Toleransi (Right to Differ)

Toleransi

Toleransi antar umat beragama dan antar Iman

Kalau kita mengacu pada wikipedia, maka makna toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Dalam wacana pemikiran, toleransi lebih kepada hak untuk berbeda, atau rights to differ, hak untuk berbeda. Ruang berbeda ini luas, tetapi biasanya terkait dengan soal keagamaan dan keyakinan. Prinsipnya, seluruh manusia diberi free space untuk merayakan perbedaan tersebut.

Dalam definisi yang generik ini, pihak yang menolak hak untuk berbeda atau ruang kebebasan bisa dikatakan sebagai orang yang intoleran. Pertanyaannya adalah apakah hak berbeda itu mengenal batasnya? Apakah seluruh perbedaan harus kita maklumkan? Lalu, apakah kita boleh asal beda dan sampai sejauh mana hal yang berbeda itu dianggap intoleran.

Hak itu berbenturan dengan Hak yang lain, artinya selama hak itu tidak mengganggu yang lain, maka seseorang dilarang memaksakan kehendaknya, ruang perbedaan. Bila itu dilakukan maka orang tersebut dikatakan intoleran.

SIKAP
Saat kita berbicara Toleraansi, maka disitu berhubungan dengan Sikap, rasa penilaian, enak-tidak enak serta preferensi (kecendrungan). Dan sikap itu banyak ditentukan oleh pola-pikir atau konsepsi manusia.

RADIKALISME DAN INTOLERAN.

Mendefinisikan Radikalisme tanpa konotasi yang negatif bukan hal yang mudah. Saat Pemikiran itu Radikal (saya artikan disini : Tidak mengenal kata abu-abu, salah-benar, hitam-putih seperti Matematika), claim kebenaran dan bersikap “memaspastikan”. Maka preferensi, kecendrungan untuk menjadi Intoleran akan meningkat. Bukan berarti orang yang keyakinannnya tinggi akan cenderung intoleran (bila keyakinan tinggi itu dibangun dengan pendalaman yang tinggi). Tetapi keyakinan tinggi (memastikan, hitam-putih) yang dimiliki orang secara umum, akan berkecendrungan menyalahkan orang lain, tidak memberikan ruang dan hak perbedaan. Sehingga mereka akan dengan serta merta mudah mengatakan sesat, syirik, bid’ah, munafiq, fasiq, zindiq, kafir dlsb.

Keyakinan akan Kelemahan sebagai Subjek
Ada 2 hal yang menyebabkan kita menjadi toleran dan sebaliknya.

1) Saat kita sadari apa dan bagaimana kebenaran itu, lalu bobot tertentu kebenaran itu akhirnya kita yakini sebagai iman.

A) Bagaimana proses itu berlangsung : mulai dari masuk ke telinga (lewat mendengar), lewat mata (dengan membaca) dst. Lalu itu diproses oleh otak, sebagian dilupakan sebagian disimpan (yang menarik, yang ada bobot emosionalnya cenderung diingat dst). lalu bagaimana iman itu naik-turun bahkan copot/berganti. Kesadaran akan proses ini akan membuat kita cenderung toleran. Tidak seperti teks-teks yang banyak disampaikan. “Kebenaran itu milik dan dari Allah, yang mau ikut silahkan yang tidak silahkan”.

B) Bagaimana kita sebagai subjek yang menyadari. Subjek yang dipengaruhi oleh didikan saat kecil, lingkungan, menyejarah dst. itu semua mempengaruhi proses penerimaan informasi kebenaran yang nantinya menjadi iman kita.

Baca Juga : TOLERANSI DALAM AL QUR’AN 

C) Bagaimana kita sadar bahwa banyak buku yang belum kita fahami, kita jamah, kita tahu dan pelajari, juga banyak buku sejarah, hasit, tafsir dll yang memang berbeda-beda satu dengan yang lain, dst.

Dari hal-hal diatas, maka “memastikan”, maka berfikir benar-salah akan berkurang intensitasnya. Dengan itu semua kita akan lebih memiliki sikap untuk membiarkan orang lain berbeda dengan kita (Sikap Toleransi).

Ada sebagian kita menggunakan dalil dengan berkata; “Islam juga memastikan dirinya benar, dan menyalahkan ajaran yang lain saat kelahirannya (menyalahkan Kristen, Yahudi juga kaum musyrikin Jahilliyah).” Ini sebuah bukti bahwa cara berfikir ini atau teks ini adalah teks “memastikan”. Mengapa yang digunakan adalah “Islam” (Sebuah kepastian kebenaran diyakini), sementara ke-Ilaman kita, Madzab/Manhaj kita adalah pemahaman Islam yang itu diperoleh, kelola dari pemahamannya sendiri (sebagai manusia, subjek dst…dst….yang terikat dengan no 1 diatas).

Baca Juga : KERJA IMAN, KEYAKINAN-SPIRITUALITAS DALAM OTAK KITA (1)

2) Bagaimana konsepsi sebuah ajaran tidak dari sononya memang cenderung menafikan kelompok lain. Ajaran yang kental dengan “pemurnian”, maka secara konsepsi ajaran itu memiliki preferensi/kecendrungan untuk intoleran. Walaupun bukan sebuah kemestian bahwa yang menganut ajaran purifikasi adalah intoleran.

Tetapi karena misi-visi ajaran itu adalah memurnikan, maka sedikit atau banyak cenderung menohok kelompok lain sebagai salah, kotor, penuh dengan kesesatan, kebengkokan yang harus dibenarkan, dibersihkan, dihilangkan kesesatannya dst.

Bila kelompok ajaran purifikasi ini memahami bagaimana yang pertama (1), maka ia akan sedikit banyak mengendur, dan memiliki sikap/kecendrungan untuk membiarkan yang lainnya (sikap toleran).

Bahkan bila mereka juga sadar bahwa antar ajaran purifikasi, saling juga menyalahkan karena kecendrungan “memastikan”, maka mereka akan sadar bahwa sikap toleran mesti dan wajib dibangun.

Bagaimana menurut anda?

Muhammad Alwi Pendidikan Positif

Edisi : #MerawatAkal

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s