Filsafat Bahasa: Kata & Pandangan Dunia Bahasa Al Qur’an (Bag 1)

Foto AnaSemantik adalah ilmu yang berhubungan dengan fenomena makna dalam pengertian yang lebih luas dari kata. Semantik menjadi kajian tentang filsafat tersendiri. Semantik secara sederhana adalah kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual Weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu, tidak hanya sebagai alat bicara dan berpikir, tetapi yang lebih penting lagi, pengkonsepsian dan penafsiran dunia yang melingkupinya.

Semantik, dalam pengertian itu, adalah semacam Weltanschauungs-lehre, kajian tentang sifat dan struktur pandangan dunia sebuah bangsa saat sekarang atau pada periode sejarahnya yang signifikan, dengan menggunakan alat analisis metodologis terhadap konsep-konsep pokok yang telah dihasilkan untuk dirinya sendiri dan telah mengkristal ke dalam kata-kata kunci bahasa yang digunakannya.

Semantik Al Quran adalah pandangan dunia Alqur’an. Bagaimana kita mengkontruk ontologis dan sistem filosofis yang hidup, bukan sistematika filosof, karena ini bahan dasarnya adalah Al Qur’an yang merupakan mikrokosmos, seperti juga manusia, dan itu adalah tempat tajalli, pengejawantahan Allah di alam semesta.

Allah menciptakan manusia dimuka bumi ini adalah untuk beribadah kepadaNya, Allah menciptakan manusia dimuka bumi ini agar Allah dikenali, dan Allah menciptakan manusia dimuka bumi untuk kesempurnaan manusia. Supaya dikenali, Allah memperkenalkan diri-Nya. Kita hanya sanggup mengenalnya sebatas pengenalan diri-Nya pada kita. Maka Allah bertajalli, mengejewantahkan diriNya dalam Alam (Sesungguhnya Alam adalah ayat-ayat, tanda-tanda, tajalli Allah), dalam diri manusia (Siapa yang mengenal Dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya), dan meringkasnya dalam al Qur’an (Sebagai firman Allah yang sampai pada utusanNya Muhammad saw).

Metafisika Subzawari IzutsuAda beberapa kata-kata kunci dalam al Quran yang bisa kita sepakati secara umum, seperti kata-kata Allah, Islam, Nabi, Iman, Kufr dst. Tetapi makna kata itu saling terkait satu dengan yang lainnya membentuk makna yang komplek dan saling memberikan arti dan menguatkan dalam keseluruhan sistem. Semacam kerangka kerja konseptual Gestalt. Tidak bisa memahami bagian-bagian tanpa melihat keseluruhannya.

Saat sebuah kata diambil oleh Al Quran, seperti Allah. Walau dikenal dalam alam pemikiran sebelum Islam, tetapi diberikan makna yang berbeda sehingga mereka (manusia jahiliyah) bingung, tidak mengenal, baru dan menghancurkan dalam sebagian hal konsepsi pandangan dunia mereka, disinikah mereka tidak mau menerima.

Al Qur’an sering, sebuah kata diambil dan diceburkan dalam hubungan-hubungan kata yang lain, serta diberikan makna berbeda, maka akan ada perubahan konsep, penyusunan kembali nilai moral dan religius yang begitu radikal. Inilah biasa disebut dalam ilmu bahasa, semantik, “pengaruh konteks terhadap makna kata”. Karena sebuah kata itu begitu berubah, baik lebih luas, mendalam atau malah berubah sama sekali dibanding makna dasar/sebelumnya.

Allah adalah Tuhan tertinggi menurut Arab Jahiliyah seperti Az Zumar (39):3. Al Ahghaf (46):28, tetapi bagi mereka ada tuhan-tuhan yang lain. Islam tetap menggunakan kata Allah itu, tetapi alquran memberikan makna yang sangat berbeda yaitu, Dia yang mutlak, unik dan esa (tidak ada selainNya). Penerimaan ini akan merubah totalitas kehidupan orang arab jahiliyah. Baik secara konsepsional, imajinasi juga kehidupan praktis mereka. Yang awalnya ada penghormatan ‘ketuhanan’, termasuk sesajen dan lainnya, sekarang tuhan-tuhan kecil itu dihancurkan konsepsinya dan keberadaannya.

Dengan ini maka Tuhan, Allah adalah puncak wujud, sementara ilah (tuhan-tuhan yang lain) hanya ada dan bermakna konotatif, tidak ada makna aslinya. Surat Yusuf (12):40. Malaikat kadang dikatakan anak Allah, juga Yesus, tetapi Islam mengambilnya dan memberikan makna lain. An-Nisa (4):172, juga Al Dhariyah (41): 56. “Jin dan Manusia diciptakan untuk menyembah Allah.” Menurunkan makna Malaikat, Jin dan lainnya hanya sebagai ciptaan dan pembantu Allah. Demikian juga kata Taqwa. Kata Taqwa makna jahilyahnya adalah sikap membela diri sendiri baik binatang maupun manusia, untuk tetap hidup melawan sejumlah kekuatan destruktif dari luar. Setelah masuk dan diceburkan dalam kontek kosakata dan kepercayan Islam, maka Taqwa maknanya takut kepada hukuman ilahi pada hari kiamat, sholeh, sempurna dan sederhana (Izutsu, 2003, hal 10).

Kata Dasar dan Kata Relasional.

Dalam sebuah kosakata, maka terkandung di dalamnya makna dasar, dari arti itu sendiri dan makna relasional, makna yang keluar setelah arti kata itu dihubungkan dengan yang lain.  Makna dasar’ kata adalah sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri, yang selalu terbawa dimana pun kata itu diletakkan, sedangkan makna ‘relasional’ adalah sesuatu yang konotatif, yang diberikan dan ditambahkan pada makna yang sudah ada dengan meletakkan kata itu pada posisi khusus dalam bidang khusus.

Sebagai contoh, Kitab itu ada kata dasarnya, tetapi setelah bergabung dengan konteks Allah, wahyu, ahl kitab, tanzil, Nabi, dan lainnyal. Maka maknanya akan berubah dari makna dasar ke relasional.  Contoh kata Yaum, Sa’ah (hari, waktu), ini berhubungan dengan qiyamat, ba’th (kehidupan setelah mati), hisab (perhitungan) dll. Lihat al ahzab (33): 63. “mereka bertanya kepadamu tentang sa’ah (hari akhir, qiyamat). Kadang modifikasi ini begitu kuat sehingga keluar dari makna aslinya. Seakan keluar kata baru. Menarik melihat kata kufr, shakara (syukur). Intinya adalah bagaimana makna kata dipengaruhi oleh kata yang ada di dekatnya, oleh keseluruhan sistem dimana kata itu berada.

Analisis semantik dari sisi ‘relasional’ terhadap makna kata membutuhkan penyelidikan yang teliti dan cermat terhadap situasi budaya umum zaman itu dan masyarakat [yang bahasanya diteliti] sebagai tambahan terhadap pengetahuan linguistik yang lebih khusus terhadap kata tersebut.  Kemudian, apa yang kita sebut makna ‘relasional’ kata tidak lain adalah manifestasi kongkret, atau kristalisasi dari semangat budaya dan refleksi yang terpercaya dari kecenderungan umum, keadaan psikologik dan lainnya dari masyarakat yang memakai kata tersebut sebagai bagian kosakatanya.

Bila ini mampu dilakukan dengan baik, aspek ‘kata dasar’ dan ‘kata relasional’, aspek khusus dan umum dalam penggunaan budaya tertentu, maka kita akan sampai pada ‘weltanshuung semantik’ budaya. Kata Isutzu (2003, hal 17). Kalau Al Qur’an itu kita anggap alam yang terdiri dari hewan, tumbuhan, benda mati dan manusia. Antara hewan ada hubungan, demikian juga tumbuhan dan seterusnya.  Al Qur’an terdiri dari kata kata, hubungan antar kata kata, wilayah dari hubungan antar kata-kata dan konsep-konsep yang terbangun dari bubungan-hubungan itu yang disebut medan semantik.

Relasi Tuhan dan ManusiaSaat kita melihat atau berfikir kara sirat, jalan, sabil. Maka kata itu dalam alquran berhubungan dengan 1) Jalan Lurus: mustaqim, sawiy, iwaj dan lainnya, 2) Berhubungan dengan pilihan manusia, jalan yang benar. Huda, intida’, rashad dan lainnya, 3) Jalan yang salah, dhalal, ghawajah, taih, dan seterusnya. Kita juga perlu malakukan perbandingan antara kosakata pra islam, pra islam-Islam dan Islam akan sangat penting karena penggunaan itu terlihat dalam konsep secara keseluruhannya.

Dengan perbandingan itu mungkin kita bisa berharap ia akan memberikan cahaya yang memperjelas makna “dasar” orisinal beberapa istilah kunci yang ditemukan dalam Al-Qur’an. Lebih jauh lagi akan memungkinkan kita melihat secara tepat bagaimana ide-ide baru muncul dan bagaimana ide-ide lama diubah di Arab dalam periode-periode kritis dari zaman jahiliyyah hingga zaman awal Islam dan mengamati bagaimana sejarah mempengaruhi dan membentuk pemikiran dan kehidupan masyarakat.

[Kesimpulan Saya]

Alquran itu seperti manusia. Ada sel-sel yang itu adalah kata-kata, sel-sel itu bergabung menjadi jaringan seperti otot, jaringan membentuk organ (mata, jantung, otot, ginjal dan lainnya), ini mirip dengan “medan semantik”, lalu ada kata-fokus, ada yang inti-inti dalam sel kita, misal jantung, ginjal, otak dan seterusnya. Hubungan-hubungan ini jalinan baik antar sel-sel maupun jaringan dan organ, akan membentuk sistem besar besar seterusnya. Dengan itu kita tahu secara lebih detail apa itu manusia, dan jalan kerja serta bubungan-hubungan nya juga perubahan yang terjadi bila komponen-komponennya bekerja dengan baik, positif atau negatif.

ANALISIS BAHASA AL QUR’AN

Menurut ilmu linguistik modern ada methode analisis bahasa, ‘diakronik’ dan ‘sinkronik’.  Diakronik, menurut pengertian etimologi adalah pandangan terhadap bahasa, yang pada prinsipnya menitik beratkan pada unsur waktu. Dengan demikian, secara diakronik kosakata adalah sekumpulan kata yang masing-masingnya tumbuh dan berubah secara bebas dengan caranya sendiri yang khas.

Beberapa kata dalam kelompok itu dapat berhenti tumbuh dalam pengertian berhenti penggunaannya oleh masyarakat dalam jangka waktu tertentu (As); sedangkan kata-kata lainnya dapat terus digunakan dalam jangka waktu yang lama (Bs); sekali lagi kata-kata baru dapat melakukan debutnya di gelanggang pada titik waktu tertentu dan memulai sejarahnya pada periode itu (Cs).

Sebuah kosa-kata itu statis, sinkronik hanya saat dilihat secara makroskopik, tetapi saat didalami mikroskopis akan ada hal-hal baru dan gerakan. Disinilah semantik historis diperlukan, bukan saja melacak sejarah perkembangan dan perubahannya makna dalam perjalanan sejarah. Tetapi membandingkan antara saat ini, statis dan sejarah waktu.

Perkembangan kebudayaan Islam menunjukkan kecendrungan bahwa bahasa Arab dipengaruhi oleh kosa kata al Quran.Kosakata Al Quran dibentuk dari kosakata Badwi, nomaden, kosakata pedagang, ekonomi dan urban, serta kosakata Yahudi-Kristen. Walaupun dari 3 hal diatas, tetapi al Quran memberikan arti lain, koordinasi dan sistem serta weltanschauung yang berbeda. Semua kata dari manapun asalnya dipadukan ke dalam interpretasi sistematik yang sama sekali baru dalam sistem tersebut.

Contoh kata Allah yang sudah dikenal oleh arab jahiliyah, Yahudi- Kristen, tetapi Islam atau Al Quran memberi arti yg agak berbeda. Allah memiliki makna relasional yg berbeda. Walaupun jahiliyah mengatakan tuhan-tuhan yang disembah itu hanya mengantarkannya pada Allah? Tetapi konsep Tuhan dan konsep Allahnya berbeda. Misalnya konsepsi yang melingkupi Allah pada jahiliyah tidak sama, hanya yang positif yang diterima. Misal, Allah tidak punya anak berupa malaikat dan lainnya. [Diskusi Wasilah disini Menarik].

Al Qur’an itu jelas bahasa Arab, sebab hampir semua katanya terambil dari bahasa arab pra islam, hanya diberikan makna yang berbeda. Contoh Taqwa (salah satu konsep kunci alquran), sudah dikenal dalam pra islam dengan makna, perilaku binatang yang umum dimana itu adalah sikap membela diri yang disertai dengan rasa takut. Karim adalah kata kunci dalam pra islam, dimana karena garis keturunan, genetik dia sangat dermawan, bahkan sampai tingkat melakukan pemborosan. Dalam Islam, alquran mengatakan, al Hujurat (49):13. ” Sesungguhnya orang yang paling mulia (karim) diantara kamu dalam pandangan Allah adalah orang yang paling bertaqwa.  Jelas ini membuyarkan konsepsi dan sistem berfikir serta kosmologi dan ontologi dunia jahilyah. Orang yang muliai akan berjungkir balik sebelum dan setelah Islam. Justru orang yg boros, pamer kedermawanan, dianggap sebagai saudara setan (al isra’, 17: 26-27, juga al baqarah, 2: 264).

“Berikanlah kepada sanak keluarga haknya, dan juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Tetapi sekali-sekali janganlah boros dengan seboros-borosnya karena orang-orang yang boros adalab saudara Setan, sedangkan Setan selalu ingkar kepada Tuhannya”.

Di sini kita melihat bahwa karîm yang awalnya merupakan cita-cita jahiliyyah tertinggi dalam hal kedermawanan tanpa perhitungan sebagai manifestasi langsung dari kemuliaan, kemudian menghadapi proses transformasi ke dalam sesuatu yang sama sekali baru dan berbeda melalui pengaruh situasi semantik yang mendalam, pada saat yang sama, dan dalam kaitannya dengan hal itu, kata karîm lalu diterapkan kepada seseorang yang sungguh-sungguh percaya dan taat, yang bukannya menghabiskan kekayaannya dengan membabi buta, tanpa berpikir panjang dan semata-mata untuk pamer. Lalu diganti dengan membelanjakan dengan rasional dan fi sabil lillah (al Hadid, 42: 7, Al Baqarah, 2: 261-262, Isra’, 17: 29-30, al Furqan, 25 :67).

Apa yang dilakukan Islam, dilakukan oleh al Qur’an adalah sebuah revolusi, baik revolusi sejarah juga gagasan moral yang sangat mendasar.

Sistem Bahasa Pasca Al Qur’an (Teologi, Filsafat dan Tasawuf).

Ilmu Teologi adalah ilmu yang berkembang setelah masa Islam. Ilmu ini mengembangkan gagasan-gagasan dikarenakan ingin mensistemasi pemahaman tentang Islam dan juga ingin memberikan jawaban terhadap pertanyaan dan tantangan masyarakat yang hidup disekitar Islam. Perkembangan ilmu Teologi membentuk konsep bahkan weltanshauung tersendiri, walaupun gagasannya semuanya terambil dari al Quran, tetapi ada perubahan serta pergeseran makna batin dari pandangan Al Qur’an. Misal konsep Allah. Bagi mereka istilah pentingnya ini dibagi dengan essensi (dhat) dan atribut (sifat) Allah. Juga istilah firman (kalam) dan istilah-istilah lainnya.

Demkkian juga Tasawwuf, yang memberikan kata-kata kunci yang berbeda dengan kosakata al Qur’an umumnya sebagai analisa diatas. Mereka lebih menekankan makna relasional yang menarik dengan interpretasi simbolik. Inilah yang menyebabkan bacaan mereka sedikit dan banyak berbeda dengan bacaan para teolog.

Dalam semua sistem non-mistik maupun dalam Al-Qur’an itu sendiri, Allâh, secara epistemologis hanya bisa menjadi objek ilm. Dengan kata lain, Tuhan hanyalah dapat dikenal sebagai objek tidak langsung. Manusia tidak diperkenankan untuk mendekati Tuhan terlalu dekat. Kita tidak dapat melihat Tuhan tanpa tirai (hijâb), paling tidak di dunia ini. Disini tidak dapat terjadi keakraban, dalam pengertian hubungan personal langsung tentu saja, Tuhan menampakkan diri-Nya sendiri, tetapi Dia melakukan itu hanya melalui ayat ‘tanda-tanda’-Nya.  Dan dari pihak manusia, diperkenankan untuk mengetahui tuhan hanya melalui ayat yakni objek-objek dan peristiwa-peristiwa alamiah yang dapat dipahami sebagai ‘tanda-tanda’ yang sangat banyak yang menjadi petunjuk akan kebaikan, keagungan, dan kekuasaan Ilahi.

Bahkan Musa as pun hanya bisa mendekati Tuhan, tetapi kaum mistikus seakan mengklaim bisa berhubungan langsung dengan tuhan lewat makrifah, gnosis.

Pertanyaan yang dapat diajukan dan menjadi debat yang menarik, Tuhan didekati oleh Ilm dan makrifah (sarana epistemologis) oleh teolog dan kelompok ortodoks/teolog Menghasilkan pemahanannya tersendiri. Apakah objek Tuhan yang didekati itu sama? Disinilah kadang diskusi sengit dan pembid’ahan serta llaim sesat oleh teolog/ortodoks pada mistikus, sufi. Walaupun kaum sufi mengaborasi dan menunjukkan tafsir mereka terhadap teks dan kosakata alquran dan hubungan relasionalnya. Akan lebih-lebih lagi bagaimana para filosof yg mengedepankan akal dan senhata logika Yunani membentuk kosakata dan medan semantik serta hubungan relasional antar teks.

Etika Beragama dalam Al quranAl Kindi, Al Farabi, Ibn Sina memberikan pemaknaan-pemaknaan yang memiliki sistem tersendiri seperti dunia hukum islam, teolog, tasawwuf dan seterusnya. Para filosof mengklaim mereka memberikan pemaknaan dan penjelasan lebih mendasar tentang makna-makna kosakata alquran. Tetapi para teolog dan kaum ortodoks seperti Ibn Taymiyyah dan Al Ghazali menunjukkan beberapa bukti, para filosof menyimpang dari kosakata dan makna relasional al Quran. [Diskusi ini sangat menarik dalam pemikiran Islam, sayangnya seringkali diintrupsi dan dibalut dengan kekuasaan dan motif politik].

Kosakata kosakata mengalami perkembangan sejarah, waktu setelah dimasukkan dalam sistem dan konteks tertentu, baik teologi, filsafat juga tasawuf. Contoh kata Muslim dan Kafir dalam masa pra islam. Kata itu bukan kebalikan dan juga tak satu pun kata-kata tersebut yang memili konotasi religius. Muslim bermakna “seseorang yang memberikan seatu yang berharga kepada orang lain yang memintanya dan kâfr adalah “seseorang yang tidak menunjukkan rasa terima kasih kepada orang yang telah berbuat dermawan kepadanya.”

Sistem Al-Qur’an, yang membuat kata itu berlawanan antara satu sama lainnya. Muslim pada sisi positif dan kâfir pada sisi negatif. Juga dhat (esensi) dan sifat (atribut), firman (kalam), dalam teologi. ilm dan makrifat (dalam tasawuf). Mukmin dan muslim (lihat khawarij, asyariyah dst).

Menarik kita melihat kata aql dalam al Qur’an, dalam Pra-islam dan Folosofis.  Kata ‘aql, kata ini pada masa pra-Islam kira-kira bermakna “kecerdasan praktis” yang ditunjukkan oleh seseorang dalam situasi yang selalu berubah-ubah. Hal ini berhubungan dengan apa yang oleh psikologi modern disebut kemampuan memecahlan masalah (problem-solving capacity). Orang yang memiliki ‘aql’ adalah orang yang dalam situasi tak terduga sepertí apa pun, dapat menemukan cara-cara untuk memecahkan masalah dan menemukan jalan keluar. Kecerdasan praktis dalam bentuk ini sangat dikagumi dan dihargai oleh orang-orang Arab pra-Islam. Hal ini tidak mengherankan karena kalau tidak demikian tentu mustahil hidup dengan aman di alam padang pasir.

Dalam Al-Qur’an, kata ini sebagai sebuah istilah kunci, memperoleh makna relliglus yang lebih spesifik. Di sana, dalam konteks yang sangat pening, kata tersebut digunakan dengan makna kemampuan intelektual dan spiritual pikiran manusia, yang memungkinkan manusia untuk memahami landa-tanda” (ayat)” yang Allah telah bermurah hati memperlihatkan kepada umat manusia, dan memahami implikasi relihius yang dalam. (Ar Rum, 30: 24, Al Ankabut, 29: 35).

Tetapi setelah masuk dalam konsep filsafat, arti aql akan berbeda sekali, bukan kemampuan-kemampuan praktis, tetapi teoritis, intelek, berdasarkan emanasi. Demikia juga pengertian wjd (wujud), dan seterusnya.

Pada intinya ada perubahan-perubahan itu setelah sebuah kata masuk dalam sistem dan relasional serta konteks yang berbeda.

Bersambung ke Bagian 2

Muhammad Alwi
Psikolog, Konsultan Pendidikan, Peminat Studi Islam, Psikologi dan Filsafata serta Pendidikan.

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s