KOMODITI ITU BERNAMA ROHINGYA (Haram berwisata ke Candi Borobudur).

Borobudur.jpg

Candi Borobudur : Masjid Terbesar Agama Budha di Dunia

Pagi tadi saya mendapatkan posting yang cukup memprihatinkan, seorang teman yang cukup lurus-agamanya, mungkin terlalu ‘lurus’, memposting dengan teks kurang lebih mengatakan: “Haram berwisata ketempat kemaksiatan, dan tidak ada kemaksiatan yang melebihi dari syirik”. Maka haram berwisata ke Candi Borobudur, karena itu dibangun untuk ke Musyrikan.

Saya terperangah dengan teks itu…..wooo. Kok seperti ini kita, ummat Islam saat menangani konflik tentang Rohingya.

Sekarang marak, ramai hiruk-pikuk Rohingya. Padahal kasus ini sejak tahun 2010 sudah ada. Bahkan sudah beberapa tahun lalu, manusia perahu itu telah sampai di Indonesia.
Apakah yang menyebabkan hiruk-pikuk kita seperti ini? Marilah kita bertanya pada diri sendiri;

1. Ikhlaskah kita…dalam keinginan kita membantu Rohingya? Ini mesti kita pertanyakan.

2. Tidakkah kita melakukan kesalahan-kesalahan dan blunder dalam membela Rohinya? Dengan menyalahkan lainnya, bahkan bertindak diluar standart etika-rasio dan nalar Agama? Apakah ada nalar agama itu?

3. Mengapa Rohingya digoreng sedemikian rupa, sehingga agak ‘gosong’ dan berbau ‘arang’? Mengapa semuanya menjadi komoditi untuk Berita, Ketenaran, memperesar kelompok, rekruitmen, proposal bahkan sekadar gagah-gagahan, bahkan mengganyang lainnya?

Bukankah diam lebih selamat daripada berbicara apalagi bertindak yang tidak jelas arahnya?

Konon, Tifathul Sembiring, mantan Menkominfo dari PKS, sempat memposting gambar kejadian Rohingya. Dan ternyata Hoax. Saya yakin dia bukan sengaja untuk itu….(Beliau sudah minta maaf) tetapi yang bisa jadi pelajaran dari kejadian itu adalah; orang selevel dia, bisa terkena dan menyebar Hoax.

Kenapa saya katakan menyebar Hoax? Sebab dengan pegikut mungkin jutaan (ada yang bilang 1,4 juta), maka sekali twitt atau posting, dalam waktu menit/detik bisa ribuan bahkan puluhan ribu yang share…dan seterusnya.

Kalau klarifikasi itu dilakukan dalam waktu 5 menit saja, maka sebaran itu sudah cukup dahsyat.

Nalar Agama mengatakan : Lebih baik menghindari Dosa dari pada berupaya dapat Pahala”.

4. Apa sinyalemen ingin mengepung Borobudur. Benarkah?
Apakah kalau Islam digannggu Kristen di tempat lain. Maka kita diizinkan mengganggu Kristen di dekat kita (yang kebentulan Minoritas?). Apakah kalau Sunnah diganggu Syiah ditempat lain, lalu kita boleh mengganggu Syiah ditempat kita yang kebetulan minoritas?
Bolehkan Nalar Agama melakukan itu? Bolehkan Nalar Agama mengganggu rumah ibadah?

5. Ada yang memberikan dalil, mengharamkan berwisata ke Borobudur, seperti yang sudah ditulis diatas. Pertanyaannya adalah. A) Mengapa itu keluar sekarang, saat kejengkelan dan kasus? Nuansa politisasi agamanya sangat mencolok. B) Apa benar seperti itu secara Nash? C) Apa ini bukan justru membuat ummat menjadi terpecah pro dan kontra?

Tidak seperti PENGGADAIAN, Menyelesaikan masalah tanpa masalah. Ini semua mencoba menyelesaikan masalah, malah menambah runyam dan menambah masalah.

6. Kita wajib membela saudara kita, itu benar. “Islam adalah saudara Islam lainnya”. Tetapi apakah Islam hanya Rohingya? Kita harus mengecam kebiadaban, kedzaliman dst…..tetapi kita juga bertanya? Bagaimana dengan Islam di Indonesia sendiri?
Kita mesti tahu masalah untuk menyelesaikan masalah. Maka langkah pasti adalah Doakan, bantulah secara kemanusiaan…..makanan, obat-obatan, atau bila mungkin tampung pengungsinya. Serahkan/dorong itu pada aparat pemerintah untuk lobby dan diplomasi politik, jangan dikerjakan kelompok/golongan. Bisa-bisa malah kacau atau bantuan yang terkumpul sampai pada separatis/kelompok yang tidak jelas?

Kalau perlu Demo damai untuk kemanusiaan, mendesak pemerintah bergerak, bukan menyalahkan apalagi ditunggangi kepentingan politik mendiskriditkan pemerintah.

7. Layakkah sekarang ada selogan…Jihad di Myanmar? Jihad untuk Rohingya? Sampai kapan jihad berjilid-jilid itu?

8. Bagaimana dengan Negara Islam lainnya? OKI? Bagaimana dengan Koalisi yang dipimpin Saudi dkk? Apa langkah-langkah mereka?

9. Janganlah kita teriak-teriak Rohingya, tetapi kita sendiri intoleran…tetapi kita sendiri anti kebhinekaan, dan menjadikannya itu komoditi untuk kepentingan kita pribadi atau golongan kita.

Muhammad Alwi
Edisi : #MerawatAkal

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s