Menariknya Tulisan AFI : WARISAN

foto muhammad AlwiSaya jujur baru beberapa hari lalu baca tulisan itu karena tergelitik dari tulisan orang dan lihat share yang sedemikian banyaknya.

“Engkau mengimani apa yang kau makan.” Kata Rumi.

Warisan itu sebenarnya bukan hanya secara genetika, tetapi warisan itu adalah terlemparnya kita kedalam dunia. Heidegger mengatakan being-in-the-world. Kita tiba-tiba menjadi anak si fulan, bertetangga dengan fulan, punya status sosial (Ningrat, Habib, Kaum borjuies atau malah rakyat jelata, wong cilik).
Kesemua ke-ada-an kita (Being), menetukan cara berfikir kita, menetukan pola respon, pola persepsi dan akhirnya pola berperilaku dan beragama.
Dalam Psikologi Sosial, ada istilah konsepsi/kepribadian mempengaruhi pola persepsi/Sikap/Disposisi. Dan Sikap kita menentukan diri perilaku kita.
Kita itu menyejarah, apa-apa yang kita miliki (Sebagai WARISAN secara genetika-sosial juga budaya), menetukan ke-diri-an kita, bahkan menentukan bagaimana proses hitung-hitungan (hisab, baik-buruk) dimata Tuhan.

Manusia adalah anak zamannya, walaupun mereka bisa melepaskan jeratan-jeratan itu (dengan Kebebasannya), tetapi faktor episteme (kata Foucoult, filosof strukturalisme dan tokoh arkeologi pengetahuan), cara berfikr/paradiqma zamannya sulit dihilangkan. Belum lagi kecendrungan/type kepribadian yang itu sebagiannya karena warisan (genetika-sosiologis dan budaya).

Cobalah kita melihat, mengapa ada ahli tafsir filsafati, ahli tafsir politik, ahli tafsir bahasa, ahli tafsir dengan hadist dst. Ternyata suguhan/hidangan al Qur’an atau Kitab suci lainnya, itu ditangkap secara lebih jernih dibagian-bagian yang merupakan kecondongannya. Lalu darimana kecondongan itu?

Ada atau mungkin banyak yang mengkritik tulisan AFI dengan ucapan-ucapan NORMATIF. Misalnya, agama itu tidak boleh warisan, agama itu setelah besar…harus kita cari sendiri, dst. Apa benar seperti itu? AFI Menurut saya dengan bahasa sederhana, berbicara REALITAS, Positif, apa yang real ada, bukan yang idealis.
Agama itu mengajarkan kebaikan, saling menghargai, ya. Ini berbicara normatif, apa yang seharusnya, idealis. Padahal apa yang ada. Bisa jadi agama itu dipakai untuk melegitimasi kekerasan, hegemoni dan tindakan korupsi.
Marilah sedikit uraikan makna, “Setelah dewasa kita semestinya mencari agama dengan belajar dan menggunakan pikiran kita?”

PERTAMA, Teks itu adalah normatif. “Setelah dewasa, semestinya…”. Jadi ini anjuran. Lalu kita coba melihat realita yang ada disekitar kita, KEDUA, Apakah kebanyakan, umumnya. ummat beragama ini menggunakan pikirannya, belajar tentang agamanya ataukah tetap dengan agama warisannya?? Pertanyaan yang kedua ini bisa dijawab secara data statistik. Ternyata mayoritas dari kita, rata-rata tidak beragama dengan baik-benar, dengan akal kita. Kalaupun ada itu prosentasenya sedikit. KETIGA. Kita bisa melihat data 100tahun terakhir, apakah ada banyak perubahan negara yang awalnya Islam pindah keagama lain, atau sebaliknya? Kalau Islam mengklaim agamanya yang paling benar (dan itu real misalnya), mengapa orang-orang lain tidak pindah keagama Islam? Apakah mereka berarti tidak menggunakan akalnya? Atau sebaliknya mengapa ummat Islam tidak pindah ke Kristen, kalau kristen mengklaim agamanya yang paing benar (dan itu real misalnya).

Kalau zaman dahulu (abad-abad awal) ada perubahan itu secara signifikan (misalnya saat Islam melebarkan kekuasaanya), atau saat Kristen melebarkan kekuasaannya. Memang disana ada perubahan keberagamaan yang cukup signifikan, tetapi itu lebih dominas karena dominasi dan kekuasaan/kerajaan. Dilihat 100 atau 50tahun terakhir, setelah tidak ada dominasi, penjajahan, kerajaan dll, perubahan-perubahan itu sangat-sangat kecil sekali.

Sekarang marilah kita melihat fakta-fakta ke-diri-an kita secara neurosain. 1) Apa itu Keyakinan? Keyakinan (Belief) menurut The Oxford English Dictionary adalah a) Suatu perasaan bahwa sesuatu itu ada atau benar, terutama hal-hal yang tidak memiliki bukti. b) Pendapat yang dipegang teguh, c) Yang dipercaya, d) Keimanan. Lalu 2) Apa itu Proof (bukti), sebagai konsekuensi dari Keyakinan. Bukti (Proof) menurut kamus Webster, adalah rangkaian langkah, pernyataan, atau demontrasi yang mengarahkan kepada kesimpulan yang sah. sementara, KEYAKINAN, secara biologi dan neuropsikologi dapat didefinisikan sebagai persepsi, kognisi, atau emosi apapun yang dianggap benar oleh otak, dengan sadar atau tidak sadar.

PERTANYAANNYA adalah? Bagaimana sebuah keyakinan masuk dalam diri manusia, Kadang makin kuat, lemah atau berubah? Ternyata sistem keyakinan yang akan dianut oleh seseorang adalah yang paling membawa kenyamanan dan paling masuk akal baginya, kata Andrew Newman & M. Robert Waldman, ‘God, Science, and the origin of Ordinary and Extraordinary Beliefs, (2006 : 61). Lalu pertanyaan lebih lanjut, siapakah yang berkeyakinan itu? Jelas ini berhubungan dengan otak kita (Neurosain). Karena disinilah diproses sehingga sesuatu bisa dianggap benar, rasional, salah, masuk akal atau tidak.

Padahal, 3) Otak kita secara naluriah condong untuk membuang informasi yang tidak bersesuaian dengan pengalaman dan pengetahuan kita sebelumnya. Artinya, kepercayaan lama (bisa warisan disini, baik genetika, sosial ataupun budaya) susah hilangnya, sama seperti kebiasaan.

PENGETAHUAN DAN KEYAKINAN

Pengetahuan adalah persepsi langsung terhadap informasi tentang dunia, sementara Keyakinan adalah kuatifikasi (NILAI) yang kita berikan mengenai kepastian, keakuratan, atau kebenaran persepsi tersebut. Antonio Damasio (peneliti senior neurosain) mengatakan bahwa keyakinan adalah gabungan memori dan keadaan emosi internal, suatu proses kreatif akal yang didapat dari waktu ke waktu, menggunakan, membuang, atau mengubah intuIsi kita mengenai dunia. SEMENTARA, Nilai mengacu pada arti penting atau harga yang diterakan pada suatu persepsi atau gagasan.
DARI PENJELASAN diatas jelas bahwa Warisan (baik itu secara genetika, sosial dan Budaya), sangat signifikan dalam menentukan pola berpersepsi, pola sikap dan pola tindakan, yang dimana Keyakinan itu ada didalamnya. Apakah kebebasan tidak berlaku disana? Tidak. Kebebasan tetap ada pada kita karena itu adalah bagian dari kepastian-ontologis ke-diri-an kita, tetapi kita mesti REALISTIS bahwa jeratan-jeratan WARISAN itu sangat kuat.

Ke-Indonesian Kita, Juga sangat menetukan bagaimana Kita Berpersepsi, Bersikap dan juga Bertindak (Termasuk dalam Keberamaan Kita).

Muhammad Alwi

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s