KITA, BUKAN MEREKA, AKU ATAU KALIAN.

“Engkaun mengyakini apa yang kau makan”
Mungkinkah Pendidikan Optimisme Indonesia?.

foto muhammad Alwi

Muhammad Alwi

Tidak sengaja pagi ini saya berdiskusi sedikit dengan teman tentang, Mengapa kita sering menghujat dan selalu mengktirik serta bicara buruk terhadap negeri kita sendiri.

Apakah Negara kita REAL JELEK? Ataukah hanya persepsi diri kita sendiri? Apakah itu mewakili banyak orang, atau jangan-jangan hanya sebagian kita atau malah sebagian kecil kita yang mengatasnamakan masyarakat luas.

Saat saya jalan-jalan malam di Sumenep/Madura, saya merasa lebih aman dan enjoy daripada berjalan-jalan malam di sebagian kota jawa-timur lainnya (termasuk Surabaya dan Malang). Mengapa?

Sering kali itu karena persepsi, bayangan, imajinasi dst. Saat kita me/di bayangkan daerah itu angker, berbahaya, banyak begal, perampok dll. Walaupun itu Hoax/bohong. Maka persepsi itu masuk pada diri kita dan kita ketakutan untuk kesana. Demikian sebaliknya.

Kita bisa melihat bagaimana murid-murid yang cukup pandai tidak berani tampil didepan, karena persepsi rasa takut yang berlebihan. sementara teman lainnya yang biasa-biasa saja enjoy untuk berpidato bahasa inggris atau lainnya.

Dalam ilmu Psikologi/Pendidikan, kalau ada anak yang selalu mencemooh dan dicemooh, maka itu seringkali karena pendidikan kita/orang tua yang salah. Dan akhirnya kita menjadi tidak percaya diri, rendah hati dan minder.

Selalu dikatakan bodoh..bodoh..bodoh, maka mereka mengembangkan mental minder dan merasa bodoh sungguhan.

Bagaimana dengan MASYARAKAT KITA? BAGAIMANA DENGAN PERSEPSI KITA PADA NEGARA KITA?

Jika Anak di didik….Maka…..
Jika Anak di diidik….Maka….

Jika seorang anak dididik dengan celaan dan makian, maka sesungguhnya kita sedang mengajarinya menjadi pribadi yang suka menghujat dan berkata kasar.

Jika seorang anak dididik dengan permusuhan, maka sesungguhnya kita sedang mengajarinya menjadi pribadi yang gemar berkelahi dan berselisih dengan orang lain.

Jika seorang anak dididik dengan intimidasi dan ancaman, maka sesungguhnya kita sedang mengajarinya menjadi pribadi yang gelisah dan penuh ketakutan.

Jika seorang anak dididik dengan rasa kasihan, maka sesungguhnya kita sedang mengajarinya menjadi pribadi yang selalu diselimuti kekhawatiran dan rasa rendah diri.

Jika seorang anak dididik dengan olok-olok atau cibiran, maka sesungguhnya kita sedang mengajarinya menjadi pribadi yang suka mempermalukan orang lain.

Sementara itu…

Jika seorang anak dididik dengan kalimat motivasi, maka sesungguhnya ia sedang belajar untuk memupuk rasa percaya diri.

Jika seorang anak dididik dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, maka sesungguhnya ia sedang belajar untuk mencintai orang-orang sekitarnya.

Jika seorang anak dididik dalam situasi yang penuh toleransi, maka sesungguhnya ia sedang belajar untuk menahan diri dari sifat egois.

Jika seorang anak dididik dengan pujian, maka sesungguhnya ia sedang belajar untuk menghargai dan menghormati sesama umat manusia.

Jika seorang anak dididik dengan kesabaran, maka sesungguhnya ia sedang belajar bagaimana cara menenangi diri saat menghadapi masalah.

Jika seorang anak dididik dengan hati yang gemar berbagi, maka sesungguhnya ia sedang belajar tentang arti bersedekah dan nilai-nilai kedermawanan.

Jika seorang anak dididik dengan kejujuran dan keterbukaan, maka sesungguhnya ia sedang belajar tentang kebenaran dan keadilan.

Jika seorang anak dididik dengan perlindungan dan rasa aman, maka sesungguhnya ia sedang belajar menciptakan kepercayaan kepada orang lain.

Jika seorang anak dididik dengan menjunjung nilai-nilai persahabatan, maka sesungguhnya ia sedang belajar untuk bersosialisasi dan menemukan seseorang yang dipercayai dalam kehidupan.

Jika Anak di didik….Maka…..
Jika Anak di diidik….Maka….

Kita sadar, dan semua sadar bahwa. SUKSES itu bukan karena pendidikan (sekolah), tetapi lebih karena sikap/attitude. Mental yang baik. Seperti : Optimisme, Percaya Kiri, Menghargai Orang, Berani dst.

BAGAIMANA DENGAN KITA?

Sudahkah kita proporsional dan menghujat, mengkritik dan berpersepsi dengan negeri kita sendiri?

Sudahkah kita mencoba untuk melihat fakta-fakta lain selain fakta yang kita harapkan dan inginkan??

Apalagi sedikit memaklumi dan bangga dengan milik kita?

Negeri kita, 100% tergantung daripada manusia-manusia Indonesia (KITA) di negeri ini.

KITA, bukan MEREKA, AKU atau KALIAN.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s