Vaksin : M. Abduh, Rasionalisme & Agama?

Vaksinasi.jpgBaru-baru ini ramai dibicarakan tentang kasus vaksinasi Measles Rubella (MR). Vaksinasi ini sudah dilakukan dan ada yang mempertanyakan tentang kehalalannya. Bagaimana seharusnya itu? Saya tidak akan masuk dalam diskusi akan hal itu sebab itu adalah “KASUS”, yang artinya bisa saja salah prosedur, terburu-buru, kurang komunikasi atau yang lainnya.

Yang ingin saya diskusikan disini adalah bagaimana Rasionalisme (penerimaan akan hal-hal yang rasional dan Ilmiah) seringkali dipertentangkan dengan hal-hal yang berbau Nash/Agama.Selalu terjadi pertentangan antara rasionalisme dan agama.
Selalu dijawab bahwa Agama tidak bertentangan dengan Rasionalisme (Akal).
Selalu ditanyakan Akal yang mana? Ini bodoh-bodohan….Akal ya akal kita (akal umum).
Selalu dipertanyakan : Bagaimana bila Agama/Nash bertentangan dengan Akal/Rasionalisme.

Dalam diskusi selalu dijawab bahwa Akal tidak bertentangn dengan Agama….selalu dijawab Islam malah mendukung dan mengedepankan Akal…dst…dst.

Dalam diskusi, buku-buku klasik minimal 2 tokoh yang seakan membuat penggunaan Akal mandeq/berhenti.
1) Pertama al Ghazali, dimana kritikannya terhadap filsafat bukan dikaji tetapi dimonumenkan sehingga Filsafat diharamkan dipelajari dalam dunia Islam (bahkan alergi itu mungkin sampai sekarang).
2) Kedua, Ibn Taymiyyah yang mengharamkan mempelajari Logika. Sekali lagi kritikan itu dimonumenkan..sehingga dalam sekolah, dalam pesantren pelajaran Logika/Mantiq dan Filsafat bukan barang yang ‘bagus’…atau malah dicibir.

BUKTI bagaimana hal-hal itu merangsek dalam kehidupan kita.

Al Ghazali Tahafud Falashila dan Tahafud al Tahafuda) Buku kritik al Ghazali terhadap Filsafat (Tahafut al Falashifa), sudah diterjemahkan sekaian puluh tahun yang lalu. Sementara jawabannya, karaya Ibn Rusyd (Tahafud al Tahafud) baru diterjemahkan jauh setelahnya.
b) Harun Nasution, dalam bukunya “Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah”, terpaksa memecah buku itu menjadi 2 bagian. Bagian pertama Teologi Islam dan bagian kedua Muhammad Abduh. Bagian kedua terbit 15 tahun setelah bagian pertama. Padahal buku itu cukup kecil/tipis mengapa? Salah satu alasan….Bisa dibaca dipengantar buku itu (terbitan UI Press). Kesimpulan Disertasi beliau bahwa Abduh itu bermadzab Rasional (dekat dengan Mu’tazilah) tidak bisa diterima dinegeri ini saat itu.

Peresapan diskusi ini dalam tataran konsep akan berbeda dalam tataran praktis:
Harun Nasution Teologi Islam.JPG# Bagaimana seorang dokter…apakah ucapannya tidak wajib diikuti? Bahkan dia melebihi sebuah Nash? Misalnya kalau makanan x dianjurkan oleh nash (hadist), sementara oleh dokter itu dilarang? Mana yang mesti diikuti?
# Bagaimana acceptabilitas (keterterimaan) urusan KB misalnya?
# Bagimana kontroversial “Kencing Onta” misalnya?
# Bagaimana seandainya vaksin itu memang yakin ada babi-nya…sekali lagi seandainya. Tetapi tanpa mengkonsumsi itu kita rentan dan berbahaya terkena penyakit tertentu? Bagaimana…ini?
# Bagaimana kontroversialnya BUMI DATAR..yang menggunakan dukungan Nash?
# Bagaimana kontroversialnya….teori Darwin. Yang lebih banyak dijadikan polemik, fitnah daripada baca buku aslinya? “Manusia dari Kera”.
# Apakah melawan keputusan dokter (anggap itu sudah 3-5 dokter) tidak dosa? Sementara melawan Nash itu pasti dosa? Contoh kasus :
a. Dokter mengatakan, tidak boleh mengkonsumsi, makan korma/madu bagi penderita penyakit tertentu….tetapi karena percaya korma/madu itu makanan rasul, mengandung syifak….tetap mengkonsumsinya?
b. Disuruh menggunakan Vaksin tertentu (karena kondisi tertentu, berbahaya dst), tetapi karena isu yang cukup kuat, bahkan yakin mungkin….vaksin itu mengandung babi lalu tidak mau mengkonsumsinya, dengan alasan segalanya ditangan Allah?

Agama dan Akal Dalam Pendidikan Kita

Sayang karena kedua tokoh diatas (Al Ghazali juga Ibn Taymiyyah), maka pelajaran Tauhid yang cukup dalam….tidak diajarkan. Justru yang diajarkan secara massif adalah tauhid superfisial yang intinya menolak kesyirikan, menolak penyembahan pada yang lain dan dangkal. Ujung-ujungnya tujuan pratisnya lebih kearah purifikasi dan mengatakan syirik pada kelompok-kelompok lainnya.
Harun Nasution Teologi Rasional Mu'tazilah.jpg

Pendalaman Tauhid sampai pertanyaan-pertanyaan yang cukup mendalam menjadi tabu bahkan diharamkan….lalu keluar teks : Akalmu Tidak Sampai”, “Jangan membicarakan Dzat Allah”, “Jangan membicarakan Allah”, dst.

Efek dari pendidikan sejak dini yang hanya seperti itu maka ada pemisahan antara Agama dan Akal. Saat kuliah, apalagi dijurusan kealaman (Fisika, Matematika, Biokimia dll), juga diskusi para akltivis mereka hebat dalam penggunaan akalnya, rasional, “kalau begini maka harus begitu…, Jika A…itu X, dan B itu….F, Maka…dan Maka….”. Tetapi sayang begitu sudah menyangkut Agama (Sejarah, Tafsir, Nash atau lainnya) Akal itu dihilangkan.

Mereka mengatakan, kalau masalah Agama jangan menggunakan Akal. Agama bukan sain, bukan ini dan itu.

Bukti saya pernah dapatkan dan ceritakan secara agak panjang disini adalah:

Saat kuliah Methodologi Penelitian, maka definisi Ilmiah, Definisi Sain dll….dijelaskan, bahkan termasuk tahapan-tahapannya. Dosen-dosen bahkan level dosen S2 dan S3, Dosen Filsafat Ilmu maupun Methodologi Penelitian dst…..Saat ditanyakan Apakah kalau menggunakan definisi Ilmiah seperti itu, Agama bukan Ilmiah? Salah satu definisi Ilmiah adalah Measurable (Terukur/dapat diukur).

Mereka kebingungan dan kembali ke zona-aman bahwa disini kita bahas ilmu, sain dan ilmiah, Agama diluar itu semua. Lalu mengapa ada jurusan Agama, Ilmu Agama? Bahkan Fakultas Agama, Ushuluddin dst…dst?

Baca : PISAHKAN AGAMA DENGAN ILMU PENGETAHUAN (Nalar Agama dan Pendidikan Kita)
__________________________________

Menarik kalau kita mau mendiskusikan apa itu Iman, apa itu kepercayaan (faith and belief) dan bagaimana kita secara psikologis, sosiologis bahkan neurosain memberikan proof (bukti) sehingga diri kita mempercayai dan mengimana sesuatu. Naik turunnya Iman dan kepercayaan bahkan copot.

Baca : Kerja Iman, Keyakinan-Spiritualitas Dalam Otak Kita (Kajian Psikologi-Pendidikan dan Neurosain). Bagian – 1

Bagaimana Menurut Anda?
Muhammad Alwi

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s