Generasi Gorengan, Politik dan Strata Masyarakat

Gorengan

Generasi Gorengan

Dalam perdebatan dunia, maka konsep Demokrasi walaupun bukan tanpa ‘cacat’ memenangkan pentas. Negara Agama dan Komunis harus terjungkal walaupun tetap mengintip diangan-angan. Modifikasi Teokrasi-Demokrasi Islam seperti di Iran dengan konsep Wilayah Faqih yang itu dicita-citakan mungkin oleh Islamis dan aktivis Sunny lainnya (secara konsep pernah dielabosari dengan baik oleh Abul A’la al Maudhudi) tidak kunjung mendapatkan prototipe-nya. Saudi jauh dari konsep juga praktek ideal Islam (hanya simbol Haramain yang dimilikinya), karenanya tidak ada Islamis dan aktivis Islam yang bercita-cita mendirikan negara seperti Saudi.

Demokrasi itu egaliter dan paling rasional dibandingkan lainnya. Walaupun kita bisa bertanya…apakah masuk akal “one man one vote”? Sehingga tukang becak sama suaranya dengan seorang ulama atau profesor?

Strata Masyarakat

Strata Masyarakat

Strata Masyarakat

Dimanapun didunia ini ‘umumnya’ ada 3 strata masyarakat secara sederhana. 1 elit (10%), Menengah (25%) dan Bawah (65%). Artinya apa? Artinya suara mayoritas ada ditangan Rakyat dan rakyat disini adalah Rakyat Awam.

Jadi secara guyonan kita bisa mengatakan dengan sarkasme, “DPR adalah perwakilan orang-orang awam di Indonesia”. Dia terpilih dan menang gara-gara awam memilihnya.

Pertanyaannya : Mungkinkah mereka akan “BERKUALITAS”? Menang dan terpilih karena disetujui, di vote oleh awam (secara umum). Jadi jangan heran kalau DPR kualitasnya seperti itu…..?? Ini sebuah Pertanyaan.

Lihatlah Sejarah…Partai Elit semacam PSI (dulu) gulung tikar…walaupun dimasuki oleh kelompok prokomunis tetapi tdak lama. Partai-partia selanjutnya seperti Masyumi, NU, PKI dll lebh banyak suaranya….Mengapa?

Keawaman

Karena mayoritas adalah awam, maka elit partai wajib merebut hati mereka….memberikan tawaran-tawaran yang cocok pada mereka, mengangkat isu mereka dan yang lebih penting lagi berbicara dengan bahasa mereka dan difahami oleh mereka. Bukan benar dan salah….Politik itu KEKUASAAN. Ada jargon Politisi boleh bohong tetapi tidak boleh salah, berbeda dengan peneliti…yang boleh salah tetapi tidak boleh bohong”

Disinilah maka : Bagi-bagi Sembako, pertunjukan Dangdut, dan lainnya berjalan. termasuk politisi masjid dan isu SARA.

Sekadar pendekatan, contoh diatas : “Tidak masuk akal demokrasi itu”, “Demokrasi itu tidak Islami sebab, apa mungkin one man one vote”? Sehingga 1 tukang becak sama dengan profesor atau ulama dalam menentukan nasib sebuah negara?

Awam akan mudah menerima ini….karena untuk menjawabnya butuh argumentasi tambahan dan perbendaharaan intelektual yang mendengarnya. Awam sulit diajak bicara itu. Dan banyak serta sangat banyak….hal-hal yang lebih mudah diterima awam sebab untuk memahaminya yang lebih tinggi butuh kelas menengah atau elit.

Disinilah Kampanye, Pencitraan, Bully, Meme, bahkan Hoax dilakukan demi memenangkan hati “awam”. Masyarakat kelas awam atau bawah tidak mendengar argumentasi sanggahan, mencari informasi lain dan rentetan logis dan sebagainya. Apa yang diterimanya, instan dan ditangannya itulah yang dimakan. Istilah saya dulu adalah “generasi gorengan”.

Ada 4 ciri Generasi ‘Gorengan’.

Generasi ‘Goreng’ adalah generasi yang melihat dan mengkonsumsi sebuah realitas, instan, tidak didalami duduk masalahnya, memberikan komentar bernada sinis/memuji, dan menghubung-hubungkan dengan stigma dan agitan masa lalu yang positif atau negatif.

1) ‘Gorengan’ adalah sebuah makanan atau jajanan, yang banyak dimakan anak-anak kost. Makanan itu tidak cukup dipikirkan tentang kualitasnya, yang penting murah, ada didepan mata dan kuantitas serta mengenyangkan perut.

2) Gorengan itu, ada dimana-mana, bukan di resto atau ditempat yang ‘bagus’. Mudah didapat, tidak banyak usaha (waktu, uang juga lainnya).

3) Pembuatannya Gorengan itu Instan. Tidak perlu kecanggihan berfikir, semua orang bisa, hanya butuh modal sedikit (tidak perlu kepakaran, kulaih doktoral apalagi sampai ke luar negeri, dst).

4) Gorengan itu, agak kurang sehat. Baik secara fisik, tetapi karena yang mengkonsumsi umum, anak kost, pemuda, alay saja, serta belum berfikir asupan ruhani dan fikiran yang lebih berkualitas. Berbeda dengan orang-orang yang sudah berumah tangga, umur 40 keatas, yang sudah waktunya berrefleksi dst.

Siapa yang suka gorengan? Masyarakat awam, kurang piknik. Dan bila masyarakat banyak mengkonsumsi ‘gorengan’ (artinya mereka bukan elit/menengah), bisa jadi kurang Piknik…dst.

Generasi Gorengan disini :
https://pendidikanpositif.com/…/generasi-gorengan-radikali…/

Bahaya Virus Kurang Piknik disini
https://www.facebook.com/muhammad.alwi.311/posts/10210968230392243

Pertanyaannya

Apakah kita hanya ingin menang? Dan senang dengan mengecoh lawan, melakukan manuver diskusi di media, memberikan isu-isu murahan bahkan hoax demi memanangkan kontestan dan politik? Bahkan bagi-bagi gorengan pada masyarakat pengkonsumsinya?

Kalau kedua kubu bahkan berkubu-kubu itu melakukan hal “kejelekan yang sama” apa yang kita lakukan?

Sayang memahami bahwa semua kubu melakukan manuver-manuver murahan itu sulit diterima oleh awam…..sebab mereka “tidak sampai kesana” dan para pemain (kemarin Jendral Gatot dan pak Amien dengan “Partai Allah dan Partai Setan”) dan lain-lain juga melakukan hal-hal semacam itu dengan gradasi…tingkat absurditasnya.

Tentang Jendral Gatot Nurmantyo disini :
https://www.facebook.com/muhammad.alwi.311/posts/10210959686138642

Tentang Pak Amien {Partai Allah dan Partai Setan) disini
https://www.facebook.com/muhammad.alwi.311/posts/10210847046442720

Semua kubu sudah memiliki pakarnya, team survey-nya, jargon-jargonnya, informasi serangan-serangan dan tangkisannya, meme-meme-nya bahkan termasuk reproduksi hoax-nya.

Apakah Jokowi dan Prabowo bukan kurang lebih sama? Sama-sama ‘tidak jelas’ bila dilihat dari kaca-mata Islami….juga dari kaca mata lainnya?
Apakah poros tengah….ada? Siapa dan malah jangan-jangan makin tidak jelas…..kecuali urusan bagi-bagi kue yang tidak diberikan.
Apakah ini buka hanya bagi-bagi kue kekuasaan? PKS minta wapres ke Prabowo, Cak Imin ke Jokowi, PAN belum jelas minta apa….Demokrat nunggu diajak….dan mengambil celah dst..dst.

# Kritik terhadap negara perlu…nyinyir jangan.
# Kritik terhadap Presiden perlu….Mempermalukan, menghina Jangan….
# Penyadaran Politik di Masjid Perlu….Politik Praktis dan Kampanye Jangan.

Kita wajib memilih pemimpin yang peduli terhadap Islam, peduli dan cinta ulama….sah dilakukan dimasjid. Sebab ini PENYADARAN.

Ganti Presiden 2019….dimasjid. Ini tidak boleh ini PRAKTIS. Sebab pengunjung masjid ada PDI-P, Nasdem, Golkar, PKS, Gerindra, PAN, PPP dll.

Lalu…..apakah kita akan ingin menang dengan itu?
Lalu apakah politik ini masih suci, sehingga perlu disandingkan dengan agama bahkan masjid??
Lalu apakah layak kita bermusuh-musuhan sesama anak bangsa saling membela kelompoknya yang pimpinannya sama-sama tidak jelas?

Silahkan pilih yang mau anda pilih dan mau anda bela…tetapi cari informasi secukupnya. Jangan di ideologisasi/diagamakan, dan biasa-biasa sajalah….

Ini terjadi 5 tahun sekali kok……
Wallahu a’lam bi al Shawab.

Muhammad Alwi Pendidikan Positif

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s