“SURO” DAN SYIAH?

Pelajaran Penting : TIDAK HARUS MENJADI SYIAH UNTUK MENCINTAI AHLUL-BAIT”

Macan Ali 1.jpgPerigatan Suro dari kata Asyuro yang artinya hari ke 10. Tepatnya hari ke 10 dibulan Muharam. Dimana pada saat itu ada tragedi politik yang memilukan, Husein bin Ali (Cucu Rasul Muhammad saw, dari perkawinan Ali bin Abi Tholib dan Fatimah), beserta 17 saudaranya dibantai dengan cara yang mengerikan dan menyayat hati.

Husein bin Ali adalah 1 dari 5 orang yang termasuk Ahlul Bait Nabi (dalam surat al Ahzab, 33). “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (Keluarga Nabi) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Kesucian dan keistimewaan Ahlul bait ini, bisa kita rasakan dari banyak hal (di Indonesia misalnya).
1. Secara Figh (sebagian Madzab) mengatakan; Keturunan mereka (yang di Indonesia disebut Sayyid, atau Habaib, dipanggil Habib dan yang perempuan dipanggil Syarifah) tidak boleh memakan harta sodaqoh.

2. Keturunan mereka dihormati, dicium tangannya, diberikan ‘pelayanan lebih’, karena maqam mereka sebagai keturunan Rasul saw lewat Fatimah, dst.

Tragedi Asyuro itu diperingati di Indonesia sejak zaman dahulu dimana-mana, bahkan masuk dalam aliran-aliran kejawen. Konon dijadikan ‘sikep’ (doa atau tawassul, Pangeran diponegoro), dijadikan bendera di kesultanan Cirebon, di Pariaman dst. Peringatan Itu dilakukan ratusan tahun yang lalu bahkan sampai sekarang. Apakah Ahlul Bait hanya 5 orang itu saja? Bukan pembahasan disini.

Macan Ali 2.JPG

Macan Ali Cirebon

Salah satu peringatan itu adalah adanya bubur Suro, Tabut Husein di Pariaman. disamping itu dalam bulan syuro (Muharram), maka tidak diizinkan mengadakan perayaan berbau kesenangan (perkawinan atau semacamnya).

Penghormatan terhadap Ahlul-Bait (Ali, Fatimah, Hasan dan Husein) hampir disepakati seluruh kaum muslimin, hanya mungkin dengan intensitas yang berbeda-beda.
Golongan Syiah (sangat-sangat menghormatinya), dan golongan Ahl Sunnah (sangat menghormatinya), sementara golongan Wahabi (Agak menghormatinya).

Kalau kecintaan terhadap Ahl Bait itu ditarik pendulum antara 1 sampai 5 (Semacam skala likert dalam penelitian kualitatif, untuk dikuantifikasikan), maka kita bisa buat sketsa sebagai berikut:

Baca juga : Makna Arbai’in dan Kesahidan Sayidina Husein (Oleh : Prof. DR. M. Quraish Shihab)

Nilai 5 dan 4 itu — Golongan SYIAH (Sangat sangat mencintai, dan sangat mencintai).

Nilai 3 dan 4 itu —- AHL SUNNAH (Habaib dan NU), Sangat mencintai dan Cukup mencintai.

Nilai 3 dan 2 itu —- WAHABI (Cukup mencintai dan kurang mencintai)

Nilai 1 itu —- NASHIBI (tidak mencintai/membenci Ahlul Bait).

Karena Asyuro dan peringatan Syuro itu memperingati Husein bin Ali, yang dibantai oleh Yazid bin Muawiyah. Maka sebagian kelompok melihat itu adalah jalan promosi/dakwah terhadap kelompok Ahlul Bait. Apalagi Syiah akan mempringatinya dengan sangat serius (bahkan sebagian tidak pantas. Itu ada dibeberapa tempat di Timur Tengah/Pakistan, tetapi menurut informasi, sejak 20 tahun terakhir, peringatan berdarah itu sudah dilarang oleh banyak ulama).

Sebuah keanehan terjadi, mungkin karena faktor politik atau lainnya. Mengenang dengan serius, Ziarah ke Ali Bin Abi Thalib di Najaf, ke Husein bin Ali di Karbala, seakan itu dianggap hanya milik Syiah. Yang lain tidak atau kurang melakukan itu.

Lalu ada sekelompok orang/madzab, bahkan berupaya menghilangkan peringatan-peringatan itu, melarangnya, mengarang hal-hal lain, bahkan tidak segan-segan membelokkan sejarahnya, melawan tradisi, dengan mengatakan bid’ah bahkan lebih dari itu dst.

Baca juga :  Wahabi-Salafi dan Takfiri : Landasn Ideologi Ekstrimisme Radikalisme.

Upaya-upaya itu bisa kita lihat dengan banyak hal antara lain:
1. Melarang acara-acara tersebut, mecibirnya, mengatakan itu Syiah dst. Sehingga hanya memperingati itu sudah bisa dikatakan atau dituduh Syiah. Padahal tidak mesti, dan ratusan tahun di Indonesai peringatan itu sudah dilakukan.

2. Dilakukan penentangan tradisi bulan Syuro. Sekarang mulai banyak orang-orang yang melakukan perkawinan dan hal lain yang berbau kesenangan di bulan itu (yang dahulu sangat tabu dan dihormati).

3. Menganggap bulan itu bukan bulan kesedihan.

4. Memberikan informasi dan cerita lain yang berbeda dengan yang asli, dari realitas sejarah-nya atau realitas peringatan itu dilakukan di Nusantara selama ini.

Tidak mesti harus Syiah untuk mencintai Husein bin Ali. Tidak harus menjadi Syiah untuk mencintai Ahl Bait. Imam Syafii jelas sekali dalam syair-nya. “Kalau mencintai keluarga Nabi (Ahl Bait) dituduh Rafidha. Maka ketahuilah wahai Jin dan Manusia, sesungguhnya aku adalah Rafidha.”

Rafidha itu julukan berkonotasi negatif pada pengikut Syiah saat itu. Kalau kita sedikit mau mengkontruk secara hermeneutika, mengapa teks dan ucapan ini keluar? Maka kita akan bisa memahami betapa represi, tekanan politik penguasa dilakukan terhadap Ahl Bait dan yang berbau Ahl Bait saat itu.

Sekali lagi cinta terhadap Ahlul-Bait dan Dhurriyahnya tidak mesti bermadzab Syiah, tidak mesti beraliran Syiah. Ummat Islam umumnya (utamanya Habaib dan NU di Indonesia yang bermadzab Syafi’i, bahkan kejawen) mereka sangat mengagungkan Ahlul Bait (Ali, Fatimah, Hasan, Husein).

Wallahu A’lam bi Al Shawab.

Edisi : #MerawatAkal

Muhammad Alwi
Pendidikan Positif

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s