SEKOLAH FILSAFAT, PERLUKAH?

Sokrates

Sokrates : Sekolah Filsafat

Sekalipun kita percaya bahwa kejayaan Islam dikarenakan semangat yang dibalurkan oleh Islam/semangat al Qur’an pada sum-sus ke-Araban dan Muslimin. Tetapi kita juga mesti melihat realitas sejarah bahwa…Islam jaya karena adopsi pemikiran filsafat khususnya Aristotelian (dengan penerjemahan buku-buku…..yang menjadikan Agama/Teologi dirasionalisasikan, objektivasi dan mendorong berfikir induksi dan penelitian. Seandainya yang diadopsi/dominan adalah ide Platonian, mungkin akan lain lagi.
Kita bisa lihat barat yang disampaikan oleh para penulis barat. Walaupun Barat maju karena Renaisance, tetapi mereka berkata, sebelumnya sudah ada benih itu, dan untung ada Thomas Aquinas yang awalnya perdebatan Plato (yang lebih dianggap suci dan sesuai dengan teologis al Kitab), dikalahkan oleh pemikiran Aristotelian (yang awalnya dianggap kafir dan dicurigai, sebab masuknya ke Barat lewat filosof-filosof Islam utamannya Ibn Rusd). Dengan demikian Filsafat (yang tidak melihat keyakinan, dan apapun dipertanyakan, rasional dan objektif….untuk mencapai Kebenaran) menang melawan pemikiran lain.

Tetapi sayang Islam yang mewarisi tradisi itu awal dari Yunani, akhirnya abad 11 (oleh Al Ghazali), filsafat dihempaskan…dikritik..dan dicekik dan digantikan oleh pemikiran lain. Buku Ghazali Kerancuan Filsafat (Tahafud Falashifah), mengatakan 20 premis, 3 menyebabkan Filosof kafir dan 17 menyebabkan dia sesat. Lalu Bagamana dengan Ibn Sina, Al Farabi, Al Kindi, Ibn Khawarizm, Umar Khayyam dll. Dimana mereka jelas-jelas filosof….dan memberikan pendasaran Ilmiah dan Keilmuwan pada Ummat Islam. Kafir dan Sesatkah mereka?

Tidak hanya itu bahkan berfikir logis dicurigai (Pengharaman belajar Logika dilakukan oleh Ibn Taymiyyah), itu lebih memperparah lagi.
Buku Al Ghazali sebenarnya di kritik oleh Ibn Rushd dalam buku “Kerancuan yang Rancu” (Tahafud Tahafhud). Tapi Ibn Rushd tidak populer di dunia Islam. Di Indonesia kita bisa melihat “Karancuan Filsafat” sudah diterjemahkan puluhan tahun lalu, sementara bantahannya baru keluar jauh setelahnya.

Di belahan lainnya juga sama, di dunia Syiah terjadi pertarungan antara Akhbari (tekstual, Literalis) dan Ushuli (lebih kearah rasional-filsafat). Tetapi didunia Syiah Ushuly (Berfikir Filsafat/Aristotelian) yang menang (minimal bisa dilihat di Falsafathuna, M. Baqir Shadr). Di Indonesia, pertarungan-pertarungan itu juga ada. Sayang pertarungan itu di Indonesia tampaknya aliran rasional/filsafat tenggelam. Harun Nasution mengatakan dalam bukunya (yang buku itu dibagi menjadi 2, aslinya adalah disertasi beliau di Mesir). Beliau mengatakan bagian kedua buku itu (yang membuktikan M. Abduh sebenarnya/cenderung Mu’tazilah), buku ini harus terbit belakangan, katanya, jauh dari buku bagian pertamanya, tentang aliran-aliran teologi Islam. Mengapa itu terjadi? Dikarenakan saat itu situasinya belum mendukung (Lihat lengkap, di pengantar buku Muhammad Abduh & Teologi Rasional Mu’tazilah, UIP, 1987). Apakah kondisi saat ini sudah mendukung Pemikiran filsafat dan Rasional??

Disinilah mestinya kita menghidupkan Sekolah-Filsafat. Bukan untuk menjadi filosof, tetapi berfikir radix, mempertanyakan apapun, tidak ada dan bebas dari kepentingan (dalam artian semua layak ditanyakan dan lepas dari dogma), mengabdi kepada satu-satunya tujuan yaitu Kebenaran.
“Tidak ada apapun yang layak untuk dilakukan kecuali itu bersandar kepada Kebenaran”.

Wallahu A’lam bi Al Shawab.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s