Renungan : Pendidikan antara Cinta dan Cinta Buta?

Cinta dan Cinta Buta Qoute.jpg

Cinta sering kali menjadi alasan akan beberapa hal yang menabrak pada kebenaran. Dengan alasan cinta pada anak-anak-nya misalnya, kadang orang tua salah dalam memberikan ajaran-ajaran yang mengembangkan karakter, kebenaran dan kebahagiaan.[Dengan alasan cinta kadang mereka mengatakan, memang cinta itu ‘tidak rasional, sehingga cinta itu membawa ke-‘gila’-an, termasuk kelompok agama ada yang mengatakan cinta sudah melebihi syariat dan boleh ‘menabrak’ hal-hal yang dalam hal kewajaran. Kalau demikian adanya, pertanyaannya adalah, “Mana cinta yang benar dan mana yang salah”? Mana perilaku menyimpang dan mana yang tidak? Bagaimana tolok ukurnya? Kalau ada ajaran yang sesat dan ada ajaran yang baik, bagaimana menimbangnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan mampu dijawab, dengan alasan cinta diatas]

[Dalam hubungan dengan anak, pendidikan orang tua, bagaimana mereka menurut keinginan anak, kasihan karena cinta dan mengajar mereka tahu kapan semstinya dilakukan, disiplin, berbagi dst ini sangat penting. Bila tidak anak-anak setelah dewasa bisa terkena “Penyakit Karakter”. Apa itu, lihat disiini Penyakit Karakter ]
___________
Cinta yang sebenarnya akan membimbing orang menuju kesuksesan. Cinta itu akan mengajari seseorang tentang yang pantas dan yang tidak pantas. Cinta membuat orang tidak akan terikat dengan ketidakbenaran. Berbeda dengan cinta buta, dimana ada Cinta dan mengatasnamakan Cinta, maka disitu tidak ada cinta buta dan ketidakbenaran.
[Baca juga : Bagaimana usaha para orang tua menghilangkan kesulitan-kesulitan pada anak-anak mereka, Renungan ke-20 : Orang Tua, Masa Depan dan Pendidikan Karakter Anak Kita ]
_________________
Cinta itu lahir dari kasih sayang, sementara cinta buta lahir dari arogansi. Cinta mengatakan bahwa anaknya akan mendapatkan semua kebahagian dunia dari yang mahakuasa, sedangkan cinta buta seakan mengatakan bahwa orang tua (atau sesuatu yang dituju) sendiri yang akan memberikan semua kebahagiaan pada anaknya.

[Seakan orang tua mampu memberikan kebahagiaan dan menyingkirkan penderitaan anaknya, bukan diri anak itu sendiri dan bukan Tuhan yang Maha Kuasa. Mereka seakan dengan memberikan fasilitas, jalan-jalan sukses yang mesti dilalui dan seterusnya, menganggap/dianggap itu adalah hal terbaik buat anak-anak mereka nantinya].

Cinta mengatakan bahwa dia akan bangga pada anaknya, sedangkan cinta buta mengatakan bahwa anaknya akan bangga pada orang tuanya.

[Dengan fasilitas dan pemberian-pemberian lainya, maka orang tua dibanggakan oleh anaknya bukan sebaliknya, sementara cinta sejati dan benar, maka anak-anak itu akan tumbuh menjadi pribadi baik dan membanggakan orang tua mereka]

Cinta memberikan kebebasan, sedangkan cinta buta mengikat seseorang. Cinta adalah kebenaran, sedangkan cinta buta, cinta buta adalah ketidakbenaran.

[Orang tua akan sangat sedih dan menderita terhadap perilaku anaknya, bahkan mereka sangat was-was bahkan bisa sangat tersiksa karena anak-anaknya, perilakunya, permintaannya, keharusan melindunginya anak-anaknya terus menerus dilakukan, termasuk memikirkannya, bahkan kadang orang tua melakukan hal-hal yang tidak pantas karena cinta butanya]

[Baca juga : Bagaimana karena rasa cinta pada habib, sayyid kadang salah dalam memposisikan, lihat di 4 Kategori Ahlul-Bait, Habib dan Sayyid? ]

Ketika kita melihat anak-anak kita makan, makanan sederhana, tepung beras di campur dengan air misalnya, hidup dengan kesederhanaan dst. Kita sebagai orang tua menjadi sangat kecewa.  Pada saat itu bukannya kita telah mengajarkan anak kita untuk menjadi puas dengan hal itu, tetapi kecewa dan mengajari untuk berjuang menghilangkan itu dan mendapatkan sesuatu. Apakah ini sama?

Dalam usaha para orang tua untuk mencerahkan masa depan anaknya, kita sering lupa untuk mencerahkan karakternya. Karena cinta buta, kebenaran dalam hidup anak-anak kadang telah menjadi benar-benar dihancurkan. Keserakahan, ketakutan dan ketamakan adalah hal-hal yang kita ajarkan pada anak-anak kita.

Intinya adalah karena cinta buta ini, maka para orang tua tidak pernah menjadi guru, pendidik  yang sebenarnya. Mereka menurunkan dirinya hanya sebagai seorang pengajar. Guru adalah orang yang memberikan pengetahuan sebagai amal, dia tidak pernah memperlakukan pengetahuan sebagai perdagangan.

[Karena hal-hal diatas, cinta buta, kasih sayang, fasilitas dan banyak lainnya, seringkali orang tua akhirnya menuntut pada anak-anaknya, karena merasa sudah banyak berkorban, sudah banyak memberikan sesuatu….lalu bagaimana hasil dari anak-anak mereka?]

Itulah sebabnya seorang Guru yang sebenarnya mengharapkan biaya kecil dari murid-muridnya dan dia tidak mematok nilai apapun untuk pengetahuannya yang tak ternilai yang diberikan. Tidak menukar pengetahuannya denga meminta balasan pada muridnya dengan biaya atau hal-hal lainnya. Jadilah Guru bagi mereka dan cintailah mereka dengan cinta yang sebenarnya.

[Bagaimana menjadi guru yang baik dan semestinya? Bagaimana fungsionalitas seorang pendidik dan guru, bisa dilihat ditulisan lain, Fungsionalitas Seorang Guru (11) ]

Renungan (245), Bagaimana Menurut Anda?
Salam : Pendidikan Positif.

Foto Saya Batu.jpgMuhammad Alwi, S.Psi, MM.
Pendidik, mantan kepala sekolah, konsultan pendidikan. Penulis buku, “Belajar Menjadi Sukses dan Bahagia” (Elexmedia, Kompas-Gramedia, 2011), ‘Anak Cerdas Bahagia dengan Pendidikan Positif’ (NouraBook, 2014). Peminat studi filsafat, agama, psikologi dan pendidikan.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama, Psikologi dan Pendidikan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s