Sukses Sekolah Antara “Kemasan” dan “Isi”

Sekolah Sukses Kemasan.jpg

Sekolah Sukses antara Kemasan dan Isi

Kesuksesan sekolah, mestinya kita lihat secara bersama-sama antara; Murid, guru, orang tua, dinas pendidikan dan masyarakat. Apakah sekolah itu sudah memenuhi standart kepuasan atau belum. Sebab standarisasi lulusan, standarisasi proses yang menjadikan hasil pendidikan adalah tanggung jawab kita semua.Pendidikan kita dewasa ini jauh dari idealism diatas; pendidikan seakan jomlang sebelah, dimana ‘olah rasa’ (akhlaq, agama, karakter) sangat-sangat kurang diperhatikan. Kita bisa simak minimal secara kasat mata, adalah prosentase pembelajaran disekolah untuk ilmu-ilmu olah rasa (agama, akhlaq atau sastra). Semestinya harus ada perimbangan antara keinginan memampukan anak untuk hal-hal yang akali (sain) dengan ilmu lain (agama/akhlaq).

Disamping itu fenomena yang lebih memprihatinkan adalah “trand kemasan”. Artinya adalah kemasan dibuat semenarik mungkin untuk “sukses”, sementara mengurangi konten atau isinya.

Kita lihat sekolah-sekolah yang cukup “maju”. dikarenakan kemasan oke, intertain bagus, kerja entrepreneur oke, blow-up bagus, akhirnya ‘terkesan’ sekolah-sekolah itu hebat. Maka orang berbondong-bondong masuk kesekolah-sekolah seperti itu. Oleh karena animo masyarakat untuk mendaftarkan kesekolah-sekolah seperti itu bagus. Maka kemudia sekolah tersebut akhirnya mampu menseleksi murid-muridnya.

Ambil contoh yang mendaftar sampai 1000 orang, lalu yang diterima (daya tampung) hanya 300 orang. Sekolah seperti itu mampu untuk mendapatkan in-put yang bagus. Jelas out-put ‘secara’ umum sekolah seperti ini menjadi bagus. Walau prosesnya hanya rata-rata, bahkan kurang.

Dan yang menjadi masalah lain adalah, tidak sedikit sekolah seperti ini, ‘kemasan’ itulah yang jadi penekanan dalam kebijakan sekolah (walau bukan total).

Lebih banyak membuat acara-acara intertain, lomba, blow-up untuk terlihat gemerlap, yang itu akan membuat kesan wah. Padahal tolok ukur keberhasilan sekolah, semestinya adalah perbandingan antara potensi yang mereka punya dan aktualita. Artinya apakah sekolah mampu mengantarkan anak didik menuju aktualisasi potensi-potensi yang mereka miliki?.

Pendidikan seperti ini agak sulit terlihat oleh masyarakat umum, kecuali dalam jangka panjang. Sebab karena in-put bagus (bukan karena memang sekolah itu “bagus”, tetapi karena kemasan), maka out-put pasti “agak bagus”, walau prosesnya “agak jelek”.

Tren pendidikan seperti ini sekarang marak di Negara kita. Lihat saja keinginan nilai UAN tinggi. Walau semua tahu, itu bukan tolok ukur keberhasilan sekolah semestinya. Bahkan yang lebih aneh, bersaing untuk mendapat UAN tinggi dengan “kurang jujur”, dan bangga atau dibanggakan oleh Dinas Pendidikan setempat, dijadikan standart sekolah sukses, dipampang di baliho sekolah karena keberhasilan UAN dst.

Ada yang lain lagi yaitu tren SBI (sekolah bertaraf international) dengan Cambridge Certificate. Semua sekolah berlomba kesana, bukan mengejar konten (karena ‘hampir tidak ada’ sekolah SBI yang betul-betul SBI). Tetapi itu sarana blow-up sekolah, sarana gagah-gagah-an sebagai sekolah hebat. Bahkan ada sekolah yang menempel SBI, padahal sama sekali tidak SBI…..

Mestinya kita para guru, pendidik, dan wali murid yang masih peduli dengan idealisme pendidikan harus mulai mengupayakan. Memperbesar konten daripada kemasan. Bukan berarti kemasan tidak perlu. Artinya kita harus melihat sekolah-sekolah kita dalam dua sisi keberhasilan yaitu;

Pertama keberhasilan entrepreneur, intertain dengan tolok ukur, diingat masyarakat, disukai masyarakat dengan pendaftar makin banyak, penghasilan (ROI) bagus, juara lomba-lomba (bukan karena pembinaan, tetapi hasil dari in-put masuk) dan

Kedua, keberhasilan proses; dimana tolok ukurnya adalah keberhasilan mengantar anak-anak ke sekolah terbaik jenjang diatasnya (SMP favorit, SMA favorit, SPMB, PMDK dst, karena semua ini test dan bersaing), juara lomba-lomba baik sain, sastra, olah raga dll (karena pembinaan, karena persaingan sehat dst), pembangunan karakter yang bagus, dst.

Kita pendidik, guru, wali murid, yayasan, Dinas mestinya sudah mulai melangkah kearah sana, apabila kita tidak ingin pendidikan kita tergerogoti oleh budaya instans, budaya kemasan, dan budaya polesan. (Pendidikan Positif/MA).

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s