Problem Pendidikan Karakter dan Implementasi di Kelas?

Kalau kita melihat definisi pendidikan sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, maka dikatakan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan definisi di atas, maka ada 3 (tiga) pokok pikiran  utama yang terkandung di dalamnya, yaitu: (1) usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya; dan (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan.jpg

Definisi Pendidikan

Dari uraian diatas itulah, maka dikembangkanlah kurikulum pendidikan, sekarang ada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), ada Kurikulum 2013 dan lain-lain yang didalamnya memuat karakter-karakter apa saja yang ingin dimasukkan dalam suatu kempetensi tertentu pembelajaran. Dari kurikulum itu (ada Silabus dan pedoman –pedoman lainnya), dibuatlah buku-buku paket oleh para penerbit. Dan buku-buku itu dipandu dengan Silabus, dibuatlah lesson plan (Rancangan Pembelajaran, RPP) untuk diajarkan disekolah-sekolah/dikelas oleh para guru-guru kita.

Pendidikan Karakter

Dalam kamus Webster’s New World College Dictionary dan  The American Heritage Dictionary of the English Language, 4th edition, dikatakan; Karakter sebagai sifat khas, kualitas, atau atribut; karakteristik, kualitas penting; pola perilaku atau kepribadian yang ditemukan dalam individu atau kelompok; konstitusi moral, kekuatan moral; disiplin diri, ketabahan, dll. Kombinasi kualitas atau fitur yang membedakan satu orang, kelompok atau hal, dari yang lain.

Dari definisi diatas, sangat jelas, bahwa karakter adalah kualitas-sifat yang dimiliki oleh seseorang, yang dapat di/mem-bedakan satu orang atau kelompok dengan orang atau kelompok lain. Lalu mungkin disini perlu dipertanyakan, Apa saja karakter-karakter positif yang mesti dimiliki, dan akhirnya perlu ‘dicangkok’ kan dalam pendidikan kita, sehingga memampukan kita menjadi sukses sejati di era global ini? Sebab kita mengetahui bahwa ‘Karakter-Baik’ itu sangat banyak sekali.

Thomas Lickona mengatakan ada 10 Tanda Kemunduran suatu Bangsa yaitu; 1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. 2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, 3) Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, 4) Meningkatnya perilaku yang merusak diri seperti narkoba, sex bebas dan alcohol, 5) Kaburnya pedoman moral baik dan buruk, 6) Penurunan etos kerja, 7) Rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru, 8) Rendahnya rasa tanggungjawab baik sebagai individu dan warganegara, 9) Ketidakjujuran yang telah membudaya, 10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Dari 10 tanda itu, kita melihat semuanya secara significant ada pada bangsa kita. Maka dari itu tidak heran dan benar bila, sejak acara peringatan, 2 Mei 2010, Menteri Pendidikan Nasional menentukan tema “Pendidikan Karakter untuk Keberadaban Bangsa”. Mulai saat itu sampai sekarang seminar, workshop tentang pendidikan karakter marak dilakukan, dan untuk benar-benar masuk dalam sekolah, kelas, maka silabus dan RPP sekarang harus terintegrasi ada character-building nya.

Terdapat 9 pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal (Suyanto – laman Mandikdasmen) yang mesti dikembangkan di Indonesia, yaitu : 1) Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; 2) kemandirian dan tanggungjawab; 3) kejujuran/amanah, diplomatis; 4) hormat dan santun; 5) dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; 6) percaya diri dan pekerja keras; 7) kepemimpinan dan keadilan; 8) baik dan rendah hati, dan; 9) karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Buku ku....bagusLalu bagaimana pengimplementasian  upaya-upaya untuk menumbuhkan seri kekuatan-seri kekuatan diatas? Untuk mengimplementasikan hal-hal diatas, seri kekuatan yang semestinya dimiliki, diperlukan wadah, tempat penempaan sumber daya manusia. Disinilah diperlukan untuk memberikan penekanan dan perhatian lebih pada lembaga/institusi pendidikan dan pelatihan (baik pendidikan dasar, menengah, SMA-SMK, maupun perguruan tinggi) sebagai kawah untuk penempaan sumber daya manusia itu. Itulah sekali lagi urgensi pendidikan karakter.

Upaya Implementasi

Pendidikan Karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosi dan spiritualnya. Kecerdasan ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Definisi Pendidikan Muhammad Alwi .jpg

Definisi Pendidikan (Muhammad Alwi)

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis. Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.

Bagaimana mengajarkan ini dalam pendidikan kita? mulai dari pendidikan dasar, menengah bahkan sampai tingkat atas? Inilah ‘masalahnya’. Sebab pendidikan karakter itu ada pada tiga ranah sekaligus yaitu cognitive (misalnya: apa itu keadilan, apa itu kerjasama dst), lalu feeling (perasaan), bagaimana mereka merasakan kesenangan, kecintaan pada Keadilan dan Kerjasama serta ketiga action (tindakan), apakah mereka berbuat, bertindak terhadap ketidakadilan, senang bekerjasama, memiliki kemampuan bekerjasama dst.

Untuk upaya ini pemerintah melakukan serangkaian kebijakan, mulai dari peraturan, seminar, workshop dan lain-lain, guna memberikan panduan-cukup dalam pelaksanaan disekolah-sekolah/kelas. Ini terekam dalam dua hal penting yaitu Silabus dan Lesson Plan (RPP). Tetapi kalau kita lihat dari kedua panduan praktis dalam implementasi dikelas (ini bisa dilihat di website-websiet tentang Silabus dan RPP terbaru, maka tingkat ‘keberhasilan’ secara praktis kami agak skeptic.

Sebab karakter itu adalah kebiasaan, sifat khas, pola perilaku atau kepribadian. Artinya tumbuh dari upaya 3 hal sekaligus yaitu Cognitive, feeling dan Action sekaligus. Pembelajaran semacam ini contoh, figure sangatlah penting. Sedangkan guru kita, silabus dan RPP sangat artificial? Wallahu a’lam (perlu diskusi lebih lanjut).

Neurofisiologis Pembiasaan dalam “Belajar Karakter”

Dr. Mark Nuwer, kepala neurofisiologi di UCLA Medical Center, sewaktu menjawab pertanyaan Paul G. Stoltz, PhD atas pertanyaan, “Berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah kebiasaan?” Nuwer menjawab, Berapa lamakah waktu yang anda butuhkan untuk belajar jangan menyentuh tungku panas?”

Otak Fisiologi“Pada waktu Anda menyentuh tungku panas, alarm di otak anda akan langsung berbunyi, menyadarkan anda dimana anda menaruh tangan Anda.” Suara alarm yang keras itu,  sebagaimana dijelaskan oleh Nuwer, menjadi alat untuk memutus pola pikir bawah sadar di basal ganglia – suatu wilayah  tidak sadar dan otomatis di dalam otak – dan membawanya  ke wilayah otak yang sadar (cerebral cortex).

Dr. Nuwer menjelaskan bahwa proses belajar berlangsung di wilayah sadar bagian luar, atau bagian yang berwarna kelabu. wilayah ini disebut cerebral cortex. Proses belajar awal merupakan aktivitas yang membutuhkan banyak darah dan oksigen. Anda menyadari apa yang sedang anda kerjakan. Jika anda mengamati anak-anak yang untuk pertama kalinya mencoba menggosok gigi atau mengikat sepatu mereka, anda akan menyaksikan konsentrasi mereka sangat intens sewaktu mempelajari keterampilan-keteramp baru itu.

Namun, lama-kelamaan, jika anda mengulangi sebuah pola pikiran atau perilaku yang baru itu, kegiatan itu berpindah kewilayah otak bawah  sadar  yang bersifat otomatis. Wilayah ini disebut basal ganglia. Semakin sering anda melakukan sesuatu, semakin otomatis dan tidak disadari tindakan itu. Kebiasaan itu segera berubah dan lama kelamaan diperkuat.

Apa yang akan terjadi apabila saya menyuruh anda melakukan pejalanan mendaki yang tidak mempunyai papan-papan petunjuk? Bagaimana hal itu berpengaruh pada kecepatan dan efisiensi pendakian anda? Jelas keadaan itu akan memperlambat anda. Hal yang sama terjadi di dalam otak.

Pada waktu anda mulai untuk pertama kalinya, “jalur” neurolog itu belum berkembang. sambungan-sambungan yang ditimbulkannya relatif tidak efisien. Akan tetapi, semakin banyak anda melakukan atau memikirkan sesuatu, sambungan-sambungan itu akan meniadi semakin efisien. Bahkan, dendrit-dendrit atau sambungan-sambungan di otak Anda menjadi lebih tebal dan akan memproses rangsangan dengan lebih cepat. Sewaktu Anda melakukan atau memikirkan sesuatu secara berulang-ulang, otak Anda menyesuaikan diri dengan menciptakan jalur-jalur syaraf yang lebih rapat dan lebih efisien diotak kita. jalur itu pada akhirnya menjadi jalan neurologis bebas hambatan. Ini menjadi bagian dari struktur fisiologis sebuah Kebiasaan.

Paul suparno, dkk (2002) mengemukakan ada empat model penyampaian pembelajaran moral, yaitu; 1) model sebagai mata pelajaran tersendiri, 2) model integritas dalam semua bidang studi, 3) model diluar pengajaran, 4) model gabungan.

Tetapi sekali lagi guru sebagai figur, sekolah sebagai wadah mesti harus menjadi motivasi dan lingkungan untuk mewujudkan karakter-karakter itu, tanpanya, maka akan keberhasilan akan sulit diraih.

Mungkin tulisan ini perlu diakhir dengan kutipan (diambil dari Fungsionalitas Seorang Guru (11). Imam Khomeini saat setelah Revolusi Islam Iran ditanya oleh sekelompok pekerja minyak. Ya imam apa yang revolusi Islam inginkan dari kami? Jawab Khomeini; 1) Penyucian diri kalian. Manusia harus menyucikan dirinya terlebih lagi bagi pengajar, pengelola. Dia harus terlebih dahulu menyucikan dirinya supaya dia mampu menyucikan orang lain. Kata al Qur’an: Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya” (Qs: Al Isra’: 84). 2).  Anda harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diletakkan diatas pundak anda secara baik dan benar.

Itulah mengapa dalam Islam dikatakan ta’lim wa tarbiyyah (Pendidikan dan Pengajaran), “menyucikan mereka dan mengajarkan mereka (Qs: al Jumu’ah: 2).

Wallahu A’lam bi Al Shawab.
Foto Seminar MI OkeMuhammad Alwi: Guru, mantan Kepala Sekolah, konsultan dan Trainer Pendidikan. Penulis buku, “Belajar Menjadi Bahagia dan Sukses Sejati”, Impelemntasi Multiple Intelligence di Keluarga, Lembaga pendidikan dan Bisnis (Elexmedia, 2011, 304 hal). dan “Anak Cerdasa Bahagia dengan Pendidikan Positif”, Nourabook, 2014.

Iklan

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s