Belajar Analisa Tentang Perilaku Terorisme 

laskar mawar 1

Perilaku Teroris

Siapa yang patut dipersalahkan?

Beberapa waktu lalu dan mungkin sampai hari ini, negeri kita digoncangkan oleh teror Bom Bunuh Diri. Dan menariknya di Surabaya kemarin beberapa pelakunya adalah keluarga, ibu-ibu dengan membawa anaknya untuk mati bersama. Mengapa wanita? Apakah itu pekerjaan wanita?

Dalam buku Amry of Rose, karya Barbara Viktor yang diterjemahkan oleh peneribit Mizan dengan “Laskar Mawar”, juga menceritakan hal yang mirip. Buku novel itu menceritakan bagaimana kepribadian, pola hidup, pekerjaan dan lingkungan yang melingkupinya sehingga dia terpilih untuk meledakkan diri dan menjadi Martyr di Palestina (2002, Saat Yasser Arafat).

(Disini kita tidak membedakan antara Teroris, Bom Bunuh Diri atau Bom Syahid, sebab itu tergantung wacana, tempat dan penilaiannya masing-masing).

Dalam melihat Perilaku Terorisme maka ada 3 Komponen yang perlu dilihat yaitu PELAKU (Teroris), TEROR (Tindakan-nya) dan SASARAN TEROR.

Menganalisa Terorisme bisa dilakukan dengan 2 Pendekatan.

Baca : Terorisme : Ciri Agama Sudah Terkorupsi dan Busuk

1) Pendekatan Kultural
Dimana intinya bahwa memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai penjelmaan nilai, sistem kepercayaan, atau ideologl (Berger, 1995; Ross, 1999). Inti kerangka ini adalah interpretasi nilai terhadap aksi.

2) Pendekatan Rasional
Pendekatan ini memandang perilaku, sikap, dan perbuatan sebagai fungsi pilihan-pilihan dari pelaku teror/aktor (North, 1981; Olson, 1965). Aktor ini bisa berupa individu ataupun kelompok. Kerangka ini memandang tindakan teror sebagai bentuk interaksi dan kontlik antara teroris dan sasaran teror.

Baca : PISAHKAN AGAMA DENGAN ILMU PENGETAHUAN (Nalar Agama dan Pendidikan Kita)

Pendekatan ini tidak populer sebab, bisa jadi a) Barat lebih senang melihat Ideologi terorislah (Islam) penyebab perilaku itu. b) Pendekatan rasional ini tidak memandang sasaran teror semata-mata sebagai korban, tetapi sebagai aktor.

ISIS Makasar.jpg

ISIS Makasar :  Perilaku Terorisme

Dalam Pendekatan Kulturan dikatakan : Karena Radikal, ideologi Wahabi, ikut Halaqah, HTI, mudah mengkafirkan (Takfiri), Pemerintah Thogut dll….Lalu mereka melakukan Perilaku Teror.

Tetapi pertanyaan yang sulit dijawab dengan pendekatan ini adalah;
(1) mengapa sekelompok orang memilih teror, yang lain tidak?, (2) mengapa teroris menjadikan pihak tertentu sebagai sasaran teror? Mengapa Polsek, Mengapa Polisi bukan TNI, Mengapa Gereja bukan Masjid, Wihara dll, dan
(3) mengapa tindakan teror muncul pada waktu-waktu tertentu padahal variabel-variabel kultural (kelompok radikal) sudah eksis sejak lama sekali?

Untuk menjawab ini, memerlukan analisis tentang korelasi antara teroris dan sasaran teror. (Pendekatan Rasional diperlukan).

Baca : GARIS BELAH DAN DEFINISI : APA & SIAPA ‘RADIKAL’

Dalam Pendekatan Rasional maka teroris dan sasaran teror dipandang sebagai aktor rasional dan strategis. Mereka strategis dalam arti bahwa mereka melakukan pilihan-pilihan dalam tindakan mereka (1) dipengaruhi oleh langkah yang sudah dan yang akan dilakukan aktor lainnnya (lawannya) dan (2) dibatasi oleh kendala (constrain) yang dimilikinya.

SEDERHANANYA : Kerangka KULTURAN berasumsi bahwa nilai-nilai menghasilkan teror, sedangkan Kerangka RASIONAL berasumsi bahwa kalkulasi strategis antar aktor menghasilkan teror.

Kasus Terorisme di Eropa 1960 -1980-an, juga Bom Bunuh diri di Lebanon (banyak dilakukan oleh kelompok Kristen) (Pape, 2004). Mereka mendekati dengan pendekatan Rasional, bukn Kulturan sehingga penilaiannya lebih komprehenship dan lengkap (‘selesai’).

Sayangnya dan repotnya : Pendekatan ini ‘seakan’ membela teroris, sebab mereka bisa tidak disalahkan, atau dengan kata lain kita mengkritisi sasaran teror, padahal mereka adalah ‘korban’.

Baca : Wahabi-Salafi dan Takfiri : Landasn Ideologi Ekstrimisme Radikalisme.

SINGKATNYA : Mana diantara kedua pendekatan itu yang perlu diamabil? Jawabnya adalah keduanya. Pelaku memiliki Personality, Kepribadian, Ideologi, tetapi kerangka dan tindakan sasaran teror juga mesti dilihat juga.

___________________

Memang melihat sesuatu harus perspektif dan tahu siapa, dimana, kapan serta mengapa, dst.
# Kasus di Palestina (yang berhadapan dengan Israel), yang diceritakan dibuku diatas mungkin beda dengan
# Kasus WTC 9/11 yang berhadapan dengan AS. Mungkin beda dengan
# Kasus Pengeboman Masjid Sufi di Syuria atau Yaman serta Iraq. Dan juga berbeda lagi dengan
# Kasus Pengeboman Gereja Surabaya kemarin.
# Juga kasus-kasus lainnya.
_______________

Menurut saya, walaupun evaluasi dan variable lain perlu dilihat ada hal yang mencolok bahwa:

Orang yang suka marah-marah dan berkelahi cenderung marah-marah dan berkelahi, tetapi kemarahan itu juga menghitung lawan, kondisi serta kecendrungan itu akan menurun bila sasaran bertindak lemah-lembut dan baik serta tidak membuat gara-gara.

TETAPI Bagaimana di Indonesia?
Didikan dan lingkungan RADIKAL yang sudah disiapkan lama dan meluas oleh mereka, ITU KASAT MATA. Memang mereka tidak mesti menjadi TERORIS, tetapi Radikalisme adalah tanah subur untuk tumbuhnya sikap-sikap dan perilaku Radikal, Bila daun itu sudah merekah, maka mereka tinggal menunggu siapa yang akan mempersuntingnya menjadikan mereka PENGANTIN (Aksi Jihad, Bom Bunuh Diri, Pengeboman dll).

Selamat berjuang para pihak yang bertanggungjawab.
SaveNKRI mudah-mudahan kedepan kita menjadi lebih baik…dan itu Pasti. Insya Allah.

Lihat Juga :
Engkau yang membunuh Engkau pula yang Menta’zia-i
https://www.facebook.com/muhammad.alwi.311/posts/10211017440022453

Bagaimana menurut anda?
Muhammad Alwi Pendidikan Positif

 

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama, Uncategorized dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s