TOLERANSI DALAM AL QUR’AN

25_Hidangan_dari_Al_Quran

Buku : 25 Hidangan Al Qur’an

Saya baru dapat kiriman buku, dari teman….awalnya salah alamat, tetapi akhirnya dikirim ulang, ternyata..dua-duanya bisa sampai ketangan saya. Sehabis mandi, saya mencoba melihat-lihat daftar isinya mungkin ada yang menarik….dan mata saya tertuju ke masalah Toleransi. Saya baca…sangat indah sederhana tetapi dalam. Maka saya kunjungi website-nya dan saya ringkaskan disini.
_______________________________
Mengapa kita selalu dalam perbedaan? Sebenarnya apa tujuan Allah meciptakan dunia yang serba berbeda-beda ini? Bukankah Allah mampu menjadikan semuanya sama? Bukankah Dia mampu membuat semua orang tunduk dan beriman? Allah menjawab pertanyaan ini dalam Firman-Nya:
“Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (Al-Ma’idah 48)

Dunia adalah tempat ujian. Semua sisi kehidupan ini adalah ujian. Ada yang diuji dengan kekayaannya, ada yang diuji dengan jabatannya, ada pula yang diuji dengan wajah tampannya. Dan salah satu ujian bagi manusia adalah harus hidup dalam perbedaan. Memang bukan hal mudah untuk bisa menerima perbedaan di sekitar kita. Namun itulah ujian dari Allah untuk meningkatkan kualitas diri setiap manusia. Dalam ayat itu, Allah swt sama sekali tidak membahas perbedaan yang ada, namun pada akhir ayat itu Allah memfokuskan agar manusia berlomba dalam kebaikan. Tak usah sibuk dengan perbedaan yang dipilih orang, berlombalah untuk menjadi lebih baik dihadapan-Nya.

Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi perbedaan ini? Salah satu tujuan Allah menciptakan perbedaan adalah untuk saling mengenal. Allah berfirman:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami Jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat 13).

Mengenal bukanlah saling mengejek. Mengenal bukanlah saling merendahkan. Perkenalan menurut al-Qur’an adalah dengan saling memuji dan menghormati. Di Surat yang sama Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).” (Al-Hujurat 11)

Kita tidak boleh saling menyalahkan atau mengolok-olok sebab Allah swt memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih jalannya masing-masing. Bisa baik-buruk, bisa memilih surga atau negara. Allah berfirman:
“Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhan-mu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” (Al-Kahfi 29).

Kita semua mengetahui bahwa agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam. Dengan tegas Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an:
“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima” (Ali Imran 85). Namun walaupun demikian Allah tetap tidak memaksa hambanya untuk memilih Islam.
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama” (Al-Baqarah 256).

Jika Tuhan saja tidak memaksa, apakah mereka akan mengungguli Tuhan dengan memaksakan agama kepada orang lain? Bahkan Allah berfirman pada Kekasihnya Muhammad Rasulullah saw. Dalam Firman-Nya, Allah tidak memberi mandat kepada Rasulullah untuk memaksa seseorang masuk Islam.
“Dan jika Tuhan-mu Menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (Yunus 99)

Allah berfirman sekali lagi:
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (Al-Ghasiyah 21-22)
“Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan” (Al-Ma’idah 99)
“Kami lebih Mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.” (Qaf : 45) Sekarang, masih adakah alasan untuk memaksa atas nama Islam?

Dalam Surat Saba’, Allah berfirman:
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba’ 24).
Allah mengajarkan cara yang indah kepada Rasulullah dalam menghadapi orang yang berbeda. Di akhir ayat itu disebutkan bahwa kami atau kalian pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan. Tidak akan lepas dari dua hal tersebut. Rasul yang jelas dalam kebenaran…mengatakan kamu atau kami yang sesat?

Ada kata-kata populer yang indah. Ia sedang berbicara tentang toleransi. “Pendapatku benar tapi mungkin ada salahnya. Pendapat selainku salah tapi mungkin ada benarnya”
Kita lanjutkan kepada ayat setelahnya, masih dalam Surat Saba’. Allah berfirman:
Katakanlah, “Kalian tidak akan dimintai tanggung jawab atas dosa yang kami lakukan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kalian lakukan.” (Saba’ 25)

Lihatlah disini kata-kata indah tanpa klaim-klaim kami benar dan kamu salah?
Mari kita Lihatl! Betapa tinggi Islam menjunjung toleransi. Masih adakah mereka yang berbuat intoleran dengan mengatas-namakan Al-Qur’an? Sungguh, mereka hanya berdusta atas nama Al-Qur’an. Dan hanya Allah lah yang akan menghakimi perbedaan dan perselisihan yang terjadi.

Katakanlah, “Tuhan kita akan Mengumpulkan kita semua, kemudian Dia Memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi keputusan, Maha Mengetahui.” (Saba’ 26)
Tapi apakah kita tidak harus melakukan Amar-Makruf dan Nahi Munkar?

Memang benar, amar ma’ruf nahi munkar adalah wajib. Tapi sampai mana batasannya? Dalam kisah bani Israil, Allah pernah melarang mereka untuk memancing di hari sabtu. Dan yang melanggar akan terkena adza dari Allah. Saat itu bani Israil terbagi menjadi tiga kelompok. Ada yang melanggar, ada yang diam dan membiarkan mereka yang melanggar dan ada yang tidak melakukan sekaligus menegor mereka yang melanggar. Kelompok yang acuh itu berkata kepada mereka yang sibuk menegor:
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan Dibinasakan atau Diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhan-mu, dan agar mereka bertakwa.”(Al-A’raf 164)

Mereka yang mengingatkan orang-orang yang melanggar punya dua alasan kenapa mereka melakukan nahi munkar. Yang pertama adalah agar punya alasan dihadapan Allah karena mereka telah mengingatkan saudaranya yang berbuat salah. Yang kedua adalah agar saudara mereka tidak sampai melakukan maksiat.

Dari ayat itu, kita temukan bahwa batasan seseorang dalam nahi munkar adalah sebatas mengingatkan. Tidak boleh menghukum atau mengambil sikap lainnya. Jika yang diingatkan tetap tidak peduli maka dia telah melakukan kewajiban nahi munkar. Tidak ada wewenang untuk memaksa dan menghukum. Yang berhak menghukum adalah pemimpin disaat itu. Rasulullah saw melakukan potong tangan bagi pencuri dan merajam pezina saat beliau sudah menjadi pemimpin di Madinah. Lihatlah Nabi Nuh, apakah beliau tidak berhasil berdakwah saat anaknya sendiri berpaling darinya? Lihatlah Nabi Luth, apakah beliau tidak berhasil karena tak mampu menjadikan istrinya beriman? Mereka semua berhasil karena yang dinilai oleh Allah adalah proses nahi munkar dan kewajiban mereka hanya menyampaikan. Mereka walau berstatus nabi tidaklah punya mandat untuk memaksa seseorang. Nabi saja tidak boleh memaksa, layakkah kita memaksa orang lain dalam nahi munkar? Akankah ada gejala ingin mengungguli para nabi?

Orang yang suka teriak dalam menjelaskan, suka menggunakan kekerasan dalam bertindak adalah mereka yang tidak memiliki argumen. Sekali lagi, tidak ada seorang pun yang berhak memaksa orang lain. Jika mereka tetap memaksa dan menggunakan pakaian islam, sebenarnya mereka bukanlah belajar dari Al-Qur’an.

Wallahu A’lam Bi Al Shawab
Diambil dari : (Diolah sedikit)
http://khazanahalquran.com/toleransi-dalam-al-quran-bag-1.h…
http://khazanahalquran.com/toleransi-dalam-al-quran-bag-2.h…

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s