ERA POST-TRUTH

KITA ADALAH EDITOR BAGI DIRI KITA SENDIRI

Foto di Guci TegalDalam Oxford Dictionaries, post-truth didefinisikan sebagai ‘berkaitan dengan atau merujuk kepada keadaan di mana fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi’.

Ini berbeda dengan hoax/fake news yang cenderung menyesatkan atau dis-informasi atau faktanya dipalsukan.

Di era post-truth, batas antara kebenaran dan kebohongan, kejujuran dan ketidakjujuran, fiksi dan non-fiksi tidak jelas. Fakta objektif dipandang tidak penting untuk membangun opini publik. Yang penting opini dibangun dengan membangkitkan emosi dan keyakinan personal. Post-Trurh terjadi karena banjir informasi dan media.

Orang dengan mudah mengambil data manapun dan membuat kesimpulan sendiri dan tafsir sendiri sesuai keinginannya. Kita bisa menyusun sendiri opini kita, mengkontruksi kebenaran kita, melampaui fakta. Yang ditonjolkan adalah opini dan tafsir terhadap fakta. Sekarang kita bersaing mengklaim kebenaran. Tiap-tiap kelompok masyarakat mengonstruksi kebenaran menurut versi masing-masing, sesuai kepentingan masing-masing, dan menenggelamkan fakta di pojok-pojok sepi. Setiap orang dapat menerbitkan opininya, setiap orang menawarkan tafsirnya sendiri terhadap fakta, dan—yang paling repot—setiap orang mengklaim bahwa tafsirnya yang paling benar. Opini inilah yang diangkat sebagai ‘kebenaran’, bukan faktanya.

Post Truth.jpgOpini publik dibangun melalui sentimen emosional bukan fakta atau logika. Fakta objektif tidak lagi penting. Tak peduli itu benar/salah, yang penting publik percaya. Itulah dunia post-truth (Hoax merajalela). Medsos dan media mainstream (ikut berperan) semakin efektifnya post-truth. Betapa sulitnya bagi kita untuk melihat dan memilah mana fakta atau kebohongan, mana kejujuran atau ketakjujuran, mana fiksi atau fakta. Ketika kebenaran tidak lagi penting, Welcome to the post-truth world!. Kita adalah editor buat diri kita sendiri.

Filosof AC Grayling memperingatkan ihwal ‘korupsi integritas intelektual’ akibat praksis post-truth. Bila masyarakat berdiri di atas fakta-fakta yang dimanipulasi, dipoles, disembunyikan, dilepaskan dari konteksnya, dan kemudian pendapat individu atau kelompok lebih ditonjolkan sebagai kebenaran, masyarakat sesungguhnya sangat rapuh. Ia bagaikan bangunan kartu domino yang dengan satu sentuhan saja seluruh bangunannya runtuh (mudah-mudahan itu tidak terjadi).

Filosof AC Gryling.jpg

Filosof Anthony Clifford Grayling CBE

Kondisi ini terjadi (Indonesia) pada sebuah masyarakat yang menolak keberadaan kebenaran karena adanya hubungan ketidakpercayaan antara masyarakat, pemerintah, dan hampir semua aktor yang terlibat dalam negara. Kondisi keruh karena ‘banjir informasi, berita palsu mudah diakses oleh masyarakat dan kampanye ‘hitam’ (Di kita marak sejak PILKADA Foke-Jokowi dan Jokowi-Prabowo. Siapa yang memulai dan mereproduksi..??). Dengan melabelli rival kelompok tertentu, lawan politik dengan pendukung ISIS, Komunis, Syiah, Takfiri, tidak peduli itu benar/salah yang penting orang percaya, dan ini dicover/disebarkan oleh media. Keriuhan media-Informasi (WA, WAB, Twiter, FB, dll) tempat tumbuh dan berkembangnya post-truth.

Dalam masyarakat demokrasi, maka kedaulatan dan kekuasaan memang di tangan masyarakat, tetapi masyarakat harus memiliki basis ‘pengetahuan’ dan kesepakatan dalam membentuk kesatuan, tetapi bila ini direkayasa, otal-atik gaduk, maka sama saja kita memberikan izin untuk monopoli kekerasan ke tangan mayoritas ‘effektif’.

Lalu apa yang harus dilakukan? Sulit untuk mengatakan, tetapi 1) Sikap moderat, tidak kanan-kiri, melakukan hal-hal standart, pendidikan pola pikir yang baik, dst. 2) Pemerintah mesti memberikan hukuman/menangkap pelaku hoax (sebab itu ladang menjadikan ketidak percayaan),

Baca juga : MAKNA NALAR MODERAT

3) Media Meanstrem/Umum dengan alamat, struktur jelas, harus diperkuat sehingga bisa menjadi rujukan (sayangnya ini ikut dalam arus post truth) 4) Atau mungkin nasihat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw bisa kita renungkan, “Dalam masa kekacauan sosial, jadilah seperti unta remaja, yang tak berpunggung cukup kuat untuk ditunggangi dan tidak pula bersusu untuk diperah.”
Mau atau tidak mau dalam kondisi post-trut, kita mesti menjadi editorial buat diri kita sendiri.

Wallahu A’lam,
Diolah dari beberapa media : Muhammad Alwi

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s