ISLAMISASI KARTINI?

KartiniSekarang Indonesia lagi dirundung Islamisasi-Simbol. Semua ingin di Syariatisasi dan semua ingin di Islamisasi.

Saya dulu pernah berkata dengan nada nyindir-ilmiah. Daripada Islamisasi-Ilmu mengapa TIDAK Ilmuisasi-Islam? Sebab Ilmu itu selalu open-mind walaupun tidak bebas nilai, kalau kamu bisa buktikan aku salah ya..salah kalau benar ya benar dst.

Dengan Ilmuiasi-Islam maka walaupun Islam sebagai Agama (yang tidak semuanya Rasional-Objektif), tetapi Objektivasi Islam makin naik. Islam tidak dianggap sebagai Agama un sich tetapi sebagai rahmatan lil aalamien dan siap diuji dengan sekeras apapun termasuk Falsifikasi ala K Raymond Popper pastinya.

Mengapa sekali lagi Syariatisasi dan Islamisasi bukan objektivasi? Keperluan Objektivasi menurut saya lebih urgen dari pada sekadar Islamisasi dan Syariatisasi. Ingat sebelum salah Rasional-Objektif (Objektivasi) itu Islami…bahkan itu yang dituju oleh Islam.

Islam itu Hudan, petunjuk buat hidup “sukses” dunia akhirat…..jadi pasti objektif-rasioanal (tidak mesti materialisme).

Kembali ke KARTINI.

Kemarin tanggal 21 April diperingati hari Kartini, anak-anak berkebaya, konde….dengan ala…ala daerah masing-masing dan yang besar berhijab (bagi yang yakin).

Bererapa tahun ini ramai dibicarakan…..dan ditanyakan…?

Apakah Kartini layak disebut Pahlawan Nasional? Padahal ada Cut Nyak Din dll? Padahal dia hanya curhat ke temannya di Belanda?

Apakah Kartini yang sekadar seperti itu, hanya menjadi Istri ke 2 atau ke 3 demang dst…pantas dijadikan Pahlawan Nasional? Dst..dst.

Alasan pertanyaan-pertanyaan itu, dan seterusnya sangat terlihat dimulai dari upaya mencari sosok lebih Islami dari Kartini dst. Bahkan sekarang ini ada yang berkata…..Kartini itu Muslimah dan berhijab dulu….karang-karangan Belanda saja sehingga gambar-gambar Kartini seperti sekarang ini.

Saya pingin ketawa melihatnya, saya ingin ketawa sambil jengkel melihat argumentasi yang disampaikan. Mungkin inilah perlunya belajar ISLAM NUSANTARA.

Memang problem kalau sebuah argumentasi, sebuah jargon dibalut dengan “agama”, dibalut dengan emosi dan kepercayaan. Sebab dengan itu yang disentuh adalah otak limbik dan otak reptile. Otak berfikir (neo-kortex) agak terpinggirkan. Islamisasi Kartini diterima bukan karena “Benar” tetapi lebih sesuai selera, sesuai tipe ideal dan angan-angan mereka. Ini sebuah Mitos meminjam istilahnya Arkoun.

APA ITU ISLAM NUSANTARA?

Islam Nusantara Hijab.jpgMenurut saya, Islam Nusantara adalah upaya penegasan. Ini kami, ini yg kami pilih, ini yg kami kedepankan (dan ini yg sebenarnya). Dari sekian banyak wajah dalam Agama Islam.

1) Epistemologinya: Pertanyaan mana yang benar dan Salah? Disini dipertanyakan Mana Wajah Islam yg Benar dan sebenarnya? Sebab banyak wujud Islam saat ini yang justru bukan Islam dan dianggap seakan itulah Islam. Kekerasan, Polemik Madzab (Sunnah-Syiah-Wahabi), Fenomena ISIS, Khilafah Islam, dll.

2) Pertanyaan Axiology: Yg benar secara Epistemologis, maka akan menghasilkan yg baik. Islam adalah Rahmatan lil aalamin. Bukan Islam yang menafikkan yang lain, mudah mengkafirkan, menegasikan, seram dst. Islam itu Indah, damai dst.

3) Pragmatisme. Pertanyaan kebergunaan, manfaat. Dengan ke dua diatas (Epistemology dan Axiology), maka Islam akan dan pasti bisa toleran, bersatu, tidak jumud dan berkemadjoean. Tidak takfiri, perang dan perang dan saling menegasikan. Dengan itu kemajuan Islam, pembangunan dll sangat mungkin dilakukan. Karena tidak saling men-cancel satu dengan yang lain. Baca juga : Apa itu Islam Nusantara

Saat melihat itu semua, dan melihat fenomena Islam saat itu, maka “kebaya dengan kerudung seadanya” itulah pakaian wanita muslimah saat itu. Muslimah 50tahunan yang lalu tidak kenal Hijab dan Hijab Syar’i ala sekarang ini. Gaya mereka sangat mirip seperti “orang-orang perempuan Islam didesa-desa” saat ini.

Islam Nusantara 2.jpg

Menantu KH. Hasyim Asy’ari

Itu berlaku buat NU maupun Muhammadiyah. Untuk sekadar pembuktian fakta-sejarah, marilah kita telusuri gambar-gambar Istri-istri atau minimal anak-anak representasi ulama-ulama dilu seperti Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari juga para Istri tokoh-tokoh Habaib tempo dulu.

Lihat gambar-gambar :
Menantu KH. Hasyim Asy’ari, Pengurus Tebu-Ireng, Keluarga Besar KH. Ahmad Dahlan, Kartini.

Inilah gambar-gambar Kerudung dan Hijab Muslimah Indonesia dahulu.  Apakah mereka salah? Karena tidak sama dengan selera kita dan pemahaman kita saat ini?Apakah suami-suami mereka tidak mengerti Syariat?
Jawabnya jelas tidak….Lalu?

Kita mungkin bisa mendiskusikan mengapa Kartini bukan yang lain, tetapi kita tidak bisa “memaksakan”, melakukan “pembodohan” dengan niatan baik untuk Islamisasi dan Syariatisasi sesuai dengan selera kita.

Keluarga Besar Ahmad Dahlan 1961.png

Keluarga Besar K.H. Admad Dahlan

Agama tidak dapat dipahami dengan “benar” tanpa Ilmu Agama. Ilmu Tafsir, Ilmu Hadist, Ilmu Bahasa, Gramatika juga Ilmu Sejarah. Semua ini tidak bebas nilai.

Kalau klaim kita ingin Islamisasi Ilmu Pengetahuan karena Ilmu itu tidak bebas Nilai. Mengapa tidak dilakukan Islamisasi Ilmu-ilmu yang membahas Islam?

Lalu…..Lalu….?? Marilah kita mempertanyakan diri kita sendiri. Bagaimana Kartini saat itu? Marilah kita #MerawatAkal

Muhammad Alwi Pendidikan Positif

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama, Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s