INTELEKTUAL BANGKIT MELAWAN RADIKALISME

Pertemuan Rektor di Bali.jpgMenarik pertemuan aksi kebangsaan di Bali. Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi ini diawali Focus Group Discussion (FGD) 1 dan 2 di Bali (80 Pimpinan Perguruan Tinggi). Aksi Kebangsaan ini dihadiri 3.000 Pimpinan Perguruan Tinggi. Dihadiri 432 Profesor, 1127 Doktor dan 2500 lebih Magister, dll.

Mereka menggelar focus group discussion (FGD) membahas cara mengantisipasi fenomena radikalisme dan terorisme. Kata mereka, Isu radikalisme dan terorisme di Indonesia tidak lagi hanya wacana. Tetapi sudah sampai pada tahap meresahkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertemuan itu diharapkan mampu meredam kenyataan bahwa masyarakat Indonesia banyak (dalam jumlah skala besar) yang sangat mudah terprovokasi dan terpengaruh dengan paham dan ideologi terorisme dan radikalisme.

Perguruan tinggi, rektor, intelektual, memiliki peran strategis menangkal radikalisme. Semua perguruan tinggi/Institusi pendidikan semestinya ikut dan dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca juga : KELOMPOK BERISIK/Radikal dan FILSAFAT/PENDIDIKAN KONTRUKTIVISTIK

Kalau kemarin-kemarin banyak Kampus menjadi Radikal lewat ROHIS dll (Misalnya yang viral di medsos IPB, ada deklarasi HTI, dan dibanyak kampus lainnya radikalisasi cukup kuat, hasil beberapa penelitian di beberapa kota, bahkan sudah masuk ke sekolah-sekolah), maka sekarang mereka lewat pertemuan itu, Institusi pendidikan, intelektual diharapkan bangkit untuk ikut melawan Intoleransi, Radikalisme dan Terrorisme.

Dinas Pendidikan/Kemendiknas (yang menangani pendidikan mulai SD, SMP, SMA) dan Kemenristek (yang menangani PT), Kumpulan Rektor, Asosiasi Profesor, Doktor dll, semestinya wajib mengawasi dunia pendidikan, dan turut serta agar faham-faham intoleran, radikal, serta yang bertentangan dengan ideologi pancasila tidak berkembang di negeri kita ini.

Sudah cukup lama mereka dibiarkan bergerak dikampus-kampus, lewat penguasaan mesjid kampus, jaringan mahasiswa, ikhwan wa akhwat, bahkan sengaja atau tidak sengaja difasilitasi bahkan dibiayai. Upaya mereka untuk melakukan perbaikan moral, karakter dengan Islamisasi sayangnya diarahkan, dibelokkan dan digunakan menjadi radikalisasi.

Baca juga : GARIS BELAH : APA & SIAPA ‘RADIKAL’

HTI Deklarasi IPB.jpgKelompok-kelompok mereka akhirnya yang getol menyambut jihad Afghanistan, Syuria, deklarasi ISIS, JAT, Jabha Nusro, banyak yang masuk HTI, juga melakukan radikalisasi lainnya, sehingga faham intoleran dan radikal, berkembang dengan cukup signifikan.

Baca juga : LOGIKA BERBAHAYA KAUM RADIKAL

Mengapa itu terjadi? Pembiaran konsep dakwah kampus, pengawasan yang tidak jelas oleh pemerintah, lewat pembinaan PNS, serta guru dan dosen dan pembinaan keagamaan. Bagaimana kampus Negeri yang anggotanya PNS bisa digunakan oleh faham-faham yang melawan vis a vis dengan pemerintah dan pancasila? Ini jelas sebuah kegagalan dan kecolongan.

KONSEPSI PENDIDIKAN

1) Pendidikan itu tujuannya adalah mencetak manusia-manusia Indonesia. Apa itu Manusia Indonesia? Seperti apa yang diharapkan setelah keluar dari lembaga pendidikan itu? Disini ada Filsafat Manusia dan Filsafat pendidikan, Agama dan lain-lain bercampu. Alhamdulillan kita sudah dibekali oleh pendiri bangsa ini dengan PANCASILA.

2) Kesimpulan-kesimpulan itu dimasukkan/termuat di GBHN dan UUD kita. UU Tentang Pendidikan dan Permendiknas.

3) Dari sana dielaborasi dalam Kurikulum Pendidikan kita. Bagaimana jalan/proses bahkan bahan apa yang semestinya diberikan, agar No 1 dan No 2 tercapai. Misalnya : Kurikulum 2013 yang berkarakter, ada spiritualitasnya dst, dst. Atau Kurikulum Multikultural dst..dst.

4) Dibuatlah Silabus, buku ajar, setelah melihat Kurikulum, dibuatlah oleh pakar, penerbit dst…buku-buku ajar. 5) Guru mengajar dengan RPP, strategi, methode untuk bagaimana materi diatas itu tercapai dengan baik. Dengan mengacu pada Efisiensi dan Efektifitas.

Bila terjadi seperti hal-hal diatas –Kampus dan lembaga pendidikan lainnya, dijadikan ajang radikalisasi –berarti target pemerintah dalam pendidikan gagal, atau di by-past oleh pelaku-pelaku tertentu dalam pendidikan. Siapa ini? Siapa yang bertanggug jawab? Bagaimana ini semestinya dievaluasi?
isis jIBRIL 1
Pertanyaan yang bisa diajukan :

1) Bagaimana peran kepala Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, Rektorat dikampus? Apakah mereka memantau itu semua? Atau malah mereka terlibat dan memberikan jalan upaya radikalisasi itu (dengan kedok Islamisasi?)

2) Apakah Kurikulum dan Buku Ajar Rohis tidak ada? Sudahkah dilihat dan dievaluasi?

3) Bagaimana Guru-guru agama dan para mentoring Rohis? Sudahkah mereka dipilih, dibimbing dan dibina sehingga “Profesional”, melakukan sesuai kontrak dan harapan stackholder? Serta dipilih dengan harapan menjalankan visi-misi pemerintah? Sebab itu adalah lembaga pemerintah (PTN dan Sekolah Negeri). Kelompok-Kelompok Radikal seperti HTI, ISIS, JAT, Al Qaeda (baik real atau underbow-nya, juga pemikiran-pemikirannya), semestinya betul-betul dipotong jaringannya dilembaga-lembaga pendidikan.

Baca juga : Wahabi-Salafi dan Takfiri : Landasn Ideologi Ekstrimisme Radikalisme.

4) Pemerintah, khususnya yang terkait, depag, diknas, kemenristek semestinya betul-betul melihat fenomena ini. Karena pembangunan kita bisa betul-betul tercancel dengan radikalisasi, intolerasi serta terrorisme itu dikemudian hari.

Mungkin dan mudah-mudahan pertemuan di Bali bukan hanya pertemuan seremonial tetapi adalah upaya benar-benar untuk melakukan secara serempak dan cukup luas cakupannya dalam melawan isu-isu yang bukan lagi bayangan tetapi sudah real menjadi problem bangsa ini.

Wallahu a’lam bi Al shawab
Muhammad Alwi Pendidikan Positif

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama, Pendidikan Psikologi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s