Mengapa Perlu Pendidikan dan Sekolah Positif?

martin seligman oke

Martin Seligmant, Directur APA (American Psychological Association (APA) dan penggagas Psikologi Positif.

Setiap memasuki ajaran baru…sekolah disibukkan dengan PSB (penerimaan siswa baru), mulai dari penyiapan ruang kelas, jadwal pelajaran, test masuk anak-anak, masa orientasi (MOS), buku-buku paket, silabus dst, dst. Para orang tua disibukkan dengan yang lain; mempersiapkan putra-putrinya memasuki jenjang pendidikan berikutnya (SD, SMP, SMA atau PT). Persiapan ini dimulai dari pakaian seragam, sepatu, peralatan tulis hingga pernak-pernik keperluan sekolah lainnya. Yang tak luput juga lest-lest bimbingan sebelumnya. Namun terkadang kita (Sekolah dan Para Wali-murid) melupakan hakikat dan pertanyaan tentang bersekolah yang sebenarnya. Pernahkah secara serius kita (para wali murid) juga sekolah menanyakan, apa yang bapak ibu inginkan dari sekolah ini, sehingga bapak ibu menitipkan anak-nya disini?

Marilah kita bertanya pada semua orang tua yang menitipkan dan mempercayakan anaknya kepada lembaga pendidikan (termasuk kita sendiri, seandainya kita adalah guru, staff sekolah, dosen pergurun tinggi yang sekaligus wali murid, orang tua)?

Setiap lembaga mestinya untuk mencapai idealism tujuannya dan juga sukses dalam persaingan, maka perlu dan harus memuaskan pelanggan, customer satisfaction. Artinya adalah, apa yang semestinya diharap oleh para customer (wali murid) dan idealism kita, itulah yang semestinya kita upayakan dan kita berikan dalam pelayanan proses pendidikan dan pengajaran di lembaga kita.

Siar Positive 1

Acara Bedah Buku dan Seminar buku “Sekolah dan Pendidikan Positif” di Bank Mandiri Jakarta

Pertanyaan yang mesti kita ajukan, saat pendaftaran murid baru (PSB) Kepada Wali Murid adalah; “Dalam satu atau dua kata, apa yang paling anda inginkan untuk anak-anak Anda setelah selesai mendapatkan pendidikan disekolah ini? Jawaban dari para wali-murid itu secara umum dapat dibagi atau dikategorikan menjadi dua bagian yaitu; 1) Kebahagiaan, Kepercayaan, Kepuasan, Pemenuhan, Keseimbangan, Kebaikan, Kesehatan, Kepuasan , love, menjadi beradab, dst. Jawaban-jawaban itu, dapat kita kategorikan sebagai jawaban, “Kesejahteraan adalah prioritas yang diinginkan” untuk anak-anak mereka.

Jawab kedua adalah, Ingin berprestasi, keterampilan berpikir, sukses, kesesuaian, mampu matematika, siap bekerja, disiplin, diterima di PTN atau sekolah lanjut yang favorit dst. Secara singkat jawaban itu adalah “Bagaimana untuk berhasil di tempat kerja kedepan sebagai prioritas”, untuk anak-anak mereka.

Kedua jawaban dan keinginan para wali-murid itu adalah hal yang tumpang tindih, tidak ada wali-murid, para orang tua yang hanya menginginkan satu diantara dua. Hanya penekanan dan kepekaan yang satu dengan yang lain agak berbeda. Pertanyaannya adalah; Mungkinkah sekolah-sekolah kita mengintegrasikan keduanya sekaligus? Bagaimana meraih keduanya? Apakah sekolah-sekolah saat ini sudah mengarah kesana? Kalau belum mengapa? Kalau sudah apa tolok ukur dan bukti-buktinya?

Berdasarkan dari bekal penelitian dan diarahkan dalam dunia pendidikan, Martin Seligman E.P, yang dianggap Freud Abad 21, Directur APA (American Psychological Association (APA), Penggagas Psychology positive dan Positive Education dalam salah satu tulisannya di Oxford Review Education: Vol. 35, No 3, Juni 2009, hlm 293-311, “Positive Education: Positive Psychology and Classroom intervention”, mengatakan; Sekarang sangat dibutuhkan PENDIDIKAN POSITIF, sejalan dengan Psikologi Positif. Dimana Psikologi Positif bukan psikologi untuk menyembuhkan tetapi psikologi untuk melihat dan menghasilkan manusia-manusia unggul.

Baca juga: Apa itu Psychology Positive dan Mengapa sangat diperlukan di sekolah?

Pendidikan Positif didefinisikan sebagai pendidikan yang mengajarkan atau bertujuan untuk kedua keterampilan sekaligus yaitu Keterampilan Tradisional (Skill of Acheivement) dan Keterampilan Mencapai Kebahagiaan (Skill of Will-Being).

Dalam bahasa buku saya, ini sama dengan bagaimana “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses” (Diterbitkan Elexmedia-Gramedia, 2011). Mengapa ini diperlukan? Banyak bukti-bukti empiris yang mendukung ini semua seperti;

1) Prevalensi tinggi di seluruh dunia depresi di kalangan anak muda,
2) bukti empiris dari berbagai penelitian didunia bahwa hanya ada kenaikan kecil dalam kepuasan hidup (artinya secara ekonomi masyarakat kita utamanya Negara-negara maju naik, tapi indeks kepuasan hidup hanya sedikit sekali peningkatannya) dan
3) sinergi antara belajar dan emosi positif semua berpendapat bahwa banyak bukti substansial dari sumber studi-studi terkontrol bahwa keterampilan ini bila dimiliki akan meningkatkan ketahanan, emosi positif, keterlibatan dan makna. Dan bila keterampilam emosi ini dapat diajarkan untuk anak sekolah, akan membawa tingkat sukses lebih (sekadar refensi, bisa dilihat di buku Daniel Goleman, Emotional Question, juga Working with Emotional Intelligence dll, Atau buku Martin Seligman, Authentic Happiness, dll)

Thomas Lickona.JPG

Thomas Lickona

Untuk di Indonesia kebutuhan akan “Pendidikan Positif”, sangat penting dan mendesak sekali. Sebab kita lihat ucapan Thomas Lickona yang mengatakan; Ada 10 Tanda Kemunduran suatu Bangsa yaitu;

Baca juga : Mengapa Perlu Pendidikan dan Sekolah Positif?

1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja.
2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk,
3) Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan,
4) Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas dan alkohol,
5) Kaburnya pedoman moral baik dan buruk,
6) Penurunan etos kerja,
7) Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru,
8) Rendahnya rasa tanggungjawab baik sebagai individu dan warganegara,
9) Ketidakjujuran yang telah membudaya,
10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.
Bangsa kita, Secara sangat kasat mata memiliki ke 10 tanda-tanda itu dengan sangat serius.

Berlanjut………

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s