Kelompok Berisik/Radikal dan Filsafat Serta Pendidikan Kontruktivistik

foto muhammad Alwi

Muhammad Alwi

Apa itu pengetahuan, bagaimana pengetahuan itu masuk dalam diri kita, makin yakin kadang ragu dan juga kita lupakan?

Banyak teori pengetahuan yang berbicara tentang proses itu…dan mengetahu bagaimana pengetahuan, bobot dari pengetahuan (keyakinan) dan lain sebagainya naik-turun dalam diri kita adalah sangat penting. Dalam mendapatkan pengetahuan, manusia itu sebenarnya bukan menemukan pengetahuannya (Keyakinan), melainkan pengetahuan itu bentukannya sendiri, pengethuan itu hasil kontruksinya sendiri. Baca : KERJA IMAN, KEYAKINAN-SPIRITUALITAS DALAM OTAK KITA (KAJIAN NEUROSCIENCE). Bag – 1

Saat sebuah informasi itu masuk, maka ada proses, kata Von Glasersfeld, dimana 1) Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman yang dialami, 2) Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan (justifikasi) mengenai persamaan dan perbedaan, antara satu informasi dengan informasi lainnya dan 3) kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari pada yang lain.

Jadi disi sebenernya, pengetahuan dan bobot dari pengetahuan (Keyakinan) adalah kitalah yang membentuk atau dengan kata lain pengetahuan itu lebih menunjuk pada pengalaman seseorang akan dunianya sendiri dari pada dunia itu sendiri.

Baca : KERJA IMAN, KEYAKINAN-SPIRITUALITAS DALAM OTAK KITA (KAJIAN NEUROSCIENCE) Bagian 2

Dalam proses mengetahui sesuatu dalam konsepsi teori pengetahuan, teori belajar dan filsafat kontruktivism, kata Piaget, ada beberapa tahap yaitu

a) SKEMATA, suatu kontruk pembentukan struktur kognitif awal. Misalnya pengetahuan kita akan kucing (yang paling dasar), atau pengetahuan kita akan Islam, konsep tentang madzab (Syiah-Sunnah-Wahabi) dan seterusnya (tetapi ini konsep yang awal-awal). Setelah itu tahapan,

b) yaitu ASIMILASI, pengintegrasikan persepsi dan konsepsi awal (skemata) dengan pengalaman baru (ooh ternyata ada hewan berkaki lebih/kurang dari 4 dan itu ada selain kucing dan kambing. ooh ternyata Syiah itu seperti itu.., ooh ternyata Islam, Syariah, Negara itu seperti ini dan itu…dll. Pengetahuan awal/skemata itu mulai berkembang. Lalu proses selanjutnya adalah

Buku ku....bagus

Buku Karya Muhammad Alwi : Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati

c)  AKOMODASI, Pengalaman-pengalaman baru itu terkadang cocok, terkadang tidak dengan skemata yang seseorang punya, untuk itu perlu mengadakan akomodasi bila kurang sesuai; dengan cara 1) Membentuk skemata baru yang dapat cocok, atau 2) Memodifikasi skemata yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Misalnya, awal hanya tahu tentang Sholat (hanya dengan satu cara), setelah melakukan Haji, ternyata sholat itu berbagai macam model. Awalnya mengetahui bahwa Syariat itu x, y, z, ternyata setelah membaca lebih lanjut, berdiskusi dan ketemu dengan berbagai tokoh, lahirlah berbagai konsep-konsep baru (a sampai z). Awalnya menganggap Islam itu sangat Indah dan segalanya lalu berkembang..ooh Islam itu juga penuh dengan peperangan antar Islam bahkan antar ulama Islam, ternyata itu juga terjadi di agama lainnya, dan perjuangan Islam itu ternyata bervariasi dst. Lalu tahapan terakhir adalah

d) EQUILIBRIUM, proses melakukan asimilasi dan akomodasi untuk keperluan perkembangan kognitif seseorang.

Dalam perkembangan intelek seseorang, diperlukan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Proses itu disebut equilibrium, yakni pengaturan diri secara mekanis untuk mengatur keseimbangan asimilasi dan akomodasi.

Equilibrium membuat seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemata). Bila terjadi ketidakseimbangan, maka seseorang dipicu mencari keseimbangan dengan jalan asimilasi atau akomodasi.

Disinilah mengapa orang-orang yang awalnya percaya/yakin dan punya struktur kognitif tertentu bisa berubah bahkan pindah dari satu keyakinan ke keyakinan lainnya. Dari satu pegangan pengetahuan tertentu ke pengetahuan lainnya. Contoh dalam Fisika, kepercayaan dari Fisika yang diterima umum (Fisika Newton) berubah ke arah Fisika Einstein/Planck.

Jadi sebenarnya pengetahuan (keyakinan) itu bukan barang mati, melainkan suatu proses yang terus berkembang. Bettencourt (1989) menyebutkan ada beberapa hal yang menghambat kontruksi pengetahuan manusia;

1) Kontruksi pengetahuan kita yang lama,
2) Domain pengalaman kita,
3) Jaringan struktur kognitif kita.

Disinilah problem kebanyakan dari kita bila pengetahuan awalnya terlalu homogen dan tertutup. Kalau informasi/pengetahuan/keyakinan kita sangat rigid/kaku dan lateral (tekstual), dan tidak punya pengalaman lainnya, serta hubungan antar satu pengetahuan dan pengetahuan lainnya sangat kokoh/kaku. Maka akan timbul pemahaman-pemahaman yang terlalu yakin dan pasti dengan apa yang dimilikinya.

Selanjutnya terjadi over-klaim dan dalam perilaku. Karena terlalu yakin, ini menjadi pemicu motivasi yang tinggi untuk misi dan perjuangan dst (tanpa pemahaman). Mirip seperti kaum khawarij sebagai analogi-nya. Dimana pengetahuannya dangkal, tetapi over yakin, sehingga semangat jihad/sahid yang menggebu-gebu.

Konon katanya Sayyidina Ali pernah menyampaikan, Kalau Muawiyah itu melawanku, maka masuk akal dan jelas, karena dia punya tujuan ingin berkuasa. Tetapi kaum Khawarij, ingin mendekatkan diri pada Allah, ingin surga/pahala dengan membunuhku, itu sebuah hal yang tidak bisa diterima akal.

Mengapa mereka seperti itu? Lantang, semangat, keras dan intoleran? Jawabnya karena tiga hal yang disampaikan oleh Bettencourt diatas (Kontruk pengetahuan lama yang kaku, domain pengalamannya yang sederhana atau itu-itu saja serta jaring-jaring pengetahuannya tidak variatif dan saling mendukung). Dan disinilah mengapa dalam diri mereka, sering terjadi kesalahan dan juga terjadi kebodohan tingkat kedua (mis-konsepsi). Baca : KEBODOHAN (TINGKAT 1 DAN TINGKAT 2).

Lalu bagaimana membuat mereka itu bisa berubah? Bagaimana pendidikan atau informasi bisa memberikan alternatif pada mereka? Ada beberapa hal yang dapat disampaikan dalam hubungannya dengan filsafat pengetahuan dan pendidikan kontrutivistik.

Bebarapa factor-faktor yang memungkinkan perubahan pengetahuan;

1) Konteks Tindakan (pengetahuan akan diteguhkan atau dipaksa untuk dipertanyakan dan diubah, bila dalam praktek tindakan atau saat dioperasionalkan mengalami masalah. Ini bisa kita lihat bagaimana orang-orang yang awalnya sangat rigid/keras. Setelah punya kedudukan, setelah dihadapkan pada realitas, setelah membentuk organisasi masa, berjuang secara konstitusional, harus mengubah konsep berfikirnya (minimal dengan alasan strategi katanya). Lihatlah kasus-kasus ‘Pemimpin harus Islam’, ‘tidak boleh pemimpin wanita’, dll. Suara itu tidak terdengar ditempat lainnya dan dalam konteks lainnya (disini tidak sedang bicara benar-salah konsep-nya).

2) Konteks membuat masuk akal (pengetahuan akan berubah, diubah atau tidak, bila dipertanyakan, secara logis untuk dapat memberikan jawaban),

3) Konteks Penjelasan (bila orang memberikan penjelasan, cenderung membuat kontruksi-kontruksi baru yang sesuai, dan terfahami).

4) Konteks pembenaran (justifikasi), bila pengetahuan dihadapkan pada anomali-anomali, dan tidak dapat memberikan pembenaran, maka konstruksi baru cenderung dibuat.

Misalnya tentang beragamnya perilaku keagamaan dalam ummat Islam dan ummat lain. Setelah memahami bagaimana carut-marutnya kerajaan-kerajaan Islam (yang di klaim sebagai abad kejayaan Islam). Maka timbul pertanyaan…apakah seperti itu ideal?

Diskusi, argumentasi, mempertanyakan lebih lanjut, memberikan gambaran-gambaran lain dalam keberagaman informasi, itulah berbagai macam cara memberikan informasi perspektif lain agar level pengetahuan setahap demi tahap meningkat. Tetapi sekali lagi, problemnya adalah kelompok yang kaku dan berisik itu seringkali lantang, keras, berisik, siap bertarung (dengan motivasi agama yang tidak jelas), sulit diberitahu (sebab mis-konsepsi), ditambah dan ini yang paling berbahaya, mereka sering menyebarkan informasi dengan massive (karena dorongan jihad medsos-lah ataupun lainnya).

Dengan Nash (yang maknanya terserah mereka/kaku dan rigid), dengan Cerita Menyentuh, dengan data (yang diarahkan dan tanpa perbandingan), dengan informasi-informasi copas antar mereka dan share, dll.

Sehingga dengan itu informasi ala mereka menyeruak kedalam masyarakat dan ruang public. Sayangnya karena pengguna medsos juga banyak yang awam, maka informasi mereka menjadi informasi alternatif dalam mencari kebenaran/keyakinan…dan sekali lagi bila sudah terkena VIRUS (Kaum Berisik), agak sulit disembuhkan.

Inilah PR kita bersama, PR masyarakat dan pemerintah, untuk memberikan informasi alternatif lain, untuk memberikan Pendidikan Positif, bahkan bila perlu larangan (soft), bila informasi itu disebar yang efeknya meracuni pengetahuan/keyakinan yang lain dengan sangat absurd dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s