NEGARA DAN KEYAKINAN BERAGAMA

Kebebasan Keyakinan.jpg

Kebebasan Berkeyakinan

Beberapa waktu lalu beredar tentang ribut-ribut pengikut Syiah Jakfariyah di Halmahera (Maluku Utara).

Keributan dimulai dengan kasak-kusuk karena perbedaan pemahaman dan akhirnya bentrok warga dengan kelompok itu. Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membahas urusan bentrok antar warga…tetapi menyikapi bagaimana urusan PEMAHAMAN/KEYAKINAN DAN KEKUASAAN NEGARA.

“Hak untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah Hak Azazi manuisa”, dan itu juga diatur dalam UUD kita.

Keyakinan adalah bobot kepercayaan (SESUATU YANG DIANGGAP BENAR) yang dianut, dipahami oleh seseorang. Sehingga tidak bisa diberangus atau dilarang.

Lalu apa yang dilarang? Yang bisa dilarang dan masuk dalam ranah politik/negara/aparat adalah Ekspresi Berkeyakinan, disini ada aturan dan norma-norma nya.

Secara ajaran Syiah berbeda dengan Ahl Sunnah, demikian juga dengan Wahabi. Dalam Syiah sendiri berpecah banyak aliran dan satu dengan yang lain kadang saling menyalahkan dan mengkafirkan.
Dalam Ahl Sunnah juga terjadi perbedaan, demikian dengan Wahabi. Juga kadang saling menyalahkan dan mengkafirkan.

Apakah pandangan-pandangan seperti itu bisa disikapi lalu dilarang? Menurut saya pemahaman seperti itu tidak bisa dilarang-larang. Sebab mereka semua berdasarkan Nash, data sejarah dan pemikiran lainnya.

Syiah dengan konsepsi dirinya sendiri, sejarah juga hadist dan pemikirannya.
Ahl Sunnah dengan konsepsi dirinya sendiri, sejarah juga hadist dan pemikirannya.
Wahabi dengan konsepsi dirinya sendiri, sejarah juga hadist dan pemikirannya.
Bahwa mereka berbeda, bahkan saling menyalahkan…..kita harus mengatakan “Ya”. Itulah realitas keberagamaan kita, sejarah kita, dan seakan Tuhan-pun memberikan peluang dan membiarkan itu apa adanya (saling menjadi ujian satu sama lainnya).

Lalu apa sikap kita? Apa peran pemerintah bahkan MUI?

Pemerintah :

# Pemerintah menjamin seluruh agama dan keyakinan. Sebab kalau hanya 5 agama, lalu keyakinan (aliran kepercayaan) tidak diindahkan misalnya. Padahal mereka ada di Indonesia paling awal (dahulu).
# Islam melarang ke-musyrikan. itu benar…tetapi Negara ini bukan negara agama. Sehingga negara harus Netral terhadap agama dan keyakinan.
# Pemerintah wajib melindungi warga/keyakinan warga atas intimidasi kelompok lainnya. Disini Negara harus hadir…bila tidak kekacauan, kedholiman dan penindasan atas nama mayoritas akan terjadi.
# Pemerintah memberikan UU, rambu-rambu ekspresi berkeyakinan.Sehingga ekspresi yang satu tidak mengganggu atau berbenturan dengan espresi lainnya.
Misalnya : Wahabi Triak-triak dengan TOA disekitar masyarakat NU (Ahl Sunnah), mensyirik2an, membid’ah2kan ajaran NU.
Syiah berbicara tentang kritik sahabat dengan TOA disekitar masyarakat Ahl Sunnah dst.

Perbedaan Ahmad Tayyib Oke.jpg

Syech Al Azhar : Ahmad Thayyib 

KITA
# Mencoba dan wajib mendalami apa yang kita yakini. Sebab tanggungjawab kita dimata Allah adalah sejauh pemahaman kita.
# Tuhan tidak menuntut kita mesti benar, tetapi Tuhan hanya menuntut kita, konsekuen dengan pencarian kita….dan beramal, bertanggungjawab dengan apa yang kita yakini.
Kita tidak akan pernah tahun secara 100% siapakah yang benar dimata Allah. Apakah Agama kita atau agama lain. Apakah Sunnah-Syiah atau Wahabi?
jadilah masyarakat beragama dan berkeyakinan yang baik..dan membawa manfaat buat sesama.
# Perihal mengkritik, dakwah, berdebat dengan keyakinan lain. Itu sah-sah saja. asalkan dilandasi dengan keyakinan bahwa….mungkin sementara ini milikku yang aku anggap paling benar. Dan tidak ada paksaan, pemaksaan terhadap lainnya. Kalau mereka tidak mau, maka Nabi saw-pun tanggung-jawabnya hanya menyampaikan, apalagi kita.
Sehingga tidak ada alasan teriak-teriak dengan histeris, menggalang masa, agitasi mengatakan yang lain sesat, munafik, sesat bahkan kafir. Lalu melakukan tindakan kekerasan.

MUI
# Majelis ulama Indonesia semestinya mampu mengayomi keyakinan-keyakinan itu.
Majelis Ulama Indonesia mestinya hanya memberikan koridor bahwa Syiah menurut ajaran Syiah standart seperti ini. Ahl Sunnah menurut ajaran Ahl Sunnah standart seperti ini, dan Wahabi menurut ajaran Wahabi standart seperti ini.

MUI semestinya bukan menjadi dan menghakimi yang lain berdasarkan keyakinannya (keyakinan mayoritas).

# Lalu bagaimana bila ada kelakuan penistaan agama/keyakinan?
MUI bisa memberikan pedoman, tetapi sekali lagi….penistaan itu adalah ekspresi keyakinan. Ranahnya adalah hukum/negara.
# Penistaan tidak bisa dijadikan alat untuk membrangus sebuah keyakinan.
Sebab :

Kristen pasti dianggap menista Islam (dikarenakan Kristen tidak percaya Muhammad saw itu Nabi/Rasul, bahkan menganggapnya ini dan itu).
Islam dianggap menista Kristen sebab menganggap musyrik keyakinan, Tuhan Bapak, Anak dst.

Syiah dianggap penista Ahl Sunnah sebab mengkritik sahabat dst.

Wahabi akan dianggap menista Ahl Sunnah sebab menganggap Abul Hasan Asyari teolog pendiri Ahl itu kurang Imannya. Dan perilaku Ahl Sunnah (NU) itu sebenar-benar Syirik. dst.

Itu semua adalah keyakinan masing-masing, tidak bisa dibrangus dan dilarang-larang. itu wilayah kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Yang boleh dilarang dan diberikan pedoman/hukum adalah bagaimana keyakinan itu diekspresikan dalam berkehidupan bermasyarakat, bertetangga, mengadakan acara, pengajian dst.
Sekali lagi disini pemerintah, negara, aparat harus kuat dan hadir sehingga provokasi, agitasi, perilaku radikal dari kelompok manapun minoritas atau mayoritas sejak awal dapat diredam dan diminimalisir.

Penindasan dan kedholiman tidak boleh terjadi, baik atas nama mayoritas maupun minoritas.
Kebhinekaan dan NKRI akan aman, tentram dan sentosa serta mengayomi semua warganya bila itu semua dilakukan dengan baik.

#SaveNKRI
#MerawatAkal

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s