Sekilas tentang Psychology Positive (Seri Pendidikan Positif 2)

Foto Rekreasi JKT Oke

Muhammad Alwi, S.Psi,.MM

Psikologi selama ini hanyalah ilmu yang berkosentrasi pada hal-hal negative pada manusia. Mengobati depresi, phobia, trauma dll. Pertanyaannya adalah; apakah ilmu psikologi hanya berfikir hal-hal negative manusia dan berusaha menghilangkannya? Lalu bagaimana kerja-kerja ilmu itu dalam hal positive pada manusia? Pada Manusia-manusia sehat? Apakah manusia-manusia sehat bisa dibuat lebih baik lagi? Dengan kata lain mereka tidak hanya sehat, tetapi lebih sukses dan lebih bahagia? Apakah itu mungkin? Sejak tahun 1988, ilmuwan, prof dan psikolog dari University of Pennsylvania, juga directur APA (American Psychology Association), mengemukakan konsep baru dalam psikologi yang disebut Positive Psichology. Dimana inti dari ini adalah bagaimana mengoptimalkan manusia dengan kemanusiaannya.

Beberapa bukti tentang perlunya psikologi positif;
1) Kekayaan hanya terkait sangat sedikit dengan kebahagiaan di dalam lintas negara, khususnya ketika pendapatan di atas tingkat kemiskinan (Diener & Diener, 1996).
2) Kegiatan yang membuat orang bahagia dalam dosis kecil – seperti belanja, makanan yang baik dan menghasilkan uang – tidak mengarah pada pemenuhan kebahagiaan dalam jangka panjang (Myers, 2000; Ryan & deci, 2000).
3) Terlibat dalam sebuah pengalaman yang sangat ‘intent-oke’ (“flow”) begitu menggembirakan. Berkegiatan semacam ini adalah kebahagiaan tersendiri. Flow dialami ketika ketrampilan seseorang yang cukup untuk kegiatan yang menantang, dalam mengejar tujuan yang jelas, dengan umpan balik langsung tentang kemajuan ke arah yang dituju (keberhasilan). Dalam kegiatan seperti ini, konsentrasi sepenuhnya terlibat pada saat itu, kesadaran diri menghilang, dan waktu tidak ada (Csikszentmihalyi, 1990). Inilah yang dikatakan para jenius penemu-penemu besar. Saat kami melakukan hal-hal serius, besar, butuh kosentrasi sangat banyak dan sangat lama, kami disana hanya tak ubahnya “ Bermain-main”.
4) Orang yang mengucapkan terima kasih secara teratur memiliki kesehatan fisik yang lebih baik, optimisme, kemajuan ke arah tujuan, kesejahteraan, dan membantu orang lain lebih (Emmons & Crumpler, 2000).
5) Mencoba untuk memaksimalkan kebahagiaan dapat menyebabkan ketidakbahagiaan (Schwartz et al., 2002).
6) Orang yang melihat orang lain berbuat baik , akan memotivasi yang lain untuk berbuat serupa. (Haidt, 2000).
7) Optimisme dapat melindungi orang dari penyakit mental dan fisik (Taylor et al., 2000).
8) Orang yang optimis atau bahagia memiliki kinerja lebih baik dalam pekerjaan, sekolah dan olahraga, kurang depresi, memiliki lebih sedikit masalah kesehatan fisik, dan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Selanjutnya, optimisme dapat diukur dan dapat dipelajari (Seligman, 1991; Lyubomirsky, Raja & Diener, 2005).
9) Dokter mengalami emosi positif cenderung membuat diagnosa yang lebih akurat (isen, 1993).
10) Pembangunan manusia yang sehat dapat terjadi dalam kondisi kesulitan bahkan besar karena proses ketahanan yang umum dan benar-benar biasa (Masten, 2001). 11) Orang tidak dapat memprediksi berapa lama mereka akan senang atau sedih setelah suatu peristiwa penting (Gilbert, Pinel, Wilson, Blumberg & Wheatley, 1998; Wilson, Meyers, & Gilbert, 2001). Para peneliti menemukan bahwa orang biasanya menaksir terlalu tinggi berapa lama mereka akan sedih setelah peristiwa buruk, seperti putus cinta romantis, namun gagal untuk belajar dari pengalaman yang berulang bahwa prediksi mereka salah. Dst

martin seligman oke

Martin Seligman Penggagas         Psychology Positive

Apa itu Bahagia?

Tujuan Hidup Manusia adalah menjadi Bahagia, sebab apapun keinginan kita (rumah mewah, gadis cantik, kesehatan dll) itu semua tujuannya adalah kebahagiaan, kebahagiaan itu summum bonum, kata berbagai pendapat. Tetapi apa Kebahagiaan itu?

Kebahagiaan memiliki kata dasar bahagia yang berarti keadaan atau perasaan senang dan tenteram atau bebas dari segala keadaan yang menyusahkan (KBBI, 2008). Kebahagiaan juga memiliki definisi kesenangan, ketenteraman hidup, keberuntungan maupun kemujuran yang bersifat batiniah (KBBI, 2008).

Aristoteles membedakan kebahagiaan menjadi dua, yaitu hedonic dan eudaimonic. Kebahagiaan hedonic merupakan kebahagiaan yang dirasakan ketika individu memenuhi keinginannya, merasakan afek positif dan tidak merasakan afek negatif. Sedangkan kebahagiaan eudaimonic merupakan kebahagiaan yang dirasakan ketika individu dapat mengenal dirinya dengan lebih jauh sehingga dapat mengetahui potensi di dalam diri serta menggunakannya dengan sepenuhnya (Baumgardner & Crothers, 2009, Engger 2015).

Diener dan Ryff menurunkan konsepsi Filsafat itu menjadi kontruksi Psikologis dengan merumuskan 2 Type Kebahagiaan itu menjadi subjective well-being dan psychological well-being.

Subjective well-being merupakan konstruk yang berkembang dari kebahagiaan hedonic dimana merupakan kondisi individu merasa puas akan hidupnya baik secara kognitif maupun afektif. Kepuasan secara afektif tercermin oleh mood dan emosi individu, sedangkan kepuasan secara kognitif adalah dimana individu berpikir bahwa dirinya telah mencapai apa yang diinginkan (Diener & Suh dalam Dodge, Daly, Hutton & Sanders, 2012). Definisi tersebut menunjukkan bahwa individu yang telah mencapai subjective well-being dapat dikatakan telah bahagia. Hal tersebut dikarenakan subjective well-being dan kebahagiaan memiliki kondisi yang serupa (Snyder, Lopez & Pedrotti, 2011).

Psychological well-being umumnya digambarkan sebagai kondisi kebahagiaan individu yang tertinggi atau dengan kata lain kondisi puncak individu. Hal tersebut membuat psychological well-being seringkali diasosiasikan dengan aktualisasi diri pada Maslow ataupun individuasi diri pada Jung (Ryff, 1989).

Aktualisasi diri adalah kondisi dimana individu dapat mempertahankan harga diri mereka dalam keadaan ditolak ataupun diabaikan oleh orang lain. Hal tersebut dapat dicapai individu ketika mereka dapat menyadari potensi dalam dirinya, mencapai pemenuhan diri dan memiliki hasrat untuk menjadi kreatif secara penuh (Maslow dalam Feist & Feist, 2006).

Sedangkan individuasi diri atau yang disebut juga dengan nama psychological rebirth atau self-realization merupakan proses pembentukan individu seutuhnya. Proses ini merupakan proses bergabungnya dua kutub kepribadian yang saling berlawanan dalam diri individu yaitu kutub kepribadian introversif dan ekstraversif, sehingga individu tersebut berada dalam kondisi yang seimbang antar introversif dan ekstraversif (Feist & Feist, 2006). Kedua kondisi tersebut menggambarkan kondisi puncak individu.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, Ryff pada tahun 1989 mengelaborasi lebih lanjut konsep psychological well-being sebagai konstruk psikologis. Konstruk tersebut tersusun oleh enam aspek.

1. Autonomy atau otonomi, yaitu kemampuan individu untuk dapat mengendalikan dirinya sendiri dan independen. Individu juga mampu bertahan dari tekanan sosial mengenai cara untuk berpikir dan berperilaku. Individu juga mengendalikan perilaku dari dalam dirinya sendiri serta mengevaluasi diri menggunakan standar yang dikembangkan sendiri.

2. Environmental mastery atau penguasaan atas lingkungan, yaitu kemampuan untuk menguasai serta mengendalikan lingkungan di sekitarnya. Individu mampu mengendalikan serangkaian aktifitas di luar dirinya yang kompleks. Individu juga mampu menggunakan kesempatan disekitarnya secara efektif serta mampu memilih atau menciptakan situasi yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai pribadi.

3. Personal growth atau pertumbuhan pribadi, yaitu kondisi dimana individu merasakan adanya petumbuhan yang terus berlanjut. Individu juga melihat dirinya terus bertumbuh dan berkembang. Individu terbuka dengan pengalaman baru dan mampu menyadari potensi dalam dirinya. Individu juga mampu melihat perkembangan dalam diri dan perilakunya seiring berjalannya waktu. Serta berkembang menjadi individu yang lebih mencerminkan pengetahuan akan diri sendiri dan efektif.

4. Positive relations with others atau hubungan positif dengan orang lain, yaitu kondisi dimana individu memiliki hubungan yang hangat, memuaskan, dan terpercaya dengan orang lain. Individu juga memiliki kekhawatiran dengan kesejahteraan orang lain serta memiliki empati yang kuat. Individu memiliki kasih sayang dan keintiman serta mengerti konsep menerima dan memberi dalam relasi interpersonal.
5. Purpose in life atau tujuan dalam hidup, yaitu kondisi dimana individu memiliki tujuan dalam hidupnya dan mampu mengetahui apa yang baik dan buruk. Individu juga dapat mengetahui makna dalam masa lalu dan kehidupannya saat ini. Individu juga memiliki keyakinan bahwa terdapat tujuan dalam hidupnya serta memiliki tujuan dalam hidupnya.

6. Self-acceptance atau penerimaan diri, yaitu kondisi dimana individu memiliki pemikiran positif terhadap dirinya. Individu juga mengetahui dan menerima segala aspek dalam dirinya baik aspek positif maupun negatif serta menerima masa lalu dirinya secara positif (Ryff dalam Snyder, Lopez & Pedrotti, 2011, dalam Engger 2015).

Karena sudah diturunkan dalam wilayah Psikologi dari konsepsi Filsafat, maka para psikolog terus mengembangkan dengan membuat alat ukur, sehingga kita secara ilmiah (dengan akurasi tertentu) mampu mengukur seberapa seseorang itu sudah mencapai kebahagiaan atau belum. Alat ukur yang dikembangkan dengan kontruksi ala Ryff, mulai digunakan sekitar tahun 90-an yang dinamakan Psychological Well-Being Scale (PWBS) (Ryff, 1989).

Catatan : Apabila ini ingin di implementasikan di Indonesia? maka perlu modifikasi tertentu. Bila ingin akurasi lebih maka perlu adaptasi alat test-nya bahkan pengindonesiakan sebab kadang kontruk Barat dan Timur sedikit berbeda.

Menurut Prof. Seligman (1988), ada tiga cara untuk bahagia:

  1. Have a Pleasant Life (life of enjoyment): Memiliki hidup yg menyenangkan, mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin. Ini mungkin sebuah cara yg ditempuh oleh kaum hedonis. Tetapi  cara ini jika tidak ditempuh denngan hati-hati, kita akan terkena dengan jebakan hedonic treadmill (semakin sesuatu kenikmatan kita cari, semakin kita sulit untuk dipuaskan) dan jebakan habituation (kebosanan karena terlalu banyak, misalnya ; makan es krim pada jilatan pertama sangat nikmat, tapi pada jilatan keduapuluh, kita jadi pengin muntah). Tetapi pada takaran tertentu yang pas dan tepat, cara ini bisa sangat mungkin bisa membahagiakan.
  2. Have a Good Life (life of engagement): Dalam bahasa Aristoteles disebut Eudaimonia, terlibatlah dalam pekerjaan, berhubungan dengan kegiatan yg membuat kita mengalami “flow”. Merasa terserap sepenuhnya dalam kegiatan itu, seakan-akan waktu berhenti bergerak, kita bahkan tidak merasakan apapun, karena sangat intent. fenomena ini diteliti secara khusus oleh rekan Seligman, Mihaly Csikzentmihalyi.  Flow memiliki bebagai ciri (7 ciri) yaitu: 1. Sepenuhnya terlibat pada apa yg kita lakukan (focused, concentrated, intent). 2) Merasakan “a senses of ecstasy” (seperti berada di luar realitas sehari-hari). 3) Memiliki “kejernihan yg luarbiasa” (benar-benar memahami apa yg harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya), 4) Menyadari bahwa tantangan pekerjaan yg sedang ia hadapi benar-benar dapat ia atasi (bahwa skill yg kita miliki cukup memadai untuk mengerjakan tugas tersebut). 5) Merasakan “kedamaian hati” (tidak ada kekhawatiran dan merasakan diri kita sedang bertumbuh melampaui ego kita sendiri). 6) Terserap oleh waktu (karena intent mengerjakan dan benar-benar terfokus pada “saat ini dan disini”, waktu seakan-akan berlalu tanpa terasa). Sebagai contoh; kadang kita membaca sebuah buku dikamar, kita lupa ini saat pagi, siang atau sore, kecuali kita melihatnya keluar atau melihat jam dinding. 7) Motivasi Intrinsik (dimana merasakan “flow” itu sendiri sudah merupakan hadiah yg cukup berharga untuk melakukan pekerjaan itu)
  • Have A Meaningful Life (life of Contribution): Memiliki semangat melayani, berkontribusi dan bermanfaat untuk orang lain atau mahluk lain. menjadi bagian dari organisasi atau kelompok , tradisi atau gerakan tertentu. Merasa hidup kita memiliki “makna” yang lebih tinggi dan lebih abadi dibanding diri kita sendiri.
Buku ku....bagus.jpg

Buku Karya Muhammad Alwi S.Psi,. MM

Inilah 3 hal yang diupayakan dikerjakan oleh positive psychology. 3 itu adalah, 1) Bagaimana memiliki hidup yang bermakna, 2) Pekerjaan yang membuat “flow” dan 3) Aktivias yg kita nikmati. Dalam istilah Dr Dianne A Vella-Brodrick yaitu, Bake A Cake (life of engagement = flow, membuat kue), Eat A Cake (life of enjoyment, memakan kue) or Give A Cake (life of contribution, membagi-bagikan kue). Manakah dari 3 hal itu yg membuat kita paling bahagia?

Bagaimana menerapkan dan mengupayakan ini dalam kurikulum pendidikan dan sekolah? Positive Education (pendidikan positif) menerangkan tahap-tahap dan Implementasinya disekolah (lihat selanjutnya di Seri Tulisan Pendidikan Positif (3).

Muhammad Alwi, S.Psi, MM
Guru, Konsultan Pendidikan, Mantan Kepala Sekolah SMP/SMA, dan Peminat studi Psikologi, Pendidikan, Filsafat dan Agama. Penggiat Kecerdasan Majemuk dan Pendidikan Positif.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s