Kafir, Hubungan Antar Agama dan negara, Menurut NU dan Muhammadiyah?

KafirSebelum membahas tentang KAFIR, kita mesti sadar hubungan antara Agama dan Negara di NKRI. Sebab tanpa itu, maka akan sulit memahami usulan dari kiayi-kiayi NU tentang “tidak menyebut kata kafir” untuk Non-Muslim.

Apa itu makna kata Kafir dalam perbincangan Teologi Islam? Kafir itu bermakna menutupi, menolak hal-hal yang diyakini oleh dirinya sendiri sebagai benar/baik.

Dari definisi itu maka, orang Islam bisa menjadi Kafir, karena penolakan pada kebenaran yang diyakini dan non-muslim bisa tidak kafir, karena dia pasrah pada kebenaran (Diskusi panjang dan sangat menarik tentang ini bisa kita lihat di buku, Keadilan Ilahim, Murthadha Muttahari, Mizan).

Dalam terminologi Islam ada istilah Munafik, yang secara essensi, hakiki, mereka itu bisa dimaknai Kafir/menolak, tetapi tidak boleh dihukumi Kafir. Karena mereka menyembunyikan dan pura-pura Menerima (Islam).

Bagaimana dengan Yahudi, Nasrani dll yang dalam pencariannya mereka meyakini itu benar, dan mengikutinya? Islam menganggapnya mereka Muslim-Hanif (Fitir), atau non-Muslim, tetapi jelas mereka bukan dikatakan Kafir/Menolak.

Islam itu bermakna 2 hal yaitu Islam dalam arti BERAGAMA ISLAM dan Islam dalam artian PASRAH KEPADA KEBENARAN. Orang yang menolak Kebenaran, tetapi beragama Islam disebut Munafik. Sementara orang yang Pasrah kepada Kebenaran, tetapi tidak beragama Islam, maka dia disebut Muslim-Hanif atau Non-Muslim, tetapi yang pasti mereka bukan Kafir.

AGAMA dan NEGARA

Agama AgamaDalam kehidupan ber-Agama dan Ber-Negara, maka kita mesti membedakan keduanya (mengatakan Agama dan Negera tidak boleh dipisahkan…itu ucapan MENARIK tetapi realitanya tidak semudah itu).

Indonesia bukan negara berbasis agama, Indonesia adalah baik menurut NU dan MUHAMMADIYAH sebagai negara kesepakatan (darul Mitsaq) atau Daarul ahdi wa syahadah (negara kesepakatan dan pembuktian), sehingga mirip seperti “Kesepakatan Madinah”. Dimana Rasul saw dan kaum Yahudi dan Nashrani, sejajar posisinya.

Indonesia setelah merdeka, para pendiri bangsa menyepakati NKRI dengan ke-5 Agama yang ada dan Demokrasi Pancasila, sebahagi negara kesepakatan.

Maknanya adalah Negara harus berdasarkan kesepakatan-kesepakatan itu, bukan melihat kepercayaan masing-masing agama, sekalipun Islam adalah agama Mayoritas. Apapun yang disepakati (di DPR), maka itu mengikat kesemuanya.

Lalu bagaimana dengan kepercayaan dan iman masing-masing agama?

Dalam ber-Negara, maka kepercayaan, Iman privat boleh dipegang teguh, asalkan tidak bertentangan dengan kesepakatan-kesepakatan (UU-NKRI).

Misalkan : Zina, dalam hukum Islam harus dihukum dengan hukuman-hukuman tertentu, tetapi UU berkata lain, maka UU yang mesti ditaati bersama (ke-5 agama yang ada). Perkawinan dibawah umur, poligami tanpa persetujuan tertentu, dll. Dalam Islam diizinkan, tetapi UU-NKRI melarang, maka UU yang mesti ditaati bersama (ke-5 agama yang ada).

Intinya Kayakinan ber-Agama boleh dipegang seteguh mungkin, tetapi ekspresi dalam keyakinan Ber-Agama (ini berhubungan dengan orang banyak, sosial-politik) wajib dibawah UU kesepakatan bersama. Dimana yang menyepakati UU itu adalah DPR, yang merupakan representasi ummat Islam (mayoritas) dan ummat yang lainnya.

TEKS KAFIR DALAM ISLAM DAN BER-NEGARA

Ummat Islam dan ummat yang lainnya pasti punya term tentang kafir itu. Tetapi apa makna Kafir dalam Teologi dan Sosial?

Kafir dalam Islam bisa bermakna macam-macam:
1. Orang yang mengingkari/menutupi Kebenaran.
2. Kaum Musyrik juga disebut Kafir.

3. Kelompok yang menganggap Yesus Anak Tuhan, dalam Islam juga disebut Kafir (Tetapi apakah Nashrani sekarang mempercayai yang seperti teks itu? Dengan kepercayaan, 3 = 1, perlu diskusi sangat panjang. Saya pribadi cenderung mengatakan Nasharani adalah Ahli Kitab, bukan Kafir (sama seperti Yahaudi). Sebab perlakuannya akan berbeda nantinya.
Disinilah mengapa Franz Magnis Suseno marah, dengan ucapan Eggy Sudjana yang mengatakan, “Agama-agama selain Islam bertentangan dengan sila pertama Pancasila”.

https://pendidikanpositif.com/…/franz-magnis-penistaan-aga…/

4. Mengingkari ayat-ayat pasti dalam al Qur;an/ajaran Islam dll.

Dalam keyakinan beragama masing-masing itu boleh dan sah, bahkan dalam satu agama-pun ada berbagai penafsiran. Tetapi bagaimana itu kalau diterapkan dalam kehidupan berbangsaa dan bernegara, dalam bingkai Demokrasi dan NKRI yang Pancasila? Disini menarik untuk didiskusikan, hubugan antara Keyakinan Ber-agama dan Ekspresi Keyakinan Ber-Agama.

Kebebabsan berkeyakinan TIDAK SAMA DENGAN Kebebasan berkepresi terhadap Keyakinan

https://pendidikanpositif.com/…/kebebasan-kebebasan-bereks…/

Karena negara kesepakatan, maka kita tidak boleh menggunakan term-term keyakinan kita (masing-masing) dalam ber-negara (opini publik). Sebab negara itu disepakati dan mengakomodir ke-5 agama itu (dll), (buku, Ruang Publik, Ed, F. Budi Hardiman, Kanisius, menarik untuk di buka-buka lagi).

Lalu Bagaimana dengan Usulan NU untuk tidak menggunakan Term kata kafir untuk Non-Muslim?

https://www.nu.or.id/…/ini-penjelasan-atas-kontroversi-tiad…

Saya pikir usulan itu perlu didiskusikan, walaupun akan mudah disalahfahami, kontraproduktif dan digoreng.

Mudah-mudahan ini menjadi lecutan diskusi-diskusi selanjutnya tentang bagaimana hubungan Ber-Agama dan Ber-Negara. Yang kadang disederhanakan dengan “Kalau kalian tidak menghukumi dengan hukum Tuhan, maka Kafir, Fasik dan Munafik”, lalu diteruskan berarti pemerintahan ini….lalu berarti aparat pemerintahan ini dst..dst.

Kadang ranah diskusi ilmiah akan menjadi kontraproduktif disebabkan oleh arus dan moment yang tidak pas dan menguntungkan.

Salam
Muhammad Alwi Pendidikan Positif

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s