4 Kategori Ahlul-Bait, Habib dan Sayyid?

Habib, Sayyid, Ahlul Bait dan Kriteria Penghormatan pada Mereka.
HabaibWacana Ahlul-Bait sudah lama ada, diskusi tentangnya juga sudah dilakukan. Kata Ahlul Bait terekam dalam al Qur’an surat al Ahzab ayat 33,  “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab ayat 33). Kemudian didukung dengan ayat lainnya, “Katakanlah wahai Muhammad, tiada aku minta suatu balasan melainkan kecintan kalian pada kerabatku.” (QS 42:23).

“Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“ (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148, juga Muslim dalam Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali, dll).

“Dari Ibnu Abbas bahwa ketika  turun firman Allah SWT Surat As-Syura ayat 23, ‘Katakanlah hai Muhammad, ‘Aku tidak meminta upah kepada kalian kecuali rasa cinta pada kerabatku.’’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka yang Allah perintahkan kami untuk mencintainya ya rasul?’ Rasulullah menjawab, ‘Ali, Fathimah, kedua anak mereka, dan keturunannya. Mereka adalah keluarga besar.’ Ada ulama yang mengatakan, mereka adalah cucu keturunan keduanya.’ Demikian penjelasan sebagai dikutip dari Syarhul Fasi alad Dala’il, (Lihat Imam Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 70).

Dan banyak hadist-hadis lainnya, sehingga disepakati bahwa Ahlul Bait dan keturunannya diberikan penghormaan yang cukup kepadanya. Bahkan sebagian pendapat  mengatakan, mereka mendapat hak khumus, tidak boleh menerima shodaqah dan lain sebagainya. Lalu bagaimana mensingkronkan antara keharusan menghormati mereka, hak-hak mereka dan kelakuan sebagian mereka yang menyimpang? (Baca juga : Sikap Habaib dan Nalar Moderat : Terhadap Ucapan selamat Hari Natal

Ahlul Bait antara Substansial dan Formal

Ahlul-Bait dalam ayat diatas hanya terdiri dari Ali-Hasan-Husein dan Fatimah binti Muhammad saw. Keturunan Hasan dan Husein yang memperoleh kedudukan istimewa dikalangan kaum muslimin dikenal dengan sebutan ‘Syrief’ dan ‘Sayyid’. Hanya kelompok-kelompok minoritas dari salafy dan wahabi yang mengatakan keturunan Rasul saw tidak ada, sementara mayoritas muslimin mempercayai dan menerima itu.

Sayyid atau Syarief kadang dipanggil habib yang maknanya adalah yang dicintai, kadang disebut ‘yek’ di jawa-timur. Sayyid secara formal adalah mereka yang secara keturunan diambil dari laki-laki dan bersambung sampai kepada Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, karena mereka bersambung kepada Rasul saw lewat anak-nya Fatimah (dengan berbagai dukungan hadist dan lainnya).

Tetapi melihat berbagai fenomena seperti Salman al Farisi (karena maqam iman, keilmuwan, ketaqwaan,  pembelaan pada Islam dan lain sebagainya), Salman disebut Ahlul Bait, “Salman adalah bagian dari kita, sebagai ahlul bait.” (Al-Mu’jam Al-Kabir Lit Thabrani: 6040), walaupun secara keturunan dia bukan dari Hasan dan Husein, dia orang Persia (Iran).

Sementara yang lain, Anak kandung Nabi Nuh as, dikatakan bukan bagian dari keluarga Nuh as. “Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil’.” (QS Hud: 35), tetapi Tuhan mengatakan, “Wahai Nuh!. Sesunggunya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik” (QS Hud: 46). Makna dari dua hal diatas adalah jelas, bahwa Sayyid (Ahlul Bait) secara formal (mereka keturunan Hasan dan Husein). Maka mereka layak untuk mendapatkan penghormatan-penghormatan, bila mereka tidak menyimpang secara syariat (apalagi Kafir, seperti anak-nya Nabi Nuh as). [Baca juga : Renungan 245 : Pendidikan antara Cinta dan Cinta Buta?

Jadi kita bisa mengatakan dengan cukup pasti bahwa maqam sayyid ada 4 kategori yaitu;

  1. Sayyid yang secara formal (keturunan) sayyid, dan secara substansial (isi) dia juga baik dan taat pada agama. Ini adalah maqam tertinggi manusia didunia, oleh karenanya bahkan dikatakan kepemimpinan itu mestinya diserahkan kepada mereka.
  2. Sayyid secara substansial (isi). Dia bukan sayyid secara keturunan (formal), tetapi keimanan, ilmu, ketaqwaan dan lain-lain tinggi. Maka orang seperti ini layak untuk mendapatkan penghormatan-penghormatan pada-nya.
  3. Sayyid secara formal tetapi secara substansial (isi) dia bukan sayyid. Secara keturunan dia berasal dari hasan dan husein tetapi perilaku, ketaqwaan dan lain sebagainya mereka sangat-sangat kurang, atau menyimpang. Maka mereka tidak layak mendapatkan penghormatan semestinya, tetapi sekadar penghormatan-penghormatan karena mereka memiliki kriteria formal sayyid. Bagaimanapun mereka tidak sama dengan orang-orang biasa yang secara ketaqwaan juga biasa-biasa saja. Mereka tetap mendapatkan hak-hak fiqh seperti khumus, tidak boleh menerima shodaqah dst.
  4. Sayyid yang keluar dari ke Islaman (Kafir). Dia jelas bukan dianggap Sayyid.

Bagaimana dengan ungkapan, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS. Al Hujurat: 13), juga berbagai hadist lain bahwa Allah melihat Kataqwaan seseorang buka yang lainnya?

Jawabnya benar secara umum, bukan secara khusus. Kalau manusia umum maka yang paling taqwalah yang terbaik. Lalu bagaimana kalau sama-sama taqwa dan yang lain adalah seorang sayyid dan yang lainnya lagi bukan sayyid? Orang yang sangat taqwa itu masuk kategori ke 2, tetapi tidak bisa mengalahkan yang ke-1, sebab ke-sayyidan secara formal itu ada nilainya. Tetapi Kategori yang ke 3 tidak serta merta bisa mengungguli kategori yang ke-2 walaupun (no-2) mereka bukan sayyid secara formal.

Saya pikir inilah yang semestinya dipetakan, sehingga kita mampu melihat sayyid dengan baik, proporsional dan tidak berlebihan atau kekurangan.

Muhammad Alwi
Salam : Pendidikan Positif

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang, sekarang studi lanjut di Department Psychology. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s