NEURO-PSIKOLOGIS : TINDAKAN IRASIONAL “RADIKAL”

Descartes Error

Antonio Damasio : Descartes’ Error

Saat kita melihat sebuah tindakan yang sangat aneh, brutan, biadab, diluar batas nalar, seperti kelakuan ISIS dan lainnya. Maka kita akan bertanya-tanya mengapa seseorang bisa melakukan hal sepeprti itu? Saat kita memdengar dan membaca berita tentang pembakaran ‘pencuri amplifier’ disebuah rumah-tuhan (Masjid). Saya bertanya-tanya bagaimana mereka tega, menyiram bensin dan memantik api lalu membakarnya? Apakah yang lain dikerumunan itu semuanya biada dan tega melihat kejadian diluar batas kemanusiaan itu?

Saat saya membaca tentang kelompok militan intelek ‘gila’ yang bernama Saracen, saya bertanya-tanya apakah hanya masalah uang mereka mau dan siap serta dengan sukarela melakukan itu? Sebagai seorang yang menggeluti dunia psikologi dan pendidikan, saya bertanya-tanya. Konsepsi apa didalam kepala mereka sehingga tindakan-tindakan tertentu bahkan yang sangat diluar batas akal itu mampu dilakukan?

Dalam psikologi-sosial dikatakan; Kognisi/Konsepsi menghasilkan sikap/attitude dan sikap/attitude akan menghasilkan perilaku/behavior. Dari konsep itu, maka kita bisa berkata bahwa perilaku ‘biadab’ mereka dikarenakan konsepsi, pikiran dan informasi yang mereka dapatkan. Apakah seperti itu?
Dalam teori neurosain ada istilah pembajakan amigdale atau floading (keterjepitan). Bila batas floding seseorang rendah maka mereka sulit menahan marah, demikian sebaliknya.

Saat seseorang atau anak-anak hidup dalam ketertekanan, dijalan raya, sering mengalami perlakuan kekerasan, diperkosa oleh teman-temannya, dipukuli dan dilecehkan, serta selalu dalam bata ambang ketakutan dan kecemasan –misalnya orang-orang yang hidupnya pas-pasan, tidak terdidik dan selalu melakukan tindakan main hakim sendiri, hidup tidak teratur, KDRT, anak-anak yang hidup dalam keluarga yang tidk harmonis bahkan tidak ada konsep keluarga, dst.

Karena pengalaman-pengalaman ini, itu menjadi ingatan pada bagian otak, alarm emosional yang bernama Amigdale. Karena pengalaman ini yang ‘sering’ memacu semacam pembiasaan amigdale untuk menanggapi hal-hal biasa dengan sesuatu yang luar biasa/krisis. Susunan saraf dan pacuan kimiawi otak sudah tidak normal lagi. Le Deoux dalam Indelibility of subcortical emotional memories, journal cognitive neurosaince, 1989 Vol 1, hal 238-243), dikatakan bahwa orang-orang ini selalu merasa dalam bahaya.

Orang seperti ini terjadi perubahan pada sirkuit limbik yang terpusat pada amigdala. Ada perubahan utama terletak di lokus seruleus, struktur yang mengatur sekresi otak untuk dua jenis bahan yang disebut katekolamin: yaitu adrenalin dan noradrenalin. Bahan-bahan kimia saraf ini memobilisasi tubuh untuk menghadapi keadaan darurat; lonjakan katekolamin mencetak ingatan-ingatan dengan kekuatan istimewa.

Orang yang mengalami hal-hal diatas, sistem itu menjadi sangat aktif dan melepaskan bahan-bahan kimia otak dengan dosis berlebihan sebagai tanggapan terhadap situasi-situasi yang tidak mengancam atau sedikit saja ancamannya tetapi entah bagaimana menjadi pemicu ingatan akan trauma yang cukup besar. Inilah mungkin mengapa hanya ‘pencuri amplifier’ mereka tega hajar, seperti layaknya anjing dan mereka tega menyiram bensin serta membakarnya.

al_quran

Semua Ingin Meraih Kebenaran Tuhan

Perubahan-perubahan lain terjadi dalam sirkuit yang menghubungkan otak limbik dengan kelenjar pituitari, yang mengatur pelepasan CRF (carticotropin-realising factor), suatu hormon stres utama yang dikeluarkan tubuh untuk memobilisasi hormon respons darurat bertempur-atau-kabur. Perubahan-perubahan lingkungan mendadak, menyebabkan hormon ini dikeluarkan dalam jumlah yang terlalu banyak—terutama di amigdala, hippocampus, dan locus seruleus—menyiap-siagakan tubuh untuk menghadapi keadaan darurat yang sebetulnya tidak ada. Orang normal mengimbangi itu dengan menurunkan picuan hormon itu tetapi tidak pada orang-orang yang traumatic tadi. Wilayah penting diotak yang belajar, mengingat, dan melaksanakan respon takut adalah sirkuit antara talamus, amigdala, dan lobus prefrontal yang kadang mengalami apa yang disebut “jalur pembajakan saraf”.

Lalu bagaimana perilaku orang-orang ‘Saracen’, ISIS, ditinjau dari psikologi dan neurosain? Dalam membicarakan pentingnya keyakinan (Agama), Montgomery Watt mengatakan; agama punya 2 point penting yaitu; Pertama, gagasan keagamaannya membangun kerangka intelektual diri manusia darimana dia memandang segenap aktivitasnya berlangsung. Boleh dan tidak boleh bahkan perlu dan tidak perlu.

Kedua, Karena agama adalah kerangkan kesadaran dan tindakan, dimana tujuan-tujuan yang mungkin bagi kehidupan manusia sudah ditentukan, maka banyak motif yang dilakukan dan bisa dilakukan bersandar kepadanya. (W. Montgomery Watt, “Islamic Political Thought”, 1980 : 43-44).

Saat argumentasi bahwa sebuah tindakan itu perlu dilakukan, bahkan penting serta wajib. Kemudian dibalut oleh rasionalisasi-emosional berupa nash, wajib, pahala. Maka apa yang tidak mungkin dilakukan?

Penelitian yang dilakukan oleh Solomon Asch, juga Stanley Milgram (1963), sangat menarik dalam melihat tindakan a-moral, biadab yang mampu dilakukan oleh seseorang. Percobaan Milgram menunjukkan, keyakinan moral dengan sendirinya, tidak cukup untuk mengatasi perintah dari yang berwenang/atasan untuk melakukan tindakan yang tidak bermoral. Saat seorang bergabung dalam suatu organisasi terlarang, ekstrim atau teroris. Maka kepemilikan moral kita akan sebentar tumbang dikalahkan oleh perintah dan dorongan dari atasan/komunitas. Mungkin inilah alasan-alasan kebiadaban moral dalam peperangan, dalam genoside (seperti di Ruanda, Bosnia, Myanmar, Nazi, dll), pembantaian yang dilakukan oleh ummat Islam saat PKI (di Indonesia), Kekejaman yang sedemikian rupa oleh ISIS, Jabha-Nusra, terhadap musuhnya di Syuria, Iraq dll. Bom bunuh-diri, meledakkan masjid yang dianggap musuh, terrorisme dan seterusnya, juga kelompok Saracen dengan intensiatas yang lebih soft.

Kondisi psikologis, perilaku pensyarafan kita, serta pembelajaran yang diarahkan pada tindakan-tidakan brutal, irasional, pengkondisian menyebabkan hal-hal yang irasioanl dan diluar batas nalar dapat dilakukan. Mungkinkah ada pembalikan pola pensyarafan dan perilaku itu?

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama, Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s