Sekolah, Ilmu, Kaya, Sukses dan Bahagia?

10 Tokoh Tanpa Ijazah

10 Tokoh Hebat Indonesia tanpa Ijazah

Gambar diatas beberapa contoh orang-orang yang sukses tanpa memiliki ijazah formal dari lembaga pendidikan tinggi.  Demikian juga Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, hanya tamat SMP, namun sukses sebagai pengusaha, kaya raya, dan kini menjadi petinggi negara, menyisihkan orang-orang “pintar”.

Pertanyaannya dan kesimpulan liarnya adalah “tak perlu lagi sekolah tinggi, toh tamatan SMP saja bisa jadi menteri”, benarkah seperti itu? Sebenarnya kita tak perlu kaget. Presiden Seoharto hanya tamatan SD, Megawati bukan sarjana, hanya setingkat SMA. Gus Dur pun tak pernah menamatkan sekolah. Jadi, bagaimana sebenarnya arti penting sekolah itu?

Pertama harus saya tegaskan bahwa orang sukses itu adalah orang berilmu. Itu sebuah kepastian. Tidak ada orang yang sukses karena kebetulan, atau keajaiban. Habibie sukses sebagai ahli rancang bangun pesawat terbang, karena dia punya ilmu tentangnya. Rudi Chaerudin sukses sebagai chef, karena ia punya ilmu tata boga. Rudy Hartono punya ilmu tentang bulu tangkis. Rudi Hadisuwarno adalah orang berilmu dalam hal tata rias rambut, dst.

Baca juga : 10 Tokoh Hebat Indonesia Tanpa Ijazah

Bagaimana mendapatkan ilmu? Ilmu bisa didapatkan dari mana saja. Sekolah adalah bentuk formal dari proses mendapatkan ilmu dari orang lain. Pengetahuan yang diajarkan di sekolah adalah kumpulan pengetahuan yang diperoleh oleh ratusan bahkan ribuan orang selama berabad-abad, yang dirangkum secara terstruktur, kemudian diajarkan.

Baca : Sukses Sekolah Antara “Kemasan” dan “Isi”

Pengetahuan yang diajarkan di sekolah sifatnya dasar dan umum. Sekolah kejuruan mengajarkan pengetahuan yang sifatnya agak lebih khusus. Di jenjang universitas, orang belajar tentang hal-hal yang lebih khusus. Untuk tujuan itu universitas dibagi menjadi fakultas dan jurusan. Pada tingkat yang lebih tinggi lagi, orang akan belajar tentang suatu bidang yang sempit tapi mendalam.

Baca : Apa itu Bahagia dan Kesuksesan Sejati?

Sekolah formal bukan satu-satunya jalan untuk mendapatkan ilmu. Orang bisa belajar langsung kepada seseorang yang ahli. Keahlian di bidang olah raga, misalnya, banyak yang diperoleh orang melalui cara ini. Demikian pula keahlian memasak, seni, serta agama. Tentu saja sekolah formal di bidang-bidang tersebut juga ada. Cara lain untuk mendapat ilmu adalah dengan meramunya dari pengalaman kita sendiri. Susi dan Soeharto adalah contoh orang berilmu yang mendapatkan ilmunya dari pengalaman di lapangan.

Baca : ANAK CERDAS BAHAGIA DI SEKOLAH YANG BAIK, DI SEKOLAH POSITIF

Ilmu yang diperoleh dengan cara ini kadang kala bisa mengalahkan ilmu yang diperoleh orang melalui jalur formal, melampaui kemampuan seorang doktor sekalipun.

Baca : Learn, UnLearn dan Relearn (Belajar Positif)

Kita kembali ke pertanyaan, untuk apa sekolah?

Sekolah adalah cara yang umum untuk mendapatkan ilmu. Umum artinya banyak orang melakukannya, dan banyak yang berhasil dengan cara itu. Namun sekolah bukan satu-satunya cara.

Menempuh jalur umum artinya berjalan bersama orang-orang lain. Sedangkan yang tidak sekolah artinya menempuh jalan yang disukai. Tapi ingat, menempuh jalan sendiri dalam belajar adalah hal yang berbeda dengan lari dari pelajaran. Banyak orang yang berhenti sekolah bukan untuk mencari ilmu dengan jalan sendiri, tapi sekedar lari dari pelajaran.

Ada beberapa bidang yang mengharuskan seseorang belajar di sekolah formal. Dokter, pengacara, pilot, ilmuwan, akuntan, polisi, tentara, dan lain-lain adalah contohnya. Tanpa ijazah formal mustahil untuk memasuki bidang tersebut.

Jadi, mau sekolah atau tidak adalah juga soal pilihan berdasarkan jalan profesi yang hendak ditempuh oleh seseorang. Jadi, bila kita tegaskan, untuk apa sekolah?

Pertama, untuk mendapatkan ilmu melalui jalur yang umum, jalur yang ditempuh oleh banyak orang.

Kedua, untuk mendapat ilmu sebagai bekal untuk menekuni profesi tertentu. Di luar dua alasan itu, orang tak perlu sekolah.

Jadi sukses tidak mutlak mengharuskan sekolah (tinggi) sebagai syaratnya. Hanya saja kebanyakan orang sukses setelah melalui seperangkat proses pendidikan formal melalui sekolah.

Hal terakhir yang ingin saya tekankan bahwa sukses tidak sama dengan kaya. Tidak semua orang sukses itu kaya. Kaya bukanlah ukuran kesuksesan. Kaya hanya efek samping dari kesuksesan.

Sukses bagi saya adalah seseorang yang menjalani hidup pada suatu bidang keahlian, ia menikmati jalan itu, dan orang-orang di sekitarnya mendapat manfaat dari apa yang ia kerjakan.

Banyak orang yang menjalani hidup pada tingkat ini, tapi tidak kaya. Sebagai contoh, saya punya kenalan seorang wartawan yang sangat dihormati baik di kalangan profesi wartawan maupun di luar lingkungan itu, tapi ia sama sekali bukan orang yang kaya harta.

Sebaliknya kita mengenal para penjarah uang negara yang kaya raya, tentu kita tak akan menyebut mereka sebagai orang sukses. Satu hal lagi. Sukses bukanlah terminal akhir. Sukses adalah perjalanan melalui berbagai terminal. Orang sukses menikmati perjalanan dari satu terminal ke terminal lain. Termasuk dalam perjalanan itu adalah keadaan jatuh dan bangun, menanjak dan menurun. Orang yang memaknai sukses dengan ukuran pencapaian di titik cemerlang belaka adalah orang yang memaknai sukses secara dangkal.

(Diadopt dari Hasanudin Abdurakhnab/Kompas/@pendidikanpositif)

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s