Kelemahan Berfikir Positif (Pendidikan Positif 8)

Kelemahan Berfikir Positif (Masaru Emoto dan Martin Seligman).

Foto Rekreasi JKT Oke

Muhammad Alwi, S.Psi,.MM

Dalam Tulisan sebelumnya (Seri Tulisan Pendidikan Positif yang ke 3, Haruskah Pendidikan Positif diajarkan di Sekolah), disebutkan bahwa paling tidak ada 7 kurikulum pendidikan positif, yaitu 1) Emotion (Belajar Emosi Positive), 2) Gratitude (Syukur, Terima Kasih), 3) Strengths (Swot Analsis diri), 4) Creativity, 5) Self-efficacy, 6) Resilience (Ketahanan) dan 7) Mindfulness (Kesadaran).

Belajar Emosi Positif tidak sama dengan berfikir positif yang banyak didengang-dengungkan beberapa saat yang lalu (dalam buku-buku, semonar motivasi dll).

Dr. Masaru Emoto (penulis The Healing & Discovering the Power of The Water) dan Martien Seligman (Penemu Psikologi Positif dan Penulis The Authentic Happiness).

Dalam salah satu bukunya Masuro Emoto mengatakan, Kita mesti berfikir positif, banyak keuntungan dalam berfikir positif, sementara berfikir negatif akan merugikan. Jika Kita banyak berfikir negative, maka :

1. Kita akan sering membiarkan diri kita stress maka kita akan mengalami. gangguan pencernaan. 2 Jika sering khawatir, maka kita bisa terkena sakit punggung. 3. Marah selama 5 menit akan menyebabkan system immune tubuh kita mengalami depresi selama 6 jam. 4. Jika mudah tersinggung maka kita akan terkena insomnia (susah tidur). 5.Menyimpan kepahitan akan menyebabkan Imun kita mati, dan dari situlah bermula banyak penyakit seperti strees, kolesterol, hipertensi, Serangan jantung, stroke, Arthritis, dll. 6. Jika sering kebingungan, akan terkena sakit tulang belakang bagian bawah. 7. Jika sering membiarkan rasa takut yg berlebihan, akan mudah terkena penyakit ginjal. 8.Jika suka cemas akan diikuti sakit dyspepsia (sulit mencerna). 9. Jika suka marah bisa sakit Hepatitis. 10. Jika sering apatis/acuh terhadap lingkungan, bisa mengakibatkan vitalitas melemah. 11.Jika sering tidak sabar, bisa mengakibatkan diabetes (sakit gula). 12.Jika sering merasa kesepian, bisa mengakibatkan sakit demensia senelis (memori & kontrol fungsi tubuh berkurang). 13. Jika sering bersedih, bisa menderita leukemia, dan seterusnya.

Banyak buku yang membahas tentang Positive Thinking, dan dalam buku-buku Mind Body Medicine, sangat banyak diulas hal-hal seperti ini. Bagaimana Pikiran mempengaruhi kesehatan.

Tetapi marilah kita lihat beberapa hal diatas (Walaupun semuanya adalah absah dan baik), sehingga teks-teks seperti ini sulit direalisasikan. Sthephen Covey juga sudah mengingatkan itu cukup lama. Bahkan dia sedikit banyak mengkritik “Berfikir Positive”, dimana itu seakan menyelesaiakn segalanya tanpa pendalaman cukup.

martin seligman okeMarilah kita lihat teks diatas stress, marah, menyimpan kepahitan dst. Perasaan dan emosi seperti ini adalah sesuatu yang sedikit banyak bertentangan. Sebab terkadang bahkan seringali Marah itu menurunkan stress dan Kepahitan yang terpendam. Disamping itu kita tahu bahwa Marah (dengan proporsi tertentu) itu dibutuhkan dalam banyak hal. Demikian juga, kita mesti diingatkan bahwa banyak manusia ‘sukses’ karena sifat alamiah dia yang “kurang positif”.

Misalnya; Devisi Kualitas, untuk wilayah dan pekerjaan seperti itu maka kualifikasi yang baik mestinya orang yang perfecsionis dalam artian tertentu. Dengan kualitas dan karakter tertentu maka kualitas akan lebih terjamin. Devisi sorteir kesalahan (barang rijek misalnya) juga perlu orang dengan nilai-nilai yang sedikit atau banyak adalah ‘negatif thinking’. Dan kata Martien Seligman, ‘Ternyata secara genetika, ada orang-orang yang dilahirkan menjadi Pemurung (Analis, Introvesrt, Pesimist dst) dan ada bagian lain yang dilahirkan Ceria (Pengembira, Extrovert, Optimist dst).’

Orang-orang ini dibutuhkan ditempatnya masing-masing, dengan kesenangan masing-masing dan kesuksesan masing-masing, serta memperoleh cara kebahagiaannya masing-masing.

Contoh menarik dikemukakan oleh Seligman. Ada seorang yang berkonsultasi dengan dia (Martin Seligman adalah seorang ilmuan dan psikolog terkenal di AS). Ia seorang analis keuangan yang cukup sukses dengan penghasilan dan karier bagus. Tetapi orang itu mengeluh pada Seligman sebab hubungan dia dengan wanita (dalam hal asmara, berpacaran) ia selalu gagal, dan dia sampai sekarang (saat dia berkonsultasi) belum memiliki pasangan yang cocok untuk menikah.

Lihat ini, bagaimana orang-orang baik yang tidak bahagia karena bertype berbeda, “PERNIKAHAN YANG TIDAK BAHAGIA”).

Dalam analisa Seligman diketahui jelas bahwa Si-Analis ini bertype (introvert, analis, bukan tipe penggembira dan ‘oke’ secara social-life). Sementara dalam hubungan asmara (mencari pacar dan pasangan) dia bertemu wanita-wanita yang cenderung menginginkan laki-laki yang extrovert, oke secara social dan romatis) padahal itu tidak banyak ada padanya.

Masaru EmotoMartien Seligman setelah menganalisa orang ini, dia menyarankan, laki-laki itu untuk make-date (pacaran) dengan wanita-wanita bertype Eropa (senang laki-laki gentelment, elegant, cenderung tidak banyak bicara, dan berwibawa). Setelah diberikan saran-saran tipe wanita itu, maka laki-laki itu mendapatkan wanita yang cocok dengan kepribadiannya, dan kepribadian itulah, salah-satu penyebab kesuksesannya.

Kita tidak perlu mengubah kepribadian kita, tapi kita perlu menyiasatinya. Kita diperintah untuk menyalurkan kemarahan kita, menyalurkan kejengkelan kita, walaupun juga pemaaf.

Marah adalah sifat dasar manusia, pendiri aliran psikologi behaviorisme John B. Watson menyebutkan bahwa manusia memiliki tiga emosi dasar, yaitu takut, marah, dan kasih sayang. Sedangkan, tim ilmuwan dari Universitas Glasgow, Skotlandia, dalam penelitiannya yang dimuat Jurnal Current Biology mengatakan ada empat emosi dasar manusia, yaitu bahagia, sedih, takut, dan marah. Sementara Richard G. Warga dalam bukunya Personal Awareness: A Psychology of Adjustment membagi manusia dalam lima emosi dasar, yaitu senang, sedih, cinta, takut, dan marah. Ada lagi pendapat lain tentang emosi ini, Daniel Goleman mengatakan ada delapan jenis emosi, yaitu marah, sedih, takut, nikmat, cinta, terkejut, jengkel, dan malu.

Tuhan menciptakan kita beraneka-ragam, agar kita menemukan maksimalisasi diri kita masing-masing, saling berhubungan, saling mengisi dan membutuhkan.

Marah itu baik, asal tahu kapan, dimana dan dengan intensitas bagaimana kemarahan kita itu. Berfikirlah positif dalam kebanyakan hal itu baik, tapi yang lebih penting miilikilah wawasan bahwa banyak jalan dan banyak hal yang mengarahkan kesuksesan dan kabahagiaan kita masing-masing, apapun diri kita.

Aristoteles (384-322 SM) mengatakan: siapa pun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, tidaklah mudah.

Muhammad Alwi
Integrated Multiple Intelligences dan Pendidikan Positif

Iklan

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s