BAGAIMANA DIRIMU DALAM BERAGAMA? SEBUAH PERTANYAAN-PERTANYAAN

Foto Ana.jpgIslam selalu mengklaim dirinya adalah agama yang logis dan rasional, sehingga Allah selalu menganjurkan ummatnya untuk selalu berfikir dan menggunakan akalnya. “Apakah mereka tidak berfikir?” Juga Hadist yang mewajibkan Muslim untuk menuntut Ilmu. Sehingga dalam teologi selalu berkembang pertanyaan yang macam-macam bahkan kadang aneh-aneh.

Misalnya apakah Kita bisa mengenal Allah? Diskusi ini tidak berkesudahan, dan menghasilkan 3 konsepsi. Pertama kelompok yang mengatakan kita tidak mampu mengenal Tuhan, Tuhan hanyalah ciptaan Kita sendiri, bayangan kita, persepsi yang Kita bayangkan. Kelompo Kedua mengatakan, Tuhan Tidak mampu kita fahami dan jangkau, Kelompok Ketiga, Banyak ulama yang percaya dengan konsep yang ketiga ini. Konsep ini mengatakan bahwa Kita mampu mengenal Tuhan sebagian (yang Ia perkenalkan Diri-NYA pada kita), sebagian kita tidak mampu mengenalnya (Mengenal sebagaimana mestinya).

Dari berbagai pertanyaan itu, maka ada pertanyaan tentang bagaimana perilaku Tuhan di alam ini? Dalam bahasa kerennya itu masuk dalam tauhid af’al. Apakah Tuhan akan ikut campur dalam kejadian-kejadian di alam? Apakah Tuhan pasti akan membela umat Islam atau netral? Hadist dan ayat seakan-akan menunjukkan Tuhan akan membela manusia-manusia yang Taqwa.

Tetapi mengapa Nabi saw kalah dalam perang Uhud? Mengapa Ali bin Abi Tholib kalah dengan Muawiyah? Mengapa Husein Kalah dengan Yazid bin Muawiyah? Mengapa Iraq di invasi oleh AS? Mengapa di Bosnia terjadi genocide? Mengapa dunia Islam dijajah oleh Barat? Lalu mana yang taqwa dan mana yang tidak?

Kalau ditanya apakah Kakbah akan hancur-lebur seandainya di Bom oleh Amerika atau Israel? Pernah dicoba dulu mungkin oleh pasukan gajah. Dan Tuhan seakan ikut campur dengan mengirimkan burung Ababil disana. Apakah Allah akan selalu ikut campur? Dalam kondisi yang bagaimana, pada manusia-manusia yang bagaimana Tuhan turut campur? Mengapa di Palestina dan Masjid al Aqsha Tuhan diam saja?

Kalau Tuhan membela orang dan ummat Islam, mengapa Islam seakan selalu tertinggal? Jangan-jangan kita salah, misunderstanding, atau wrong number dengan Tuhan –kata film india berjudul PK yang diperankan oleh Aamir Khandan disutradarai oleh Rajkumar Hirani? Kita salah dalam memaknai bahwa Taqwa akan selalu sukses?

Menarik saat mempertanyakan tentang Mukjizat Kakbah. Abdullah Ibn Zubair (anak dari Zubair Ibn Awwam, sahabat nabi saw) pernah berkuasa di Mekkah, saat Muawiyah wafat dan digantikan oleh Yazid. Yazid yang sangat jelek perangainya itu mengirim Muslim ibn Uqbah ke Madinah, dengan kebengisannya peristiwa harran terjadi dan Abdullah Ibn Umar, anak dari Umar bin Khattab, terpaksa berbaiat pada Yazid (walaupun sebelumnya tidak berbaiat pada Ali bin Abi Tholib). Yazid lalu mengirim Husain bin Numair ke Mekkah menghadapi Ibn Zubair dengan menghujani Mekkah/Kakbah dengan Manjaniq dan api. Kakbah sempat terbakar. Ibn Zubair menggunakan tameng, klaim keagamaan bahwa lawannya akan menghancurkan Kakbah? Apakah penguasa Mekkah selalu baik? Apakah Klaim Khadimul Haramain menjadikan alasan cukup bahwa mereka direstui oleh Tuhan? Yang bermakna Taqwa? Apakah saat burung ababil turun, juga akan turun saat Husin ibn Numair (tentara Yazid) berhadapan dengan Ibn Zubair? Konon setelah peritiwa itu, tidak lama kemudian Yazid bin Muawiyah sakit dan meninggal dunia. Lalu beredar rumor bahwa ia terkena kutukan karena ingin menghancurkan Kakbah?

Apakah seandainya Yaman berhadapan dengan Saudi. Saudi akan dibantu Allah karena Khadimul Haramain? Ataukah karena senjata-senjata canggih dari AS?
Mengapa Khadimul Haraiam yang dulu sebelum al Saud digulingkan bahkan dibunuh oleh al Saud? Ini semua adalah pertanyaan yang mesti dijawab.

Kita sering menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang semestinya bukan sebuah hubungan logis.

Seorang diklaim Hafidz Qur’an. Apakah Hafidz Qur’an ada hubungan logis dengan kinerja sebagai Ahli Tehnik atau Presiden? Bukankah Hafalan itu hanya masuk dalam Taxonomy Bloom tingkat rendah? CI dari tingkatan (C1 sampai C6)? Padahal Al Qur’an sendir menharapkan dijadiakan sebagai HUDAN (petunjuk), bukan sekadar dihafal?
Hebat mana, dan mana yang layak dipilih, menjadi Hafidz Qur’an atau Mengerti Makna Al Qur’an (mampu membaca Kitab)?
Ini pertanyaan-pertanyaan yang boleh diajukan.

Manusia hura-hura di sebuah night club, lalu runtuh, beredar itu adzab dari Allah. Apakah Tsunami bukan Adzab? Apakah Libya yang porak poranda bukan adzab. Apakah itu kuwalat karena Ghadafi digulingkan? Apakah berarti Muammar Ghadafi orang baik? Logika sederhana ini banyak dimainkan dan diikuti oleh awwam.

Pada suatu hari, Ali bin Abi Tholib saat m
enjadi khalifah ke 4 ditanya oleh Masyarakatnya. “Ya Amirul Mukminin, mengapa pada zaman sebelum engkau Islam lebih damai”. Tetapi saat Engkau menjadi Khalifah, justru banyak kekacauan dan peperangan terjadi sesama Muslim? Apakah ini logis bila mengatakan Ali tidak sukses? Ali tidak bijak bahkan tidak mengerti mengurus pemerintahan? Apakah ini bukan karena warisan kekacauan sebelumnya (karena Khalifah Ustman bin Affan mati terbunuh dengan kekacauan sebelumnya?) atau ada sebab lain yang kompleks?

Apakah setelah 23 tahun Nabi saw berdakwah, lalu terjadi pertikaian antara menantu dan Istri beliau (Ali vs Aisyah), terjadi peperangan antar muslimin, bahkan Islam berubah menjadi kerajaan? Menunjukkan Nabi saw tidak mampu meletakkan pondasi dan kaderisasi yang kokoh? Apakah Nabi Nuh as, Hud as yang hanya mendapatkan pengikut sedikit tidak sukses? Apakah Nabi Nuh yang anaknya kafir, berarti tidak sukses sebagai Nabi dan orang tua? Apakah Nabi Luth as juga sama?

Penglihatan-penglihatan dan nalar sederhana itu sangat mudah mengelabui awam (baik awam beneran, ataupun intelektual yang awam), baik dalam sikap keberagaman ataupun dalam sikap politik dewasa ini di negeri kita.

Klaim-klaim Islam dan Kafir sangat marak terjadi. Bahkan anak-anak TK sudah diajar mengatakan dalam nyanyian, “Islam yes, Kafir No”. Apakah mereka bisa memaknai Kafir? Apakah tidak dengan mudah mengatakan semua selain beragama Islam itu Kafir? Ini jelas penyederhanaan dan sangat mudah diterima awam. Bukankah ini akan menjadikan belajar untuk ekslusivisme dan intoleransi sejak dini?

Logika-logika sederhana ini menyeruak dan mudah diterima ‘nalar-sederhana’. Sebab secara naluriah (ilmiah neurosain-pun) mengatakan, sesuatu yang cenderung ‘meneguhkan’ lebih mudah diterima daripada yang berlawanan. Sesuatu kepastian lebih marem secara psikologis daripada yang ambiqu, padahal realitas sangat jarang yang sederhana. Tetlock dalam salah satu teorinya tentang cognitive complexity mengatakan bahwa makin sederhana cognitive (jalur-jalur, perspektif pikiran) seseorang, makin mudah untuk menjadi radikal dan takfiri.

Klaim-klaim kepastian, salah-benar, Islam-Kafir, mukmin-munafiq, menentramkan, meneguhkan dan meyakinkan, walaupun bisa meninabobokkan dan kebenarnnya sangat sulit dipertanggung-jawabkan.

Muhammad Alwi
Edisi : #MerawatAkal

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s