Seri Tulisan Pendidikan Positif (6 – 1)

Apakah Sukses Sekolah = Cerdas

Book Psycologi CognitivePada tahun 1904, mentri pendidikan Prancis meminta psikolog Prancis Alfred Binet, dan sekelompok psikolog mengembangkan suatu alat yang dapat menentukan tingkat suatu keberhasilan anak disekolah (khususnya SD saat itu). Tujuannya adalah untuk meramalkan mana yang berkebutuhan khusus (pembinaan khusus), mana yang akan ‘sukses’, sehingga layak untuk diberi kesempatan.

Test yang dibuat Binet akhirnya menjadi standarisasi untuk menentukan anak yang ‘akan sukses’ dan ‘tidak akan sukses’ dalam sekolah. Bahkan akhirnya test ini menjadi stempel, labelisasi anak ‘pandai’ dan ‘tidak pandai’. Anak yang layak diterima dan tidak diterima, dalam kehidupan, khususnya dalam seleksi masuk sekolah, pekerjaan dan jabatan-jabatan yang akan dipegang dalam suatu industri, perusahaan atau lainnya. (Sebelum menerukan membaca ada baiknya anda membaca ini : Sekolah, Ilmu, Kaya, Sukses dan Bahagia? 

Secara sederhana dalam Wikipedia arti Intelegensi adalah sebuah istilah yang menggambarkan sebuah properti dari pikiran termasuk kemampuan terkait, seperti kapasitas untuk berpikir abstrak , pengertian , komunikasi , penalaran , belajar , belajar dari pengalaman masa lalu, perencanaan , dan pemecahan masalah.

Para ilmuwan telah mengusulkan beberapa definisi utama dari intelijen:

 Mainstream Science on Intelligence (1994), sebuah pernyataan editorial oleh lima puluh dua peneliti mengatakan: Kemampuan mental yang sangat umum itu, antara lain, melibatkan kemampuan untuk berpikir, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami ide-ide yang kompleks, belajar cepat dan belajar dari pengalaman. Hal ini tidak hanya buku belajar, keterampilan akademik yang sempit, atau ujian kecerdasan. Sebaliknya, itu mencerminkan kemampuan yang lebih luas dan mendalam untuk memahami lingkungan kita, “penangkapan atau “mencari tahu” apa yang harus dilakukan.

Dari sesuatu yang Knowns dan Unkwown (diketahui dan tidak diketahui) (1995), sebuah laporan yang diterbitkan oleh Board of Scientific Affairs of the American Psychological Association mengatakan:  Individu yang berbeda dari satu sama lain dalam kemampuan mereka untuk memahami ide-ide yang kompleks, untuk beradaptasi secara efektif terhadap lingkungan, untuk belajar dari pengalaman, untuk terlibat dalam berbagai bentuk penalaran, untuk mengatasi kendala dengan mengambil pemikiran. Meskipun perbedaan individu dapat menjadi substansial, mereka tidak pernah sepenuhnya konsisten: kinerja intelektual seseorang yang diberikan akan bervariasi pada kesempatan yang berbeda, dalam domain yang berbeda, sebagaimana dinilai oleh kriteria yang berbeda. Konsep “kecerdasan” adalah upaya untuk memperjelas dan mengatur fenomena kompleks ini. Meskipun kejelasan besar telah dicapai di beberapa daerah, konsep-konsep intelligensi tersebut belum menjawab semua pertanyaan penting, dan tidak ada persetujuan universal. (Baca ini : Sukses Sekolah Antara “Kemasan” dan “Isi”

Robert J. Stenberg (pakar psikologi Kognitif dan kecerdasan), dalam bukunya Cognitive Psychology, mengatakan; Intellegensi atau kecerdasan adalah Kapasitas untuk belajar dari pengalaman dan menggunakan proses metakognitif dalam upayanya meningkatkan pembelajaran, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Intelligensi mensyaratkan kemampuan adaptasi yang berbeda dalam konteks-konteks social dan budaya yang berbeda.[1]

Howard Gardner, mengatakan; Kecerdasan menurutnya, merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi. Intellegence (Kecerdasan) katanya adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi nyata (Gardner; 1983;1993).

Walau sekarang sudah banyak para pakar tentang pendidikan, tentang kecerdasan yang memberikan definisi baru, arah baru dan tujuan baru. Tetapi test Kecerdasan Alfred Binet-Stanford dikembangkan lebih lanjut dengan skala Wechster (untuk orang dewasa) tetap menjadi acuan dikebanyakan sekolah-sekolah kita. Dimana kalau kita lihat test itu hanya mengetest dua hal yaitu Linguistik dan Logis-Matematis (sedikit tambahan Visual-Spatial dengan pazzel-pazzel dan mencocokkan gambar). Anak dengan kemampuan lain akan dianggap ber-IQ rendah (dilabeli akan gagal, ditolak, tidak diperhitungkan dalam seleksi masuk baik sekolah, pekerjaan, profesi atau lainnya….sungguh sebuah ironi!)

Empat puluh tahun lalu, Banesh Hoffman dalam bukunya Tyrany of Testing, mengkritik banyak alat test, yang akhirnya menyebabkan National Education  Association (Amerika) mengubah total pendiriannya dan sekarang “mengakui adanya kebutuhan terhadap tes komprehensif berkala untuk mengevaluasi dan mendiagnosis kemajuan murid.”

Hanya sedikit orang yang menyadari bahwa tes yang sekarang digunakan di sekolah-sekolah di Amerika mewakili hasil akhir sebuah proses historis yang berakar dari kepicikan budaya dan ras. Banyak di antara para perintis industri tes modern, termasuk Lawrence Terman (pencipta tes IQ Stanford-Binet) dan Carl Brigham (pengembang Scholastic Aptitude Test atau SAT), mendukung eugenics, atau pengendalian sistematis karakter keturunan untuk mencapai superioritas ras. Mereka melihat tes sebagai sebuah cara untuk mencapai tujuan mereka. Menurut profesor Harvard Steven Jay Gould dalam bukunya yang terkenal, The Mismeasure of Man, tes-tes ini berpengaruh dalam mengesahkan sterilisasi paksa para individu yang dinyatakan “cacat” di beberapa negara bagian dan dalam upaya menghalangi masuknya imigran ke Amerika Serikat saat mereka melarikan diri dari ancaman Nazi di Eropa selama dekade 1930-an. (Thomas Amstrong; 2000; 41-42).

Pemikiran sesempit ini terasa mengejutkan bagi kita di zaman sekarang. Meski demikian, para psikolog masih menggunakan hasil tes untuk menunjukkan superioritas intelek suatu ras atas ras yang lain. Buku best-setter yang baru-baru ini dipasarkan, The Bell Curve, mengungkapkan pandangan bahwa berbagai kelompok etnis dan ras mempunyai tingkat kecerdasan yang berlainan dan bahwa masyarakat Amerika sedang menuju suatu titik di mana “elite kognitif” yang sebagian besar berkulit putih harus menghadapi konsekuensi negatif di bidang ekonomi dan sosial dari para individu (dengan status minoritas yang tidak proporsional) yang memiliki tingkat kecerdasan rendah.

Berdasarkan nilai tes, para penguasa menyalurkan murid-murid ke dalam “jalur” berlainan yang menentukan masa depan pendidikan mereka dan yang, akibat pelatihan yang mereka terima, menggariskan bidang pekerjaan yang akhirnya mereka tekuni. Meski kompetensi memang perlu dievaluasi, masih harus dipertanyakan apakah tes formal merupakan cara terbaik untuk mencapai tujuan ini.

Yang perlu diperhatikan, kami meringkas dari Robert J. Stein yang mencoba membuat test-test EQ, mengatakan, dan kami pikir sangat layak disampikan disini; Kami disini tidak sepenuhnya mendukung ‘menolak’ secara serampangan test IQ. Sebab test IQ masih bisa digunakan dengan dibatasi sebagai ‘penanda awal’. Artinya bukan ‘penanda tetap’. IQ adalah batas bawah untuk melihat sesuatu, tetapi performa akhir, batas atas banyak ditentukan oleh factor lain, yang sekarang diringkas dengan EQ (Emotional Intelligence).

_________________________________
[1] Untuk diskusi tentang “Human Intelligence”, Lihat Robert J. Stenberg, “Cognitive Psychology”, ed-4, 2006.

Foto Rekreasi JKT OkeMuhammad Alwi, Peminat Studi Psikologi, Pendidikan, Filsafat dan Agama.
Alumni Psikologi Pendidikan. Magister Manajemen Human Resource dan Kandidat Doktor, Manajemen Pendidikan di Univ Negeri Malang.  Menulis buku : Anak Cerdas Bahagia dengan Pendidikan Positif (Noora Book, 2014)serta Belajar Menjadi Sukses dan Bahagia (2011, Elexmedia, Gramedia)

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s