Renungan ke-185 : Perjuangan, Keajaiban dan Mukjizat

Sayyidina Ali dan Benteng KhaibarRenungan :
Kita tahu bahwa banyak orang yang diberikan kelebihan oleh Tuhan, bahkan dianggap suci dan memiliki karamah atau mukjizat. Tetapi perlu disadari bahwa, setiap orang yang lahir dari rahim seorang wanita  terikat oleh aturan dari dunia fana, artinya dia tidak bisa lepas kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian.

Ketika orang  dengan segenap ketulusan jiwa dan raganya untuk menghapus kejahatan dan membangun tatanan hidup yang baik dan benar. Ketika aib dan dosa dalam diri bisa diperangi…Maka Tuhanpun akan melakukan keajaiban untuk melindungi moralitas, untuk menetapkan kesejatiannya.

Ketika seseorang berserah dan membuang keegoisannya dan segala dosanya dan siap untuk mengorbankan segala miliknya. Maka seluruh ciptaan akan diberkahi dengan mujizat. Ini adalah keseimbangan penciptaan. [sehingga jangan heran keajaiban-keajaiban itu bisa muncul dimana saja]. Tuhan hanya melakukan mujizat ketika ada yang melawan hukum alam [kedholiman yang dahsyat dan lawannya kebaikan yang dahsyat]. Namun, Kesejatian yang sebenarnya ada dalam hati setiap umat. [Bukan urusan keajaiban, karamah dan mukjizat]. Sehingga manusia jangan pernah menyerah untuk berjuang.

Setiap kali seseorang berjuang untuk menghindari dosa, bahkan dalam berntuk perjuangan yang kecilpun, Tuhan akan melakukan mukjizat untuk melindunginya. Termasuk di saat seorang banyak mendapatkan ketidakadilan, tetapi mereka tidak pernah punya niat  untuk melawan hukum, walaupun  setelah begitu banyak penghinaan, rasa sakit dan penindasan.

Manusia-manusia agung dan suci, tidak menerima kekalahan [melawan kebenaran walaupun menderita termasuk dicurangi]. Itu sebabnya, Tuhan menunjukkan keajaibanNYA.  Artinya jika kita ingin untuk mencari bantuan dari alam semesta dan juga dari Tuhan pastinya, maka pertama-tama berserahlah dan jauhilah keegoisanya dan segala dosa-dosa. Belajarlah untuk tetap tegar disegala keadaan!

Banyak contoh-contoh itu, bagaimana Nabi saw saat perjanjian di lembah Syi’ib Abu Thalib, mereka diboikot sedemikian rupa dan akhirnya perjanjian itu (yang terbuat dari kulit) dimakan rayab, yang artinya perjanjian berakhir. Bagaimana Sayyidina Ali yang menjebol benteng khaibar saat itu. Bagaimana Sayyidina Ali dikalahkan oleh politik licik Muawiyah dan Amr Ibn Ash? Ali kalah tetapi dunia dan alam mengenangnya sebagai kebenaran, keadilan dan dialah sejatinya yang menang. Banyak ayat dan hadist yang menunjukkan bahwa alam akan tunduk dan diberikan kepada mereka-mereka yang bertaqwa. Tetapi apakah mereka tidak seharusnya kalah? Ada ketentuan-ketentuan Allah yang tidak bisa diubah, sehingga kita hanya diwajibkan untuk berupaya semaksimal mungkin. Keyakinan bahwa kalau aku taqwa maka akan begini dan begitu itu sudah bukan taqwa lagi. Pasrah dan tersenyum dengan ketentuannya (ridha) dan berupaya semaksimal mungkin itulah nilai kesejatian manusia.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s