Relasi Kuasa dan Berfikir Kefilsafatan

Foto GoogleApa itu relasi kuasa? Kalau kita membicarakan tentang kekuasaan, maka dalam bayangan kita selalu tampak hubungan dua bagian, subjek-objek, yang menguasai dan dikuasii. Negara, Raja, Bos, Majikan dan lain sebagainya memiliki kuasa atau menguasai rakyatnya, masyarakatnya, pegawainya dan seterusnya. Kuasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) adalah kemampuan atau kesanggupan (untuk berbuat sesuatu); kekuatan; wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan (memerintah, mewakili, mengurus, dan sebagainya) sesuatu.

Dalam penelitian filosof Prancis Micheal Faucoult, dengan berbagai buku karyanya seperti Surveiler et punir (1975), Histoire de la sexualite dll, termasuk l’ Archeologie du savoir (Arkeologi Pengetahuan), yang sudah diterjemahkan bahasa Indonesia, mengatakan bahwa Kekuasaan tidak secara jelas berhubungan antara subjek dan objek, seperti negara, raja, penjajah dan lainnya. Kekuasaan sekarang tidak terpusat dalam satu titik atau sumber otoritas tertentu. Kekuasaan sekarang bukan sebuah institusi atau lembaga, bukan struktur, tetapi Kekuasaan adalah nama yang diberikan pada situasi strategis komplek dalam suatu masyarakat.  Kekuasaan ada dimana-mana, bukan mencakup semua, tetapi berasal dan datang dari berbagai asal. Hubungan kekuasaan ini ada dalam hubungan ekonomi, penyebaran pengetahuan bahkan hubungan sexualitas. Kekuasaan adalah akibat langsung dari pemisahan, ketidaksamaan, dan ketidak seimbangan (diskriminasi). Kekuasaan adalah situasi intern dan inhern karena adanya suatu perbedaan.  Sehingga kita bisa mengatakan bahwa kekuasaan ada dimana-mana.

foucaultSemua keinginan untuk mengetahui kebenaran sebenarnya adalah bentuk dari keinginan akan berkuasa (Nietzche). Saat kita ingin mengetahui seluk-beluk dan jenis-jenis ular misalnya, maka dengan pengetahuan itu kita akan menjadi tidak takut dengan dia, dapat dengan mudah membunuhnya, kalau digigit misalnya bisa dengan mudah untuk menyembuhkan atau selamat, juga mengetahui mana ular-ular yang berbisa, mematikan dan tidak. Dengan mengetahui berbagai kandungan zat baik kulit, mata dan bisanya, manusia dapat memanfaatkannya, mengendalikannya, menggunakannya untuk kepentingan manusia. Intinya sebenarnya “Keinginan untuk mengetahui adalah bagian dari keinginan untuk berkuasa”. Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap kekuasaan mempunyai pengetahuannya sendiri.

Apalagi kalau kita melihat keinginan-keinginan, penjelajahan, eksplorasi, penelitian tentang negera-negara timur oleh barat saat itu dan sampai sekarang. Bagaimana mereka ingin mengetahui Iran, Indonesia, Dunia Arab, Timur Dekat dan Timur Jauh dan lainnya termasuk Afrika. Pengetahuan-pengetahuan itu yang sudah mengurat dan mengakar dalam bentuk fakultas tentang Parsi, jurusan Indonesia, Timur Tengah dan lainnya. Jurnal-jurnal, lembaga penelitian, buku-buku ditulis, para expert yang mengisi seminar, memberikan masukan serta arahan untuk kebijakan hubungan diplomasi, politik dan lain sebagainya. Yang mungkin paling terkenal, sebagaimana kita kenal peranannya dalam penjajahan belanda adalah Ahli Timur-Islam (orientalis) yang namanya Snouck Horgrunye. Seorang Belanda, alumni Sastra Arab di Leiden dan konsulat Belanda di Jeddah. Bahkan untuk mengetahui strukutur dan seluk-beluk Islam dan masyarakat Islam baik di Indonesia ataupun di Jeddah, dia pura-pura masuk Islam. Nasehat-nasehatnya sangat terkenal untuk memadamkan pemberontakan di Aceh dan lainnya.

Lewat analisa dengan pengetahuan terbaru (menggunakan analisa Foucault, dari buku The Archeology of Knowledge dan Dicipline and Punish). Mengapa saya katakana terbaru? Sebab buku Edward Said (Orientalisme, terbitan Vintage Books, New, 1979), sementara buku Foucault terbit bahasa Prancis (1975). Edward Said mengatakan, Orientalisme adalah sebuah discourse dan mode of discourse, bagaimana Timur-Islam diceritakan, dipahami, didefinisikan, digambarkan dengan semua pernak-pernik dan atributnya. Pengetahuan akan dunia Timur-Islam dilakukan sedemikian rupa oleh Barat (disini yang dimaksud adalah Perancis dan Inggris yang memang mendalami Timur saat itu dan Amerika kemudian) sehingga demikian berwenangnya mereka sehingga kata Edward Said, “Saya yakin bahwa tak seorangpun yang bisa menulis, berfikir mengenai atau bertindak terhadap dunia Timur (Islam-penulis) tanpa memperhitungkan pembatasan-pembatasan atas pikiran dan tindakan, yang digariskan oleh mereka. Inilah Kekuasaan, inilah pengetahuan yang bertugas atau berkeinginan untuk kekuasaan. Hubungan antara Pengetahuan dan Kekuasaan ada gradasinya, sebab ada masyarakat sipil dan masyarakat politis. Masyarakat sipil dalam melakukan afiliasi dan hubungan-hubungan umumnya secara sukarela (paling tidak rasional dan tidak memaksa), seperti sekolah, keluarga dan perkumpulan lainnya. Sedangkan masyarakat politis terbentuk dari pranata-pranata negara (angkatan bersenjata, polisi, birokrasi dan lainnya), yang perannnya dalam politik adalah kekuasaan dan dominasi langsung. Barat dengan kekuatan Hegemoni saat itu mampu melakukan dan membangun Relasi Kuasa Orientaslisme dalam bentuk ahli-ahli, jurnal, peneliti-peneliti, jurusan dikampus, beasiswa, nasihat dan konsultasi dan lain sebagainya.

Relasi Kuasa

Armada PenjajahRelasi Kuasa adalah jejaring dan hubungan-hubungan antara satu bagian dengan bagian lain, satu kelompok dengan kelompok lainya, pranata dengan pranata lain sehingga menghasilkan posisi strategis komplek dan menghasilkan keunggulan (karena posisi, situasi dan modalitas yang dimiliki dan interconnecting lainnya). Untuk memudahkan sebagai ilustrasi dan mendekatkan abstraksi kita bisa melihat permainan catur, dimana posisi-posisi awal, jelas yang paling memiliki kekuatan penuh, kekuasaan secara eksistensi-pribadi adalah Perdana-Mentri. Dimana perdana mentri itu mampu berjalan sepanjang ia mau, selama tidak dihalangi oleh lainnya. Baik kekanan, kekiri, maju depan atau belakang, juga serong kanan atau kiri sejauh-jauhnya. Kuda, dan lainnya tidak semampu perdana mentri secara personal. Tetapi setelah permainan itu beberapa saat, kita akan mengetahui bahwa karena konfigurasi tertentu, posisi tertentu, letak, ruang dan waktu serta moment baik dalam internal maupun ekternal (lawan), kadang justru pion atau kuda yang paling menentukan dan memiliki kekuasaan dalam melakukan gerakan, tindakan, serangan, penyelamatan atau mengambil keuntungan lainnya, bukan perdana mentri. Kadang perdana mentri malah terjepit ditempat tertentu dan tidak memiliki kekuasaan cukup. Inilah contoh gambaran relasi-kuasa, sebuah jaraing-jaring hubungan dengan modalitas tertentu menentukan posisi kukuasaan.

Bagaimana dunia Timur (Islam) tertinggal jauh oleh Barat (Eropa dan AS)? Jawabnya adalah Kemenangan Pengetahuan dan Hegemoni. Awal renaissance Barat meninggalkan lainnya dan melakukan revolusi pengetahuan, dengan ditemukan mesiu, kompas dan mesin cetak. Dengan ditemukannya Kompas, maka penjelajahan, pelayaran, upaya mencari bahan-bahan rempah-rempah dan penjelajahan lainnya mampu dilakukan. Dengan ditemukanya mesiu, maka kekuatan berlimpah-limpah. 10 orang dapat mengalahkan ratusan bahkan ribuan orang yang hanya berkuda dan menggunakan pedang. Knowledge is Power benar-benar terealisasi. Mulailah penjajah, mexico yang penuh emas diambil oleh Barat, Indonesia dijajah dan seterusnya. Barat mengeruk kekayaan dan supremasi yang sedemikian rupa. Dengan berlimpahnya kekayaan, kekuatan, maka terjadilah Hegemoni. Penjajah menjadi superior, penguasa dan penentu ‘benar-salah’. Untuk melanggengkan itu semua, untuk menjadikan supremasi dan hegemoni serta perimbangan kelebihan tetap bertahan dan dipertahankan, mulailah mereka melakukan penelitian-penelitian, penulisan, penjelajahan yang semuanya itu adalah Pengetahuan demi keinginan Berkuasa.

Penterjemahan buku-buku Timur (Arab-Islam), termasuk Indonesia dilakukan. Sehingga jangan heran banyak manuskrip tentang Arab, tentang Islam, tentang Indonesia mesti merujuk dan keberadaannya ada di Perancis, Inggris, Amerika Serikat atau Belanda. Ahli-ahli Indonesia justru adalah orang-orang Belanda, dan manusia-manusia Indonesia, malah belajar untuk tingkat master atau doctor tentang Indonesia kepada mereka. Buku buku Filsafat dan Ilmu Pengetahuan diambil dari Timur (Arab) diterjemahkan kepada bahasa mereka, yang akhirnya justru Timur (Arab) nya tidak memiliki dan mereka yang memiliki dan mengembangkan seterusnya. Dengan kelimpahan kekayaan (penjajahan) dan Hegemoni. Indonesia, Arab dan Islam didefinisikan, digambarkan, diberikan batas-batas dan patokan-patokan oleh mereka dan yang lain setuju atau tidak mengiyakannya. Perkembangan terus berlanjut sampai sekarang ini. Ditambah lagi dengan kekuatan dan hegemoni, mereka melakukan standarisasi, aturan global dan lainnya. Ada PBB dengan semua aparatus dan struktur serta perangkatnya. Ada standarisasi mulai dari obat-obatan, alat-alat teknik, pendidikan kejuruan, hak paten, sertifikasi dan lainnya. Ada google, facebook, Whatsup dan lain-lain. WHO memiliki peraturan bahwa specimen contoh virus-virus terbaru harus diserahkan ke WHO, sehingga bacteria atau virus terkumpul disana, dan dapat dilakukan penelitian-penelitian oleh seluruh dunia. Mereka mengatakan bahwa akses terhadap virus-virus itu akan terbuka bagi siapa saja. Realitas dilapangan, hanya negara-negara besar yang punya akses untuk itu, yang lain sulit atau dipersulit. Dan yang lebih aneh lagi adalah bahwa peneliti tidak diizinkan mengajukan hak paten penemuannya, yang diizinkan adalah perusahaan-perusahaan obat. Padahal perusahan obat-obatan (farmasi) terkemukan didunia adalah milik mereka. 10 perusahaan obat terbesar didunia, Pfizer (AS), Merck (AS dan Kanada), Johson & Johson (AS), Roche, Sanofi (Perancis), Novartis (Swiss), AbbVie (AS), AstraZeneca (Inggris), Gilead (AS), Amgen (AS). Siapa yang diuntungkan dengan aturan dan standarisasi itu? Jelas negara-negara besar dan itu tetap menjadikan mereka berkuasa.

Dengan pola Relasi-Kuasa, maka kekuasaan sudah tidak dilakukan dengan kekerasan, malah dengan persetujuan, tetapi struktur-struktur tindakan itu (walaupun dengan persetujuan) menekan dan mendorong tindakan-tindakan lain melalui rangsangan, rayuan atau paksaan dan larangan. Disini Kekuasaan bukan represi atau pertarungan kekuasatan dan bukan fungsi dominasi suatu kelas didasarkan pada penguasaan atau ekonomi atau manipulasi ideology. Tetapi kekuasaan mesti dipahami sebagai banyak ragamnya hubungan-hubungan kekuatan yang melekat pada bidang hubungan-hubungan tersebut dan organisiasinya. Permainan akan mengubah, memperkuat dan membalikkan hubungan-hubungan itu melalui perjuangan dan pertarungan terus menerus. Kita lihat bagaimana bisnis online tergantung algoritma Google, juga Instagram, facebook dan Whatsup, serta standarisasi lainnya kita ikuti dan kita afirmasi dengan baik.

Modalitas

Dengan relasi kuasa itu maka kebebasan menjadi sebuah hal yang rumit. Kadang kalau menggunakan terminology Hegelian, maka kebebasan adalah tindakan yang otonom secara moral dan moralitas didefinisikan dengan kesesuaian pada nilai-nilai yang dianggap luhur termasuk agama dan negara. Dengan relasi kuasa maka sangat mungkin otoritas (negara dan agama) melakukan dan mengambil kesempatan untuk mengarahkan kepatuhan atau menakut-nakuti agar menyesuaikan dengan cita-cita moral. Walaupun tujuan itu luhur, tetapi beresiko disalah gunakan menjadi sistem pengawasan yang dibatinkan sehingga melawan kebebasan itu sendiri. Standarisasi-standarisasi, codec-codec, termasuk hal-hal yang diungkapkan diatas adalah apparatus untuk itu semua. Cara berfikir yang dogmatis (dimana terdiri dari kepatuhan buta, berfikir hitam-putih dan menolak pluralism) seringkali diakibatkan oleh wacana dominasi yang berlangsung panjang tanpa perlawanan dan tidak membuka ruang untuk bertanya dan berdiskusi.

Baca : https://pendidikanpositif.com/2017/11/28/toleransi-right-to-differ/

Mengapa kenaifan tetap membelenggu masyarakat dengan beragam dominasi-dominasi yang melingkupinya? Ini semua terjadi karena berbagai hambatan yang dipasang pihak luar, lambat laun, dan dibiarkan begitu saja oleh masyarakat. Pembatasan dan belenggu ini tidak dilawan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dan membongkar. Mengapa ini tidak dilakukan? Kesadaran kritis ini tidak terasah karena msyarakat dibiasakan dengan sikap dogmatis. Sikap dogmatis ini tidak melatih untuk mempertanyakan apa yang sudah dianggap benar secara umum atau umumnya, dan juga tidak mencoba memeriksa mengapa hal itu sedemikian rupa? Apa tidak ada hal yang lainnya atau alternative lainnya?

Diinilah perlunya level berfikir bukan tindakan praktis dan instant, tetapi berfikir kritis dan kontruktif. Disinilah kepekaan berfikir filsafat dalam artian selalu bertanyan mengapa harus seperti ini dan itu, dengan metode rasional, logis serta mengurutkan menjadi sebuah sistem. Dengan mempertanyakan banyak hal secara kritis dan kontruktif maka terbukalah kedok-kedok ideologis yang sering dijadikan alat rasionalisasi dan internalisasi sehingga dipaksakan/memaksakan untuk diterima secara logis. Dengan berfikir seperti itu maka akan terjadi dan terlihat kejanggalan-kejanggalan, ketidak-logisan yang pada akhirnya memaksa kita dan mereka untuk mengubahn susunan dan tatanan yang ada.

Muhammad Alwi
Konsultan dan Praktisi Pendidikan, Peminat Studi Psikologi, Agama dan Filsafat.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s