Filsafat Bahasa: Kata & Pandangan Dunia Bahasa Al Qur’an (Bag 2)

RELASI TUHAN & MANUSIA MENURUT AL QURAN

Foto SayaIslam datang tIdak saja menggantikan kepercayaan lama (ahl kitab dan Jahiliyah) menjadi keprcayaan baru, tetapi mengganti atau memperbaiki pandangan dunia mereka. Dalam Islam hubungan tuhan dan manusia itu sangat penting dan menjadi domain utama. Semuanya mengarah kepada hubungan relasi Tuhan-Manusia. Sementara kepercayaan jahiliyah, sekalipun ada Tuhan atau kepercayan adikodrati, tetapi tema perdagangan, suku, masyarakat, silsilah, kuda, perang dan lainnya lebih dominan dalam welstanshauung kehidupan mereka.

Relasi Tuhan-Manusia.

  • Relasi Ontologis. Eksistensi Manusia berasal dari Tuhan. Tuhan sebagai sumber eksistensi manusia. Hubungan Pencipta-makhluk antara Tuhan dan manusia.
  • Relasi Komunikatif. Tuhan, mengambil inisiaif, melalui komunikasi timbal balik. (A) tipe verbal. Dari atas ke bawah. Berupa Wahyu, Ilham. Dari bawah ke atas mengambil bentuk “sembahyang” (doa). (B) type non verbal. Dari atas ke bawah. Tindakan Ilahiah menurunkan (tanzil) “tanda-tanda” (âyât). Dari bawah ke atas, komunikasi dalam bentuk ibadah ritual (salât) atau yang lebih umum lagi praktek-praktek penyembahan.
  • Relasi Tuan-Hamba. Tuhan sebagai Tuan (Rabb). KeagunganNya, kekuasaanNya, kekuatan Mutlak-Nya dll. Sedangkan manusia sebagai “hamba”-Nya (‘abd). Menunjukkan kerendahan, kepatuhan mutlak, dan sifat-sifat lainnya yang selalu dituntut pada seorang hamba. Sementara di pihak manusia berkorelasi negatif dengan konsep-konsep ke-budakan, hamba yang menunjukkan seperti; ketinggian, kesombongan, merasa cukup, dan sifat-sifat serupa lainnya yang tercakup dengan kata jâhiliyyah.
  • Relasi Etik. Tuhan yang kebaikannya tak terbatas, pengasih, pengampun dan penyayang di satu sisi, Tuhan yang murka, kejam, dan sangat keras hukumannya, di sisi yang lain. Manusia terdapat perbedaan dasar antara “rasa syukur (shukr) di satu pihak, dan “takut kepada Tuhan” (taqwâ) di pihak lain. Shukr dan taqwâ bersama-sama membentuk satu kategori îmân, sementara sebaliknya menjadi kufr.

Dari 4 hubungan itu ada respon positif dan Negatif. 1) Menerima Tuhan sbg pencipta dan asal wujud dari semua keberadaan. 2) Mengambil bimbingan dari Al qur’an dan hadist…juga kenabian. 3) Menghilangkan sifat jahiliyah yg ada padanya. Sombong, merasa cukup, tdk sebagai abdi dst. 4) Syukur, takut, berharap, akan ancaman dan seterusnya.

Relasi Tuhan dan ManusiaManusia-manusia yang sepekat dengan relasi diatas membentuk ummah (masyarakat religius). Masyarakat yg tunduk pada Tuhan (2: 122). Dibedakan antara masyarakat ahl kitab dan ummiiy (3:20). “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab dan kepada orang-orang buta huruf/tdk pernah dpt kitab (ummy), Sudahkah kamu masuk Islam” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 20).[1]

Walaupun ada ummah jahiliyah (ummiy), juga ada ummat ahl kitab yg lebih maju, tetapi kemudian ada ummat Islam yang baru lahir.  Al qur’an mengatakan, dalam 3:10 (Kamu adalah ummat terbaik). 3: 143 (sebagai ummat pertengahan). Yg adil dan seterusnya. Menjadi masyarakat ideal dibanding masyarakat lainnya. Menafikkan atau memmperbaiki masyarakat sebelumnya.

Masyarakat Jahiliyah, Tuhan, atas, akhirat bukan menjadi domain-utama, sementara Islam itu hal-hal itu adalah utama.

Kata Dunya (yg rendah), akhirat itu ideal. (8:67). “Kamu menghendaki harta benda dunia sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).” Kehudupan dunia ini senda gurau, dst…(6: 32, 42: 20).  Hubungan Dunia-Akhirat ini dijembatani oleh eskatalogis yaitu pengadilan, hari akhir, kebangkitan, perhitungan dll. Yg paling aneh buat kaum jahiliyah itu Kebangkitan. Yasin (36): 28 (siapa yg menghidupkan tulang belulang), Al Muthaffifin (83): 13 (itu ajaran, dongeng kuno), al anbiya (21):5 (mimpi-mimpi yg tidak jelas), Hud (11):7 (Sihir yg nyata).  Al Jashiyah (45):24 (dikatakan, kehidupan ini ya sekarang, kita mati dan selesai).

Penghancuran konsep-konsep lama, pandangan dunia lama, diganti baru inilah tujuan Islam. Itu semua ditunjukkan oleh perkembangan dan firman-firman Tuhan, serta kosa kata yang digunakan dalam al Qur’an.

Perbandingan Konsep Allah dalam Al Qur’an dan Masyarakat Pra-Islam

Menarik kalau kita melihat teks Allah dalam kosa-kata yang dibangun oleh Al Qur’an, baik dalam segi makna kata dasarnya maupun dalam segi hubungan relasional antara kata dalam teks dan konteks. Demikian juga bagaimana kata-kata itu setelah masuk dalam sistembaru pasca-al qur’an yaitu sistem Teologi, Filsafat dan Tasawwuf. Yang dimaksud dengan sistem al Qur’an adalah bahwa kosa-kata itu dicoba dipahami dari berbagai kata yang muncul, hubungan antar kata dan makna realsional antara kata itu dengan kata-kata yang lainnya dalam al Qur’an itu sendiri. Hasil dari pendakuan inilah yang disebut dengan sistem pandangan dunia al Qur’an, sementara Arab Jahiliayh pra Islam, juga ummat Islam pasca al-Qur’an, mengembangkan dirinya dalam bentuk intelektual Islam yang tersebar dalam ahli agama (hukum Islam), Teolog, Filosof dan Tasawwuf. Walaupun mereka tetap menggunakan Al Qur’an sebagai pegangan dan landasan dasaranya, tetapi diantara mereka ada perbedaan dalam pandangan dunia antara satu dengan lainnya.  Misalnya Tuhan dalam pandangan Al Qur’an tidak hidup dalam kemulian-Nya, mencukupi diriNya sendiri dengan kesunyian dan tetap jauh dari manusia sebagaimana Tuhan dalam Filsafat Yunani, tetapi secara mendalam Dia melibatkan diri-Nya dalam urusan manusia (Tozhihiko Izutsu, 2003: 101).

Secara umum, sebuah nama, dalam arti sebuah kata adalah simbol dari sesuatu, nama selalu merupakan nama sesuatu. Juga ketika seseorang menujukkan penggunaan lain sebuah kata khusus, dan akhirnya pengertian ucapannya dan kadang-kadang jawabannya, kita bisa menganggap bahwa nama pada akhirnya menunjuk pada beberapa unsur konseptual yang dikenal oleh kedua belah pihak, meskipun mereka mungkin banyak berbeda satu sama lain dalam pengertian nama tersebut berkaitan dengan semua unsur-unsur lainnya. Dan unsur semantik yang umum dalam kasus kita yang khusus ini mesti merupakan sesuatu yang mengacu pada aspek konsep Allah yang sangat penting.

Karenanya, dalam komunikasi Allah dengan masyarakat Arab, ada konsep dan kesadaran serta pengertian bersama dalam kata-kata yang digunakan, walaupun mungkin ada kekaburan, pergeseran dan lain sebagainya. Bila tidak maka komunikasi itu akan sulit dilakukan dan menemukan cara-cara yang ideal dalam berdakwah.

Kata Allah sudah dikenal dalam konsepsi pemikiran Arab Jahilayah, paling tidak ada beberapa konsep Allah yang berkembang sebelum Islam yaitu; 1) Konsep Allah, orang pagan Jahiliyah, dimana mereka memiliki nama-nama Tuhan, dan Allah adalah konsep Tuhan tertinggi menurut mereka. 2) Konsep Allah yang dimiliki oleh kaum Yahudi dan Nasrani yang hidup dilingkungan Arab pada masa itu sebelum Islam datang, 3) Konsepsi Allah yang dimiliki oleh orang Arab Jahiliyah yang tetap berpegang pada kepaganan-nya, tetapi memahami atau terpengaruh, serta ingin tahu konsepsi Allah kaum monoteisme Yahudi dan Nasrani, seperti penyair Arab pra-Islam, Nabighah dan Al-A’sha al Akbar. 4) Konsepsi khusus kelompok Hanif, dimana mereka Monoteisme, tetapi tidak mengikuti agama besar Yahudi dan Nasrani, seperti Umayyah bin Abi al Salt, Keluarga Bani Hasyim dan lainnya.

Paling tidak keempat Konsepsi tentang Allah ini berkelindan dalam dunia Arab pada masa itu sebelum Islam/Al Qur’an diturunkan. Sehingga saat Al-Qur’an menyapa mereka, maka mereka memahami konsep-konsep itu, walaupun Islam memberikan pemahaman yang berbeda dengan mereka, bahkan jauh berbeda dengan konsep mereka.

Konsepsi Allah Menurut Kaum Jahiliyah

Metafisika Subzawari IzutsuKonsepsi Allah menurut kaum jahiliayah (1): Allah adalah Pencipta Dunia, (2) Dialah yang menurunkan hujan, atau lebih umum, Pemberi hidup terhadap segala sesuatu yang hidup di bumi. (3) Dialah satu-satunya yang memimpin dengan sangat sungguh-sungguh. (4) Dialah objek dari apa yang bisa saja kita deskripsikan sebagai monoteisme “temporer”, eksistensi yang dibuktikan oleh ekspresi yang muncul dalam Al-Qur’an yang “membuat (sementara) keyakinan mereka murni untuk Dia sendiri”. (5). Akhirnya, Allah adalah Penguasa Ka’bah. Dalam al Qur’an disebutkan, al Ankabut (29): 61, “Jika kamu tanyakan kepada mereka (yaitu orang-orang Arab pagan), Siapa yang menciptakan langit dan bumi, dan menugdukkan matahari dan bulan?’ Mereka tentu saja akan menjawab, ‘Allah’. Juga 29 : 63, 39 : 32. Dan ada konsepsi yang murni monoteis (hanif), kelompok yang ke empat, digambarkan dalam al Qur’an, “Dan apabila mereka diterjang ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya” (Luqman, 31:32). Lalu saat diselamatkan oleh Allah mereka pagan-lagi (Al Ankabut, 29:65), juga al Fatir (35:42), An Nahl (16:38).

Konsepsi Allah Menurut Yahudi dan Nasrani

Konsepsi Allah menurut Yahudi Nasrani juga berkembang di arab, mekkah dan sekitarnya. Ini kita bisa lihat bagaimana kerajaan Habasyah yang Nasrani, orang-orang Yastrib (Madinah) yang beragama Yahudi, juga sebagian orang-orang Mekkah sendiri seperti Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abd Uzza (sepupu Khadijah, istri Rasul saw), mereka beragama Nasrani dan mengenal Yahudi. Hadist Bukhari yang berbicara tentang wahyu pertama, dan bagaimana Waraqah memberikan penjelasan adalah contoh pengenalan mereka akan konsepsi Allah, Wahyu dan Agama sebelum Islam lahir di Mekkah.

Konsepsi Allah menurut Kelompok Pagan (terpengaruh Monoteisme), dan Kaum Hanif.

Bani Hasyim dan Umayyah bi Abi al Salt adalah seorang Hanif. Umayyah dikatakan ingin mencari agama yang benar, dia tidak pagan, dan tidak Nasrani atau Yahudi, sangat mungkin dia melihat berbagai penyimpangan dan ketidak masuk akalan ajaran-ajaran Yahudi-Nasrani disekelilingnya. Dia mengikuti agama Hanif, dalam syair-syairnya. Walaupun menurut cerita, akhirnya dia menentang Muhammad saw, karena dia berharap dialah yang akan terpilih sebagai Nabi.

“Katakanlah: Siapa pemilik bumi dan segala isinya, jika kamu memiliki kemampuan untuk a akan mengatakan: Allah. Katakanlah: Kemudian apakah kamu tidak ingat (apakah engkau akan masih menolak untuk memahami dan sadar akan kebenaran yang sudah ada dalam batinmu dalam bentuk yang laten?” (Al Mu’min, 23: 84-85). Juga, “Katakanlah: “Siapakah yang ditanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah (Kalau Demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?

Inilah pertanyaan-pertanyaan Allah dan konfirmasi Allah terhadap kondisi sosial kemasyarakatan masyarakat Arab sebelum atau saat Islam lahir, dan bagaimana Allah menyapa dan mengingatkan mereka lewat utusannya Muhammad saw.

Maka tidak ada yang memahami peringatan-peringatan itu, tanda-tanda itu, pemahaman-pemahaman itu kecuali mereka yang ulama (berilmu) dan Ulil Albab (Manusia yang tercerahkan).

[1] Definisi Ummi sebagian ulama mengatakan lebih tepat dimaknai, masyarakat yang belum dapat kitab, bukan diartikan buta huruf.

Wallahu a’lam bi al Shawab
Muhammad Alwi
Psikolog, Konsultan Pendidikan, dan Peminat Studi Islam, Psikologi-Filsafat serta Pendidikan

Tentang pendidikan positif

Kami adalah Pendidik, Guru, Dosen dan Trainer. Riwayat Pendidikan : S1 : Manajemen dan Psikologi. S2 : Manajemen Human Resource, Univ Brawijaya Malang S3 : Manajemen Pendidikan Univ Negeri Malang. Kami mengembangkan Seminar, Workshop, dan berbagai Test berbasiskan psikology. Mulai dari 1. Workshop berbasiskan Multiple Intelligence, Topografi Otak, Power Personality, Performance Barrier, Succes with Understanding Personality, Otak Kanan- Otak Kiri, bagaimana mengetahui dan memanfaatkannya untuk sukses dll. Semua itu untuk pengembnagan SDM dan Human Capital. Baik untuk Guru, anak-anak (TK, SD, SMP, SMA, PT), juga untuk karyawan Industri dan Perusahaan. 2. Test test yang mendukung workshop dan seminar diatas seperti; a) Test Multiple Intelligence, b) Test Personality, c) Test Performance Barrier dll. Konsep Kami adalah......Discovering Your Royal road to learning, achievable and Personal Satisfaction. Bagaimana caranya? Caranya dengan discovering your talent, your ability (dengan pemahaman, test), the right place....maka sukses dan bahagia akan mudah didapatkan. Positif Pendidikan adalah Pendidikan yang berusahan menjadikan pebelajar (siapapun yang belajar), akan mampu untuk meraih tidak hanya sukses (achievable) tapi juga bahagia (will-being). Success and Happy.
Pos ini dipublikasikan di Filsafat dan Agama dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s