“GENERASI GORENGAN”, RADIKALISME, FDS SERTA BENTURAN NU & MUHAMMADIYAH.

Gorengan

“Generasi Gorengan”

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar didunia (255juta). Kalau Timur-Tengah digabung jumlah penduduknya, kemungkinan masih dibawah jumlah penduduk Indonesia. Disamping itu dalam urusan toleransi, kebhinekaan, juga membendung radikalisme, Indonesia termasuk yang cukup sukses. Sekalipun banyak media-masa barat juga riset di Indonesia, mengatakan ada gejala Indonesia “bertambah” Radikal sekarang.

Kesuksesan Ke-Islaman Indonesia yang seperti sekarang ini, tidak lepas dari bagaimana NU dan Muhammadiyah meramu, mengayomi dan mengembangkan Islam Ke-Indonesiaa yang cukup toleran dan rahmatan lil-aalamien.

Radikalisme akan banyak muncul bila ke dua ormas besar ini kehilangan elan-vital nya, kehilangan semangat mengayomi ummat-nya, dan sibuk dengan urusan-urusan keormasan yang memang sudah meng ‘gajah’ (besar, lambat, agak malas dan sibuk dengan urusan keadministrasian, bahkan politik).

Mentri adalah jabatan politis, sehingga memang kadang mentri itu dipilih karena jatah kepartaian, perimbangan kekuasaan dan koalisi-koalisi. Walaupun itu semua tidak lepas dari kemampuan dan kepakarannya saat seseorang dipilih.

Gelora dan gonjang-ganjing FDS (Full Day School), dan upaya mengubah sistem pembelajaran disekolah menjadi 5 hari kerja, ditanggapi dengan serius oleh ormas besar NU yang memang bakal banyak dirugikan oleh kebijakan itu. Dengan FDS ditengarai madin akan tergerus sebab jam madin itu terjadi di sore hari.

Saya yakin, karena kebetulan saya pernah kenal dengan Prof. Muhadjir Efendi (saat menjadi rektor universitas muhammadiyah Malang), tidak berkeinginan untuk menyusahkan dan mengganggu NU dengan kebijakan FSD itu (apalagi itu sebenarnya sudah disepakati oleh presiden awalnya), demikian juga NU (K.H. Agil Syiraj dkk). Mereka sudah cukup bijak dalam menangani kasus per kasus dan gesekan antar ormas, khususnya antar Muhammadiyah dan NU.

Lalu mengapa sekarang ini gesekan itu, tali rajutan itu mulai renggang dan saling memanas satu dengan lainnya?

Generasi ‘Gorengan’.

Beberapa waktu yang lalu saya secara berkelakar mengatakan bahwa di Indonesia lahir “Generasi Gorengan”. Apa itu generasi goerangan?

Generasi ‘Goreng’ adalah generasi yang melihat dan mengkonsumsi sebuah realitas, tidak didalami duduk masalahnya, memberikan komentar bernada sinis, dan menghubung-hubungkan dengan stigma dan agitan masa lalu yang negatif. Itulah yang sekarang ini terjadi, menurut saya.

Isu PKI, anti Cina, Kriminalisasi Ulama, PT Ibu (Beras Maknyus), terorisme, Dana Haji, Kampus Radikal, sampai urusan-urusan pembangunan monumen yang di demo besar-besaran di Tuban. Banyak berseliweran di dunia maya, argumen kontra argumen, gambar, meme bahkan hoax dan post the truth berseliweran. Sehingga kita sulit menelusuri akar masalahnya.

Secara agak ilmiah, filosofis, dan agar menjadi keren, Saya katakan; 1) ‘Gorengan’ adalah sebuah makanan atau jajanan, yang banyak dimakan anak-anak kost. Makanan itu tidak cukup dipikirkan tentang kualitasnya, yang penting murah, ada didepan mata dan kuantitas serta mengenyangkan perut.

2. Gorengan itu, ada dimana-mana, bukan di resto atau ditempat yang ‘bagus’. Mudah didapat, tidak banyak usaha (waktu, uang juga lainnya).

3. Pembuatannya Gorengan itu Instan. Tidak perlu kecanggihan berfikir, semua orang bisa, hanya butuh modal sedikit (tidak perlu kepakaran, kulaih doktoral apalagi sampai ke luar negeri, dst).

4. Gorengan itu, agak kurang sehat. Baik secara fisik, tetapi karena yang mengkonsumsi umum, anak kost, pemuda, alay saja, serta belum berfikir asupan ruhani dan fikiran yang lebih berkualitas. Berbeda dengan orang-orang yang sudah berumah tangga, umur 40 keatas, yang sudah waktunya berrefleksi dan menjadi ‘Nabi’.

Karena gorengan-gorengan inilah, karena masyarakat banyak mengkonsumsi ‘gorengan’ inilahisu tidak terstruktur, isu bisa kemana-mana dan menjadi bias serta sulit ditemukan titik penyelesaiannya.

Kasus FDS adalah kasus Kebijakan Pendidikan (walauapun dikeluarkan oleh mentri yang nota-bene adalah Muhammadiyah), semestinya tidak dilihat Muhammadiyahnya. Setelah jadi Presiden dan Mentri mereka mewakili Indonesia.

Lihat Juga : Surat Terbuka buat Pak Mentri Pendidikan

Tetapi goreng-menggoreng terjadi. Kebijakan yang mungkin dapat dipastikan akan merugikan NU ditanggapi secara serius oleh NU. Karena warga NU memberikan perlawanan, maka warga Muhammadiyah juga memberikan perlawanan dan dukungan terhadap Mentri-nya.

Saling mendukung dan melawan terjadi, lalu sekarang terjadilah apa yang saya sebut, “sesuatu yang semestinya tidak terjadi akan terjadi”. NU dan Muhammadiyah saling serang, saling tuding bahkan mulai dengan kata-kata dan ujaran kebencian. Bagaimana ini?

Saya menghawatirkan ini akhirnya tidak sekadar urusan Kebijakan Pendidikan, tetapi sudah urusan ego ‘Siapa saya dan siapa kamu’. Ego kebesaran, superioritas, dan sayangnya sepertinya pemerintah tidak cepat-cepat menghentikan ini.

Kalau sudah ego ke-aku-an yang terjadi, bukan argumentasi yang didengarkan, bukan argumentasi yang meluncur, juga responnya. Tetapi siapa dia, dan sekali lagi siapa saya.

Sthephen Covey dalam butu terakhirnya sebelum dia meninggal dunia akibat jatuh dari bersepeda gunung, dikawasan elit AS, berjudul “the 3rd alternative”, alternatif ketiga. Mencoba mengembangkan hal-hal yang berbau sengketa, dengan win-win solution.

Katanya, Kita seringkali saat berbicara win-win solution, sebenarnya itu adalah lost-lost solution, mengapa? Sebab dengan win-win solution maknanya adalah saling mengurangi klaim kedua belah pihak, sehingga titik temu bisa diambil.

Kata Covey itu, sebenarnya bukan keduanya menang (win-win solution), tetapi keduanya kalah (lost-lost solution). Dikarenakan kedua belah pihak tidak mendapat klaim-klaim awal yang diinginkan.

Buku itu menarik karena mencoba untuk memberikan tahapan-tahapan bagaimana semestinya win-win solution dilakukan dengan contoh-contoh yang sangat banyak dan menarik.

Salah satu cara yang Covey usulkan adalah dengan membiarkan lawan bicara (sengketa) itu mengeluarkan pendapatnya selama mungkin sejelas mungkin dan sedetail mungkin. Lalu pihak lain mencoba mengulangi, isi pembicaraan itu, sehingga pihak pertama mengatakan, ‘ya’ itu yang saya maksudkan.

Seringkali pemahaman belum lengkap, tetapi diasumsikan difahami oleh yang lain, lalu keluarlah kontra argument dari bayangan argumen lawan yang dipersepsi dan disalah fahami. Apalagi dengan tambahan generasi ‘gorengan’ sekarang ini dan media sosial menfasilitasi itu.

Covey mengatakan (hal 51), “Bila seorang yang cerdas dengan kompetensi dan komitmen seperti anda tidak sepakat dengan saya (yang juga baik), pasti ada sesuatu dalam ketidak setujuan Anda yang tidak saya fahami, dan saya perlu memahami anda. Anda memiliki perspekstif, kerangka acuan yang perlu saya ketahui”.

Kelompok Radikal

Kelompok radikal di Indonesia sekarang ini lagi marak, dan salah satu sebabnya adalah melemahnya elan-vital, daya ayom dan gerakan dalam ormas-ormas Islam besar yang ada (Muhammadiyah dan NU). Karena ormas

Demo Tolak-FDS.jpg

Demo Tolak FDS

ini melamban, kurang menggigit dan memberikan idealisme arah pencerahan keberagamaan, khususnya pemuda.

Maka banyak dari mereka utamanya yang tidak berbasis pesantren, seperti mahasiswa, mengarah dan bergabung dengan kelompok/ormas radikal seperti HTI dan semacamnya.

Baca juga : UMR Guru, Sebagai Instrumen Menanggulangi Dampak Negatif Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Sertifikasi Guru Dari Sekolah-Sekolah “Asal”.

Lalu bagaimana bila kedua ormas besar ini berbenturan? Jelas ormas radikal yang kemarin-kemarin diupayakan dibasmi hama-hama itu oleh pemerintah, akan tumbuh subur dan menemukan tanah-tanah basah untuk tumbuh.

Tidakkah kedua ormas ini punya orang-orang bijak, sehingga tidak saling memanasi satu dengan lainnya? Ego keakuan, superioritas dan agitan lama mestinya harus dibuang oleh para pemimpin kedua ormas itu, sehingga mereka bisa duduk bersama, mencari penyelesaian win-win solution, bahkan lebih dari itu mengupayakan sinergi satu dengan lainnya.

Sinergi kata covey (hal 24) disyaratkan oleh pemikiran yang bukan ‘Aku’ (Baik, murah hati, cerdas, bijak, berakal sehat, santun, supel dan partiot) sementara berfikir ‘Yang lain’, the other (jahat, tidak berhati, bodoh, dungu, tidak rasional, kejam, pembohong dan penghianat).

Sinergi diperlukan kedalaman pemahaman satu dengan yang lain, punya kepekaan emosional serta mampu mengendalikan impuls yang ada.

Kita mesti sadar konflik sektarian, peristiwa di timur tengah ingin di eksport ke negeri kita, kelompok Islam radikal, juga musush Islam (baik secara ideologi maupun perang ekonomi-politik) menginginkan negeri ini kacau dan tidak aman, juga pemain-pemain tidak jelas yang menginginkan keuntungan diri dan kelompoknya.

Dan buat pemerintah diharapkan berperan aktif untuk meredahkan ini, sebab banyak kepentingan lain yang bermain dan mengail di air keruh.

Tetapi saya yakin dan optimis karena pengalaman, kebesaran dan banyaknya orang baik dikedua belah pihak, riak-riak ini akan sebentar, mereda serta selesai.

Muhammad Alwi

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Lain-lain, Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s