KEINDONESIAAN-KU MENENTUKAN KEISLAMAN-KU ATAU SEBALIKNYA?

“Engkau mengimani apa yang kau makan.” Kata Rumi.

Foto di Guci Tegal

Muhammad Alwi

Keindosesian-ku adalah warisan, karena aku tiba-tiba lahir disini, Ke-Islaman-ku juga warisan, karena aku terlahir (tanpa hak pilih, dari ibu bapak-ku yang kebetulan beragama Islam). Apakah Ke-Indonesian-Ku menentukan Ke-Islaman-Ku atau sebaliknya?

Heritage (warisan) menurut kamus webster adalah
something transmitted by or acquired from a predecessor (sesuatu yang ditransmisikan oleh atau diperoleh dari pendahulu) atau sesuatu yang dimiliki sebagai akibat dari situasi alam atau kelahiran seseorang. Jadi warisan adalah sesuatu yang kita terima bukan dari hasil jerih payah kita, warisan sesungguhnya seperti pada proses mendapatkan kekayaan, bentuk wajah, hidung, kulit, logat, bahasa, kebiasaan bahkan pola berbudaya tertentu. Warisan itu sebenarnya bukan hanya secara genetika, tetapi warisan itu adalah terlemparnya kita kedalam dunia.
Heidegger mengatakan being-in-the-world. Kita tiba-tiba menjadi anak si fulan, bertetangga dengan fulan, punya status sosial (ningrat, habib, kaum borjuies atau malah rakyat jelata, wong cilik).

Kesemua ke-ada-an kita (Being), menetukan cara berfikir kita, menetukan pola respon, pola persepsi dan akhirnya pola berperilaku dan beragama. Dalam Psikologi Sosial, ada istilah konsepsi/kepribadian mempengaruhi pola persepsi/sikap/disposisi. Dan Sikap kita menentukan perilaku diri kita. Kita itu menyejarah, apa-apa yang kita miliki (sebagai warisan secara genetika-sosial juga budaya), menetukan ke-diri-an kita, bahkan menentukan bagaimana proses hitung-hitungan (hisab, baik-buruk) dimata Tuhan kelak.

Manusia adalah anak zamannya, walaupun mereka bisa melepaskan jeratan-jeratan itu (dengan Kebebasannya), tetapi faktor episteme (kata Foucoult, filosof strukturalisme dan tokoh arkeologi pengetahuan), cara berfikr/paradiqma zamannya sulit dihilangkan. Belum lagi kecendrungan/type kepribadian yang itu sebagiannya karena warisan (genetika-sosiologis dan budaya).

Cobalah kita melihat, mengapa ada ahli tafsir filsafati, ahli tafsir politik, ahli tafsir bahasa, ahli tafsir dengan hadist dst. Ternyata suguhan/hidangan al Qur’an atau Kitab suci lainnya, itu ditangkap secara lebih jernih dibagian-bagian yang merupakan kecondongannya. Lalu darimana kecondongan itu?

Baca yang lain: Menariknya Tulisan AFI : WARISAN

Sebagian bahkan banyak orang yang protes dengan permasalahan diatas ini (warisan), khususnya bila dihubungkan dengan keberagamaan dan pemahaman agama. Apakah agama kita ini warisan? Apakah benar seorang beragama karena warisan? Misalnya ada yang berkata, “walauapun ada hadist yang mengatatakan, ‘Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani,’ tetapi Agama itu tidak boleh hanya warisan, agama itu setelah besar/dewasa wajib/harus kita cari sendiri”. Apa benar seperti itu?

Menurut saya, kita semestinya berbicara dalam dua level, berbicara realitas-positif, apa adanya, real (psikologi-sosial-budaya) dan ada level normatif-idealis (agama-teologis-filosofis). Misalnya, Agama dikatakan selalu mengajarkan kebaikan, saling menghargai, itu benar, ya. Tetapi ini berbicara normatif, apa yang seharusnya, idealis. Padahal dalam level ‘apa yang ada’. Bisa jadi agama itu dipakai untuk melegitimasi kekerasan, hegemoni dan tindakan korupsi.

Marilah sedikit uraikan makna, “Setelah dewasa kita semestinya mencari agama dengan belajar dan menggunakan pikiran kita?” PERTAMA, Teks itu adalah normatif. “Setelah dewasa, semestinya…”. Jadi ini anjuran. Lalu kita coba melihat realita yang ada disekitar kita, KEDUA, Apakah kebanyakan/umumnya ummat beragama ini menggunakan pikirannya, belajar tentang agamanya ataukah tetap dengan agama warisannya? Pertanyaan yang kedua ini bisa dijawab secara data statistik. Ternyata mayoritas dari kita, rata-rata tidak beragama dengan baik-benar, dengan akal kita. Kalaupun ada itu prosentasenya sedikit. KETIGA. (Kita tidak sedang berbicara kebenaran agama-agama), tetapi kita bisa melihat data 100tahun terakhir, apakah ada banyak perubahan negara yang awalnya Islam pindah keagama lain, atau sebaliknya? Kalau Islam ‘mengklaim’ agamanya yang paling benar (dan itu real misalnya), mengapa orang-orang lain tidak pindah keagama Islam? Apakah mereka berarti tidak menggunakan akalnya? Atau sebaliknya mengapa ummat Islam tidak pindah ke agama Kristen, kalau kristen mengklaim agamanya yang paing benar (dan itu real misalnya).

Kalau zaman dahulu (abad-abad awal) ada perubahan itu secara signifikan (misalnya saat Islam melebarkan kekuasaanya), atau saat Kristen melebarkan kekuasaannya. Memang disana ada perubahan keberagamaan yang cukup signifikan, tetapi itu lebih dominan disebabkan karena dominasi dan kekuasaan/kerajaan. Dilihat 100 atau 50tahun terakhir, setelah tidak ada dominasi, penjajahan, kerajaan, perubahan-perubahan itu sangat-sangat kecil sekali.

Sekarang marilah kita melihat fakta-fakta ke-diri-an kita secara neurosain. 1) Apa itu Keyakinan? Keyakinan (Belief) menurut The Oxford English Dictionary adalah a) Suatu perasaan bahwa sesuatu itu ada atau benar, terutama hal-hal yang tidak memiliki bukti. b) Pendapat yang dipegang teguh, c) Yang dipercaya, d) Keimanan. Lalu 2) Apa itu Proof (bukti), sebagai konsekuensi dari Keyakinan. Bukti (proof) menurut kamus Webster, adalah rangkaian langkah, pernyataan, atau demontrasi yang mengarahkan kepada kesimpulan yang sah. sementara, KEYAKINAN, secara biologi dan neuropsikologi dapat didefinisikan sebagai persepsi, kognisi, atau emosi apapun yang dianggap benar oleh otak, dengan sadar atau tidak sadar.

Baca juga : KERJA IMAN, KEYAKINAN-SPIRITUALITAS DALAM OTAK KITA (KAJIAN NEUROSCIENCE). Bag – 1

PERTANYAANNYA adalah? Bagaimana sebuah keyakinan masuk dalam diri manusia? Kadang makin kuat, lemah atau berubah? Ternyata sistem keyakinan yang akan dianut oleh seseorang adalah yang paling membawa kenyamanan dan paling masuk akal baginya, kata Andrew Newman & M. Robert Waldman, God, Science, and the origin of Ordinary and Extraordinary Beliefs, (2006 : 61). Lalu pertanyaan lebih lanjut, siapakah yang berkeyakinan itu? Jelas ini berhubungan dengan otak kita (neurosain). Karena disinilah diproses sehingga sesuatu bisa dianggap benar, rasional, salah, masuk akal atau tidak.

Padahal, 3) Otak kita secara naluriah condong untuk membuang informasi yang tidak bersesuaian dengan pengalaman dan pengetahuan kita sebelumnya. Artinya, kepercayaan lama (bisa warisan disini, baik genetika, sosial ataupun budaya) susah hilangnya, sama seperti sebuah kebiasaan.

PENGETAHUAN DAN KEYAKINAN

Pengetahuan adalah persepsi langsung terhadap informasi tentang dunia, sementara Keyakinan adalah kuatifikasi (NILAI) yang kita berikan mengenai kepastian, keakuratan, atau kebenaran persepsi tersebut. Antonio Damasio (peneliti senior neurosain) mengatakan bahwa keyakinan adalah gabungan memori dan keadaan emosi internal, suatu proses kreatif akal yang didapat dari waktu ke waktu, menggunakan, membuang, atau mengubah intuisi kita mengenai dunia. SEMENTARA, Nilai mengacu pada arti penting atau harga (bobot) yang diterakan pada suatu persepsi atau gagasan.

DARI PENJELASAN diatas jelas bahwa Warisan (baik itu secara genetika, sosial dan Budaya), sangat signifikan dalam menentukan pola berpersepsi, pola sikap dan pola tindakan, yang dimana Keyakinan itu ada didalamnya. Apakah kebebasan tidak berlaku disana? Tidak. Kebebasan tetap ada pada kita karena itu adalah bagian dari kepastian-ontologis ke-diri-an kita, tetapi kita mesti REALISTIS bahwa jeratan-jeratan WARISAN itu sangat kuat.

Ke-Indonesian Kita, juga sangat menetukan bagaimana kita berpersepsi, bersikap dan juga bertindak (termasuk dalam keberagamaan kita), apakah Ke-agamaan-Ku tidak berpengaruh juga kepada Ke-Indonesiaan-Ku? Proses dialektika itu selalu saling bergelanyutan.

Muhammad Alwi

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s