Surat Terbuka buat Pak Mentri Pendidikan

Awalnya tulisan pada 13 Juni 2017.

Mentri Muhadjir.jpg

Mentri Pendidikan : Muhadjir Effendi

Salam..Buat Pak Mentri Pendidikan…..
Sekolah Senin-Jum’at

Pak Muhadjir yang baik, saya kenal bapak cukup lama, sebab saya adalah alumi Universitas Muhammadiyah Malang, dan ijazah S1 saya bapak yang menandatanganinya. Saya dulu sering bertemu bapak saat bapak menjadi PR-3. Ada sedikit uneg-uneg saya yang ingin saya sampaikan pada bapak yang sekarang menjabat sebagai mentri pendidikan dan akan mengeluarkan kebijakan sekolah mulai Senin sampai Jum’at dengan waktu sekolah 8 jam/hari.

Saya yakin banyak pertimbangan yang mungkin dilakukan atau dikaji, misalnya sebagai orang yang bukan pakar saya bisa membayangkan;

1) Dengan kerja 8 jam/hari (5 hari kerja), maka guru akan sama bebannya dengan pekerja lainnya, sehingga perhitungan pengajian bahkan UMR bisa dihitung dengan kesetaraan-kesetaraan lainnya. Sebab ada ketimpangan cukup serius antara penggajian guru utamanya swasta non sertifikasi. Saya pernah wacanakan itu dulu saat mentrinya Pak Anies. lihat disini UMR Guru

2) Dengan kebijakan itu akan sama antara pegawai umumnya yang libur sabtu-minggu dengan anak-anak sekolah dan guru (sehingga kebersamaan dan lain-lain) akan lebih enak dan sama.

3) Toh dengan 8 jam/hari (5 hari/minggu), itu totalitas bebannya sama dengan sebelumnya yang 6 hari sekolah (sama-sama sudah mencapai 40jam/minggu).

4) Masa libur sabtu-minggu yang sama, maka akan menjadikan refreshing cukup, bersama keluarga, bahkan tempat hiburan dan lain-lain mungkin meningkat dst. Dan mungkin banyak pertimbangan-pertimbangan lainnya yang jelas mereka sudah memikirkan.

TAPI…Pak Mentri apakah sudah dipikirkan hal-hal yang lain seperti :
Pertama, Dengan pulang jam 15.00 setiap hari, maka anak-anak akan sampai dirumah jam 15.30 atau jam 16.00. Lalu bagaimana dengan TPQ sore yang biasanya anak-anak kami mengaji? Anak-anak itu biasanya sampai rumah jam 13.00 atau 13.30 lalu istirahat, dan jam 15.00 atau 15.30 mereka mengaji. Mungkin ada yang berkata: itu bisa dimasukkan di sabtu atau minggu. Kalau argumentasinya seperti itu, maka target 3 dan 4 diatas tidak terpenuhi.

Kedua, Banyak pakar pendidikan mengatakan bahwa 1jam/hari selama 6 hari, itu jauh-jauh lebih efektif dari pada 6 jam/hari x 1 hari atau bahkan 3jam/hari x 2 hari (walaupun totalnya sama).

Ketiga, TPQ adalah fondasi yang cukup serius untuk membelajarkan anak-anak mengenal al Qur’an dan memahami sedikit-sedikit keberagamaan sejak dini (usia SD). Terus terang dengan adanya methode belajar mengenal al qur’an/mengaji sekarang anak-anak kita lebih cepat bisa membaca al Qur’an dibanding 20 tahun sebelumnya.

Keempat, mungkin ada wacana. Belajar TPQ atau agama lainnya bisa dimasukkan dalam pelajaran sekolah yang 8 jam diatas? Ini bertentangan dengan asumsi sebelumnya. Sebab asumsinya 40jam/minggu itu sama dengan sekolah sebelum-sebelumnya yang senin sampai sabtu (artinya pendidikan TPQ dan seterusnya tetap diluar jam sekolah).

Sekali lagi Pak Mentri, saya pendidik walaupun bukan pakar pendidikan, tetapi saya melihat apakah hal-hal seperti itu sudah dipikirkan?

Terima kasih, salam hormat saya
Muhammad Alwi

 

 

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Psikologi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s