Perjuangan Imam Husein dalam Sorotan Kontruktivisme Pendidikan

A. Pendahuluan

Imam Husein.jpgHari-hari ini adalah bulan Muharram, bulan Suro, dimana pada bulan ini diperingati sebagai “Bulan Kesedihan”, bulan terbunuhnya dengan cara yang sangat tragis, cucu Nabi saw bernama Husein bin Ali bin Abi Thalib. Pada bulan-bulan ini diyakini kita ‘dilarang’ melakukan perkawinan, melakukan perayaan-perayaan yang mengindikasikan kesenangan. Diyakini karena Rasul saw, Zahra bintu Muhammad dan Keluarganya bersedih, maka kita semua tabrrukan, diharapkan bahkan wajib juga bersedih. “Kami mencintai apa yang kalian Cintai, kami membenci apa yang kalian benci”.

Husein bin Ali bin Abi Thalib adalah anggota terakhr (ke 5) dari Ahlul Bait Nabi saw seperti yang dikatakan dengan jelas dalam al Qur’an (Surat al Ahzab, 33). “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait (Keluarga Nabi) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Baca juga : “SURO” DAN SYIAH?

Mengapa Husein bin Ali Melakukan Perjalanan Revolusi itu?

Perjalanan Al Husein Adalah perjalanan Malakuti, perjalanan cinta, perjalanan ‘menyerahkan kepala-kepala suci untuk dibantai’, perjalanan seperti perjalanan Nabi Ismail as kepada bapaknya Nabi Ibrahim untuk dipotong lehernya, perjalanan yang memastikan rombongannya meraih telaga haud, surga yang dijanjikan Allah. Tidak semua manusia pada zaman al Husein mampu mengikutinya. Baik disebabkan oleh ketakutan, ketidakyakinan, kurang pengetahuan atau terlalu lama hiduo nyaman didunia dan banyak lainnya. Ada yang ingin berangkat tetapi tersesat, ada yang ingin berangkat tetapi ragu-ragu bahkan sebagian berbelok berkhianat.

Didalam Surat Ibrahim (14:5) dikatakan, Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.

Perjalanan Malakuti, Perjalanan Cinta serta Misi Suci yang dibawa Al Husein adalah Membawa Manusia dari Kegelapan menuju Cahaya Allah (Minat Dhulumati ilan Nur). Kegelapan adalah simbul ketidak tahuan, kegelapan adalah symbol kebodohan, ketersesatan, tiadanya Ilmu, Kedholiman, Ketidak adilan dan kesalahan. Dalam kegelapan kita mudah terperosok, salah, tersesat dan lain sebagainya. Sementara Cahaya symbol dari kebenaran, kelurusan jalan, kemampuan melihat, membandingkan, keadilan dan lain sebagainya.

Baca Juga : “AGAMA KITAB” DAN “AGAMA MASYARAKAT”, SEBUAH PEMBELAJARAN DALAM KONFLIK SUNNAH-SYIAH

Mengapa perjalanan al Husein dikatakan seperti itu? Mengapa Al Husein melakukan misi suci yang seperti itu? Banyak penjelasan yang sudah ditulis berjilid-jilid tentangnya, tetapi dalam tulisan ini saya mencoba untuk sedikit merangkumnya atau memberikan alasan mengapa itu dilakukan. Imam Husein sedang mencoba untuk mengerem, menghambat, melawan pembusukan yang sudah sekian lama terjadi dalam Islam. Islam sudah selama 40 tahun mengalami pengeroposan-pengeroposan dan pembusukan demi pembusukan. Untuk menghambat pembusukan ini, untuk menghancurkan kontruksi pemikiran yang sudah mengurat dan mengakar ini perlu dilakukan sock terapy (perilaku cukup ekstrem, sehingga menyentak kesadaran, mengubah bahkan menghancurkan kontruk, yang sudah cukup mapan saat itu).

B. Konsep dan Teori

Mind Set dan Kontruktivisme

Piaget Cognitive Development.jpgDalam perjalanan pengetahuan manusia menurut kontruktivisme (J. Piaget), maka ada proses yang disebut Skemata, Asimilasi, Akomodasi dan Equilibrium. 1) Skemata adalah susunan pengetahuan-pengetahuan kita tentang hewan, tentang alam semesta, tentang agama, tentang flora dll. 2) Asimilasi adalah pengintegrasian informasi, persepsi pada skemata-skemata yang ada. Bila kita punya informasi, bacaan atau lainnya yang baru, maka manusia cenderung memasukkan informasi itu pada salah satu skemata yang sudah dibuat sebelumnya. Masuk kategori Hewan, Tumbuhan, Alam Semesta, Biologi, Agama atau lainnya. Sangat banyak sekali skemata-skemata yang kita miliki, makin bervariasi skemata kita maka kita makin baik. 3) Akomodasi adalah pengalaman yang baru itu kadang cocok dengan skemata yang ada atau malah butuh menggabungkan atau membentuk skemata yang baru. 4) Equilibrium, upaya-upaya manusia untuk melakukan asimiliasi dan akomodasi dan keseimbangan untuk itu.

Disinilah kita tahu bahwa pengetahuan kita tidak mati, tetapi berkembang dan mengalami proses dan terus berproses sesuai dengan arah dan gerak pengalaman-pengalaman kita.

Pengetahuan manusia, kontruk pengetahuan kita, dipengaruhi oleh a) Kontruk Pengetahuan sebelumnya, b) Domain Pengalaman Kita (mana yang mendominasi, mana yang cukup banyak dan lainnya), c) Jaringan Struktur Pengetahuan kita. Ketiga hal ini menentukan apakah mungkin kita melakukan pembalikan, melakukan perubahan dari benar dan salah atau sebaliknya. Dalam Al Qur’an disebutkan,

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (QS. 2:6). “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. 2:7) Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah ilah selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS. 6:46)

Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, (QS. Huud : 101 ), Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Al-Syuura: 30).

Mindset

Dalam Kamus The American Heritage Dictionary, Mindset diartikan sebagai “a fixed mental attitude or disposition that predetermines a person’s responses to and interpretations of situations.” Keyakinan teguh yang menjadi dasar dari respons-respons dan interpretasi yang dimiliki oleh seseorang. Mindset dalam Bahasa umum adalah Pola Pikir. Pertanyaannya darimana pola piker itu? Ini berasal dari kontruk pemikiran kita diatas.

Stephen Covey, tetapi seorang teman pernah menunjukkan kepada saya, teks itu adalah ucapan Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw). Intinya, Cara pandang-mu/Pikiranmu menghasilkan Tindakan, Tindakan yang diulang-ulang menghasilkan kebiasaan, kebiasaan yang diteruskan menghasilkan Karakter dan karakter itulah Takdir-mu. Dalam ilmu Psikologi juga disebutkan pola yaitu Konsepsi/Pikiran, Menghasilkan Sikap dan Tindakan.

Mindset adalah dasar untuk bersikap dan berprilaku. Ada Tiga komponen utama MINDSET yaitu; 1) Paradigma, cara pandang seseorang terhadap sesuatu, 2) Keyakinan dasar, adalah kepercayaan yang dilekatkan seseorang terhadap sesuatu, dan 3) Nilai – nilai dasar, ini adalah batasan – batasan untuk melakukan suatu tindakan oleh seseorang yang dijunjung tinggi olehnya serta mewujud dalam sikap dan karakternya.

Kembali kepada perjalanan Malakuti, Perjalanan Cinta Imam Husein. Mengapa Imam Husein melakukan itu? Beliau sedang menyelamatkan Islam dari pembusukan yang sudah berurat dan berakar dalam tubuh Islam, dan bila dibiarkan terus maka Islam hanya tinggal Namanya, Islam teramputasi yang sedemikian parah. Apa pembusukan-pembusukan itu?

Minimal ada 4 hal dimana kita melihat ada ‘pembusukan’ dan pengeroposan dalam Islam. 1) Dimulai setelah Rasul saw wafat, maka terjadi skisme besar dalam Islam. Otorisasi Islam sudah terpecah-pecah. Setiap sahabat Nabi saw mempunyai otorisasi kebenarannya sendiri-sendiri. Apabila ada masalah X, lalu ada sahabat nabi yang mengatakan jawabannya A, B, C, D dan E. Maka semuanya adalah benar dan semuanya adalah sah untuk diikuti dan dijalankan. Sebelumnya saat ada Nabi saw, kalau Nabi saw mengatakan itu F yang benar, maka A, B, C, D dan E akan terbuang dan yang benar dan sah adalah F. Sekarang, setelah nabi saw wafat, maka otoritas itu tidak ada dan terpecah berkeping-keping.

2) Ekspansi Islam dan tidak dibarengi dengan Islamisasi daerah-daerah jajahan/penaklukan. Sehingga menghasilkan feodlisme, konglomerat-konglomerat dalam Islam karena penguasaan tanah dan kekayaan yang sedemikian banyaknya, dan itu membahayakan kelanjutannya. 3) Pembunuhan Khalifah ke 3 yang itu dilakukan oleh ummat Islam sendiri bahkan disokong atau minimal dibiarkan oleh sebagian sahabat lainnya. 4) Kekacauan demi kekacauan itu menghasilkan tumbangnya Ali bin Abi Thalib melawan Muawiyah bin Abi Sofyan. Bagaimana Ali bisa kalah kalua sahabat mendukungnya kalua ummat masih berpegang teguh pada kebenaran Islam? Sebab semua sepakat pihak yang benar adalah Ali bin Abi Thalib. Lalu tidak hanya itu, kekacauan demi kekacauan, kekalahan kebenaran terhadap politik licik praktis menghasilkan hal yang tak terduga, dimana ummat Islam bisa diam (baik karena takut, bersekongkol, cinta dunia, ingin menyelamatkan diri atau lainnya) terhadap pelanggaran perjanjian, terhadap pemilihan khalifah Yazid bin Muawiyah, yang semua tahu dan sepakat dengan kebejatannya.

Ummat tidak kuasa dan diam terhadap peristiwa pembantaian di Mekkah dan kekejian-kekejian lainnya diprovinsi-provensi lain dalam wilayah Islam. Bahkan selevel Abdullah ibn Umar (anak umar ibn Hattab) yang dalam peperangan antara Ali vs Muawiyah memilih netral, saat Yazid bin Muawiyah berkuasa, terpaksa membaiatnya, karena tekanan Gubenur Yazid bernama Hajjaj bin Yusuf.

Ketakutan, rasa apatis, diam, terlalu lama terlena dengan ketenangan, kemegahan duniawi, kekayaan karena hasil rampasan perang dll menyebabkan pembusukan terhadap Islam. 40 tahun sejak Rasul sawa meninggal, Islam yang seumur jagung ini akan dibelokkan sedemikian rupa oleh kelompok-kelompok destruktif. Disinilah Imam Husein memberikan sock terapy untuk menghentakkan Mindset mereka, menghancurkan kontruksi pemikiran serta paradigma mereka.

Perubahan Konsep/Kontruksi Pemikiran

Supaya terjadi perubahan konsep secara radikal (akomodasi) dibutuhkan beberapa keadaan dan syarat seperti; 1) harus ada ketidakpuasan terhadap konsep yang telah ada. 2) Konsep yang baru harus dapat dimengerti, rasional, dan dapat memecahkan persoalan atau fenomena baru. 3) konsep yang baru harus masuk akal, dapat memecahkan dan menjawab persoalan yang terdahulu, dan juga konsisten dengan teori-teori atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. dll.

Menurut poster dkk, salah satu penyebab terbesar ketidakpuasan terhadap konsep lama adalah adanya peristiwa anomaly (hal yang aneh bahkan dahsyat keanehannya). Bila seseorang diberikan anomali-anomali, maka mereka menurut Chinn (1993) bereaksi dengan; 1) Mengabaikan dan menolaknya. 2) mengecualikan data itu dari skema/pemikiran yang telah ada, 3) Mengartikan kembali data itu, 4) Mengartikan kembali data itu dengan sedikit perubahan, dan 5) Menerima data itu dan mengubah skema atau konsep sebelumnya.

C. Implementasi

Strategi Imam Husein bin Ali Bin Abi Thalib

Untuk mencapai tujuan-tujuan visi besar Imam Husein dalam mengubah Mindset masyarakat Islam saat itu, maka beberapa hal yang Imam Husein lakukan diantaranya adalah;

1) Menerima surat dari masyarakat kufah dan mengirik Muslim bin Aqil kesana. Diskusi rasional, memberikan penjelasan dan mengirim kurir adalah strategi rasional dalam menjalankan misi suci, perlanana malakuti Imam Husein Ibn Ali. Dengan itu maka ada semacam itmamul hujjah (penjelasan rasional) akan mana yang benar dan salah, alasan melakukan sesuatu dan keterikatan terhadap baiat atau ikatan. Dalam Islam, didalam al Qur’an Allah selalu menjelaskan bahwa tidak akan menghukum kalua belum mengirim utusan, hujjah dan dalil-dalil. Ketidaktahuan (ke-jahilan) menyebabkan manusia-manusia itu selamat (tidak layak mempertanggungjawabkan perbuatannya). Imam Husein memastikan hal itu tidak terjadi. Allah tidak akan menghukum seseorang/kaum sebelum ada hujjah/dalil (QS. Asy-Syu’ara’: Ayat 208-209; Al-Isra’: Ayat 15; Al-Qasas: Ayat 59).

2) Memberitahu kepada ummat (saat Thawaf) dan mengajak seluruh keluarganya.

3) Selalu mengingatkan pada musuh-musuhnya bahwa dia adalah Al Husein bin Ali (Cucu Sesayangan Nabi saw), Manusia yang sholeh, Putra dari Zahra bintu Muhammad saw, bahkan beliau dalam beberapa riwayat dikatakan mengenalkan serban yang dipakai adalah serban kakeknya Rasul Muhammad saw dst. Keyakinan, kesadaran akan perbuatan-perbuatan mereka memungkinkan mereka untuk berubah atau mamastikan akan kebejatan dan kemunafikan mereka.

4) Beliau juga melakukan berkali-kali pembatalan baiat bila sahabat-sahabatnya ingin menginggalkan dirinya, sebab perjalanan itu sebab peperangan itu adalah peperangan yang seakan mengantarkan kepala untuk dipenggal, mengantarkan kematian dst. Tetapi berkali-kali pula sahabat-sahabat al Husein tetap teguh dengan Ikhlas, dengan keyakinan tinggi dengan penuh kesadaran akan apa yang akan dilakukannya apa yang diperjuangkannya.

Perubahan konsep, upaya mengubah kontruksi bahkan memperteguhnya selalu dilakukan oleh al Husein bin Ali bin Abi Thalib sehingga nampak kejelasan antara kegelapan dan cahaya, sehingga makin pasti antara kemunafikan dan mencari ridha ilahi.

Fenomena Al Hurr dan Syimr Dzil Jausyan

Perubahan-perubahan yang diupayakan sejak awal bahkan sampai detik-detik terakhir Imam Husein sedikit banyak membuahkankan hasil dan memastikan lawan maupun kawan. Al Hurr yang awalnya dalam kelompok Yazid (dalam barisan panglim Umar ibn Saad, dibawah Gubenur Ibn Ziyad), berbelok arah memihak al Husien ibn Ali. Sementara Syimr yang pada saat perang Siffin berpihak pada Imam Ali bin Abi Thalib, akhirnya menjadi Khawarij lalu memihak Yazid bin Muawiyyah.

Bagaimana menganalisa perubahan konsepsi kedua tokoh ini? Semuanya adalah hidayah Allah, tetapi “Keadilan Allah” memastikan bahwa ada trilogy Konsep-Sikap dan Tindakan sehingga mereka melakukan perubahan-perubahan itu (Wallahu A’lam dan menarik untuk dikaji secara psikologis lebih dalam).

D. Penutup

Ada bebebrapa pelajaran yang bisa ditarik dari perjalan Malakuti, Syahadah Imam Husein bin Ali diataranya adalah a) Selalu memilih kebenaran walaupun sedikit dan kecil.  Imam Jakfar pernah berkata, “Kebenaran, tidak ada yang layak untuk dilakukan kecuali bersandar kepadanya”. Kebenaran adalah tolok ukur dalam keberpihakan dan perilaku. Husein bin Ali dan sahabatnya tidak mengindahkan dirinya, keluargaya, hartanya dan lain sebagainya demi kebenaran, demin cawan cinta yang dijanjikan oleh al Husein. b) Sekalipun perjalanan itu adalah perjalanan Malakuti, perjalanan Cinta yang seakan tidak mampu dinalar kecuali dengan Isyq (cinta yang sangat kuat), tetapi Imam Husein menggunakan kaidah-kaidah umum rasional. Seperti; Bersurat dengan penduduk Kufah, Mengirim utusan untuk mengecek, memberikan penjelasan sebagai itmamul hujjah, menawarkan pembatalan baiat, sehingga memastikan kebulatan tekat, keyakinan kuat, kesadaran yang sangat tinggi, saat mengikuti perjalanan dan peperangan. c) Jangan terlalu yakin pada diri kita, sebab perubahan-perubahan itu dimungkinkan (contohnya adalah Syimr dan al Hurr). Ke-Islaman kita, Kecintaan pada Al Husein, menangisi al Husein, menziarahinya, memperingatinya dan banyak hal lainnya tidak memberikan jaminan kepastian, sebelum akhir hidup kita, sebelum kita mengikatkan kebenaran-kebenaran dan ajaran-ajaran yang diajarkan olehnya. Disinilah relevansi ayat, “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (ajal).” (QS. Al Hijr: 99: 1).

Muhammad Alwi.
Pendidik dan Peminat Studi Agama dan Filsafat.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama, Pendidikan Psikologi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s