JANGAN PAKSA AKAL-MU, BERTAWADHU’-LAH

TawadhuSaat sesi sebuah pembelajaran Ketuhanan/Tauhid disebuah sekolah-pesantren, diawal tahun, walaupunl itu masih muqaddimah. Ada sebuah persoalan yang dilontarkan oleh seorang kiayi/Ustad yang bertanya seperti ini?
” Anak-anak, Bisakah Allah Memasukkan Rasul Muhammad saw ke Neraka?” Ada yang spontan langsung menjawab, “Bisa Ustad” ada yang menjawab “Tidak bisa Ustad”.

Seperti biasa sang Kiayi/Ust itu selalu bertanya. “Sebentar-sebentar, silahkan mengacungkan tangan siapa yang menjawab bisa dan menjawab tidak bisa”

Saya Ustad, Udin. “Bisa Ustad, sebab Allah adalah maha segala sesuatu, apapun itu milik Allah, Rasul saw itu-pun milik Allah dan Surga serta Neraka-pun Milik Allah. Jadi terserah Allah mau ngapain”. Bahkan ada ayat Ustad, sambil mengutip ayat. “Bahwa nanti di akhirat itu, yang ditanya adalah kita, bukan Allah”.
Wah Hebat kamu Din, kata sang Ustad.

Silahkan yang lainnya:
Saya Ustad, Qodir. “Tidak bisa Ustad, sebab Allah sendiri sudah menjanjikan dalam Al Qur’an. Bahwa yang melakukan kebaikan, ini dan itu pasti, sekali lagi pasti masuk surga. Dan itu janji Allah, “Dan Allah tidak mungkin mengingkari janjinya”.
Kalau Allah ada kemungkinan memungkiri janjinya, seperti “mungkin bisa memasukkan Muhammad saw keneraka”. Bagaimana dengan perilaku kita?”
Wah Hebat kamu Qodir.

Saya senang, sekalipun ini baru muqaddimah, tetapi pelajaran kelas-kelas sebelumnya sudah kalian lahap dengan baik, kata sang Ust/Kiayi tadi.

Setelah selesai pembelajaran dikelas, Sang Kiayi/Ustad, yang cukup bijak ini berbincang-bincang santai dikantin pesantren/sekolah yang cukup luas dan dari penampilannya adalah sekolah yang benar-benar dikelola dengan suasana welas-asih (compassionate school).

Dalam pembicaraan antara sang Kiayi/Ustad dengan Guru/Ustad yang lain terdengar diskusi yang sangat mendalam. Katanya;

“Banyak hal dalam beragama, dalam buku-buku hadist, apalagi bila kita membaca tafsiran penggal-penggal para tasawwuf tentang hadist atau ayat-ayat al qur’an. kadang saya sendiri merasa jangan-jangan itu ilmu “gathuk”…atau dari mana mereka mengunggap hal-hal sedalam, bahkan seaneh itu (yang tidak umum)?

Aah Pak Kiayi bisa saja. “Kok bisa pak kiayi berkata seperti itu?” Padahal pak Kiayi cukup mendalami banyak hal. Pak Guru Menimpali ucapan sang kiayi.

Tidak benar juga Pak. “Itu kadang hanya renungan saya saja.” Tapi…tapi benar juga lho apa yang kiayi katakan. Saya kadang juga berfikir seperti itu. Lalu Pak Kiayi, bagaimana kita semestinya bertindak untuk menyeimbangkan antara Tasawuf dan Rasional, antara Akal dan Hati?

Begini Pak, menurut pendapat saya, dari bacaan dan renungan saya. Saya selalu berpegangan dengan ucapan guru filsafat yang saya kagumi yaitu Taqi Mizbah Yazdi yang mengatakan (mudah-mudahan tidak salah);

“Pencerahan hati/tasawwuf dan hal-hal lain yang diperoleh dengan pengalaman itu bisa dimasuki setan, tetapi argumentasi rasional/diskusi logika tidak dimasuki setan”.

Makanya jangan sok-sok-an, merasa tasawwuf, lalu membuka tabir-tabir pengalaman hati dan diungkap dalam masyarakat umum. hati-hati itu bisa membingungkan masyarakat dan orang awam.

Saya berfikir, itu ucapan tadi (Taqi Mizbah) adalah formula yang baik….artinya: Kalau rasional ya rasional, orangnya boleh sombong, kibir dan lain-lain itu urusan mereka, tetapi konsep “Kebenarannya” tetap Benar.
Paparan lebih lanjut sang Kiayi, sambil meneruskan mengambil pisang goreng dari piring didepannya dan meminum seteguk dua teguk kopi hitam yang sepertinya menjadi minuman wajib.
Tidak hanya itu, ternyata sang kiayi, menyalakan rokok, seakan-akan itu adalah persiapan, bahwa diskusi itu akan berlangsung asyik dan lama.

Lalu, katanya lagi, Imam Khomeini dalam salah satu bukunya (40 Hadist, tentang Akhlak dan Mistik) juga mengingatkan pada kita. Sekali lagi mudah-mudahan saya tidak salah kutip, ucapan yang disampaikan karena takut salah, sudah mulai rada lupa atau menunjukkan kethawaduk-an.

intinya.

Jangan sekali-kali kita mudah menyalah-nyalahkan para irfan/tasawwuf yang mereka berbicara tentang sesuatu, yang mungkin itu tidak sesuai dengan seleramu (selera akal-mu). Bisa jadi mereka memang benar, mereka mendapatkan pengalaman dan seterusnya dari sumber abadi. Apabila engkau lakukan itu, bisa jadi engkau sama, menentang wali-wali Allah.

Lalu dan ini menurut saya : (inilah sebuha KONKLUSI YANG BAIK).

Mengapa mereka senang dan menyebut dirinya Irfan? Tidak dengan Tasaawuf? Secara kebahasaan Pak, Irfan itu artinya Ilmu Ketuhanan dan Hikmah.
Irfan lebih percaya bahwa Kebenaran itu harus diperoleh lewat pengalaman spiritual (sufistik), tetapi pada saat yang sama, harus bisa diungkapkan dan dipertanggungjawabkan secara rasional.

Ingat diskusi antara Khidir dan Rasul Musa as yang pernah saya ceritakan panjang lebar padamu dulu? Iya Kiayi. Itu sangat mirip.

Disinilah mengapa pembelajaran Logika dan Filsafat adalah pelajaran semi-wajib sebelum melangkah sok jauh menuju Irfan/Tasawwuf.

Inilah juga, Kebenaran teks bahwa, “Mendekati Tuhan dengan Akal, tetapi menemuinya dengan Hati.”

Wallahu A’lam bi Al Shawab.

Muhammad Alwi
Edisi :#MerawatAkal

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s