Aku Menjadi Radikal di Kampus

Muhammad Alwi

Aku Menjadi Radikal di Kampus

Dalam banyak penelitian (bisa di googling) dikatakan bahwa Kampus dan Lembaga Pendidikan sudah sangat ter-radikalisasi. Termasuk diantaranya adalah PNS dan yang lain Masjid BUMN dan dana-dana CSR BUMN. Bagaimana ini terjadi?

Sebelum membaca tulisan ini, maka perlu disampikan bahwa Ide Negara Islam, Syariatisasi Negara, Khllafah dan sejenisnya, saya anggap jadi satu corpus sebagai kelompok radikal. Bisa jadi mereka tidak radikal jika itu hanya konsep dan lainnya. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu dan sulit dipisahkan secara jelas diantara mereka.

PENDAHULUAN

# Diawali dengan gerakan di kampus. Halaqah, Usro dst. 30 tahunan yang lalu. Hasilnya banyak anak-anak mahasiswa yang ikut dan seide dengan mereka.

# Mereka membentuk jaringan, menguasasi masjid-masjid kampus. Lalu…Masjid itu dijadikan WILAYAH mereka. Tidak boleh ada kelompok lain yang bisa masuk, menjadi ketua organisasi masjid kecuali atau yang lain kecuali kelompok mereka.

Saat HMI, PMII, GMNI, IMM dll sibuk dengan perebutan SENAT, BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dll. Mereka tidak pedulikan itu tetapi fokus dan kosentrasi menguasasi penuh MASJID.

LALU…..

Masjid Kampus itu ada DANA (baik dari kampus, maupun dari kaleng Masjid). Siapa yang mengelola? Mereka. Bahkan sebagian mereka tidur di masjid sebagai kost-kost-an sekaligus mengelola masjid.

Ada kajian-kajian di masjid, baik mingguan, sholat jum’at, trining atau kegiatan lainnya. Siapa yang mengelola? Mereka. Ustad-nya, guru-nya, Kurikulumnya bahkan target lainnya merekalah yang menentukan bersama MENTOR-MENTOR mereka yang didalam dan diluar kampus.

LALU….

Saat mereka sudah cukup kuat, ada beberapa dari mereka yang menjadi DOSEN disana dst.  Kajian SKI saat itu (awal MABA)….mereka membentuk halaqah-halaqah ini resmi kegiatan kampus (contohnya di Unair). Kalau MABA Kedokteran Umum Unair misalnya 160 orang (sekadar contoh), mereka buat sekitar 15 -20-an halaqah (lingkaran-lingkaran kajian). Lalu setiap halaqah ada Mentor. Siapa mentor-mentor itu? Masjidlah yang menentukan…dan itu berarti Mereka.

Selesai acara MABA (Mungkin 7-10 hari), para mentor itu mengatakan, “Bagaimana kalau kegiatan HALAQAH ini diteruskan?” Rata-rata mereka menjawab…’Ya’ ( apakah benar ‘ya’ atau ‘tidak’…tetapi jawabannya rata-rata ‘ya’). Lalu mereka meneruskan kajian-kajian itu di surau-surau atau musholla.  Mentor-mentor itu (yang kebanyakan kakak kelas atau dari jurusan lain, dari semester 3, 5 atau mungkin 7) dengan rajin mendatangi kost-kost-an MABA tadi.

Dari 10-an anggota 1 Halaqah, saya tidak yakin banyak yang ikut mereka…..tetapi paling tidak 1-3 orang bisa ikut mereka. Yang sudah mulai dekat dan akrab biasanya mereka diajak kontrak bareng atau tetap mengikuti kajian-kajian lanjutan.

Kita bisa bayangkan berapa yang bisa direkrut dalam 1 angkatan? Di Kedokteran Umum saja (sekadar contoh) ada 10 – 20 orang. Belum jurusan-jurusan lainnya. Kalau Unair ada 13 Fakultas dan Ratusan Prorgam Studi. Maka dalam satu tahun bisa ratusan bahkan ribuan orang yang mengikuti mereka dengan tingkat loyalitas dan keanggotaan yang bertingkat-tingkat. Anggota Militan (Calon Kader), Anggota Loyal, Anggota Biasa dan Simpatisan.

Tidak hanya itu, bahkan yang mengisi Pengajian, Ceramah dan Kajian Masjid merekakah yang mengoreksi, memilih. Biasanya pihak REKTORAT tidak peduli itu kecuali sudah sangat-sangat mencolok atau bersinggungan.

KURIKULUM diberikan pada mereka-mereka para anggota dan simpatisan. Majalah SABILI, Buku-buku Yusuf Qardhawi, bawa al Qur’an terjemahan kecil, termasuk diajarkan atau diwajibkan mampu menjual buku-buku MEREKA (walaupun sepertinya targetnya hanya untuk kemandirian dan belajar wirausaha) dan lainnya yang sesuai dengan tahapan-tahapan mereka.

Sholat tepat waktu, jamaah, mengaji, puasa senin-kamis, olah raga dst (panduan Ikhwanul Muslimin-Mesir diterapkan), lalu mulai tidak mengkonsumsi informasi UMUM, KAFIR. Seperti buku-buku umum, buku-buku pemikiran dst. Tidak melihat TV dan baca Koran. Lalu timbul anti KAFIR (disini bisa mengacu Cina dan Kristen).

Seiring perjalanan waktu mereka makin kuat, sebagian mereka sudah menjadi dosen, dikirim untuk S2 atau S3 keluar Negeri, sebagiannya sudah menjabat Dekan, Kajur bahkan Profesor. Kalau di luar sebagian masuk BUMN, PNS dan lainnya.

GERAKAN DAN PENYEMANGAT

Kasus Afghanistan, Kasus-kasus Islam dalam dan luar Negeri seperti BOSNIA (Kemarin-kemarin Kasus SURIAH) dll menjadi ajang buat mereka untuk DAKWAH dan BERJUANG. Sekalian motivasi, mengobarkan semangat juang dan khirrah Islam. Disini Radikalisasi menjadi semangat juang dan HARAKI (Sehingga sebagian mereka mulai bersentuhan dengan yang lebih serius yaitu Jihad dengan senjata).

Disini mulai ada kiriman-kiriman dan kontak dengan pejuang Afghanistan, Alumni Afghanistan dan hal-hal yang berbau senjata, bom, serta kontak fisik ala militer dilakukan. Al Qaeda, dan underbow termasuk akhirnya Jamaat Islam, HTI, JAT, JAD, ISIS dll (Baik di dalam maupun di luar negeri).

Dalam kelompok ini bukan tidak ada DINAMIKANYA. Sebagian agak lunak, sebagian agak keras dan keras. Disini ada yang ke HTI (Tidak menerima Demokrasi), ada yang ke MMI waktu itu, yang akhirnya ke arah partai politik PK (PKS).

Mereka melakukan kegiatan-kegiatan diberbagai tempat dengan beberapa Target:

  1. Memotivasi Khirrah Islam dan menyadarkan bahwa Islam di dholimi, dijajah, dibunuh dst.
  2. Melakukan konsolidasi, rekruitmen anggota, simpatisan dst.
  3. Menggalang dana baik untuk disalurkan atau untuk organisasi dalam Negeri.
  4. Mengagitasi kelompok lain seperti Liberal, Demokrasi, Komunis, Pluralisme, Syiah dan lainnya.

SETELAH SEKIAN LAMA

Mereka bekarja tidak hanya di Kampus, dalam waktu berikutnya mereka penetrasi ke SMA-SMA Favorit seperti SMA 5 Surabaya (dan SMA Komplek lainnya….sekadar contoh di Surabaya).

Setelah sekitan tahun bahkan puluhan tahun. Mereka memliki power dan jaringan. Dikampus banyak yang menjadi Dosen, Kajur, Kepala Lab, Kepala Administrasi, Dekan dan mungkin staf Rektorat lainnya. Diluar kampus mereka ada yang PNS (Guru, Kepala Sekolah atau di Diknas).Diluar ada yang di BUMN ataupun lainnya. Jaringan dilakukan dan Islamisasi merupakan agenda mereka (dengan tingkatan yang soft/baik maupun yang radikal/keras dan negatif).

Ada satu kesamaan mereka, walaupun yang soft/baik ataupun keras/radikal/jelek. Mereka anti Kafir, mereka terlalu memiliki KECENDRUNGAN TAKFIRI (Menganggap dirinya yang benar dan lain salah).

Beberapa Sekolah dan Kampus sudah benar-benar DIKUASAI oleh mereka….dengan beberapa bukti:

  1. Banyak kajian HTI dikampus dalam acara-acara seminar ataupun lainnya. Dan setingkat Dosen, Kajur atau Dekan mengikuti acara-acara itu. Dengan diskusi dan pertanyaan yang jelas-jelas bahwa mereka anggota HTI, Se-ide atau simpatisan.
  2. Kasus-Kasus di IPB saat itu (Dimana diadakan Deklarasi HTI disana).
  3. Kasus Deklarasi ISIS di UIN dst.
  4. Beberapa sekolah Muhammadiyah murid-muridnya dikerahkan mengikuti deklarasi atau acara HTI yang membutuhkan massa besar-besaran. Dikarenakan Kepala Sekolah/Guru-nya sudah menjadi HTI.

Kasus Perseteruan Muhammadiyah dengan HTI dan PKS sudah cukup ramai (bisa di googling di internet).

Di PNS atau BUMN

Banyak Masjid di BUMN, Dana CSR di kelola oleh mereka dengan modus mirip dengan apa yang dilakukan di Kampus.

Saat Masjid dikuasai, Maka dana, ide, penceramah, kajian merekalah yang menentukan (lihat kasus di UGM kemarin. Sampai tingkat HTI sudah dilarang secara resmi oleh pemerintah, Ismail Yusanto, Petinggi HTI, masih dijadikan pembicara disana). Lihat Kasus dosen ITS dan beberapa Prof yang mendukung atau simpatisan mereka. Apa Makna-nya? Ini puncak gunung es.

Dana Masjid BUMN, bantuan para donatur, CSR adalah sumber dana yang cukup besar untuk dimanfatkan. Belum lagi kalau mereka-mereka itu memegang jabatan yang jelas powernya (seperti mentri atau lainnya).

Sekolah afiliasi mereka, organisasi afiliasi mereka dan lainnya itulah yang akan diberikan dan dihibahkan bantuan-bantuan CSR BUMN yang sangat besar itu.

Argumentasi ini sekolah Islam, ini melakukan kajian Islam, ini menghafal al Qur’an, ini panti asuhan, ini remaja masjid dll menjadi argumentasi mereka PADAHAL

Ini sekolah Islam yang sesuai dengan kami yang lain jangan, ini organisasi Islam yang sama dengan kami yang lain jangan dst. Karena yang lain tidak ada kepedulian dan MINIM pemahan Islam. Maka teks-teks ISLAMI menjadi senjata mereka.

Kita harus membela Islam, padahal maknanya adalah Islam kelompok kami yang lain salah bahkan sesat bahkan Kafir. Kita harus ikut ulama, padahal maknanya ulama kami, yang lain salah, pelaku bid’ah, sesat bahkan Kafir.

Khirrah Islam dan Keawaman ummat Islam lainnya, Inilah yang membuat mereka mengurat dan mengakar sehingga banyak yang berniat baik dengan bayangan membela Islam, membantu Islam padahal ISLAM ala mereka yang radikal.

Upaya DERADIKALISASI perlu dilakukan dengan serius, bertahap dan dalam waktu yang cukup lama. Memasukkan ide butuh waktu lama, mengubah ide setelah sebuah ide masuk…membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Sebab harus meng-uninstall program lama (dan harus bersih) dan meng-install program baru.

MUHAMMADIYAH DAN RADIKALISASI

Wahabisme sebagai aliran dalam Islam yang memberikan habitat radikalisme dan terorisme sudah banyak diteliti dan banyak buku yang membahasnya. Lalu bagaimana Wahabisme dan Habitat Radikalisme Indonesia? Menarik melihat hasil survey (penelitian) yang mengatakan 99% Napiter (Napi terorisme) ber “bau” Muhammadiyah.

Penelitian ini memang bisa dipertanyakan. Bagaimana bentuk survey-nya, bagaimana angka 99% itu keluar dan lain-lainnya. TETAPI ADA HAL YANG MENARIK.

  1. Diakui oleh sebagian aktivis Muhammadiyah sendiri bahwa MD itu adalah Habitat yang disukai oleh kelompok seperti Wahabisme, Salafy, PKS, HTI, Jamaah Islam dst. Mengapa? Mungkin kesamaan bahwa sama-sama dalam satu corpus puritanisme. Melakukan pemurnian Tauhid, menganggap banyak kaum Muslimin yang melakukan bid’ah dan syirik dst.
    Kedekatan MD dengan HTI dan PKS itu cukup intent sehingga ‘sulit dibedakan’ waktu itu. Lalu ada pergeseran bahkan penyerobotan-penyerobotan properti dan hal lain dari MD oleh HTI dan juga PKS. Sehingga Muhammadiyah melakukan hal-hal yang diperlukan untuk melindungi warganya juga amal usahanya dan properti lainnya.
  2. Secara afiliasi politik, orang-orang HTI, MMI (yang akhirnya jadi PKS), JAD, JAT, dll. Lebih dekat dengan PAN/Muhammadiyah atau PKB/NU.
  3. Beberapa Penelitian menunjukkan bahwa Radiklisme Indonesia dekat dengan Muhammadiyah diantaranya adalah Ali Imron, Mukhlas dll (Lamongan). Boy Pradana (Peneliti, Dosen UMM dan Ketua DPW Pemuda Muhammadiyah) Mengatakan; Muhammadiyah telah memberikan kontribusi tidak langsung terhadap munculnya radikalisme di kalangan pemuda. Kontribusi dapat dijelaskan dalam poin-poin berikut.
    a) Dalam Doktrin ajaran Muhammadiyah memliki ciri fundamental (mirip dengan kelompok Islam Radikal) seperti Sikap terhadap Kitab Suci, Budaya dan Tradisi. Terhadap interpretasi al Qur’an cenderung Literalis atau semi literalis.
    b) Lalu mereka berkembang lebih radikal lagi diluar (bukan di MD), tetapi setelah selesai aktivisme mereka (kelompok-kelompok yang sudah mapan). Mereka kembali ke MD untuk dakwah kepada para pemuda MD. Sebagian mereka menerima itu dan sebagiannya menolak. Mengapa sebagian menerima dan menolak? Ini perlu pendalaman dan perlu menjadi evaluasi ormas MD.

Sumber:
https://www.facebook.com/nurbani.yusuf.54/posts/2066432940271176 (Nurbaini Yusuf, Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Batu).

http://www.thejakartapost.com/news/2012/11/20/muhammadiyah-and-radicalism-relationships-and-intersections.html (Pradana Boy, Ketua Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jatim dan Dosen UMM).

http://www.suaraislam.co/pengamat-terorisme-mantan-napi-teroris-99-persen-memiliki-background-muhammadiyah/

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s