KESADARAN DAN PENYADARAN KOMUNITAS

Foto di Guci TegalUntuk melangkah dengan baik dan benar maka kita sebagai manusia mesti SADAR. Sadar adalah melek, bangun dari tidur, siuman dan hidup. Tidak hanya hidup –sebab tumbuhan dan hewan juga hidup– tetapi  mengambil keputusan, tindakan. Tidak sekadar mengambil keputusan, tetapi menimbang-nimbang (accauntability) dan bertanggungjawab (respon + ability) atas keputusan yang diambil.

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), …Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (16: 93). “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Qiyamah: 36). “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36).  Semuanya itu mewajibkan kita berkesadaran dan mampu menimbang-nimbang. Karenanya Tuhan sendiri-pun membebani pertanggungjawaban itu (berupa kewajiban syariat, memilih yang benar dan salah) setelah manusia mampu mempertimbangkan (baligh, akalnya cukup).

Bagaimana bisa sadar? Kesadaran butuh informasi yang cukup dan hati yang tidak berpaling, disinilah mau atau tidak mau tetap butuh bimbingan, taufiq dan hidayah dari Allah. Bagaimana implementasi dan pelaksanaan dalam diri dan utamanya komunitas? Ada pedoman umum yang diberikan oleh Allah apabila kita ingin sadar dan menyikapi hal-hal yang carut-marut dalam dunia, masyarakat dan negara kita saat ini.

PENJELASAN AL QUR’AN

Al Qur’an sebagai pedoman kita, mengingatkan secara umum hal-hal tersebut; Jangan menyangka, memprediksi maksud dan pikiran orang sesuai seleramu (bahkan lalu menghukumnya, membunuhnya). Ini diabadikan dalam (An-Nisa’ 94). Berperilaku tidak adil, saat menimbang untuk orang lain, tetapi saat untuk dirinya ingin ingin seimbang dan adil  (Al-Muthoffifin 1-3). “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat 6). “(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.” (An-Nur 15). “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(An-Nur 19). Permintaan klarifikasi (asas praduga tak bersalah), tabayyun adalah harus dan wajib, ini diabadikan dalam (An-Naml 20-21).

Peringatan-peringatan al qur’an ini kasat mata sekarang pada diri kita, khususnya dalam dunia media sosial, yang hampir semuanya tersebar, hampir semua dibahas dan dikomentari bahkan didiskusikan dengan panas.

(An-Nisa’ 94) banyak berlaku saat kita menghubung-hubungkan kejadian bahkan hanya gambar di medsos lalu di otak-atik dan diberikan komentar-komentar yang kejelasan dan kebenarannya sangat tidak pasti, lalu menghasilkan kesimpulan yang berbahaya. (Al Muthoffiifin 1-3), banyak terjadi saat kita melihat perilaku komunitas lain yang seenaknya pada kita, memberikan informasi dan kesimpulan yang aneh dst dan kita marah-marah, sementara pada saat yang sama kita melakukan hal yang sama pada mereka (ada ketidak adilan).
(An-Nur 15 dan 19), ini yang sangat memprihatinkan buat kita dalam dunia maya. Share, follow, forward, copas dst adalah sesuatu yang menggairahkan, bahkan seakan-akan, sayang kalau kita kurang cepat menginformasikannya. Banyak hal yang menjijikkan, belum pasti bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan kita, tetapi kita dengan senang hati, meng-share, copas, kirim ke lain-lainnya dengan niatan iseng, biasa dan tanpa pertimbangan ap-apa.

APA YANG MESTI DILAKUKAN BAGI KITA

INDIVIDU
Saat ini semestinya kita ber-Puasa (puasa bukan tidak makan dan tidak minum, tetapi puasa disini adalah menahan/mengurangi sebanyak mungkin untuk tidak bicara, majlas, kongko-kongko, share dan follow).  Atau dengan kata lain puasa bicara. Dan salah satu cara mendekatkan diri pd Allah (membersihkan hati) adalah dengan shukut (diam). Bahkan itu konon bisa dibuat teraphy (sekalipun kepastiannya belum jelas). Ber-nadhar tidak bicara beberapa hari (Seperti Sayyidina Maryam as dan Nabi Zakaria as) untuk keinginan memiliki anak, bagi yang lama tidak punya anak..

Banyak hadist juga kata-kata bijak yang berbicara tentang ini. “Keindahan kita ada di Lisan, tetapi Kamal (kesempurnaan) ada di akal kita.” “Banyaklah diam maka akalmu akan penuh”, kata Imam Jakfar Shodiq ra. Pembicaraan adalah milikmu sebelum engkau keluarkan tetapi setelah dibicarakan maka itu milik umum (tafsir, makna bahkan itu bisa berbahaya buat kita).

Problem Bicara/Lisan sangat banyak diantaranya:  Suka bicara, Debat, Ghibah, Fitnah (dan sekarang ini sering walaupun tanpa sadar, karena kita share dan share dan tiba-tiba diketahui dan diinfokan itu hoax dst), apakah kita yakin berita yang kita share tidak meluas? Dipercaya bahkan dijadikan bahan pengambilan keputusan oleh individu-individu tertentu? dst. Mengejek dan Merendahkan orang lain,  Membicarakan aib orang,  Menuduh dst.

Imam Ali kw berkata: “Hati orang dungu ada dimulutnya dan mulut orang-orang yang bijak ada dihatinya.” Dikatakan juga bahwa Kathal Faqru An Yaaquna Kufran (Kefakiran itu akan mendekatkan diri pada kekufuran). Kalau teks hadist/kata bijak ini, makna tentang FAKIR diperluas, maka Faqir bisa bermakna, faqir dalam informasi, ilmu, kebijakan dalam menimbang dll, yang akan menyebabkan mereka KUFR (tertutupi, sesat, salah, miskonsepsi, dan ingkar).

Disinilah sangat diperlukan untuk seleksi dalam menerima informasi dan kesadaran diri yang cukup.

KOMUNITAS
Komunitas (paguyupan, ormas, kelompok agama atau lainnya, baik yang besar seperti Muhammadiyah, NU ataupun yang kecil-kecil), dibentuk karena tujuan bersama dan secara umum memiliki selera yang mirip. Karena kita sebagai manusia, senang akan informasi, kebenaran juga kesempurnaan. Otomatis pencarian, membahas kejadian, menyikapi sebuah hal pasti dilakukan (walaupun sudah berpuasa). Disini dalam komunitas (kumpulan), perlu ada ‘pembimbing’, yang mencerahkan, memberikan informasi, sehingga masyarakat umum (anggota komunitas), apalagi awam mendapat gambaran cukup lengkap tentang hal-hal yang terjadi. “… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43).

Dalam komunitas, khususnya dalam menyikapi kejadian-kejadian di medsos dan carut-marut berbangsa dan bernegara saat ini. Maka semestinya mereka para ahlinya memberikan gambaran umum dan pencerahan (penyadaran). Sebagai contoh; bagaimana duduk masalah kasus Ahok-Anies? Kasus Habib Rizq vs Firza Husein? Kasus KPK dan Angket DPR, Kasus bangkitnya Cina dan PKI, kasus Perpu, atau juga misalnya kasus Wahabi, Ahmadiyah, Salafi, Syiah, HTI dll.

Komunitas (lembaga atau orang-orangnya) wajib atau diharapkan memberikan penjelasan cukup tentang itu. Sehingga awamnya tidak liar dan mengikuti arus opini di FB, WAG, dan Medsos lainnya, yang tak terkontrol bahkan ada invisible hand (tangan tidak kelihatan) yang mengarahkan itu.

Marilah kita berikan ilustrasi kejadian PERPU ORMAS yang dikeluarkan pemerintah saat ini. Perppu No 2 /2017 tentang perubahan atas UU No 17/2013 (Tentang Keormasan). Perpu ini ramai diperbincangkan dan liar. Marilah kita lihat diskusi umumnya saja (tanpa mengkritis orangnya) di ILC, Indonesia Lawyer Club (20/2/2017), menghadirkan para pakar, dan pelaku (MUI, HTI, Muhammadiyah, NU, dan Para Pakar Hukum, dll). Maka pemaparan para pakar itulah yang menarik dan terlihat mereka mengerti substansinya, sementara lainnya kurang atau  tidak faham substansinya, kecuali opini bahkan opologi dan waham.

Seandainya komunitas (yang pasti bisa memiliki para pakar dibidangnya masing-masing), lalu mereka memberikan guide pada anggotanya, kalau kurang mampu bisa bertanya, atau mendatangkan pakar lain, dst.  Maka kejelasan duduk masalahnya, kesimpang siuran, dan komunitas yang terseret kesana kemari, bahkan saling berpihak tidak akan terjadi. Dan negara ini karena masyarakatnya sadar (mendapat arahan dan bimbingan, guide) akan lebih sejuk, guyup dan mampu mencapai target-targetnya tanpa keriuhan yang tidak pada mestinya.

Wassalam
Muhammad Alwi

 

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Lain-lain dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s