Bahaya Pendidikan dan Siapa Guru-mu?

Jeruk Apple

Pendidikan anara Kemasan dan isi

“Berilah kasih sayangmu (padanya, anak-murid, siswa dst: pen), tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,… jiwa mereka adalah penghuni masa depan yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi… sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau ” (Aforisma, Khalil Jibran Khalil). Bandingkan dengan tulisan ini Masa Depan dan Pengembangan Karakter (K-Mh : 2), dan Orang Tua, Masa Depan dan Pendidikan Karakter Anak Kita (Mh-20)

Mengapa dewasa ini lembaga pendidikan makin banyak, buku, sekolah, internet dan fasilitas pendidikan yang lainnya lengkap tetapi menghasilkan hal yang timpang. Peperangan antar bangsa, terorisme, premanisme internasional, degradasi moral, kenakalan remaja, perkosaan, narkoba, LGBT,  radikalisme dan lainnya marak dan bersemai?

Pertanyaan yang mesti diajukan adalah….apa yang sudah diberikan pendidikan dan pengajaran termasuk guru pada anak-anak didiknya, siswanya? Bagaimana gurunya dst.

Dalam pendidikan ada istilah pedagogy hitam, istilah ini keluar sudah cukup lama. Istilah ini populer setelah seorang pendidik dari Amerika-Latin yang beraliran Marxian, Paul-Freire, menulis buku tentang “Pedagogy of the oppressed” (pendidikan kaum tertindah). Dalam buku ini Freire mengeritik pendidikan sekarang yang bukan memanusiakan manusia tetapi justru menjadikan manusia menjadi bisu….buta.

Pendidikan adalah upaya menjadikan potensi menjadi aktualita, Pendidikan adalah menjadikan yang awalnya ‘tidak punya menjadi punya’. Punya karakter, punya pengetahuan, ilmu, skill, kesadaran, kekayaan, kesehatan dan lain sebagainya. Pendidikan akan menjadi seperti ini katanya, bila pendidikan itu melakukan tugasnya dengan baik. Bila pendidikan itu dilakukan dengan tidak baik, maka akan sebaliknya. Sebab Kurikulum, buku, proses pendidikan, pembelajaran, strategi, metode guru itu, katanya lebih lanjut, sebenarnya mengantarkan sesuatu “Realitas” kepada para murid-nya.

Walaupun sekarang diterima umum bahwa pendidikan itu dikontruk oleh anak-anak sendiri (dalam kontruktivisme pendidikan, yang mengambil dari teori Jean Piaget, dan dipakai didunia). Mereka mengatakan bahwa anak-lah yang mengkontruk realita (makna), dan itu memang ‘benar’. Tetapi mesti kita juga ingat, kontruk awal menentukan kontruk selanjutnya kata Piaget. Kontruk selanjutnya ditentukan oleh realita yang datang apa artinya?

Bettencourt (1989) juga menyebutkan beberapa hal yang menghambat kontruksi pengetahuan manusia; 1) Kontruksi pengetahuan kita yang lama, 2) Domain pengalaman kita, 3) Jaringan struktur kognitif kita.

Bila realita sudah diredusir, anak tidak melihat ‘realita sebenarnya’, tetapi realita yang disodorkan kepadanya, realitas yang disodorkan gurunya (realitas seorang guru)?Sementara pendidikan masih bermodelkan ‘model ‘bank’. Anak menghafal kejadian sesuatu, tahap demi tahap dan seterusnya. Tidak ada pertanyaan mengapa? pembanding, mengapa harus seperti ini dan seterusnya. Maka bukan realita yang dilihat oleh anak, tetapi pseudo-reality (realitas yang sudah teredusir oleh kepentingan, keinginan, skala prioritas dan seterusnya seorang guru).

[Untuk kasus pemahaman dan pendidikan agama, mengapa anak-anak dengan pendidikan tingi, pemikirannya tentang agama sangat dangkal bahkan terjerat terorisme yang absurd? lihat ini : PISAHKAN AGAMA DENGAN ILMU PENGETAHUAN (Nalar Agama dan Pendidikan Kita) ]

Kita lihat saja contoh kecil kejadian kecelakaan; kerumunan masa itu melihat berbagai macam realitas dan fakta dilapangan. Sekali lagi itu jelas, terlihat pasti dengan mata-kepala kita. Tetapi dalam mengambil pilihat data, maka; a) Ada yang mengamati bagaimana otak-nya keluar dari tempurung kepala korban, b) Ada yang mengamati dan tertarik bagaimana darah tercecer. c) Ada yang mengamati bagaimana orang-orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, mengamankan dompet, jam-tangan, sepatu bahkan kaca-mata si korban, d) Ada yang mengamati bagaimana kerumunan massa teriak-teriak saling berdesakan, padahal si korban butuh pertolongan cepat, e) Ada yang mengamati bagaimana sikap lambannya petugas kepolisian datang dan lain sebagainya.

Inilah realita, inilah fakta yang bermacam-macam. Guru dalam kelas bisa meredusir itu, wartawan meredusir itu, Televisi apalagi. Tergantung mana yang ditulis, tergantung mana yang diajarkan, tergantung mana yang dicatatakan, disodorkan, didokumentasikan, dan mana yang diminati (termasuk pesan investor). Seandainya ingin ngerjai polisi, maka polisi yang lagi kurang sigap yang didokumentasikan (difoto, disyuting) dan lain sebagainya.

Motif Tindakan

Antony Gidden : 3 Motif Tindakan

Antony Gidden mengatakan dalam bukunya bahwa, tindakan manusia dapat dibedakan menjadi 3 motif yaitu 1) Motif tidak sadar (unconciousness motives). Ke kampus bukan cari ilmu, hanya rutinitas. “Mengapa saya pakai pakaian warna ini hari sekarang?”, “Mengapa kita naik angkutan kota line ini sekarang bukan nanti setelah ini?” dan seterusnya. Ini semua dilakukan karena ada rasa aman secara ontologis” (ontologis security) katanya, sehingga kita tidak perlu lagi dan terus mempertanyaan setiap tindakan. Kita tidak perlu berfikir mengapa disini? 2) Kesadaran Praktis (practical conciousness), yaitu tindakan yang dilakukan sesuai dengan petunjuk, kebiasaan, formalisasi aturan, procedural, protab (prosedur tetap). Tindakannya, apa yang dilakukan sudah sesuai prosedur dan aturan. sekali lagi tidak perlu ada dipertanyakan lagi disini. apa benar? 3) Kesadaran diskursif (discursive conciousness) disini dalam melakukan tindakan, kita selalu memiliki cakrawala yang luas, menghubungkan kejadian yang satu dengan yang lain, selalu melakukan analisa social, mempertanyakan mengapa dan apa sebab harus melakukan ini dan itu dan seterusnya.

Tindakan yang ketiga inilah yang memungkinkan kita berubah. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari salah menjadi benar, dari terjajah menjadi merdeka, dari miskin menjadi kaya, dari tidak sadar menjadi sadar dan seterusnya. Inilah inti pendidikan mestinya dan inilah kerja guru pada mestinya. Mereka harus dan wajib membukakan cakrawala, pintu-pintu agar mereka sendiri yang mencarinya, menyelidikinya, memepertanyakannya lebih lanjut.

Kalau tidak ada keberanian mempertanyaan yang sudah mapan, maka revolusi Galelio tidak akan terjadi, sehingga akhirnya mengubah konsep gereja dari bumi sebagai pusat menjadi Matahari. Kalau bukan karena pertanyaan mendalam Einstein, maka teori Quantum tidak akan terjilma dimana itu menggantikan cara berfikir Newtonian.  Dalam Islam ada Imam Syafii dengan buku Ar-Risalah-nya, dalam dunia Syiah ada Imam Khomeini dengan konsep Wilayah al Faqih dan seterusnya.

Pertanyaannya : Bagaimana pendidikan dan lembaga sekolah kita sekarang ini? Bagaimana kampus, lembaga penghasil guru, pendidik dan lainnya? Lembaga pendidikan itu tidak memanusiakan manusia dengan bukti dan beberapa pertanyaan yang jelas.
Selesai sekolah, selesai atau pulang dari kampus, selesai kerja mereka sangat senang. Seakan ditempat sebelumnya itu adalah tempat penderitaan, ‘neraka’. Disana mereka wajib menggunakan masker, penutup diri, pura-pura, keluar dari kediriannya, hipokrit, tidak otonom dan lain sebagainya. Setelah keluar dari tempat itu (lembaga pendidikan, tempat kerja), mereka menjadi kembali sebagai manusia lagi. Dengan ucapan khas mereka…..ahhhh.
Ini seharusnya menjadii tolok ukur sederhana dan sulit, pendidikan dan lembaga pendidikan itu memanusiakan manusia atau tidak, dan ini juga semestinya yang menjadi tolok ukur apakah cara kita mengajar sudah sukses atau tidak, sudah memanusiakan manusia atau tidak.

[Untuk kasus ini dalam dunia kerja bisa dilihat disini SIKSAAN-MU ATAU SURGAMU, DIMULAI HARI SENIN HINGGA HARI JUM’AT…..]

Mari kita bertanya pada pada anak-anak didik kita dikelas, dikampus, di lembaga bimbingan, kursus, bahkan pada karyawan-karyawan kita. “Sekarang ada pelajaran atau kita libur”, “Sekarang ada kerja atau libur?” Jawabnya jelas, sekali lagi jawabnya jelas dengan proporsi sangat besar, jawabnya adalah libur…libur dan libur. Apa artinya itu?
[ Lihat tambahan tentang ini, khususnya bagaimana semestinya kita bekerja,  PEKERJAAN MENURUT KHALIL JIBRAN ]

Dalam karya besarnya pemikir komunis Italia (Antonio Gramsci, 1891-1937) ‘Prison Notebooks’ mengatakan, “Hegemoni kekuasaan dapat dijadikan alat menjadi hegemoni makna”. Secara ringkas dia mengatakan, Manusia secara ontologism memang bebas; ada kebebasan secara fisik (yaitu bebas dari belenggu, tidak terikat dan lainnya) dan bebas secara rohani (yaitu kemampuan untuk menentukan diri sendiri, apa yang kita fikirkan, bergerak kemana, untuk menghendaki sesuatu, untuk bertindak secara terencana dan lain-lain). Kebebasan rohani bersumber dari akal budi kita, Kebebasan rohani kita seluas jangkauan fikiran dan bayangan kita. Makin luas jangkauan fikiran kita makin luas kebebasan kita. Sedangkan keluasan jangkauan kita, itu tergantung dari wacana, cakrawala berfikir, dan langit langit pikiran kita. Ini semua tergantung dari pengalaman kita, atau informasi yang kita miliki. Makin luas pengalaman dan informasi yang kita miliki makin banyak alternatif-alternatif yang kita punya akan  makin besar pula kebebasan kita.

Ada ucapan; “Tidak mungkin anak dari pedalaman papua, yang masih tidak mengenakan pakaian lengkap, berimajinasi, berhayal untuk merampok bank dengan membobol security computer ATM”. Apa makna dari kata-kata ini? Kurang lebihnya adalah; kita berfikir, mengatakan salah-benar, berguna-tidak berguna (yang ini sering membuat beda pendapat, ribut-ribut, demo, bahkan perang), perlu tidak perlu, dikerjakan sekarang atau nanti, skala prioritas, tergantung wacana kita masing-masing. Pertanyaannya darimana wacana itu?

Contoh lain : Kita pengguna internet, maka kita pasti ingat google dan bagaimana sangat berkuasanya dia disana. Bila anda (dalam artian akun anda, tulisan anda) ‘tidak disukai’ oleh Google, maka anda masuk daftar pencarian mungkin dilembar ke 12 atau lebih. Apa arti itu semua? Informasi yang ingin anda tampilkan tidak ‘mungkin’ sampai dan terbaca serta diketahui orang. Maka itu jangan heran kalau kursus SEO (search engine operation, bagaimana menempatkan daftar web kita di 10 teratas) cukup marak dan mahal.

Dalam pembelajaran ekonomi misalnya (kebetulan saya praktisi pendidikan, guru). Saat kita membahas pengaruh permintaan-penawaran dan subsidi serta tax (pajak). Dengan menggunakan grafik dan gambar-gambar limit, turunan dan seterusnya (rumus-rumus matematika). Pasti akan terlihat campur-tangan apapun dari pemerintah akan merugikan baik sisi penjual/pembeli. Apa benar seperti ini realitanya?

Sekali lagi, kita perlu lihat dan banyak realita yang kita lihat, yang disodorkan pada kita bahkan yang lebih parah adalah mulai dari anak-anak realita itu di konstruk. Sebenarnya sudah teredusir oleh kelompok tertentu dan kepentingan tertentu.

Pendidikan Nasional

Dalam pendidikan nasional misalnya; Awalnya tujuan pendidikan ada di GBHN (mau dijadikan apa anak didik kita, remaja kita sebenarnya inilah guiden-nya), disini peran lembaga legislative sangat penting. Lalu masuk ke UU Sisdiknas, lalu Perpu atau peraturan setingkat kementrian disini keluarlah kurikulum (yang diacu adalah kompetensinya, indicator-indikator pencapaian keberhasilannya). Kurikulum sudah berubah-ubah mulai dari Kurikulum 84, 89, 94, 99/KBK (Kurikulum Berbasis Kopetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), keluar SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), SBI dengan Cambridge Certificate, lalu K-2013. Disini kita bisa lihat arah-tujuan, kepentingan dan seterusnya. Kita bisa lihat proporsi pelajaran social, pelajaran karakter building, moral dan agama, pelajaran sain dan bahasa. Mengapa proporsi-nya seperti ini? Jelas ada tujuan, kepentingan, proyek mungkin dan lain sebagainya.

Dari kurikulum-kurikulum itu, komperensi dasar dan indicator-indikator itu keluarlah buku-buku yang ditulis oleh para ‘pakar’ dan penerbit. Dan inilah yang dibaca oleh anak-anak kita, diajarkan oleh guru dst. Mereka takut keluar dari itu mengapa? Sebab ada ujian bersama (standartrisasi satu kabupaten, kecamatan, provensi dan seterusnya). Ada kisi-kisi, mereka takut keluar dari itu, sebab bisa muspro (tidak berguna) diajarkan tapi tidak kelaur di ujian Diknas, Ujian bersama, UNBK dan lain sebagainya. Diajarkan tapi tidak kelauar di UNBK, SNBTN, SIMAK atau apalah istilah penjaringan ke perguruan tinggi negeri.

Belum ada lagi kampus yang sangat mahal sekarang ini, sejak ada BHPN (badan Hukum Pendidikan Nasional, walaupun dikalahkan di MK) atau bahasa lain swastanisasi perguruan tinggi negeri. Karena hal itu maka PTN-PTN ternama seperti UI, ITB, UGM, UNDIP, Brawijaya dan lainnya mematok harga masuk yang sangat tinggi.

Sebagai perbandingan :
Masuk kedokteran sekarang rata-rata 75 sampai 150 juta rupiah. Apa anak-anak golongan menengah apalagi bawah mampu itu ? Berapa prosen penduduk Indonesia yang mampu secara ekonomi (bukan secara kemampuan bersaing kognitif). Bandingkan dengan 20 tahun lalu (penulis mengalami sendiri).
Untuk masuk Kedokteran Umum Universitas Airlangga Surabaya, maka kita membayar  uang gedung atau KOPMA atau apalah istilahnya hanya 1,5 juta rupiah dan SPP hanya 120/semester. Jumlah ini tergolong sangat murah atau cukup murah. Kalau ada yang mengatakan bahwa itu kan 20 tahun lalu? Jawabnya adalah coba kita pakai standart kesetaraan daya beli (ini indicator yang cukup rasional, atau mungkin pakai inflasi misalnya).
Tahun 1989 atau 1990 harga Motor Honda terbaru harganya 1,5 juta. Sekarang 15 -20 juta. Maka kalau menggunakan kesetaraan daya beli, mestinya masuk Unair Kedokteran Umum harus membayar sekitar 15 – 20juta.
Tetapi lihatlah sekarang, khususnya di jurusan kedokteran, seakan ada kata-kata, ” Anak miskin dilarang masuk disini? Apa seperti ini amanat UUD 45, GBHN, dan komitmen pendidikan kita?

Sekolah dan Pendidikan Mahal

Mengapa mereka, guru, pendidikan dan pengelola kampus bisa seperti itu? Jawabnya karena pendidikan yang mereka peroleh adalah pendidikan bisu, pendidikan yang menjadikan mereka intelegensia bukan intelektual kata Sayyid Husein Alattas (Syed Husein Alatas, “Intelektual Masyarakat Berkembanga “, LP3ES, 1988).

Ini semua adalah wacana bagaimana gambaran problema pendidikan, antara ide dan realita, antara kepentinngan dan semestinya. Harus ada pemikiran mendasar buat para pengkaji, pembuat kebijakan tentang pendidikan nasional kita. Bila kita ingin pendidikan kita menjadi seperti tujuannya. Dari tertinggal menjadi setara dan pemenang, dari terjajah, terintimidasi menjadi punya harga diri dan kesetaraan. Dari Negara miskin menjadi kaya dan sejahtera.

Dengan gambaran-gambaran ini, maka kita bisa memiliki “Strategi Kebudayaan” meminjam kata-kata C.A. Paursen. Kalaupun ikut arus, itu karena dengan sadar karena tidak ada pilihan atau sulit untuk melawan, tetapi mengetahui lubang-lubang didalamnya, atau bila mungkin melawan arus atau mungkin ikut dengan mengupayakan perubahan-perubahan baik dari dalam atau melakukan perlawanan-perlawanan untuk menentang arusnya dikemudian.

Dan peringatan, sejarah, pengalaman masa lampau itu mestinya kita ambil, dan yang mampu mengambil peringatan-peringatan itu hanyalah mereka yang kata tuhan sebagai “ulil albab”.

Wallahu al a’lam bi al Shawab. La Hau la wala Quwwata Illa Billah.

Foto Ana Jakarta OkeMuhammad Alwi. S. Psi,. MM. Pendidik, Guru, Mantan Kepala Sekolah, Konsultan Pendidikan serta penggiat Pendidikan Positif dan Pendidikan Berbasis Kecerdasan Majemuk. Penulis buku, “Belajar menjadi Bahagia dan Sukses Sejati, Implementasi Pendidikan Berbasis Kecerdasan Majemuk” (Elexmedia, Kompas-Gramedia, 2011) dan “Anak Cerdas dan Bahagia dengan Pendidikan Positif” (Nourabook, 2014). Peminat,  studi Psikologi, Filsafat, Agama dan Pendidikan.

Iklan

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s