ISLAM BELAJARLAH DARI BARAT??

Tidak mungkin membicarakan Islam, kecuali dengan membicarakan orang Islam dan negara Islam.

Belajar dari Barat.jpg

Belajar dari Barat

Kita sudah jarang mendengar pembicaraan Kristen dalam urusan sosial-politik, tetapi lebih kepada membicarakan BARAT. Tetapi Islam itu Timut-Tengah (ARAB) jelas nuansanya dan kekentalannya. Lebih gampang menyebut Barat daripada Kristen. Tetapi tidak segampang menyebut Arab tetapi bukan menyebut Islam.

Ada sebuah kebenaran dan keganjilan. Bisa jadi itu karena dominan Agama Kristen ada di Barat (Eropa dan AS), sementara dominan Agama Islam itu sebenarnya bukan di Arab (karena ada Indonesia, Turki dan Iran yang sangat besar dan kuat, dibanding Arab sendiri).

Barat

Mereka seakan sudah selesai membicarakan level 1 diskusi peradabannya. Hubungan antara Agama dan Negara, Agama diwilayah publik dan Privat, Otoritas Ulama, PERANG SAUDARA, perang dukungan ulama dan modernisasi sosial dll, dst.

Ummat Islam selalu dengan ENTENG mengatakan, Barat maju karena meninggalkan AGAMA-nya, sementara ISLAM mundur karena meninggalkan AGAMA-nya. Ini pemikiran picik dan keluar dari kebiasaan. Seakan kamu jelek total dan saya baik total.…Woooo.

Revolusi Kapitalis

Buku : Revolusi Kapitalis

Karena kasus-kasus itu, para Intelektual Muslim berusaha mencari elan-vital ISLAM untuk kemajuan peradaban Muslim. Bagaimana? Banyak tawaran-tawaran, yang kadang tidak menyelesaikan juga, jusru menimbulkan friksi-friksi. Contoh kasus purifikasi. Muhammad bin Abdul Wahab, yang dikatakan melakukan upaya-upaya dengan tujuan pembersihan dari tahayul. katanya. Tetapi nyatanya? Kadang itu bukan membawa keberkahan tetapi seakan menjadikan semua bid’ah dan keluar dari modernisme dan akal sehat (lihat sebagian fatwa-fatwa madzab Wahabi).

Baca : Kurikulum Agama di Saudi dikontrol oleh AS

Kita lihat Rusia dan Cina? Kalau kita pakai kacamata barat, maka negara itu pasti dikatakann jelek, tidak akan mampu membangun dengan baik, korup dst. Sebab kata mereka, Negara itu Komunis, Tidak beragama, Tidak Demoktaris dst. Tetapi nyatanya? Rusia sangat maju dalam hampir seluruh elemen sebanding dengan barat, kalau tidak boleh mengatakan mengunggulinya.

Peter Berger ahli Sosiologi-Modernitas (Barat) mengatakan : Dengan 20 tesisnya dalam buku, “Revolusi Kapitalis (LP3ES), “Mau Kapitalis atau Sosialis itu bukan patokan untuk sebuah kemajuan. Tetapi bagaimana apartus penunjangnya disiapkan atau tidak?”

Arab SPRINGS

Awalanya Barat memberikan headline berita-berita bahwa Arab melakukan geliat kemajuan politiknya dst (dengan sebutan Arab-Springs) nyatanya? MESIR kacau, LIBYA hancur lebur, SYURIA hancur lebur, IRAQ hancur belum lebur, YAMAN hancur. Mereka mau bahkan belum menyelesaiakan konfliknya, ditambah PR dengan Suku Kurdi (yang memberontak kepada Iran, Turki juga Iraq serta Syuria, untuk merdeka). Yaman ribut sendiri antara Utara dan Selatan.

Iran diupayakan dihancurkan tetapi tetap bertahan dengan baik. Karena pilihan kebijakan strategis dan politiknya (bukan urusan karena mereka Syiah atau Sunnah). Dikarenakan dikucilkan serta serangan Barat, maka mereka berkoalisi dengan Rusia (untuk pengembangan senjata dst). Berfikir rasional strategis-lah, serta kerjasama antara pemimpin dan rakyat yang menyebabkan mereka bertahan.

Arab Springs.jpgTurki (Erdogan) yang dulu dielu-eluka oleh kelompok Salafi di Indonesia, lebih berfikir rasional sekarang dengan mendekat ke koalisi Iran-Rusia-Cina (setelah kasus Qatar).

Bagaimana dengan Indonesia?

Sejak Pilkada 2014, gesekan untuk saling hantam sangat kuat, kelompok Radikal-Islam meningkat gerakannya (sebagian berkata karena kebijakan SBY yang “Zero-Enemy”). Jokowi berusaha menurunkan intensitas kaum radikal itu. Apakah sukses? Jelas butuh waktu dan menemui jalan-jalan terjal.

Baca : Radikalisme berkembang karena Kebijakan ‘Zero Enemy’ SBY

Diskusi kita masih berputar-putar antara Ideologi bangsa/negara dan agama, khilafah, syariat-Islam, pancasila (yang menyisakan kasus Eggi dan Franz Magnis tentang Penistaan Agama), Sunnah-Syiah-Wahabi dst.

Baca juga : Franz Magnis Suseno : 2 Kebodohan Eggi dan Penistaan Agama

Seringkali kita dengan gegabah mengatakan, “Mengapa lebih enak jamanku daripada jamanmu?” Dalam teori perusahaan atau kebijakan politik. Kalau mau enak jangan cari musuh dan buatlah kebijakan yang populis, maka akan disenangi banyak orang. Tetapi apakah itu baik dalam jangkan panjang?

Konon, saat Imam Ali bin Abi Thalib memimpin sebagai khalifah, banyak kekacauan dan peperangan. Lalu ada yang bertanya pada Imam Ali. “Ya Ali engkau adalah manusia yang paling bijak setelah Rasul saw, Engkau memiliki ilmu yang sangat luas dst, mengapa saat engkau menjadi pemimpin lebih kacau dibandingkan khalifah-khalifah sebelumnya”. Imam Ali tidak menjawab dengan menyalahkan lainnya, tetapi berkata, “Saat mereka menjadi khalifah, masyarakatnya seperti Aku, sementara saat Aku menjadi khalifah, masyarakatnya seperti-mu”. Orang itu lalu terdiam.

Tidak mudah langsung membandingkan kinerja satu dengan yang lain, tanpa melihat aparatus pendukung lainnya. Misalnya: Saat Imam Ali memimpin, kebijakan 6 tahun terakhir Usman bin Affan membuat terjadinya pemberontakan dan efeknya sampai kemana-mana dan sampai sekarang, sehingga saat itu terkenal dalam buku sejarah dengan ungkapan ” Ghamis Usman”.

Konon pertanyaan Teologi awal Islam: “Apakah orang Muslim yang melakukan kemaksiatan sangat tinggi itu Muslim atau Kafir?” Terlontar saat pemberontakan zaman Usman bin Affan. Sebab mereka ingin mendapatkan legitimasi untuk memberontak dan bahkan membunuh Usman bin Affan bila perlu, dan akhirnya Usman terbunuh saat pemberontakan itu.

Ada 3 jawaban yang muncul dengan pertanyaan itu. 3 Madzab teologi Islam  memberikan jawaban itu, a) Ada yang menjawab tetap ‘Muslim’ tetapi fasiq, b) Ada yang menjawab Kafir (Khawarij), dan c) Ada yang menjawab, “Tidak muslim tetapi juga tidak Kafir” (Madzab Mu’tazilah).

Dunia Barat dan ISLAM

Barat berfikir penelitian, berfikir kemajuan-kemajuan lainnya, berfikir kesejahteraan, kebahagiaan, bahkan mereka sudah sangat sadar kesehatan, kebahagiaan (bukan hanya material), kenikmatan, penderitaan. Mereka juga mengembangakan konsep-konsep keadilan, seperti konsep John Rawl dll). Bahkan mereka sudah berfikir hubungan Gen-Tuhan (pusat-pusat dalam otak yang memicu saat manusia berhubungan dengan yang supra-natural, religiositas serta Tuhan.

Sementara kita masih perang dan perang (di Timur Tengah), ribut urusan sunnah-syiah-wahabi, demo terhadap satu penceramah dengan penceramah lainnya, saling hujat, kecurigaan antar kelompok, mengurus hoax dan hate speech, serta lain-lainnya.

Bukan berarti barat baik total dan kita jelek total. Tetapi belajarlah dari mereka, sebab secara keagamaan mereka lebih tua dari kita yang pasti memiliki pengalaman yang bisa diambil.

Pengalaman itu guru yang terbaik, tetapi mengajarkan kita secara lambat. sementara Muslim itu adalah orang yang tidak terperosok kedua kalinya.

Dengan belajar pada mereka, maka pengalaman mereka bisa kita ambil, kesalahan-kesalahan kita hindari dst, sementara kebaikannya kita adopsi.

BUKAN MEREKA BAIK KITA JELEK, ATAU SEBALIKNYA.

Wallahu A’lam

Muhammad Alwi Pendidikan Positif
Edisi : #MerawatAkal

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s