Paradox : 10 Tanda Kehancuran Bangsa Dan Saya Ingin Bangga Menjadi Indonesia?

Jokowi Prabowo
TRUST didefinisiakn oleh Fukuyama sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran dan perilaku kooperatif yang muncul dari dalam komunitas yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama oleh anggota komunitas itu.

Mengapa akhir-akhir ini seakan sulit kalau kita ingin bangga menjadi bangsa ini. Saat melihat pembangunan jalan Tol yang sedemikian rupa dan kita senang serta bangga dengannya, tiba -tiba kita disuguhi yang lainnya.

Saat kita melihat Freeport yang sudah dikuasai oleh Indonesia dibandingkan sebelum-sebelumnya, tiba-tiba disuguhi lainnya.
Saat kita mendengar Indonesia Juara, bahkan menorehkan rekor lari tingkat dunia di Finlandia, tiba-tiba kita disughi lainnya.
Saat kita melihat anak bangsa juara olimpiade Fisika, Matematika, menelurkan prestasi ini dan itu, tiba-tiba kita disuguhi yang lainnya.

Saat saya mendengar tentang Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), sebuah upaya mengubah sistem pembayaran yang terdiri dari Standard, Switching, dan Services. Dengan itu transaksi antar bank biayanya lebih efisien dan lebih mengarah kepada Indonesia (yang katanya dengan itu AS sempat kecewa dengan Indonesia), tiba-tiba kita dusuguhi lainya

Psycological Capital LuthanMarilah kita sedikit mengutip beberapa pakar dan teori. Beberapa tahun terakhir banyak dibahas tentang apa itu Modal Sosial, Kebajikan Sosial oleh Francis Fukuyama, Prilaku Pro-Sosial (Citizenship Behavior) oleh Organ dan Psikologikal Kapital yang dikemukakan oleh Fred Luthan. Intinya bahwa keberhasilan Individu dan masyarakat ditentukan oleh nilai-nilai kecerdasan social (dikemukakan oleh Daniel Goleman).

Begitu banyak kekacauan negeri ini, mulai Narkoba, Kenakalan Remaja, Korupsi, Kekurangan Makan, Kemiskinan dll. Bahkan 10 tanda kemunduran suatu bangsa yang dikemukakan oleh Thomas Lickona yaitu;

1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja,
2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk,
3) Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan,
4) Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas dan alkohol,
5) Kaburnya pedoman moral baik dan buruk,
6) Penurunan etos kerja,
7) Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru,
8) Rendahnya rasa tanggungjawab baik sebagai individu dan warganegara,
9) Ketidakjujuran yang telah membudaya,
10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. Kita bangsa ini seakan memilikinya secara lengkap.

Baca : Mengapa Perlu Pendidikan dan Sekolah Positif?

Nilai-nilai negatif itu seakan menjadi ijma’ (kesepakatan umum). Tetapi sayangnya saat ada hal-hal yang baik, mungkin baik, bisa diterima dan dipersepsi itu baik dst. Sayangnya tetap diusahakan dan tiba-tiba diberikan, disuguhi hal lain tentang itu.

Apakah saya, kita salah semua tentang informasi itu? Apakah saya, kita sebodoh dan seawam itu?

Trust Francis FukuyamaFrancis Fukuyama dalam bukunya “Trust”, membahas bagaimana Trust, Kebajikan Sosial dan Kesuksesan sebuah komunitas, bangsa atau negara. Komunitas, Bangsa/Negara yang tidak maju atau tidak bisa maju, disamping tidak memiliki Kebajikan Sosial juga tidak ada Trust antar kelompoknya. Mereka tidak percaya diantara bagian-bagiannya, curiga dan lebih percaya pada orang lain (bias dibandingkan dengan 10 hal Lickona diatas).

TRUST didefinisiakn oleh Fukuyama sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran dan perilaku kooperatif yang muncul dari dalam komunitas yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama oleh anggota komunitas itu.

Marilah kita kaitkan ini semua dengan fenomena berbangsa dan bernegara kita saat ini. Dalam penelitian sederhana kita bias lihat; Kecemburuan, iri dan lain sebagainya terjadi dengan sesama bangsa, bukan dengan orang lain atau bangsa lain.
Kita saling curiga, kita saling mendistorsi, kita saling mengecilkan…lalu mana yang besar?

Baca : DAYA SAING BANGSA, SITUASI DISSONAN DAN TEORI BELAJAR

Kita saling curiga…lalu mana yang bisa dipercaya?
Kita saling menyalahkan, lalu mana yang benar?

Trust adalah salah satu modal sosial untuk pembangun, untuk kemajuan sebuah bangsa…lalu bagaimana kalau modal itu ditiadakan, dihancurkan? Sehingga kita sulit merasa bangga terhadap bangsa kita sendiri. Dikecilkan, didistorsi, dikaburkan oleh siapa oleh mereka-mereka yang gemar nyinyirisme, gemar menyalahkan satu dengan lainnya.

Presidennya Jelek,
Gubenurnya Jelek,
Bupati dan Walikotanya Jelek,
DPR-nya Jelek, KPK-nya Jelek.
Padahal itu adalah DIRI KITA, Itu semua adalah KITA.

Presiden dipilih rakyat…maka itu kita.
Gubenur dipilih rakyat daerahnya…maka itu kita.
Bupati dipilih rakyat daerahnya…maka itu kita.
DPR adalah wakil rakyat…maka itu kita.

Social Intelligence GolemanKalau itu semua jelek…dan jelek….maka kita sebenarnya KITA sedang sangat YAKIN bahwa diri kita itu JELEK. Kepercayaan diri kita sebagai Individu dan bangsa sedang tercabik-cabik oleh perseteruan yang menghasilkan mental nyinyirisme.

Apakah bangsa yang yakin dirinya jelek, miskin, bodoh, korup dll…bisa membangun? Bisa sukses, bisa menjadi bangsa yang besar?

Kapan diri kita, masyarakat kta, bangsa kita… menjadi percaya diri, lebih banyak mendengar hal-hal baik daripada sebaliknya (walaupun pasti ada kejelekan itu).

Ijma’ (disepakati) bahwa bila nilai-nilai negatif yang masuk pada diri kita….maka berkerumun informasi sejenis yang mendekat, datang dalam otak kita.

Baca : PENDIDIKAN KARAKTER, TERORISME, DIKNAS DAN GURU AGAMA

Kejengkelan, kemarahan, keburukan, prasangka, suasana mencekam..dll yang terjadi….lain bila sebaliknya.
Padahal…Katanya, “Engkau Melihat apa Yang ingin Engkau Lihat” dan “Engkau Mendengar Apa yang Ingin Engkau Dengar.”
Saya yakin banyak kebaikan di negeri kita dan juga ada kejelekan-kejelekannya.

Kapan kita bisa bangga dengan diri kita bila kita selalu disuguhi kejelekan-kejelean kita.

TERNYATA BERLAKU ADIL ITU SULIT

Bicara tentang berlaku adil, bijaksana itu untuk orang-orang yang ‘cukup’, Lalu bagaimana dengan orang-orang awam? Bila orang-orang yang ‘cukup’ saja sulit berlaku adil??

Karena orang-orang dungulah terjadi banyak kontroversi di antara manusia. Seandainya orang-orang yang bodoh berhenti bicara, niscaya berkuranglah pertentangan di antara sesama.” (Imam al-Ghazali dalam kitab “Faishilut Tafriqah bainal Islâm wal Zindiqah”).

Muhammad Alwi Pendidikan Positif

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Lain-lain, Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s