DUNIA A-POLITIK

Sintesa Globalisasi dan Radikalisme

foto muhammad Alwi

Muhammad Alwi

Beberapa waktu yang lalu karena euforia Pilkada dst, ada banyak jargon dan ucapan-ucapan berseliweran semacam Save-NKRI, Pribumi dan Non-Pribumi, Pancasila adalah harga mati dst. Bahkan kita membuka diskusi-diskusi lama tentang hubungan Agama dan Negara, gonjang-ganjing Khilafah dan seterusnya. Padahal era globalisasi dan informasi-tehnologi, hal-hal semacam itu sudah banyak berjungkir-balik dan tidak banyak menentukan. Sebab dunia sudah semakin a-politis dan kemenangan sebuah negara, kesuksesannya sudah berubah dari paradigma-paradigma lama.
Dengan adanya globalisasi, dunia maya, internet, era informasi juga post-truth. Maka menang-kalah didefinisikan tidak seperti dulu lagi. Kekuasaan Negara hampir sangat terbatas kalau tidak boleh mengatakan tidak ada lagi. Konsepsi lama tentang sesuatu sumber daya yang harus; Bernilai, Langka, mahal/sulit untuk ditiru (costly to Imitate), juga substitutable, sudah berjungkirbalik. Demikian juga dengan konsep 5C Kenichi Ohmae, konsultan Mc Kensey, customer, competitor, company, country, dan curency. Sebagai contoh Customer akan sulit diprediksi sebab sangat banyak pilihan didunia, juga dengan bisnis online (yang memangkas penyalur, outlet dst). Masihkah kita berfikir “Mentalitas Negara Asal?” Apalagi berfikir pribumi dan non-pribumi……jauh-jauh sekali. Banyak perusahaan-perusahaan AS itu milik Jepang dan sebaliknya. Banyak perusahaan di Indonesia tetapi milik Prancis, Kanada dst. Masihkan sekali lagi berfikir Nasionalisme??

Dunia sudah makin a-politis, walaupun negara memiliki legitimasi dari demokrasi, tetapi kekuatan pemain global yang a-politis hampir mengikis total kekuasaan negara. Misalkan Negara dengan kebijakan fiskal juga moneter, mengetatkan keuangan, maka hutang dari luar negeri akan bisa mengalir masuk. Proteksi sudah dihancurkan dengan ratifikasi uu globalisasi. Baahkan sudah ada pemikiran dan upaya membentuk ‘etika global’ digagas oleh Hans Kung, juga kritik bahwa dunia akan dibuat satu dan sama dalam ‘One Dimensional Man’ oleh Harbert Marcus dst.

Lihatlah IMF, Bank Dunia, walaupun negara mengambil keputusan-keputusan itu (pinjam, tidak mampu membayar, konsekuensi hukuman, dll) sah secara demokratis tetapi mereka berhadapan dengan korporasi besar yang logikanya adalah ekonomi, efisiensi (a-politis).

Dengan globalisasi maka mereka menantang negara-negara nasional agar memahami diri mereka secara baru, yang dengannya mampu mensejahterakan masyarakatnya. Globalisasi dan era informasi memang membawa efisiensi yang sangat tinggi, tetapi kita tidak boleh hanya melihat globalisasi hanya dari dimensi efisiensi (ekonomi) itu saja, sebab seperti diperingatkan oleh sosiolog Ralf Dahrendorf. Globalisasi itu  katanya, “konkrurensi menjadi membesar dan meguat tetapi solidaritas menjadi mengecil dan melemah”. Globalisasi menyimpan “Darwinisime sosial”, sebab globalisasi mengandaikan kemandirian sedemikian rupa dan kemampuan bersaing, bila tidak…..maka tahu sendiri akibatnya. Masihkah kita berfikir nilai-nilai yang berlebihan dan mengabaikan nilai-nilai lain? Masihkah berfikir pribumi dan non-pribumi?Masihkan berfikir Nasionalisme yang absurd?

Dengan globalisasi maka satu perusahaan sangat mudah berpindah-pindah, outsourcing, Tenaga kerja meminta kenaikan gaji, maka perusahaan bisa dengan mudah memindahkan ke negara lain dst. Tanggung-jawab bisa menguap, yang semestinya milik mereka karena sebelumnya mereka mengeruk keuntungan disitu. Ucapan solidaritas-dunia, Hari-Bumi dll, hanya ucapan yang tergerus total oleh logika efisiensi dan korporasi global.

Escape From Freedom Eric From

Eric From

Globalisme melahirkan integrisme (semacam sekte-sekte ektrem), yang digambarkan dengan sangat ciamik oleh Eric From dengan bukunya ‘Escape from Freedom.’ Demokrasi membutuhkan individu-individu yang bebas, dan memiliki kesadaran masyarakat (solidaritas). Sementara globalisasi dengan kecanggihan informasi-tehnologi menjadikan atomisiasi individu. Lihatlah Ipod, Tablet, WAG dll. “Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh….katanya”. Solidaritas sudah tercerai berai. Juga konsumerisme yang disediakan oleh era tehnologi-informasi dan globalisasi.

Problem Globalisasi (Era Informasi dan Tehnologi). 1) Manusia diangap sebagai ‘objek’ bukan subjek. Sistem global tidak melihat manusia sebagai manusia, tetapi sebagai fungsi dan objek, ke dan pada apa. Lihat saja bahkan konsep pemberdayaan Human Resource, juga CSR logikanya adalah ekonomi (efisiensi, dan pengembalian, return on investmen, ROI). 2) Globalisasi merangsang regionalisme dan fundementalisme (escape from freedom), totalitarianisme. 3) Globalisasi mengikis kekuatan negara, sementara untuk melaksanakan kerja-kerja global, mereka mengharap kepastian hukum, keteraturan masyarakat dst. Padahal itu dapat dilakukan oleh negara demokrasi, yang oleh globalisasi itu sudah dilucuti. Maka sebenarnya tidak ada jalan lain kecuali otoritarianisme sebagai jawabannya.

Manusia tidak bisa menolak globalisasi, diskusi demi diskusi memenangkan logika mereka. Maka masyarakat mau atau tidak mau harus menerima globalisasi dengan logikanya : Modal, pasar, kapitalisme liberal, tehnologi dan informasi, bahkan sampai pada cara dan pandangan hidupnya (one-dimensinal man, sudah diingatkan sejak lama oleh Harbert Marcus). Globalisasi seakan adalah jalan satu-satunya untuk kesejahteraan, kemajuan, kedamaian bahkan keselamatan masyarakat dunia. Klaimnya melebih ideologi apapun bahkan agama itu sendiri. Kembali seperti dulu lagi ‘dari sain menjadi santisme.’

Herbert Marcuse One Dimensional man

Herbert Marcuse.    One Dimensional Man

Karena globalisasi, sain menjadi saintisme (memastikan itulah satu-satunya cara, untuk sejahtera dan berkemajuan, bahkan bahagia), keluarlah lokalisasi dengan panduan filsafat postmodernism yang mempropagandakan melawan narasi-narasi besar (modernisme-globalisasi-informasi-tehnologi). Lalu bagaimana dengan kita? Masihkan berfikir pribumi-non pribumi, Nasionalisme sempit?

Globalisasi memaksa kita, negara-negara untuk bersaing dan bermain bukan berdasarkan kebanggan mereka akan negaranya (subur-makmur, gemah rimpah loh jinawi, sumber minyak, dst), bukan dengan kebanggan semu (leluhur, budaya dll), ideologinya (Islam, Kongkuchu, Pancasila, dst). Melainkan berdasarkan kemampuan dan keterampilan mereka bermain dalam tuntutan global, tidak hanya dibidang ekonomi tetapi dalam bidang politik pula.

Sudahkah kita menyadari itu dan dengan langkah jelas dan pasti mengarunginya, menerapkan strategi-budaya dan manajemen startegi lain, untuk memenangi persaingan dari gelanyut dunia yang seperti ini?

Muhammad Alwi, Mahasiswa S3 Manajemen.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Lain-lain dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s