Seri Tulisan Pendidikan Positif (3)

Haruskah Pendidikan Positif  diajarkan di sekolah?

Buku Psycology Positive

Buku : Hand Book Positive Psychology

Banyak orang yang berdiskusi dengan saya mengatakan bahwa “Pendidikan Positif”, sama saja dengan “Pendidikan Karakter”. Jawab saya adalah sama tapi juga berbeda. Saya Insya Allah akan jelaskan nanti (tapi cobalah kita lihat Silabus dan Rencana pembelajaran/RPP K-2013 Berkarakter Sekarang), akan nampak bahwa “Kebahagiaan” tak tersentuh.  Sekadar contoh karakter dalam salah satu RPP yaitu; Disiplin (Discipline), Rasa hormat dan perhatian (respect), Tekun (diligence), Tanggung jawab (responsibility ), Ketelitian ( carefulness).

Menurut penelitian para “Psikolog-Postif” (yang sekarang menjadi jargon APA-Association Psychologist American), Pertama , Mood Positif menghasilkan perhatian yang lebih luas, berpikir lebih kreatif, dan berpikir lebih holistik. Hal ini, berbeda dengan suasana hati yang negatif, yang menghasilkan perhatian menyempit, berpikir lebih kritis, dan berpikir lebih analitis. Ketika Anda dalam mood yang buruk, Anda lebih baik dalam masalah “apa yang salah di sini?” (mencari sebuah kesalahan). Ketika Anda berada dalam suasana hati yang baik, Anda lebih baik dalam berfikir “apa yang benar di sini?” (Masalah Kreativitas). Lebih buruk lagi: saat Anda dalam mood yang buruk , Anda jatuh kembali membela diri pada apa yang Anda sudah tahu, dan Anda mengikuti perintah dengan baik.

Kedua cara positif dan negatif dari berpikir adalah penting dalam situasi yang tepat, tetapi sering kali sekolah menekankan perintah berpikir kritis dan mengikuti dari pada berpikir kreatif dan belajar hal-hal baru. Hasilnya adalah bahwa peringkat daya tarik anak-anak pergi ke sekolah hanya sedikit di atas pergi ke dokter gigi.

Seligman dalam bukunya mengatakan, “Saya menyimpulkan bahwa, adalah mungkin, Well-Being (Kesejahteraan-Kebahagiaan) harus diajarkan di sekolah karena itu akan menjadi penangkal kejadian pelarian depresi, cara untuk meningkatkan kepuasan hidup, dan bantuan untuk belajar yang lebih baik dan berpikir lebih kreatif.

Bagaimana Skill of Well-Being  (Kesejahteraan = Kebahagiaan) diajarkan di Sekolah?

Tim riset yang dipimpin oleh Karen Reivich dan Jane Gillham, telah mengabdikan lebih dari dua puluh tahun terakhir untuk mencari tahu, dengan menggunakan metode yang ketat, “apakah kesejahteraan/kebahagiaan, Skill of Well-Being dapat diajarkan untuk anak-anak sekolah”. dari dua penelitian secara ketat yaitu The Penn Resiliency Program dan The Strath Haven Positive Psychology Curriculum. Hasilnya sangat-sangat memuaskan.

Intinya adalah program ini mempromosikan optimism, kemampuan menangani masalah, mengajarkan ketegasan, berfikir realistis dan fleksibel, relaksasi, dst. Tujuan program-program ini antara lain; (1) untuk membantu siswa mengidentifikasi dan meningkatkan kekuatan karakter  mereka dan (2) untuk meningkatkan kemampuan mereka menggunakan kekuatan itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bagaimana program ini dilaksanakan? Lihat secara lengkap uraian ini dalam situs  resmi Psychology Positive dalam; http://www.authentichappiness.sas.upenn.edu/newsletter.aspx?id=1551

 Bagaimana ini diterapkan disekolah?

Buku Hand Book Psychology Positive in School

Buku : Mempraktekkan Psikologi Positif di Sekolah

Untuk mengantarkan anak didik tidak hanya menjadi Sukses (Achievable) tapi juga Bahagia (Well-Bieng). Maka yang perlu dilakukan sekolah ini adalah; 1) Untuk meningkatkan pengalaman emosi positif pada siswa; 2) Mendorong siswa terlibat dan meningkatkan kekuatan untuk diri sendiri dan masyarakat; 3) Serta melibatkan para siswa untuk hidup berarti dan menemukan tujuan serta membuat/berkontribusi pada masyarakat secara umum.

Ada 7 hal yang diupayakan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan positif. ketujuh hal itu adalah;

  1. Emotion (Belajar Emosi Positive)
  2. Gratitude (Syukur, Terima Kasih)
  3. Strengths (Swot Analsis diri)
  4. Creativity
  5. Self-efficacy : Merupakan suatu bentuk kepercayaan yang dimiliki seseorang terhadap kapabilitas masing-masing untuk meningkatkan prestasi kehidupannya. Bagaimana meningkatkan perasaan, cara berpikir, motivasi diri, dan keinginan untuk memiliki susuatu target positive.
  6. Resilience (Ketahanan)
  7. Mindfulness (Kesadaran)

Minat dan Bakat dan Pendidikan Positif

Kita mengetahui secara psikologis dalam diri kita ada minat, dan ada bakat. Yang di minati itu ‘BIASANYA’ yang dibakatinya. Sebab salah satu ciri bakat adalah orang lain sulit melakukan itu dan kita mudah melakukannya (walaupun itu tidak pasti). mengapa itu tidak pasti seratus persen? ini dikarenakan ada pengaruh dari Cristalyzing Experience dan Paralyzing experience yang menyebabkan bakat menjadi tidak di minati (Pengalaman-pengalaman negative, paralyzing).  Dan tepuk tangan penonton kadang-kadang menjadikan minat sesuatu yang tidak dibakati (Cristalyzing).

Foto Rekreasi JKT Oke

Muhammad Alwi S.Psi,.MM

Sederhananya: Kalau kita melakukan yang kita minati, maka kita akan enjoy disana, kita akan siap berlama-lama disana. Bahkan tanpa kesuksesan tertentu (secara material), mereka atau kita akan puas disana. Jika keadaan lain dianggap tetap (cateris-paribus, dalam istilah ekoomi), maka kita akan secara umum expert disana. Sebab kita menyenanginya, membakatinya, siapa berlama-lama disana, siap mengorbankan waktu, tenaga kita. Bila kita menjadi expert disuau tempat, maka otomatis kita akan sukses. Tetapi kita perlu ingat bahwa ada perbedaan antara sukses dan bahagia. Expert akan menjadikan kita sukses, yang belum tentu bahagia (disinilah yang ingin diusahakan oleh pendidikan positif).

Sekadar contoh: banyak orang yang sukse, kaya raya, bekerja di perusahaan ternama, international dst, tetapi orang itu, menyisakan waktu-nya, menyisakan uangnya ratusan juta, hanya demi, hanya karena ingin meluangkan waktunya untuk hoby-hoby-nya. Pertanyaan selanjutnya adalah; Coba kita bayangkan, bagaimana nikmatnya, bagaimana ‘rasanya’, seandainya ‘hoby’ yang saya sederhanakan menjadi  minat,  itulah adalah pekerjaannya kita. Artinya kita bermain-main disana, kita tidak perlu meluangkan waktu dan uang kita demi minat kita, sebab pekerjaan kita adalah minat kita. Kalau ini terjadi maka,  “flow” (istilah yang diteliti dan dikemukakan oleh Mihaly Csikzentmihalyi), sangat mungkin akan sering kita dapatkan. Disinilah orang-orang hebat berada (Einstein,  Ronald Messy, Maradona, Mozart dst). Inilah idealnya, inilah harapannya, Walaupun disepakati, hal-hal ultimate tidak mesti dicapai.

Dalam hubungannya dengan IQ, EQ dan SQ bisa kita katakan (dalam menjelaskan antara minat-bakat dan kesuksesan).

IQ adalah batas bawah, sedangkan EQ adalah batas tengah sementara SQ dan SMI adalah batas atas.  Sekedar memberikan contoh menyederhanakan; Untuk menjadi dokter Kita butuh IQ tertentu (IQ jongkok tidak bisa masuk disana). Untuk sukses menjadi dokter, pasiennya banyak, jadi pejabat rumah sakit, butuh EQ tertentu. Dan untuk rela berkorban, malam-malam bangun, membantu orang miskin, berkorban demi kebahagiaan tertentu, memaknai profesi itu, dll, dibutuhkan SQ dan SMI tertentu.

Lihatlah Seri Tulisan Pendidikan Positif (2), dimana ada 3 hal yang diupayakan dikerjakan oleh positive psychology. 1) Bagaimana memiliki hidup yang bermakna, 2) Pekerjaan yang membuat “flow” dan 3) Aktivias yg kita nikmati. Dalam istilah Dr Dianne A Vella-Brodrick yaitu, Bake A Cake (life of engagement = flow, membuat kue), dibutuhkan kecerdasan, IQ tertentu, lalu Eat A Cake (life of enjoyment, memakan kue), dibutuhkan emosi, EQ tertentu dan Give A Cake (life of contribution, membagi-bagikan kue), dibutuhkan SQ tertentu untuk mampu dan menikmati melakukan membagi-bagi kue itu. Kita mesti memiliki dengan proporsi tertentu ketiganya.

 

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s