ARAB : APA YANG ADA DALAM PIKIRANMU?

Arab Saling bunuh.jpgSaat kita memikirkan sebuah kejadian, maka kadang kita berhenti atau mentok dan bertanya pada diri kita sendiri. Mengapa kejadian yang diluar batas kewajaran bisa dilakukan? Mengapa hal-hal yang aneh dan irasional terjadi dan real terjadi? Memang kita tidak mampu melihat semua hal yang melingkupi sebuah kejadian sehingga manusia ‘x’ mengambil keputusan atau tindakan, tetapi kita seringkali bertanya mengapa hal seperti itu mereka lakukan?

CONTOH KASUS

# Saya dulu berfikir keras, mengapa pada zaman Soeharto (tahun 80an), siswi-siswi sekolah SMP dan SMA, dilarang menggunakan Jilbab? Bahkan diseret keluar dari kelas/sekolah dan akan dikeluarkan dari sekolah, kalau tetap mengenakannya.
Apakah rezim Soeharto itu non/anti Islam? Apakah para aparat, mentri, dll saat itu non-muslim? Jawabnya tidak….bahkan mereka juga seorang muslim (Islam)? Tetapi mengapa mereka seperti itu?

# Mengapa orang-orang Khawarij zaman Ali bin Abi Tholib bisa seperti itu? Mereka dengan keyakinannya, dengan pola pikirnya, meyakini bahwa membunuh Ali bin Abi Tholib kw (Suami Zahra bintu Muhammad saw, Ayah dari Hasan dan Husein, ‘Pintu Ilmu’ Nabi saw dst) adalah pahala dan bisa mengantarkan mereka ke surga?

# Juga Neo-Khawarij sekarang, dengan takbir, dengan keyakinan agamanya dan dengan meyakini surga, mendapat bidadari, dst. Mereka membunuh dengan sadis sesama muslim, meledakkan dirinya dst.

# Mengapa Saudi dan Negara Arab lain, bisa yakin bahwa AS adalah pelindungnya? Mereka lebih meyakini AS daripada saudara sesama Arab, sesama Islam daripada dirinya sendiri? Keyakinan mereka (Arab) akan bahayanya Iran dan Negara Arab (Teluk) yang lain, satu sama lain, menyebabkan mereka rela berkoalisi, berdagang dan hubungan diplomatik dst dengan Israel. Mengapa itu terjadi dan diyakini?

Prof. Eyal Zesser, dosen Universitas Tel Aviv dan pakar dari Begin-Sadat Center for Strategic Studies mengatakan: “Yang menjadi masalah bagi Arab Saudi dan sekutunya adalah “ekspansionisme” Iran, bukan perlakuan Israel terhadap Masjid al-Aqsa. Harmoni kepentingan antara Israel di satu pihak dan negara-negara Arab “moderat” di pihak lain dalam menghadapi Iran jauh lebih dominan daripada perselisihan antara keduanya dalam semua persoalan lain, termasuk gejolak Masjid al-Aqsa.”

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa sampai seaneh ini pikiran mereka?

# Saya dulu pernah bertanya hal yang sama, dalam kasus pembunuhan Hasan bin Ali bin Abi Tholib ra (Anak dari Ali bin Abi Tholib, yang sebagian memasukkan sebagai khalifah ke 5). Mengapa, Ja’dah binti Al-Asy’ats (Istri Hasan bin Ali), tega, sekali lagi tega membunuh suaminya, dengan cara meracuninya?
Apakah dia tidak tahu dengan kasat mata perilaku suaminya, keimanan, ahklaq, kedermawanan bahkan perlakuan pada dirinya? Mengapa hal-hal yang tidak masuk akal ini bisa dilakukan oleh mereka?
[Tetapi setelah tahu bahwa paman dan ayah Ja’dah (Al Asy’ats) adalah Khawarij, maka sedikit terkuak masalah itu, apalagi dengan upaya Muawiyah menyingkirkan Hasan bin Ali untuk memuluskan upayanya mengangkat Yazid bin Muawiyah].

# Ada sejarah menarik bagaimana perilaku itu bergerak dan berubah dari satu masa dan masa lainnya. Saat terjadi perang Siffin (Ali vs Muawiyah), maka ada dua orang yang sejarahnya bertolak belakang. Yang pertama adalah Al Hurr Ar Riyahi, seorang panglima perang yang gagah berani di kubu Muawiyah dan Yang Kedua adalah Syimir bin Dziljausan.

Saat perang Siffin, Syimir berada dipihak Ali kw (pihak yang benar), sementara al Hurr Ar Riyahi saat itu berada pada pihak kebatilan (Muawiyah bin Abi Sofyan). Tetapi sejarah keduanya berubah, bergerak 180 derajat, saat kejadian di Karbala (saat perang antara Husein bin Ali ra dan Ubadillah bin Ziyat/Yazid bin Muawiyah).

Al Hurr berubah posisi, saat itu ia mendukung Husein bin Ali ra, dengan semua konsekuensinya (kekalahan karena pasukannya sangat kecil, kematian dan kehinaan didunia. Dia (Al Hurr) mengambil posisi (kemenangan akhirat), sementara Syimir Dziljausyan berubah posisi ingin kenikmatan dunia dengan meninggalkan, menjualnya/menukarnya dengan Akhirat., dengan dia mendukung kebatilan, membela punguasa dholim (Ubadillah bin Ziad/Yazid bin Muawiyah).

Mengapa hal-hal yang kasat mata tidak rasional ini terjadi?
Disinilah peran Akal, Nafsu dan Setan. Dalam Al Qur’an disebutkan : “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu” (Qs, Al Baqarah 168).

Tahapan-tahapan kita menjadi SETAN

1) WASWAS .Diberikan bayangan sesuatu sehingga kita waswas, akan kedudukan, anak, masa depan, musuh dst (Qs. An Nisa’ : 5). (QS Al Mukminun 97), (Qs, Yusuf 100), (Qs, al Isra’ 53), dst

2. Setelah terkena rajuan, bujukan dan godaan-godaan lainnya dari setan, maka tahapan selanjutnya, MENJADI ANGGOTA PARTAI SETAN. “Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa golongan setan itulah golongan yang rugi (Qs. Al Mujadalah : 19).

3. MENJADI SAUDARA SETAN. (Qs. Al Isra’ 27), lalu

4. MASUK DALAM CENGKRAMAN SETAN. “Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah” (Qs. Al Mujadalah 19).

5. MENJADIKAN PENGIKUT PALING SETIA. (QS. Al Baqarah, 27), (QS aN Nisa’ 119, juga 60).

6. TAAT MUTLAK PADA SETAN (Qs. Yaasin : 60).
Setelah manusia/kita menjadi taat mutlak pada setan, maka kita adalah setan dalam wujud manusia. AS dikatakan SETAN Besar. Sebab kalau setan itu hanya menggoda kita, memberikan bayangan, angan-angan, menghias yang jelek menjadi indah (“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah, Qs. An Nisa’ 76). Sementara “Setan dalam bentuk manusia” itu memiliki kekuatan, rekayasa, menulis buku, berita, informasi, hoax, teori, bahkan memaksa, membunuh, menghukum secara fisik dst.
Saat sebuah konsep ke-setan-an masuk dalam diri kita, maka perbuatan-perbuatan yang paling tidak masuk akal-pun mampu kita lakukan.

Karenanya kita mesti berlindung pada Allah, berlindung dari godaan setan (Qs. An Nisa’ : 1. Al A’raf : 200), juga meminta kesudahan akhir yang baik. Jangan sampai karena hati kita itu berbolak-balik (baik-buruk-baik-buruk), dan diakhirnya kita dalam kondisi jelek. Kita mesti berdoa pada Allah, mudah-mudahan kita diberikan akhir hidup yang Baik (menjadi Hurr Ar Riyahi, bukan menjadi Syimir bin Dziljauzan).

Ya Rabb, tunjukilah yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk.
Ya Rabb, berilah kami Khsunul khotimah. Aamien3x

Muhammad Alwi
Edisi : #MerawatAkal

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama, Lain-lain dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s