LOGIKA BERBAHAYA KAUM RADIKAL

Foto di Guci TegalSebenarnya mereka itu tidak banyak, tetapi pemikirannya mulai diikuti orang, setelah menemukan moment-moment tertentu. Mereka selalu mengatasnamakan ummat-Islam. padahal mereka minoritas dalam Islam. Lihat Kaum Khawarij, ISIS, Al Qaeda, HTI dan lainnya. Mereka sedikit dalam tubuh Islam karena mereka adalah kelompok Ektrim (kanan/kiri).

Mengapa mereka selalu mendapat pengikut? Tidak sulit membentuk kaum radikal, minimal itu dapat dilihat dari beberapa penelitian seperti : Dr. Elizabeth Lofthus, dalam Misinformation and Memory: The Creation of New Memaries, dimuat dalam Jurnal of Experience Psychology 188 (1), hal 100-104, juga Bob Altemeyer dan Bruce Hunsberger (2005), “Fundamentalis and Authoritarianisme”, S. Milgram, 1983 : Obedience to Authority”, New York. juga penelitian terkenal dari Phillip Zimbardo, bagaimana menempatkan orang baik dalam kondisi/situasi orang jahat (untuk mengubah kepribadian mereka). Lihat http://pdf.prisonexp.org/evil.pdf

Cara mengubah mereka kata-nya adalah: 1) Bangunlah keyakinan ideal dan superioritas kelompok mereka. Mereka paling selamat dst. 2) Berikan pembenaran logis. 3) Buat standart perilaku kelompok (tingkah-laku, pakaian, bahkan sebutan). 4) Perkuat langkah 1, 2 dan 3. Sesering mungkin. 5) Rekrut anggota dengan perjanjian, baiah (untuk memperkuat ketaatan pada pemimpin). 6) Buat hukuman tegas bagi yang membangkang atau ingin keluar. 7) Setiap kelompok harus merekrut anggota baru. 8) Batasi perspektif alternatif dan komunikasi dengan anggota kelompok lain. 9) Hindari, sebisa mungkin, hubungan dengan orang diluar kelompok anda. 10) Cari kelompok lawan keyakinan.11) Remehkan kelompok lain. 12) Tingkatkan kebencian dan serangan terhadap kelompok yang lain.12) Buat anonimitas dengan julukan atau kata-kata sesat, kafit, munafik, thogut dll. 13) Akhirnya: Singkirkan musuh (kelompok lain).
FENOMENA SAAT INI :

Untuk membuat hal seperti diatas mudah-mudah sulit, Sebab informasi dan perspektif lain selalu menyeruak dalam diri kita. Ada Media, TV, Koran, Medsos dll. Tetapi fenomena ini berubah (menurut saya) setelah, 1) Persaingan besar dan kuat antara Jokowi Vs Prabowo. Media mengikuti keberpihakan pilihan-pilhan itu dengan mencolok. Partai-partai terbelah menjadi 2 kekuatan dst. 2) Akhirnya, Kepercayaan masyarakat mulai berubah. Sedikit mulai kurang percaya dengan media-media itu, 3) Ditambah dengan kelompok radikal, yang memiliki jaringan media (Medsos, WAG, Situ-situs radikal..dst), yang mengarahkan kelompoknya hanya percaya media mereka. Karena itu pola membuat kelompok menjadi solid dan radikal (tidak melihat perspektif lain, wacana lain). Dengan mengharamkan media ini dan itu, terbitan ini dan itu, buku ini dan itu dst. 4) Kelompok klah/oposisi juga bermain, untuk kepentingannya (melawan penguasa/pemerintah). 5) Sehingga informasi yang beredar saling bertentangan, saling menegasikan, yang sulit dibendung dan ditelusuri kebenarannya. Media meanstream, abal-abal, propagandis, hoax dan juga media bentuk-bentuk lain menjamur. Keluarlah era Post-Truth ( https://pendidikanpositif.wordpress.com/2017/03/03/era-post-truth/). Dengan ini kontruksi kebenaran kacau dan semuanya serba salah dan serba benar. 6) Karena era ini, maka setiap individu kembali kekepercayaannya sendiri-sendiri.

KASUS

# Saat terjadi bom bunuh diri di Kampung Melayu. Maka polisi mengidentifikasi itu adalah Teroris, ISI dll. APA KATA MEREKA. Itu pengalihan itu, itu mereka memojokkan ummat Islam dst.

# Saat kasus beberapa pelaku MAKAR ditangkap, mereka mengatakan…pemerintah otoriter, mengkriminalisasi ulama dan anti ummat Islam.

# Saat HTI dibekukan….mereka mengatakan ini dan itu, berdalih dibalik baju hukum kah, dibalik baju dakwah, dan terakhir sellu mengatakan…..mereka anti ummat Islam.

# dst..dst.

Pertanyaannya:

1) Kalau polisi tidak dipercaya, kalau hukum tidak dipercaya dan mereka membentuk kebenarannya sendiri, lewat media manasuka.com (apa yang mereka anggap baik dan mereka minati). Apa yang terjadi di Negeri ini.

2) Kalau Polisi dan aparat pemerintah dilucuti legitimasinya dan itu diinginkan oleh kelompok radikal….karena memberikan peluang kebenaran klaim-klaimnya (tidak ada perspektif dan hanya kelompoknya yang superior dst). Apa yang terjadi di negeri ini.

3) Kalau kelompok yang punya kepentingan berbeda dengan polisi/pemerintah, ikut memprovokasi hal-hal diatas. Maka pertarungan makin luas…..kaum radikal makin mendapat angin.

LALU APA YANG SEMESTINYA DILAKUKAN?

  1. Pemerintah harus tegas dengan media abal-abal dan hoax.
  2. Tegas dengan Kaum Radikal.
  3. Mayoritas diam, harus bersuara cukup.
  4. Ormas NU dan Muhammadiyah sebagai pilar bangsa…harus kompak dan sevisi dalam hal urusan kaum Radikal/Teroris.

Mudah-mudahan dengan ini kita sudah tidak memikirkan kasus demi kasus tetapi berfikir kemajuan bangsa, kemajuan negara, bagaimana menjadi negara lebih berkembang dan maju.

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s