FENOMENA PERUBAHAN SUATU “MADZAB”[1]

Kajian Sosio-Psokologis, Sebuah Tranformasi Identitas Pemeluknya

Oleh: Muhammad Alwi[2]

 

Foto Reuni blog okeDalam “perubahan madzab secara benar”, seorang mengalami tranformasi identitas yang melibatkan kesadaran beragama. Tranformasi identitas menyangkut perubahan psikologis. Pelakunya menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya; tranformasi mengisyaratkan penilaian baru tentang diri pribadi dan orang lain, tentang peristiwa-peristiwa, tindakan-tindakan dan objek-objek. Lewat tranformasi, persepsi seseorang bersifat irreversible, sekali berubah tidak bisa kembali lag.[3] Menurut Denzin (1987:11) tranformasi adalah proses dengan mana seseorang secara aktif memperoleh citra diri yang baru, bahasa diri yang baru, hubungan-hubungan baru dengan orang lain, dan ikatan-ikatan baru dengan tatanan social. Sering tranformasi identitas itu ditandai dengan berbagai titik balik seperti; kekagetan, penyesalan, kegelisahan, tekanan, keheranan, juga dengan kebutuhan untuk menampilkan diri yang baru, untuk menjelajahi dan mengesahkan konsepsi-konsepsi baru yang sering menggairahkan atau menghawatirkan. Perubahan demi perubahan terus menimpa mereka, membawa mereka kedalam twilight zone antara kebahagiaan dan kenyataan.

Tekanan adalah kata kunci disini: tekanan dari keluarga, karib kerabat dan kawan-kawan non madzab mereka (juga non agama mereka bila mereka pindah agama) yang menentang keputusan mereka; tekanan untuk mempelajari madzab baru (atau agama baru) dalam waktu singkat. Para muallaf itu kerap harus mengatasi semua problemnya sendiri, tanpa teman, kelompok, kegiatan dan buku-buku yang memperteguh keyakinan baru mereka.

“Anda harus sepenuhnya mengubah cara hidup anda agar sesuai dengan madzab baru anda (atau Islam bila perubahannya dan non-muslim). Cara hidup baru itu terkadang menjadi sangat bertentangan dengan cara hidup masyarakat disekitar anda dan dimana anda dibesarkan. Anda bergairah setelah masuk madzab baru itu (atau Islam bila dari non-muslim). Anda mengira hal itu akan menyenangkan, namun kenyataannya anda sulit menyesuaiakan diri. Kesulitan terbesar adalah ketika anda (kita) ingin mengintegrasikan “kesempurnaan teori madzab baru itu (atau Islam) dengan kenyataan pemeluknya atau realita yang ada”. Setelah kita membaca beberapa buku penting dan pokok tentang suatu madzab (atau agama)[4] itu sangat menyenangkan, tetapi kita harus menghadapi kenyataan bagaimana menerapkannya konsep-konsep itu dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana itu mengubah prioritas-prioritas kita dan juga bagaimana mengatasi kebiasaan-kebiasaan kita yang bertentangan dengan konsep-konsep diatas. Titik balik ini dapat menimbulkan depresi, mungkin sebuah kegairahan hidup baru.

Berger dan Luckman menyebut perubahan agama atau madzab adalah contoh ekstrem tranformasi yang nyaris sempurna, ia menyebut kondisi ini sebagai alternation[5] (1996:176).  Proses ini ditandai tidak saja dengan perubahan perilaku, tetapi juga lebih penting lagi dengan perubahan pandangan dunia. Perubahan cara berpakaian dalam bentuk demodernisasi (budaya tandingan) – dari pakaian modern ke hijab yang “tradisional”- seperti yang dilakukan oleh muallaf-muallaf wanita yang merupakan indikasi dari perubahan identitas dan pandangan dunia itu (Musgrove, 1977:168).

Dengan kata lain, perubahan madzan (lebih-lebih agama) seharusnya mengisyaratkan adanya perubahan kesadaran, motif untuk bertindak, dan makna realitas social pada diri pelakunya: siapa aku, darimana aku, mau kemana aku (apa tujuan hidupku), apa yang harus kulakukan dst.[6]

Melaui pemelukan madzab ( lebih-lebih agama baru), orang bersangkutan mengalami perubahan identitas yang radikal. Keberhasilan proses tersebut menuntut adanya significant others baru yang punya nilai-nilai yang sama dan mengarahkan para pelakunya kepada realitas baru. Alternasi juga mengisyaratkan perubahan topic-topik percakapan. Teman bicara dalam pembicaraan-pembicaraan penting juga berubah. Dengan adanya kawan-kawan baru ini, maka realitas subjektif juga berubah (Berger dan Lukcman, 1966:178-179). Hanya bila mereka telah mengalami dan mengatasi apa yang disebut liminal state (Kelsen, 1981:204) yang ditandai dengan ketidak pastian tentang makna hidup dan identitas diri, dan didukung oleh significant others, maka identitas baru akan muncul.

Agama yang asalnya merupakan topic peripheral kini menjadi sentral dalam kesadaran mereka. Agama kini memberi makna bagi realitas yang semula membingungkan, memberi rasa memiliki kenyamanan ditengah-tengah ketidak pastian hidup. Beralasan bila para muallaf itu, untuk menjaga realitas subjektif mereka, terpaksa meninggalkan kawan-kawan lama, juga keluarganya bila perlu untuk berhubungan dengan kawan-kawan baru yang dapat mensyahkan identitas baru mereka.

Sebagaian besar (bahkan kebanyakan) perubahan madzab (juga agama) merupakan suatu pemberontakan menentang norma-norma masyarakat yang sudah mapan (keluarga mereka kebanyakan menganggap peruhana ini sebagai hal yang ganjil). Para mualllaf itu sudah jenug dengan budaya yang materialistic, hipokrit, irasional dan menyembunyikan kebenaran yang sebenaranya (sekan mereka menemukan “sebuah kebenaran yang hilang”). Mereka menginginkan system lain yang dapat memuaskan lapar dan dahaga spiritual mereka.[7]

Bagi para pemeluk baru, memasuki madzab (atau agama baru) bagaikan lahir kembali, memulai hidup baru, atau seperti “pulang kerumah”. Sebagai indikasi dari kelahiran kembali atau hidup baru itu, mereka punya gaya hidup yang baru pula. Menurut Obeyesekere (1975:252), perubahan nama menunjukkan kesadaran seseorang tentang dirinya. Berbeda dengan orang-oarang yang mengikuti sebuah madzab ( atau agama) tanpa perjuangan, kebingunagan dan kesulitan (semacam pengikut warisan atau “sekali sentuh”), para revert tadi menyadari manfaat dari nilai-nilai ajaran baru yang dianutnya. Keputusan mereka memeluk “ajaran baru” itu begitu serius, seakan hidup dan mati. Sehingga tidak heran mereka begitu serius dan bergairah dalam “mempelajarinya dan menjalankannya” bahkan tanpa kompromi. Mereka siap menentang kepercayaan-kepercayaan lama (sekalipun dianut oleh orang tua mereka).

Inilah salah satu pendapat para psikolog yang mengatakan mengapa umumnya orang-orang yang paling fanatic dalam memperjuangkan sesuatu, apakah itu agama, madzab, terror atau revolusi adalah orang-orang yang memasuki perjuangan itu atas kemauannya sendiri yang bebas. Karena semangatnya yang tinggi dan sikapnya yang tanpa kompromi, para revert itu terkadang terlibat dalam konflik dengan orang-orang penganut “satu ajaran” dengannya sejak lahir yang biasanya lebih kompromistis (Reeder, 1989).

 

[1] Ini adalah pengantar kajian awal penulis tentang “perubahan madzab”, 1) Mengapa umur-umur tertentu, masyarakat cenderung lebih mudah berubah suatu madzab (seperti teorinya  J.W Fowler, “Development of Faith”, “tahap-tahap perkembangan moralnya” Kolhberg, juga “8 tahap siklus hidup manusianya”, Erik H. Erikson. Juga 2) Mengapa aliran-aliran tertentu (misal Muhammadiyah) lebih mudah terpengaruh (walau kulturnya cenderung beda) dan sulit (semisal NU, walau secara kultur dekat) terhadap madzab lain (semisal Syi’ah, Salafi di Indonesia) seperti yang dikemukakan oleh Psikolog, filosof J. Piaget (dengan Contructvism physicologi-nya). 3) Isu apa dan strategi bagaimana yang mestinya diterapkan dengan mengetahui kecendrungan psikologis keadaan “lahan dakwahnya”.

[2] Penulis adalah Peminat Studi Islam, Psikologi, Pendidikan dan Filsafat. Pendidik, Mantan Kepala Sekolah, Pendidikan S1 Psikologi, S2 Manajemen, S3 Manajemen Pendidikan. Sumber tulisan banyak dari buku “Berpaling Kepada Islam”.

[3] Aselm Strauss, “Mirrors and Masks”, New York : Free Press of glencoe, 1959. p. 91-92.  Juga dalam DR. Deddy Mulyana, M.A (Ed), “Berpaling kepada Islam, Bandung, Rosda1996. hal 42.

[4] Al-Qur’an, Hadist (dalam agama Islam), membaca buku-buku Imamah, saqifah, Dialog sunnah-Syi’ah dll.

[5] Berger dan T. Luckman, “Tafsir Sosial atas Kenyataan”, LP3ES

[6] Disinilah mengapa perubahan-perubahan itu terkadang ekstrem, sehingga merugikan strategi dakwah kedepannya (secara kelompok), hampir sulit dihindarkan. Pemeluk baru terkadang sangat ekstrem, sehingga keinginan orang-orang “potensial” disekitarnya untu berpindah agama (madzab) terkadang terhijabi (terhalangi karena adanya tambahan barrier) dari pemeluk baru yang “hangar-bingar”

[7] Inilah pembenaran “Psikologis dan Soisologis”, mengapa orang non-muslim setelah pindah ke Islam, mereka akhirnya mencari sebagaian celah islam (misalnya spiritualisa). Orang dari Ahl-Sunnah pindah ke Syi’ah, akhirnya mencari ceruk dalam keSyi’ahannya dengan bergabung dengan “persaudaraan spiritual mahdi” dll.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s