RAWATLAH AKALMU BIAR TIDAK #nDESO

Team WorkAda seorang kiayi yang cukup arief nampaknya, pakaiannya santun, berpeci hitam, dengan baju koko yang indah. Dalam sebuah pengajian yang didalamnya ada peng-Kajian, saya mendengarkan dengan asyik, walaupun asalnya datang tidak dengan tujuan mendengarkan dan ikut acara itu.

Saat berdiskusi seperti biasa dengan teman-teman-nya, Sang Kiayi/Ust sering berkata. Agama itu Rasional dan selalu rasional. Maka gunakanlah akal-mu sehingga kalian beragama dengan baik (ucapan khas dari seorang yang merasa diri lebih dari pada yang diajak bicara, murid-muridnya dan santrinya).

Jangan hanya menggunakan Al Qur’an-Sunnah, karena itu sangat sulit kalian gapai dan capai (kalau kalian menjadi Ust Habib Quraish Syihab atau Gus Mus, baru boleh berkata menggunakan al Qur’an-Sunnah, dalam berkehidupan anda). Rupanya sang Kiayi habis melihat mata Najwa, dua sahabat, jangan-jangan. Sebab kutipan nama, hanya dua ulama tadi.

Yang lebih mudah dan aman adalah cari orang yang masyhur menurut kamu hebat, baik (dan banyak disepakati) lalu ikutilah dia, tanya padanya bagaimana hukum ini dan itu, bagaimana beribadah dan bermuamalah ini dan itu (sambil tetap menjaga dan #MerawatAkal Mu).

Sebelum ada yang bertanya, sang Kiayi/Ust itu berkata menyela sendiri ingin memberikan tambahan penjelasan.

Maksudnya?

Begini: Saya mau bertanya pada kalian disini secara gampang. Apakah kalian pernah mendiskusikan, dan mencari seluruh dalil dalam sholat anda? Ayat-nya (dengan perbandingan tafsir-tafsirnya), hadist-hadist yang menopang (dengan perbandingan antar hadist, sanad, matan, keshohihannya serta rijal hadist-nya). Woooo, Insya Allah kalian jarang atau malah tidak ada diantara kita diruangan ini yang pernah mengalami dan melakukannya.

Lalu? Diteruskan sendiri.

Bagaimana anda tenang, dan yakin, mutmain, sreg dengan ibadah sholat-sholat kalian?

Jawabnya sederhananya (seperti ini):

Kami yakin karena itu diajarkan dirumah-rumah kita, di kampung-kampung kita, disekolah dan lain sebagainya?

Pertanyaan lanjutnya: “Bagaiamana kita yakini itu?”

Dan apakah ini sebuah pencarian, pembuktian akan sebuah kebenaran yang RASIONAL?

Bagaimana kalau pandangan anda itu, lalu ditantang oleh seorang yang berpenampilan Islami, berjenggot rapi, wajah berseri-seri dengan gelar cukup baik (Lc) misalnya.

Rupanya sang Kiayi/Ust cukup arif, tidak meneruskan gambaran itu, sebab akan mengarah kesebuah kelompok beragama tertentu.

Dan dia berkata.

Mas, yang kamu lakukan itu salah lho. Ini nash kitab hadist Bukhari-Muslim (sambil menunjukkan buku hadist, baik yang berbahasa arab, yang kebetulan anda tidak mampu membacanya, lalu dengan meyakinkan, dia juga menunjukkan pada anda kitab terjemahannya). Tidak kurang dari itu, dia juga mengutip ayat Al Qur’an, menunjukkan terjemahannya dst.

Karena anda awam, atau tidak mendalami (karena umumnya manusia tidak mendalami agama), anda akan bingung. Mau menyalahkan tidak bisa (tidak mampu), mau membenarkan itu aneh, khorib, tidak sesuai dengan kebiasaan anda (dilingkungan sekitar anda).

Lalu apa yang semestinya dilakukan?

  1. Kalau kita mau dan mampu serta minat, maka kita bisa komparasikan ucapan ust Lc tadi, dengan Ust-ust kita, dikampung atau kita mencarinya (mislnya anda bertanya pada saya).
  2. Tetapi rata-rata kita tidak mampu, tidak mau dan minat untuk bolah-balik mendiskusikan itu. Sebab setelah kita tanya ke Ustad Kita, lalu diberikan penjelasan. Kita mesti mendiskusikannya lagi dengan sang (Lc). Kecuali kita tidak pernah bertemu lagi dengannya.

Artinya, kita akan mantab dengan keyakinan yang awal, setelah kita mampu mematahkan argumentasi sang Lc. Dan itu bukan perkara mudah, bagi kita yang awam (dan kurang minat). Apalagi masalah yang bakal disanggah, disalahkan itu sangat variatif dan banyak, sehingga seakan-akan kita mesti minimal jadi Lc juga untuk itu (dan itu suatu yang sulit bahkan mustahil, untuk kebanyakan orang).

“Lalu bagaimana semestinya?” Ada yang menimpali tanpa jeda.

“Islam itu tidak menyulitkan pengikutnya”, sehingga kita semua tidak perlu/harus memahami polemik, diskusi antar ulama dalam perbedaan hukum ibadah, muamalah atau juga tauhid. Sebab itu akan sulit dan rumit. Banyak ulama Tauhid/Teolog dan Filosof yang secara figh mereka ikut madzab-madzab yang populer saat itu. Banyak ahli-ahli figh yang secara tauhid/teologi ikut teolog-teolog yang populer saat itu.

“Tuhan tidak membebani melebihi kapasitas kita”. (sang kiayi/ust mengutib hadist bahkan ayat dengan cukup baik bahasa arabnya).

Apa Solusinya?

Solusi-nya menurut sebagaian ulama, ikutilah (Taqlid) pada manusia-manusia disekitar anda yang anda anggap dengan kapasitas dan kemampuan anda, yang secara urf (kebiasaan) dan masyhur tentang kelebihannya (Ilmu, wara’, kebijaksanaan dll), lalu ikutilah dia (tanpa meninggalkan secara total #KewarasanAkal anda).

Sebagai misal :

Saat anda sakit, maka cara yang paling rasional adalah anda pergi ke dokter. Dokter yang mana? Anda bertanya kepada sekitar anda, dengan cukup serius khabar, informasi dokter terbaik yang ada. Setelah informasi anda cukup, lalu anda pergi kesana. Untuk meminta obat padanya.

Saat sang dokter yang sudah umum dianggap baik, hebat dan mashur itu memberikan resep. Maka kita percayai. Kita tidak mungkin mendiskusikan obat ini apa, untuk apa, secara detail, bagaimana komposisinya, proses farmasi, kondisi tubuh, fisiologi, patologi dll. Itu diluar kemampuan kita. Seandainya sang doker itu menjelaskan kita tidak akan mampu memahaminya.

Lalu bagaimana kalau ada orang atau bahkan dokter lain (yang taraf, kebaikan dan kemashurannya tidak jelas?) mengatakan, “Obat-mu, yang diberikan oleh dokter itu salah, ndak bener dst?” Kita tidak perlu banyak mempedulikannya, atau kalau diperlukan, boleh tetapi hanya sekali-sekali (untuk #MerawatAkal kita). Sebab bisa jadi dokter yang mashur itu salah, atau informasi tentang kemashuran dokter itu yang kita terima salah dst.

Logika Rasional mengatakan :

X adalah dokter yang kita cari, kita tanya pada banyak orang, dan umum mengatakan itu baik, hebat dst. Sementara

Y adalah orang biasa bukan dokter, ataupun kalau dokter, maka tidak jelas kemampuannya, belum terbukti dst.

Bedanya Y memberikan sedikit penjelasan (yang kita sendiri tidak mampu memahaminya/menyanggahnya), sementara X, karena umum, sudah sering memberikan penjelasan tetapi kita tidak mendengarkan langsung dll, kita tidak banyak tanya dst.

Akal mengatakan :

1) Kita tanyakan ulang (mendiskusikan bila mungkin). tetapi karena sulit. Seperti penjelasan diatas

2) Sisi Kepraktisan : Kita lebih aman mengikuti X (yang sudah diandalkan dan teruji).

#MerawatAkal itu penting dengan mendiskusikan milik kita, mempertanyakan, bahkan menantang diri dan keyakinan kita. Tetapi itu untuk yang berminat, punya keinginan dan kemampuan. Tidak untuk semua manusia/orang.

Yang lainnya? Maka secara umum mereka lebih aman, bahkan wajib secara rasional untuk Taqlid (mengikuti) yang lain.

Karena akal kita cukup waras, karena kewarasannya selalu kita jaga. Maka seandainya obat yang diberikan itu secara urf, makruf dan umum salah (misalnya kita diberikan racun, karena sengaja atau salah ambil), maka kita Insya Allah tahu akan hal itu. Disinilah maknanya “Tidak Taqlid Buta” .

Kita perlu sadar, konsep beragama-pun (bukan agamanya) selalu tunduk pada kaidah ilmiah dan rasional.

Siapa yang tahu Sunnah atau Syiah yang benar? Siapa yang tahu Imam Jakfar, Imam Maliki, Hanafi, Syafii atau Hambali yang benar? Semua bisa benar, bila mengikuti prosedur dalam keberagamaannya (walaupun bisa salah secara essensial).

Rasul saw saja mengatakan : “Kami tidak mengetahui Engkau sebagaimana seharusnya Engkau diketahui, Kami tidak menyembahMU sebagaimana Engkau seharusnya di sembah”.

Kalau Nabi saw dalam ketinggiannya mengatakan seperti itu. sementara kita dengan kerendahan kemanusiaan kita, mewarisi hadist, sejarah, tafsir yang sudah bertahap-tahap, perang, nuansa politik, distorsi dst.

Terakhir, Ingatlah yang sudah sering saya sampaikan berulang-ulang. “Tuhan tidak menuntut kalian menjadi benar, tetapi Tuhan hanya menuntut kita untuk mengikuti prosedur akan kebenaran.”

Wallahu A’lam Bi Al Shawab.

Selamat menjaga Kewarasan akal anda.

Muhammad Alwi
Edisi : #MerawatAkal

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s