SUBJEKTIVITAS, OBJEKTIVITAS, SUBJEKTIVISME

MENENGOK, PERTEMPURAN IDEOLOGI SUNNAH & SYIAH

Perang Dinasti Seljuk TurkiMenarik melihat pertanyaan ahli ilmu sosial Robert K Merton, dia menanyakan, mengapa Inggris pada abad 17 menjadi negara yang sangat subur bagi pertumbuhan dan perkembangan Ilmu pengetahuan? Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan dalam negeri Islam, mengapa pada saat Dinasti Buwaihi (934–1055 M), yang hidup di pemerintahan Abbasiyah, hiduplah manusia-manusia seperti al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), al-Farghani, Abdurrahman al-Shufi (w. 986 M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-‘Ala al-Ma’arri (973-1057 M), dan kelompok Ikhwan al-Shafa, dll? Kata Merton, Inggris pada masa itu Inggris cocok bagi terbentuknya ETOS, yang terdiri dari 4 prinsip yaitu Komunalitas, Universalisme, Ketakpamrihan dan skeptisme teratur.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa, UNIVERSALISME adalah kepercayaan bahwa fenomena alam selalu sama dimana-mana, dan bahwa kebenaran pernyataan tentangnya tidak tergantung kepada si pembicara. KOMUNALITAS adalah prinsip bahwa pengetahuan harus dimiliki bersama secara bebas, KETAKPAMRIHAN adalah prinsip bahwa seorang ilmuwan tidak boleh menggunakan penemuannya demi kepentingan pribadi dan SKEPTISME TERATUR menunjuk pada tanggungjawab ilmuwan untuk menilai kualitas kerja orang lain kemudian mengumumkan evaluasinya.

Pada masa-masa tertentu tertentu Islam memiliki 4 kualitas itu, dan tidak ada “kritalisasi golongan”. Seringkali skeptisme teratur ditiadakan bila yang usul, yang baik, yang menemukan adalah kelompok lain. Bukan mengkritisi tetapi mencari-cari kesalahan. Fenomena ini terjadi di negeri kita, antara Sunnah-Syiah-Wahabi, Pro-Jokowi dan Pro-Prabowo, sekarang mungkin fenomena Anies Baswedan. Saat ada usulan menarik, misalnya tetapi keluar dai Muhammadiyah, maka NU cenderung kurang respek atau bersemangat mendukung, demikian sebaliknya. Persaingan menjadikan skeptisme, kecurigaan yang tidak teratur. Istilah sekarang bukan mengkritisi tetapi nyinyir.

SUNNAH-SYIAH-WAHABI

Perbedaan sunnah dan syiah sebenarnya dimulai sejak awal Nabi saw meninggal, perbedaan pendapat antara Ali (Fatimah, Keluarga Nabi, Ahlul Bait) dan kebanyakan sahabat Nabi (termasuk Istri-istri Nabi). Pertentangan ini menjadikan perpecahan/skisma awal dalam Islam. Dengan sedikit penyederhanaan, bisa dikatakan, Kelompok Pro-Ahlul Bait (Syiah) dan Kelompok Pro-Sahabat (Sunny). Baik Syiah juga Sunnah secara madzab keluar kemudian, ratusan tahun setelah itu. Syiah terkodifikasi setelah Imam Jakfat Shadiq (Imam ke 6 Syiah, 702 – 765 M), dan Sunny terbentuk setelah 4 Madzab (Imam Hanafi, 80 – 150 H), Imam Maliki bin Anas (93 -179 H), Imam Muhammad As-Syafi’i (150 – 204 H), Imam Ahmad bin Hanbal (164- 248 H), plus madzab teologi, Abul Hasan al-Asy’ari (w.324 H/936 M).

Karena sejak kekalahan Hasan bin Ali terhadap Muawiyah bin Abi Sofyan, maka praktis kelompok Ali demikian terkucilkan, dinasti Umawiyah melakukan “pembersihan” pengaruh mereka lewat fisik, mental maupun ingatan-ingatan masyarakat, dengan membuat cerita-cerita kejelekan Ali dan Keluarga, tandingan-tandingan yang lain termasuk mencaci saat khotbah-khotbah di mimbar-mimbar. Sebuah hal yang lumrah dalam perpolitikan, tetapi akan merepotkan karena itu nantinya menjadi bagian argumentasi keagamaan, karena masuk dalam sejarah, dan hadist.

Setelah dinasti Umayyah yang anti kelompok Ali, diganti dengan Abbasiyah, yang walaupun mungkin tidak tegas-tegas pertentangannya dengan kelompok Ali, tetapi perlakuan mereka terhadap Imam-imam Syiah, sebagai lawan politik tetaplah sama. Secara umum madzab Sunny (4 Madzab itu) yang didukung oleh kerajaan, sementara Imam Jakfat dan Imam Musa Kadzim (Imam-imam Syiah, yang hidup pada masa Ma’mun) dikucilkan. Tetapi perlu diingat disini bahwa hubungan antara sunnah-syiah dimasyarakat dan kelilmuwan terjalin begitu indah, hanya politik, perpolitikan serta kekuasaan yang membelah itu semua.

Tahun (909 -1171), kerajaan Fatimiyah berdiri, dengan klaim sebagai Islam Syiah (Ismailliyah). Pertentangan politik, perebutan supremasi, juga pertentangan madzab. Kerajaan ini terbentang luas, mulai daerah sebagian Afrika termasuk Mesir, Maroko, Aljazair dll, juga Hijaz, Libya dll. Setelah terjadi pembusukan, Fatimiyah hanya tinggal Mesir, Dinasti Fatimiyah dihabisi oleh Salahuddin Ayyubi, tahun 1169, dan membentuk Dinasti Ayyubi yang Sunni di Mesir (Mesir yang awalnya mayoritas Syiah, menjadi Sunny sekarang).

Pertentangan antara Kerajaan Sunnah dan Syiah, secara perpolitikan berimplikasi terhadap sejarah yang ditulis, sehingga akan sulit menjadikan sejarah-sejarah itu sebagai rujukan ke-madzab-an. Sebagai contoh bila dilihat oleh orang Sunny maka Salahuddin Ayyubi, adalah jendral hebat yang membebaskan Mesir, tetapi dilihat oleh orang Syiah akan berbalik seratus delapan puluh derajat. Mana yang benar? Demikian juga Nashiruddin Thusi, yang Syiah. “Sejarah Selalu ditulis oleh kelompok Pemenang”, itulah dalil penulisan sejarah.

Kemudian kita bisa melihat Dinasti Buwaihi (934–1055 M), yang hidup di pemerintahan Abbasiyah tetapi bermadzab Syiah. Mereka mendapat kedudukan cukup bahkan sampai mampu membentuk pemerintahan. Kelompok orang-orang non-Arab mulai memerintah, dimulai oleh Dinasti Buwaihi, suku Dailami, juga kelompok Turki. Di Tuki berdiri dinasi Utsmaniyah (Berdiri 1299 M) dan di Iran berdiri kerajaan Safawid (1501 M, Iran yang dulunya Sunny menjadi Syiah sekarang). Dinasti Ustmaniyah berdiri sangat besar dibandingkan dengan Safawid, dan pernah beberapa kali mereka berperang satu sama lain.

Mengapa sejarah kerajaan-kerajaan Sunnah-Syiah perlu dijelaskan, bahkan mungkin dengan detail? Sebab pertentangan-pertentangan politik ini sering menggunakan jargon-jargon agama, atau istilah sekarang POLITISASI AGAMA untuk kecendrungan kekuasaan-politik. Dan yang menjadi “fitnah” kedepannya adalah tampilnya expert, media, buku-buku sejarah, teologi, bahkan hadist yang masuk dan ditulis serta disebarkan untuk kepentingan-kepentingan mereka. Banyak buku-buku sejarah, dan buku-buku lainnya ditulis dengan suasana pertentangan madzab dan pertentangan politik. Jangan lagi antara sunnah-syiah, diantara sesama Syiah dan sesama Sunnah juga terjadi seperti itu. (Sekadar contoh perbandingan yang mudah kita telusuri, bagaimana buku-buku, tulisan media, dan hal-hal lain, saling dilempar kemasyarakat untuk dukung-mendukung dan saling menjelekkan kubu Prabowo dan Jokowi dalam Pilres kemarin)

Lalu bagaimana kita mesti mengambil “Kebenaran”, untuk diri kita sendiri, dan mengambil “Kebenaran Umum”, untuk kesatuan ummat Islam? Ada buku menarik berjudul, “Memilih Madzab Atau Islam”? Sayang saya belum membacanya secara tuntas. Disinilah kita perlu objektive dalam melihat sesuatu, menggunakan nalar kritis dan sikap universalisme (Kebenaran sebuah Pernyataan tidak tergantung kepada si pembicara), dan skeptisme teratur, bukan ‘curigaisme’ atau istilah sekarang adalah nyinyir dan menutup diri. Apakah ini mungkin? Jawabnya mungkin, tetapi karena kita tahu Pengetahuan itu tidak lepas dari kepentingan, maka unsur subjektivitas pasti ada, dan itu kita terima sebagai hal yang normal, tetapi bukan subjektivisme (semaunya, sekenanya, tidak mau membandingkan, tidak membukan akal kritis dan cakrawala). Disini diperlukan kebijaksanaan diri, dan para ahli, expert, alim ulama untuk memberikan penjelasan-penjelasan ini, sebagai tanggung jawab ilmiahnya.

Karena sejarah yang tertulis seperti itu, maka kita mesti LEGOWO dengan beberapa sikap skeptis yang teratur, apapbila Sunnah misalnya menceritakan ‘keburukan’ Hasan bin Ali, Syiah menceritakan ‘keburukan’ sebagian Sahabat dan istri Nabi, juga Wahabi yang kadang ‘ekstrem kurang hormat’ terhadap Ahl Bait. Sunny mencintai Ahl Bait, sementara Syiah mensucikan mereka, jelas akan berbeda pandangan itu. Demikian juga Sunny mencintai bahkan ‘mensucikan’ sebagian sahabat, sementara Syiah sangat kritis terhadap sahabat.

Problem internal menjadikan banyak upaya dihancurkan oleh teman-teman sendiri, padahal musuh dari luar banyak. Sekadar contoh, saat teman-teman PKS berupaya sedemikian rupa membangun SDM dan Islamisasi, maka itu “diganggu” oleh Muhammadiyah, NU dst, demikian juga sebaliknya. Saling meng-cancel ini mengakibatkan kita menghancurkan potensi-potensi “Diri-Islam”. Saat Syiah semacam Iran membangun banyak hal, berupaya mengusir Hegemoni AS dari Timur Tengah, tetapi itu dilawan, dikerdilkan, disalahpahami, difitnah dst oleh Saudi dkk, dan lainnya, demikian sebaliknya.

“Persaingan perebutan pasar kebenaran”, atau istilah umumnya adalah “Dakwah”, adalah fenome lumrah, silahkan satu dengan yang lain, tetapi 4 prinsip syarat sebuah kemajuan mesti dilindungi dan diberikan jalan, sehingga akan memberikan kebaikan bersama.

Muhammad Alwi
Peminat Studi Islam, Filsafat dan Psikologi

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama, Psikologi dan Pendidikan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s