bukan hanya secara genetika, tetapi warisan itu adalah terlemparnya kita kedalam dunia. Heidegger mengatakan being-in-the-world. Kita tiba-tiba menjadi anak si fulan, bertetangga dengan fulan, punya status sosial (Ningrat, Habib, Kaum borjuies atau malah rakyat jelata, wong cilik).
Kesemua ke-ada-an kita (Being), menetukan cara berfikir kita, menetukan pola respon, pola persepsi dan akhirnya pola berperilaku dan beragama.
Dalam Psikologi Sosial, ada istilah konsepsi/kepribadian mempengaruhi pola persepsi/Sikap/Disposisi. Dan Sikap kita menentukan diri perilaku kita. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

SARTRE, BIAYA SOSIAL & PARTISIPASI KOGNITIF

Foto di Guci TegalTokoh Eksistensialis Jean Paul Sartre pernah berkata, Ke-Ada-an kitat, ada saat kita mengambil keputusan. Keputusan mengandaikan tanggung-jawab, dan ada konsekuensi/biaya (baik-buruk, dalam teologis itu dikatakan pahala/dosa dst). Kita saat diam maka tidak ubah dengan yang lain, tetapi kemampuan responability (respon dan ability, kemampuan memberikan respon, tanggung jawab), dan acuntability (acouant dan ability, kemampuan memilah-milah, mengkalkulasi) adalah kemanusiaan kita. Saat diri kita mengambil keputusan, maka ada biaya opotunity (biaya kesempatan, cost opportunity). Mengambil yang ini berarti menghilangkan kesempatan dan potensi yang itu. Dan dahsyatnya, pengambilan keputusan kita yang kecil, time-line jelas, itu bertemu dengan duree (saat). Artinya, keputusan-keputusan kita ini mempengaruhi konfigurasi alam. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar