GARIS BELAH DAN DEFINISI : APA & SIAPA ‘RADIKAL’

Foto di Guci TegalSetelah Pilkada DKI, ramai didiskusikan bahwa di Indonesia kelompok radikal makin kuat dan menemukan momentumnya. Benarkah ini? Banyak diskusi dan tulisan baik yang sederhana atau serius membahasnya. Juga banyak hasil penelitian dilansir untuk pembuktian hal itu. Definisi, batasan dan ciri-ciri perlu kita ketahui sebelum kita mampu menarik garis belah diantara dua sisi tersebut.

Pertanyaan untuk menggelitik dan memberikan gambaran kasus. 1) Apakah mengupayakan “Syariatisasi Indonesia” itu bukan radikal? 2) Apakah gerakan Khilafah itu bukan islam Radikal? 3) Apakah menggunakan dan menguatnya isu sektarian serta SARA dan seterusnya, yang terjadi saat dan setelah Pilkada itu ekuivalen/sama dengan menguatnya Islam-Radikal? 4) Apakah FUI, HTI, FPI, dan ormas lainnya yang mengusung atau mengupayakan Negara-Islam di Indonesia itu bukan Islam-Radikal??

Dalam Psikologi secara umum ditakatan bahwa : Tindakan, Perilaku itu tergantung atau dipengaruhi oleh Sikap, Disposisi/Afektif. Dan Sikap dipengaruhi oleh Konsepsi, kognisi atau Pemikiran. Apakah ini pasti? Jawabnya tidak, bisa jadi ada faktor-faktor lain. Tetapi secara umum bis dikatakan seperti diatas.

Baca juga : INTELEKTUAL BANGKIT MELAWAN RADIKALISME

Definsi Radikal adalah afeksi atau sikap positif terhadap segala sesuatu yang bersifat ekstrem sampai keakar-akarnya. Sikap yang radikal akan mendorong perilaku individu untuk membela secara mati-matian suatu kepercayaan, keyakinan atau ideologi yang dianutnya (Sarlito Wirawan 2012). Jadi sebenarnya bukan masalah benar-salah hanya masalah preferensi/kecendrungan, yang mengakibatkan sebuah sikap/perilaku.

Taat, Fanatik dan Moderat

Taat itu artinya patuh, patuh itu menjalankan perintah agama dan meninggalkan larangannya, sedangkan kata fanatik (fanatic) menurut kamus Oxford adalah “seseorang yang memiliki kepercayaan yang berlebihan sehingga bisa mendorong orang tersebut pada tindakan atau tingkah laku yang tidak masuk akal dan melakukan kekerasan (a person who has very extreme beliefs that may lead them to behave in unreasonable or violent ways). Tentu ini berbeda degan orang yang taat (devout) yang menjalankan ajaran-ajaran agama dengan tulus, berdasar nalar dan penuh hidmat dan kebijaksanaan. Sedangkan orang yang fanatik justru ditandai oleh tindakan yang emosional tanpa nalar dan cenderung kepada kekerasan dan caci-makian.

Baca Juga : Toleransi (Right to Differ)

NEURO-PSIKOLOGIS : TINDAKAN IRASIONAL “RADIKAL”
Muhammadiyah dan Para Penyusup ‘Radikal’ Kontemporer.

Sikap yang sepatutnya adalah mencintai agama, menjalankan segala perintahnya dengan penuh cinta dan hidmat, tanpa berlebihan. Dan sikap seperti inilah yang kita sebut “moderat” atau wasathiyyah. Inilah posisi yang dikehendaki Islam, tidak ekstrim ke kiri maupun ke kanan, tetapi di tengah-tengah. Seperti dalil agama yang menyatakan خير الامور اوسطها: sebaik-baiknya perkara adalah pertengahan atau moderat. Dan sebagai orang moderat sama sekali tifak berarti tidak atau kurang taat. Tetapi taat tanpa sikap berlebihan. Sikap berkebihan inilah yang dalam bahasa Inggris disebut ektrim, dan orangnya disebut kaum ektrimis (Taat dan Fanatik, saya ambil/kutib dari Prof. Mulyadi Kertanegara).

CIri Fundamentalis/Radikal/Fanatik

Untuk dapat mengetahui mana sikap dan perilaku radikal, dan mana yang tidak, sehingga kita mampu membuat garis-belah diantara yang satu dengan yang lain, maka disamping definisi, kita perlu melihat dimensi dan sisi-sisi radikal dan radikalisme dari berbagai pandangan, mulai dari sisi teologis, psiko-sosial juga sosiologis.

1) Dilihat dari Sisi Teologis, ciri dari sikap Fundamentalis/Radikal : a) Menolak Hermeneutika. Walaupun mereka faham/tahu bahwa al Qur-an/Nash itu multi-tafsir, tetapi mereka senang dan cenderung dengan satu Makna. Ungkapan yang sering keluar dari mulut mereka adalah, “Ini yang bicara bukan saya, tetapi Al Qur’an”, “Ini yang berbicara bukan saya tetapi Rasul”, dst. Artinya seakan-akan itulah tafsir satu-satunya, dan tidak mau tahu bahwa itu adalah Al Qur’an/Nash yang mereka fahami, dan banyak sangat mungkin tafsir dan pandangan lain dari ulama-ulama/yang mengerti agama. b) Menolak Pluralisme dan Relativisme. Walaupun pluralisme itu tidak diharuskan menganggap semua agama itu sama, tetapi ada pluralitas dalam kepercayaan dan keyakinan serta pemahaman dan tafsir, seterusnya mereka tolak. Dalam hal lain, mereka juga menginginkan kepastian. Pluralitas mengarah pada Relativitas/isme, yang menganggap tidak ada kepastian. Ini mereka tolak mentah-mentah. Walaupun mereka tahu ada banyak madzab (dan sah ‘semuanya’), sejak awal dalam agama itu ada perselisihan (di Islam ada pertikaian antar sahabat), di kristen ada konsili-konsili dst. Tetapi mereka senang dan ingin kepastian. c) Biasanya mereka menolak konsep evolusi dan perkembangan, ala Darwinisme. d) Kebanyakan mereka percaya dengan penyelamatan di akhir, seperti akan adanya Khilafah yang adil, dan membahas itu dengan sangat serius. Bahkan cenderung utopis (Mesiah, Imam Mahdi dst). e) Sangat sensitif dan ambigu dengan modernisme. Sehingga terkadang kontradiksi, dalam satu sisi sangat modernis dalam menerima kemajuan tehnologi, tetapi dalam sisi lain sangat konservatif dan radikal (misalnya dalam urusan pemikiran. Modernisme identik dengan pembaratan bahkan kafir).  2) Dari sisi Psikologi Sosial. a) Wujud dari alienasi manusia. Kebanyakan mereka terisolasi atau tercerabut dari akar budaya, sosial dan etis. Saat anak-anak masuk PT (misalnya), yang asalnya ‘tidak beragama/sangat minim agamaya’, lalu menemukan ajaran/kepercayaan baru. Mereka berbeda, dari lingkungan keluarga (sangat berbeda), teman pada umumnya, dan dari diri mereka sendiri yang dulu. Sehingga hidup dengan aturan, sikap bahkan pola pakaian yang lain. b) Pencarian Pegangan (kepastian). Karena banyaknya masalah, teori, ketidak-pastian, dan variasi dalam beragama, juga gempuran modernisme, globalisasi dan seterusnya. Maka mereka tidak siap hidup ditengah-tengah ketidak pastian, yang memang membutuhkan sikap luwes, fleksibel dan banyak wawasan/pemahaman, dst. Karena memang sedikit ‘muallaf’, kebutuhan kepastian dan akhirnya mereka butuh pegangan. Kapastian dan Pegangan yang menyebabkan mereka berfikir/menjadi Radikal, Fundamentalis. Ini (keyakinannya, ajarannya, pemahamanya) adalah satu-satunya jalan, satu-satunya solusi, dst. 3) Perspektif Sosiologis. a) Mereka menolak diferensiasi yang diakibatkan oleh modernisme, misalnya antara yang kudus-profan, ‘Agama’-politik dst.Hukum kesepakatan-demokratis dan hukum Tuhan/Agama dst. b) Menginginkan kembali ke masa lampau (salaf) yang dianggap terbaik. Peniruan akan salaf yang berlebih-lebihan dan dianggap itulah garis-belah benar-salah, dan semuanya ada disana.

Baca juga : Landasn Ideologi Ekstrimisme Radikalisme

Kebanyakan dari penelitian menunjukkan, pengikut gerakan fundamentalis/Radikal berasal dari kalangan muda, yang belum punya ikatan kuat dengan komunitas tertentu dan berada dilingkungan luar pengambil keputusan.

Mengapa Fundamentalis/Radikal/Sikap Fanatik itu terjadi? Bisa dilihat dari sisi internal dan eksternal. 1) Ditinjau dari sisi luar: Ketidak-adilan, kemiskinan, kesenjangan terus terjadi, baik didalam negeri ataupun luar negeri dengan sikap standart ganda kebanyakan politisi/pemerintahan (Barat/AS). 2) Dari sisi dalam : Agama-agama meanstream (semacam NU, Muhammdiyah dst), gagal memberikan jawaban dan orientasi terhadap gempuran relativisme, arus informasi, globalisasi, modernitas dan lain sebagainya. 3) Dakwah kelompok fundamental/radikal yang militan dan fanatik, memudahkan/mampu menarik kaum ‘muda-awam’, yang a) butuh hal-hal diatas (Kemalasan dalam berpola pikir pluralitas, yang memang membutuhkan pemahaman cukup), b) Kebutuhan Instan (karena memang butuh pegangan bukan mengkaji), c) membutuhkan kepastian.  Bila hal-hal diatas tidak diimbangi dengan yang sebaliknya (baik real maupun opini), maka jangan heran kecendrungan kaum Fundamentalis, Radikal/fanatis akan tetap berkembang subur dan menemukan alasan keberadaannya.

Yang lain: MEMBELA TERORISME

Muhammad Alwi
Peminat, Studi Agama, Filsafat dan Pendidikan.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s